
Hari ini, hari Minggu. Seluruh keluarga ada di rumah, tapi Yasna ada janji dengan Nayla untuk menemui suplier kain di butik gadis itu. Sebenarnya Yasna sudah menolak, tapi suplier tersebut menolak jika Nayla datang sendiri. Mereka belum percaya pada gadis seusianya mengelola bisnis karena itu, dengan terpaksa Yasna datang.
Pagi sekali Nayla datang ke rumah Yasna, atas permintaan wanita itu. Dia ingin pergi bersama-sama ke tempat meeting.
"Ayo, Nay! Kita sarapan dulu," ajak Yasna.
"Maaf, Tan. Saya sudah sarapan di rumah tadi jika dipaksakan pasti rasanya nggak enak."
"Iya, saya mengerti. Kamu tunggu di sini, nggak apa-apa, kan?"
"Iya, nggak pa-pa."
Yasna meninggalkan Nayla di ruang tamu. Dia sarapan bersama keluarganya terlebih dahulu. Wanita itu terbiasa melayani suaminya.
"Bunda, mau ke mana, sama Kak Nayla? Biasanya Bunda selalu di rumah setiap hari Minggu," ucap Afrin sedikit protes.
Biasanya gadis itu akan menggunakan waktu libur untuk bermanja dengam Yasna, tapi hari ini bundanya akan pergi.
"Iya, sayang. Maaf, ya. hari ini saja, kok. Bunda ada sedikit pekerjaan. Setelah menemui rekan bisnis, Bunda langsung pulang, Nggak lama."
"Kenapa, sih, Bunda pake kerja segala." Aydin juga ikut protes.
"Bunda hanya sedikit membantu saja. Oh, iya, Aydin. Kamu mau nggak, ikut sama Bunda?"
"Ke mana?"
"Keluar saja, anterin Bunda dan Nayla."
"Nggak, aku di rumah saja."
"Aydin, Nayla itu gadis yang baik, kenapa kamu tidak mencoba untuk mengenalnya?" Yasna mencoba membujuk Aydin, berharap putranya itu mau ikut.
"Maaf, ya, Bunda. Dari kemarin Bunda selalu berusaha mengenalkan aku dengan Nayla. Aku sama sekali tidak tertarik dengannya."
"Tapi, dia itu--"
Belum selesai Yasna berbicara Nayla datang dan memotong pembicaraan mereka.
__ADS_1
"Maaf, Tante. Rekan kita sudah menunggu dan mereka tidak bisa menunggu terlalu lama. Apa kita bisa pergi sekarang? Karena dua jam lagi mereka akan ke luar negeri," ucap Nayla begitu masuk ke ruang makan.
Aydin semakin dibuat geram. Tidak segan-segan dia mengucapkan kata-kata yang menyakitkan hati.
"Apa kamu tidak bisa menemui mereka sendiri? Kenapa harus mengajak Bunda? Sekarang itu waktunya quality time bareng keluarga. Seharusnya kamu mengerti. Jangan mentang-mentang karena ibu kamu sudah mendonorkan jantungnya untuk kakek jadi, kamu bisa seenaknya sama bunda. Bunda sudah baik dengan menanamkan saham di butik kamu. Anggap saja itu bayaran atas jantung ibu kamu!" ucap Aydin dengan emosi.
"Aydin!" teriak Emran. Sementara semua orang menatap Aydin tidak percaya.
Suasana tiba-tiba terasa hening. Mereka tidak menyangka jika Aydin bisa berkata seperti itu. Sementara Nayla hanya diam terpaku menatap pria yang salah mengartikan kebaikan ibunya
Yasna merasa tidak enak pada Nayla. Bagaimanapun dia yang meminta gadis itu ke sini. Tetapi, sekarang putranya malah menghardik Nayla.
"Mas, sepertinya aku harus pergi sekarang," pamit Yasna. Dia tidak ingin suasana semakin kacau dan akan membuat mereka saling menyakiti.
"Iya, hati-hati." Yasna mencium punggung tangan Emran dan mengajak Nayla pergi. "Ayo, kita pergi, Nay!"
Namun, Nayla menolak. dia menatap tajam pada Aydin dan berkata, "Sebelumnya saya minta maaf, Tuan Aydin. Saya tidak pernah berniat untuk menjual jantung Ibu saya. Jika keluarga Anda keberatan dengan keberadaan jantung ibu saya? Saya dengan sukarela menerimanya kembali."
Nayla berbalik meninggalkan rumah itu. Yasna yang sadar jika gadis itu sudah pergi pun segera mengejarnya. Sementara Aydin terdiam, dia juga merasa jika kata-katanya sudah sangat keterlaluan, tapi dia terlalu gengsi untuk meminta maaf.
Nayla mencoba mengatur emosinya. Niat baik ibunya disalahartikan orang lain. Dia juga tidak ada maksud untuk mengganggu waktu keluarga mereka. Ini memang pekerjaan yang harus dilakukannya dengan Yasna.
"Saya mengerti, Tante. Jangan terlalu dipikirkan," sahut Nayla dengan mencoba tersenyum.
"Justru Tante yang harus berkata seperti itu. Tolong maafkan Aydin, jangan terlalu dimasukkan hati kata-katanya."
Nayla kembali tersenyum dan berkata, "Saya tidak apa-apa, Tante."
"Kamu tidak akan mengembalikan uang Tante, kan? Kamu masih mau bekerja sama dengan Tante, kan?"
"Saya bukan orang yang seperti itu. Saya tidak akan pernah mencampuradukkan, antara pekerjaan dengan urusan pribadi."
"Terima kasih atas pengertiannya."
"Tapi, sebaiknya Tante kembali ke dalam karena memang hari ini, kan, hari untuk keluarga jadi, saya minta maaf, sudah mengganggu acara keluarga, Tante. Mengenai masalah rekan kita, nanti saya akan mencoba menjelaskannya dengan hati-hati."
"Apa benar, kamu tidak apa-apa? Kalau mereka menolak?"
__ADS_1
"Iya, Tante, saya tidak apa-apa. Saya akan mencoba memberi pengertian pada mereka. Saya permisi, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Nayla pergi meninggalkan rumah itu.
Yasna kembali ke dalam rumah. Namun, belum sampai dia di ruang makan, tubuhnya membeku mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Aydin.
"Kenapa, sih, Pa. Bunda menjodohkanku dengan wanita itu? Aku tahu, bunda selama ini sudah sangat menyayangiku, tapi bukan dia yang melahirkanku. Tidak seharusnya dia menjodoh-jodohkanku. Aku selama ini selalu menurutinya, bukan berarti dia juga harus mengatur hidupku. "
"Kamu jangan bicara seperti itu."
"Memang kenapa? Kenyataanya memang seperti itu. Dia bukan ibu kandungku, seberapa pun Papa mengelak, tapi itulah kenyataannya."
"Tapi, jaga kata-katamu. Jangan sampai bunda mendengar semua ini."
Tanpa terasa air mata Yasna mengalir. Kini, wanita itu tahu di mana tempatnya berada. Tidak seharusnya dia mengambil alih peran seorang ibu kandung untuk Aydin. Yasna tidak jadi memasuki rumah, dia kembali berbalik arah pergi ke luar.
Yasna tidak tahu ke mana dia akan pergi. Wanita itu ingin menenangkan diri, sebelum bertemu dengan keluarganya. Yasna memilih pergi ke danau, tempat yang sudah lama tidak dikunjunginya. hari ini dia ingin ke sana dan berkeluh kesah di tempat itu. Namun, kini tidak ada lagi yang bisa menemaninya.
Fazilah sudah tinggal di luar negeri bersama suaminya. Tidak mungkin juga Yasna menghubungi sahabatnya itu. Sudah dipastikan dia pasti sibuk dengan suami dan anak-anak.
Yasna menaiki ojek untuk pergi ke danau. Saat sampai semuanya terasa berbeda, dia seperti mendatangi tempat asing.
'Sekarang tempat ini terasa asing, dulu aku selalu berkeluh kesah di sini dan hari ini, aku juga datang untuk berkeluh kesah. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan saat ini. Ternyata apa yang aku lakukan tidak semua orang menerimanya. Aku saja yang terlalu percaya diri, menganggap diriku terlalu berarti,"
Yasna menangis sesenggukan. Hatinya teramat sakit, meski hanya sebuah kalimat yang terucap dari bibir Aydin. Dia sudah sangat menyayangi anak-anak Emran dan menganggap mereka anak kandungnya, tapi semuanya runtuh hari ini.
Tidak ada yang bisa mengubah statusnya sebagai ibu sambung. Seharusnya Yasna tahu diri, bukan malah ingin mengatur kehidupan mereka.
.
.
.
.
.
__ADS_1