Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
118. S2 - Putri Zahran


__ADS_3

Yasna sedang menyiapkan makan malam bersama dengan Rani dan Afrin. Wanita itu senang melihat putrinya sangat aktif di dapur akhir-akhir ini. Dia senang karena tanpa diminta pun Afrin mau membantu.


"Bunda, nanti tanyain sama kakak, ya?"


"Tanyain apa?" tanya Yasna yang merasa bingung dengan kata-kata Afrin.


"Tanyain mengenai mantan pacarnya itu, yang di Video."


"Kamu ini masih saja ingin tahu masalah orang lain. Itu bukan urusan kamu, sudah jangan ikut campur. Nanti papa marah-marah."


"Aku, kan, cuma mau tahu, Bunda. Aku penasaran, ayolah, Bunda!"


"Tanya saja sendiri, tapi nanti di kamar kakak. Jangan di sini nanti dimarahin papa."


"Iya, deh," sahut Afrin dengan cemberut. Dalam hati dia membenarkan apa yang dikatakan Yasna. Emran memang pasti akan marah jika tahu mereka bergosip tentang orang lain. Apalagi orang itu pernah ada dalam perjalanan hidup Aydin.


"Sebentar, Bunda mau panggil Papa sama Kakak."


"Tidak perlu, Sayang. Kami sudah di sini," sahut Emran yang baru memasuki ruang makan diikuti Aydin. Yasna hanya tersenyum menanggapinya.


"Ya sudah, ayo, kita makan!"


"Ini yang masak Bunda, apa gadis kecil itu?" tanya Aydin sekaligus mengejek adiknya.


"Ini masakan kolaborasi antara Bunda sama aku lah. Kami masaknya sama-sama," jawab Afrin menyombongkan dirinya.


"Pakai kolaborasi segala, pasti rasanya aneh? Nggak seperti biasanya yang bunda masak."


"Cobain dulu, baru komentar. Pasti enak banget," ucap Afrin. "Mana piring Kakak? Biar aku yang ngambilin."


"Boleh, ini," ucap Aydin dengan menyerahkan piringnya kepada Afrin.


Afrin meraih piring itu dengan semangat lalu, mengisi piring tersebut dengan nasi dan lauk yang dia masak.


"Silakan dinikmati!" seru Afrin sambil menyerahkan kembali piring Aydin.


"Bunda, rumahnya Nayla di daerah mana, sih? Kok tadi aku ketemu dia waktu perjalanan pulang?" tanya Aydin disela dia mengunyah makanannya.


"Bunda nggak tahu di mana rumahnya. Bunda nggak pernah ke sana, Bunda tahunya cuma butik saja. Kamu ketemu di daerah mana?"


"Tidak jauh dari kantor. Tadi mobilnya mogok jadi, aku bantuin dia."

__ADS_1


"Kakak ngobrol apa aja sama Kak Nayla? Sudah minta nomor ponselnya belum?" tanya Afrin kepo.


"Kamu mikir apa? Kakak cuma bantuin doang," sahut Aydin.


"Ih, Kakak mah nggak pandai PDKT. Seharusnya Kakak nggak usah benerin mobilnya. Kakak pura-pura saja nggak bisa benerin, terus antar dia pulang. Ajak Kak Nayla ngobrol apa saja yang membuatnya nyaman."


"Wah, kamu jago sekali cari perhatian. Jangan-jangan kamu juga seperti itu?"


Semua orang menatap Afrin, menunggu jawaban dari gadis itu. Mereka penasaran, bagaimana Afrin bisa mempunyai pemikiran seperti itu.


"Nggak ada, aku cuma sering dengar temen-temen bicara seperti itu. Aku sudah bilang, aku nggak mau pacaran."


"Kamu jangan ikut-ikutan mereka, ya! Awas saja kalau kamu seperti mereka!" sela Yasna.


"Enggak, Bunda. Kok malah aku sih yang di serang? Aku, kan mau nanya sama kakak. Ya sudah, aku nggak mau nanya lagi," sahut Afrin dengan melanjutkan makannya.


"Lagian, Kakak tuh nggak mau cinta-cintaan dulu. Itu cuma bikin sakit hati saja. Jika memang sudah waktunya pasti nanti akan bertemu jodoh sendiri," ucap Aydin.


Hubungannya dengan Airin memang singkat, tapi Aydin bukan orang yang suka mempermainkan sebuah hubungan. Sudah pasti perpisahannya dengan mantan kekasihnya meninggalkan luka di hatinya.


"Kenapa nggak coba kejar Kak Nayla, Kak?" tanya Afrin.


"Sadar diri juga, ya, Kakak. Aku kira nggak tahu malu," ejek Afrin.


"Kamu sukanya ngeremehin orang. Kakak juga tahu mana yang baik dan tidak."


"Sudah, sudah, kalian ini selalu saja bertengkar. Ayo, dihabiskan makanannya!" seru Yasna.


"Biarkan saja, Sayang. Abaikan mereka, kita lanjut makan," ucap Emran.


Afrin dan Aydin saling melempar pandangan sinis. Usai makan malam, Emran segera memasuki kamarnya. Yasna juga mengikuti sang suami ke dalam kamar. Wanita itu merasa ada sesuatu yang ingin dibicarakan oleh suaminya.


"Ada apa, Mas? Pasti ada sesuatu, kan?" tanya Yasna begitu mereka sampai kamar.


Biasanya Emran selalu masuk ke ruang kerja setelah makan malam. Entah mengerjakan pekerjaan atau hanya sekadar mengecek email, tapi sekarang ke kamar pasti mau membicarakan sesuatu yang penting.


"Begini, Sayang. Kamu masih ingat siapa Zahran?"


"Kenapa tiba-tiba, Mas, bertanya tentang dia? Memangnya ada apa?" tanya Yasna heran, tiba-tiba saja Emran membahas orang dari masa lalunya.


"Tadi siang, dia datang ke kantor. Dia meminta aku menjodohkan Aydin dengan putrinya."

__ADS_1


"Lalu, Mas jawab apa?" tanya Yasna. Dia ingin tahu apa yang suaminya katakan pada mantan suaminya itu.


"Aku bilang, aku tidak ingin memaksa Aydin, tapi dia memaksa. Dia bilang, anggap saja itu pertukaran, dulu dia menyerahkan kamu untukku dan sekarang dia ingin aku menyerahkan Aydin untuk putrinya."


"Pemikiran macam apa itu? Aku nggak akan rela kalau Aydin dijodohkan dengan putrinya Zahran. Aku memang tidak tahu bagaimana kabarnya apalagi keluarganya, tapi aku tidak ingin terlibat dengan keluarga mereka lagi. Sudah cukup masa lalu itu. aku tidak ingin masa depan anakku berputar dengan keluarga mereka."


"Karena itu, aku menanyakannya sama kamu. Apa perlu kita tanyakan juga pada Aydin? Ini juga terkait masa depannya."


"Tidak perlu bicara pada Aydin. Aku tidak akan menyetujuinya. Aku juga yakin kalau Aydin tidak akan mau, dengan Nayla saja menolak apalagi dengan putri Zahran."


Emran membenarkan kata-kata Yasna. Jujur, dia juga kurang suka dengan keluarga mereka. Apalagi istrinya punya kenangan buruk di keluarga itu. Pria itu tidak ingin anaknya juga mengalami hal yang sama.


"Baiklah kalau begitu, aku akan menghubunginya."


"Mas, punya nomornya?"


"Iya, tadi dia yang memberi."


Yasna mengangguk. Sementara Emran membuka ponselnya dan mencari nomor Zahran yang tadi siang dia simpan. Pria itu segera melakukan panggilan.


"Halo, assalamualaikum," ucap seseorang di seberang telepon.


"Waalaikumsalam, Zahran mengenai pembicaraan kita tadi siang. Mohon maaf, saya menolaknya. Saya tidak ingin memaksa Putra saya mengenai jodohnya. Saya sudah memberi kebebasan padanya untuk memilih. Sekali lagi saya minta maaf."


"Bukankah saya sudah bilang, nggap saja Ini sebagai pertukaran kita dulu--."


Yasna segera merebut ponsel Emran. Dia sangat geram mendengar kata-kata Zahran.


"Maaf, ya, saudara Zahran. Saya bukan barang yang bisa ditukar dengan apa pun. Mengenai saya, itu bukan hak Anda untuk menyerahkan pada siapa. Itu karena kami memang sudah berjodoh bukan karena Anda atau siapa pun. Jangan memaksa putra saya bersama dengan putri Anda. Saya rasa putri Anda seorang gadis yang cantik jadi, pasti sangat mudah untuk mencari jodohnya sendiri. Tanpa harus dijodohkan dengan Putraku," ucap Yasna dengan emosi.


Yasna segera mematikan ponselnya tanpa mendengar jawaban dari seberang. Terserah dia berpikir apa, yang pasti dia tidak akan menyerahkan putranya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2