
Dokter meminta Nayla berbaring dan memeriksanya. Setelahnya meminta wanita hamil itu kembali ke tempat duduknya.
"Begini, Bu, saya tidak bisa memastikan apa yang terjadi pada Bu Nayla, hanya dengan melihat dan memeriksa saja. Kami harus melakukan beberapa tes untuk memastikan apa yang terjadi pada tubuh ibu," ujar Dokter yang bernama Wiwin.
"Apa terjadi sesuatu dengan tubuh saya, Dokter? Tadi saya membaca artikel tentang ciri-ciri seperti yang saya alami dan itu menunjuk pada kanker. Apa saya terkena kanker, Dok?" tanya Nayla.
Wanita itu berusaha sekuat tenaga, agar tidak menangis dan terlihat lemah dihadapan orang lain, meski itu seorang dokter. Nayla berusaha tegar, padahal hatinya kini sudah terasa begitu sesak dan rapuh.
"Setiap kemungkinan pasti ada, Bu. Karena itu kami menyarankan agar Ibu menjalani beberapa tes agar kami tahu penyakit Bu Nayla dan tindakan apa yang harus kita lakukan."
"Apa semua prosesnya lama, Dokter?"
"Kami harus memastikan semuanya dulu, mungkin awalnya kita harus melakukan USG."
"Tapi saya takut, Dokter."
Nayla tahu kata-kata dokter hanya sebagai penenang saja. Dulu saat ibunya sakit juga seperti sekarang. Dokter berkata akan baik-baik saja, nyatanya dia harus kehilangan sang ibu untuk selamanya.
Sejak ibunya meninggal, Nayla memang tidak suka datang ke rumah sakit. Bahkan untuk pemeriksaan kehamilannya kemarin saja, atas paksaan dari suaminya, tetapi sekarang keadaannya seperti ini. Bagaimana dia menjalani hari-harinya.
"Kalau Anda semakin menundanya, akan semakin membahayakan tubuh Anda. Apalagi saat ini Anda sedang hamil juga jadi, semakin cepat kita melakukan pemeriksaan, semakin cepat kita bisa berusaha untuk menanganinya," ujar dokter. "Maaf Anda ke sini dengan siapa?"
"Saya sendiri, Dokter."
"Baiklah, bagaimana? Apa Anda mau melakukan pemeriksaan? Ini juga demi Anda dan bayi Anda. Kalau mau, saya akan merekomendasikan dokter yang akan menangani Anda."
"Boleh saya pikirkan dulu, Dokter?"
"Silakan, semua keputusan ada pada Anda sendiri dan saya harap nanti saat Anda melakukan pemeriksaan ditemani salah satu keluarga. Itu agar mereka bisa mensuport Anda, karena saya sangat yakin pasti Anda sangat membutuhkan itu," ujar dokter. "Ini nama dokter yang akan memeriksa Anda. Jika Anda sudah siap, silakan datang menemui Dokter Faisal. Dia juga termasuk dokter terbaik di rumah sakit ini," lanjut Dokter Wiwin dengan memberi sebuah catatan pada Nayla.
"Terima kasih, Dok. Saya akan pikirkan baik-baik," sahut Nayla. "Saya pergi dulu."
"Saya harap Anda segera mendapatkan jawabannya, karena semakin lama Anda menunggu akan membahayakan bagi Anda dan bayi Anda."
Dokter itu kembali mengingatkan. Sebagai seorang wanita dia tahu, pasti Nayla saat ini sangat terpukul. Terlebih dengan keadaan wanita itu sedang hamil.
"Iya, terima kasih atas nasehatnya. Saya permisi dulu."
__ADS_1
Nayla berjalan dengan kaki yang gemetar. Melangkah meninggalkan ruangan dokter. Tangan wanita itu terasa dingin. Tubuhnya seperti tidak memiliki tenaga sama sekali. Dari tadi dia memikirkan hal-hal yang akan terjadi padanya, terutama pada sang Buah Hati.
Dia sangat menantikan kehadiran anaknya. Bagaimana mungkin dia bisa berpikir sesuatu terjadi padanya. Apalagi sampai harus kehilangan bayi itu. Nayla sama sekali tidak bisa membayangkan jika hal itu sampai terjadi. Lebih baik wanita itu kehilangan nyawanya daripada anaknya.
Wanita itu melihat sebuah toilet, dengan segera Nayla masuk ke sebuah bilik dan menangis di sana, menumpahkan segala keresahan yang ada pada dirinya. Dia menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan suara. Wanita itu tidak ingin orang lain mendengar tangisannya. Apalagi jika itu orang yang mengenalnya.
Ponsel dalam tas Nayla bergetar. Wanita itu tidak sanggup mengangkatnya. Dia yakin bahwa itu adalah panggilan dari sang suami. Sudah dipastikan saat ini suaranya pasti akan bergetar dan Nayla tidak ingin suaminya tahu keadaannya, karena itu dia memilih untuk tidak mengangkatnya.
*****
Aydin telah menyelesaikan meetingnya. Dia harus menjemput sang istri yang berada di butik. Begitu sampai di butik, dia dicegah oleh Via.
"Mas Aydin mau jemput Mbak Nayla?" tanya Via.
"Iya, kenapa?"
"Tapi Mbak Naylanya sedang keluar."
"Keluar? Keluar ke mana? Aku, kan, tadi sudah melarangnya untuk pergi! Kenapa masih pergi?"
"Aku tadi juga sudah melarangnya, Mas, tapi Mbak Nayla bilang cuma sebentar."
Via merasa bersalah karena membiarkan Nayla pergi seorang diri. Padahal sebelumnya Aydin sudah mewanti-wanti untuk menjaga atasannya.
"Sudah berapa lama dia pergi?" tanya Aydin.
"Sekitar satu jam."
Aydin segera mencari ponselnya dan menghubungi sang istri. Namun, tak juga diangkat, padahal panggilan sudah tersambung.
"Apa dia tadi mengatakan sesuatu? Atau bilang mau pergi ke mana?" tanya Aydin.
"Tidak, Mas. Mbak Nayla cuma bilang keluar sebentar."
Aydin mengangguk, dia masih berusaha menghubungi sang istri. Namun, masih tidak diangkat. Pria itu semakin tidak tenang.
"Apa terjadi sesuatu tadi sebelum dia pergi?"
__ADS_1
"Tidak ada, Mas. Hanya saja tadi orang yang membuat janji mengenai pesanan, batal karena Mbak Nayla menolaknya."
"Kenapa Nayla menolak?"
"Saya kurang tahu, Mas. Mbak Nayla cuma bicara berdua dengan orang itu di meja sana. Saya dan Fika melayani pembeli yang lainnya."
'Kamu ke mana, Nay. Jangan buat aku khawatir. Cepatlah pulang,'
Aydin kembali mengangguk. Dia tidak mungkin hanya berdiam diri di sini. Pria itu ingin pergi mencari istrinya ke manapun.
"Ya sudah, kalau begitu. Aku mau keluar mencari ke tempat sekitar mungkin dia mencari makanan. Nanti kalau Nayla sudah kembali, kamu segera hubungi saya, ya!"
"Iya, Mas."
Aydin segera meninggalkan butik dengan mengendarai mobilnya, mengelilingi jalanan sekitar. Dia tidak akan bisa tenang sebelum melihat istrinya baik-baik saja.
Setelah lama berkeliling pria itu mendapat pesan dari Via jika Nayla sudah kembali ke butik. Namun, gadis itu tidak menceritakan jika atasannya pulang, dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Biar Aydin sendiri yang melihatnya.
Aydin segera memutar mobil dan kembali ke butik. Pria itu merasa lega setelah mendapat kabar jika isytrinya baik-baik saja. Begitu sampai, dia segera masuk.
"Assalamualaikum," ucap Aydin.
"Waalaikumsalam, Mbak Nayla ada di dalam, Mas. Masuk saja," sahut Via.
"Terima kasih." Aydin segera memasuki ruang pribadi Nayla. "Sayang, ada apa? Kamu habis nangis?"
Aydin masih bisa melihat wajah Nayla yang sembab. Ekspresinya juga sedih. Pria itu yakin pasti telah terjadi sesuatu pada istrinya.
"Tidak, Mas. Aku barusan nonton film di bioskop. Entah kenapa tiba-tiba aku ingin nonton dan ternyata, filmnya sedih aku jadi, ikutan nangis," jawab Nayla berbohong. Dia tidak mungkin mengatakan pada sang suami, mengenai apa yang terjadi pada dirinya.
Aydin tahu istrinya berbohong, tetapi dia tidak mungkin memaksa Nayla mengatakannya. Biarlah wanita itu tenang dulu. Mudah-mudahan istrinya akan bercerita tanpa pria itu bertanya.
.
.
.
__ADS_1
.
.