
Usai mengerjakan tugasnya, Nuri keluar dari kamar Afrin. Dia ingin ke halaman samping rumah untuk menghirup udara segar. Ternyata di sana sudah ada Nayla yang sedang menyiram beberapa tanaman.
Mereka saling pandang dan tersenyum. Meski sudah beberapa kali bertemu, Nuri tetap merasa canggung jika berhadapan dengan wanita yang ada di depannya itu. Entah karena rasa bersalahnya atau memang belum saling mengenal saja.
"Sudah selesai tugasnya, Ri?" tanya Nayla.
"Sudah, Kak. Baru saja selesai. Mau cari angin sebentar."
"Duduk situ, yuk, Ri!" ajak Nayla dengan menunjuk sebuah kursi panjang di taman itu.
"Boleh, Kak." Mereka berjalan bersama menuju kursi itu dan duduk berdampingan.
Semilir angin menerpa wajah keduanya yang saat ini masih terdiam. Suara gesekan dedaunan seperti musik yang mengusir keheningan. Beberapa kali Nuri memperbaiki hijabnya, Itu dia lakukan hanya untuk menutupi kegugupannya.
"Kamu sekarang kelas berapa, Ri?" tanya Nayla akhirnya.
"Kelas sebelas, Kak."
"Sebentar lagi sudah lulus. Mau kuliah di mana?"
"Masih kurang satu tahun lebih, Kak. Kemungkinan aku nggak kuliah. Kalau dapat beasiswa insya Allah kuliah nanti. Kalau tidak, ya cari kerja bantuin umi sama abi cari uang, buat adik sekolah," tutur Nuri.
"Kamu, kan, pintar. Pasti bisa dapat beasiswa."
"Tapi di luar sana juga lebih banyak banget yang pandai, Kak."
Hening kembali, mereka sama-sama bingung ingin berkata apa. Hingga Nayla memberanikan diri untuk bertanya masalah pribadi gadis itu.
"Ri, aku mau nanya, kamu sudah punya pacar belum?"
"Umi sama abi melarang jadi, Nuri nggak berani."
"Jadi kamu belum pernah pacaran sama sekali?" tanya Nayla dengan menatap wajah gadis itu. Nuri menggeleng sambil tersenyum. "Boleh Kakak minta sesuatu sama kamu? Tapi kamu harus janji untuk menepatinya."
"Apa dulu? Aku nggak mau bilang janji, nanti aku nggak bisa nepatinnya," tolak Nuri.
__ADS_1
"Kamu bisa. Pasti bisa."
"Apa, sih, Kak?" tanya Nuri penasaran. Pasti itu sangat penting karena Nayla seolah tidak ingin dibantah.
"Kamu harus janji. Nanti setelah lulus SMA, kamu mau menjadi istri Mas Aydin dan menjadi ibu sambung dari anakku!" pinta Nayla dengan menggenggam kedua telapak tangan gadis yang kini di sampingnya.
Nuri terkejut mendengarnya, segera dia melepas genggaman wanita itu. Apa maksud Nayla? Kenapa dia mengatakan hal seperti itu? Apa wanita itu meminta dirinya menjadi istri kedua Aydin?
"Apa maksud, Kakak? Aku tidak mengerti sama sekali dan aku juga tidak mau menjadi istri kedua, ketiga atau seterusnya. Aku tidak mau disebut sebagai pelakor," tolak Nuri.
"Tidak, kamu akan menjadi istri Mas Aydin satu-satunya."
"Istri Kak Aydin itu Kakak!"
"Iya, tapi sebentar lagi tidak. Umur kakak tidak akan lama lagi karena itu, aku mohon padamu. Berjanjilah setelah kamu lulus sekolah, kamu akan menikah dengan Mas Aydin."
"Itu tidak akan pernah terjadi," sahut seorang pria di belakang mereka, yang tidak lain adalah Aydin.
"Mas Aydin!"
Sebenarnya Nuri masih ingin bertanya, apa maksud Nayla dengan mengatakan jika umurnya tidak akan lama lagi? Apa wanita itu sedang sakit?
"Apa sih, Sayang? Kamu akan sembuh dan baik-baik saja. Jangan berpikir yang tidak-tidak. Cuma kamu istriku satu-satunya, tidak ada yang lain," ujar Aydin.
"Mas, kita harus berpikir dengan realistis. Aku juga ingin selalu bersamamu, tapi jika Tuhan tidak menghendaki, aku bisa apa? Aku tidak ingin anakku dibesarkan oleh wanita yang salah. Nuri adalah wanita yang baik dan aku yakin, masa depan anakku akan cerah di tangannya."
"Tidak ada yang bisa menggantikan kamu. Aku akan berusaha untuk mencari dokter terbaik di dunia ini. Bahkan aku akan membawamu keliling dunia mencari pengobatan terbaik."
"Dan aku tidak mungkin bisa sampai di waktu itu. Waktuku sangat terbatas dan aku sangat tahu akan hal itu," sahut Nayla dengan menatap Aydin. "Nuri, dia juga sangat mencintai kamu. Aku yakin kamu bisa bahagia bersama dengannya."
Kali ini Nayla tidak mengeluarkan air mata sedikitpun. Dia sudah berjanji akan lebih kuat menjalani sisa hidupny. Wanita itu sudah mantap dengan pilihannya. Tidak ada seorang pun yang bisa mempengaruhi apa yang sudah dia putuskan.
"Apa maksud kamu? Aku tidak mencintainya," sahut Aydin dan beralih menatap Nuri dengan tajam. "Dan kamu, jangan berpikir yang tidak-tidak. Aku tidak akan pernah menikah dengan kamu!" lanjutnya dengan berteriak.
Nuri yang perlakukan seperti itu menjadi gemetar. Dia tidak pernah dibentak. Di rumah, umi dan abi nya selalu berkata lemah lembut kepadanya. Bahkan di sekolah, saat ada murid yang tidak menyukainya, tidak ada yang pernah membentak. Hanya kata-kata sinis yang keluar dari mulut mereka.
__ADS_1
Yasna dana Afrin yang berada di rumah, segera menuju taman saat mendengar teriakan Aydin yang marah-marah. Mereka mengira telah terjadi sesuatu pada kesehatan Nayla.
Kedua wanita beda usia itu sampai di tempat kejadian. Mereka melihat Aydin sedang emosi dan Nayla berusaha menenangkannya. Sementara Nuri sudah menundukkan kepala sambil meneteskan air mata.
"Ada apa ini, Aydin? Kenapa kamu marah-marah?" tanya Yasna sambil menatap semua orang bergantian.
"Tanyakan saja kepada temannya Afrin ini yang ganjen. Bisa-bisanya dia menyukai suami orang," jawab Aydin dengan sinis seolah Nuri seorang wanita penggoda.
"Suka sama siapa?" tanya Yasna penasaran. Siapa yang dimaksud oleh putranya. Apa Nuri ingin menghancurkan pernikahan orang? Berbagai pertanyaan menghinggapinya.
"Dia suka sama aku dan dia mempengaruhi Nayla, supaya menikahkan aku dengan dia."
"Apa!" teriak Yasna dan Afrin bersamaan. Mereka tidak percaya dengan apa yang didengar. Selama ini Nuri selalu baik. Apa mungkin gadis itu melakukan hal itu.
"Tidak, Bunda. Aku yang memintanya untuk menjadi istri Mas Aydin, tapi Nuri menolaknya dan aku yang memohon padanya, agar mau menerima permintaanku."
Nayla tidak ingin membiarkan seorang gadis disalahkan atas permintaannya. Terlebih Nuri tidak melakukan kesalahan apa pun.
"Sayang, kamu nggak usah belain dia," sela Aydin dengan emosi.
"Aku yakin, Mas, mendengar apa yang aku katakan tadi. Kenapa kamu membalikkan fakta. Jangan hanya karena membelaku kamu memfitnah seorang gadis."
Aydin diam. Memang benar dia sudah mendengar semua pembicaraan Nayla dan Nuri. Hanya saja dia tidak menyukai keberadaan gadis itu jika itu hanya untuk memenuhi keinginan Nayla, yang akan menikahkan mereka.
Pria itu akui Nuri memang gadis yang baik. Selalu sopan pada siapa pun, meski dengan orang yang lebih muda darinya. Akan tetapi, untyk menjadikannya istri, Aydin tidak pernah berpikir ke arah itu.
"Jadi sebenarnya ada apa? Jangan membuat Bunda pusing?" tanya Yasna pada anak dan menantunya. Dia juga kasihan pada Nuri yang sedari tadi menangis tanpa bisa membela diri.
.
.
.
.
__ADS_1
.