
"Assalamualaikum, Bu," sapa Rani pada ibunya Ivan.
"Waalaikumsalam," sahut wanita itu.
Rani duduk di belakang bersama dengan ibu Ivan sementara pria itu di depan seorang diri. Wanita itu merasa gugup. Ini pertama kalinya dia bertemu dengan calon mertuanya dan langsung dilamar ke rumah orang tuanya di kampung. Mereka meninggalkan halaman rumah keluarga Emran, menuju kampung Rani.
"Kamu cantik sekali, pantas saja Ivan jatuh cinta sama kamu," ucap Sari, ibunya Ivan.
"Ibu terlalu memuji. Ibu juga cantik," sahut Rani. "Ibu, kakinya kenapa?" tanya Rani saat melihat kaki calon mertuanya itu diperban.
"Tidak apa-apa hanya terkilir saja kemarin di rumah."
"Makanya ibu harus hati-hati. Sudah berapa kali Ivan bilang, kalau mau apa-apa panggil orang lain. Jangan lakukan sendiri," sahut Ivan yang ada di depan.
"Kamu kenapa ikutan ngomong? Ibu lagi ngobrol sama Rani. Kamu diam saja, lihat ke depan," sahut Mama Ivan.
Sebenarnya Ivan juga sama terkejutnya, saat melihat mamanya turun dari kereta dengan memakai tongkat. Mama Sari tidak pernah mengatakan jika kakinya terkilir. Kalau tahu begitu, dia tidak akan meminta mamanya untuk datang. Pria itu bisa meminta paman atau kerabat yang lainnya saja. Bahkan tadi pagi saat akan berangkat Ivan sempat melarang mamanya, tetapi mamanya tetap kekeuh ingin bertemu dengan calon menantu dan besannya.
"Lagian aku, kan, sudah bayar orang buat jagain Mama. kenapa Mama nggak pernah dengerin aku sama sekali? Aku pecat mereka saja. Percuma juga gaji orang yang pekerjaannya nggak beres," ujar Ivan dengan kesal.
"Mama nggak mau dirawat orang lain.
Mama tuh maunya dirawat sama anak dan menantu sendiri," sahut Mama Sari kemudian beralih menatap Rani. "Kalau nanti kamu sudah jadi istri Ivan, kamu mau, ya, tinggal sama ibu?"
Rani diam, dia tidak tahu apa pun tentang orang tua Ivan, tetapi menolak secara langsung juga pasti tidak enak. Wanita itu bingung menjawab apa.
"Ma, aku itu nyari istri bukan buat nemenin Mama, di kampung. Kecuali kalau Mama mau tinggal di kota, nggak papa ditemani Rani. Kalau Mama mau bawa Rani ke kampung, apa bedanya aku nikah atau tidak?" sahut Ivan yang mengerti kegelisahan Rani.
Mama Ivan berpikir memang benar apa yang dikatakan putranya. Kalau dia membawa Rani, kapan dia akan memiliki cucu? Sedangkan wanita paruh baya itu tidak mau tinggal di kota.
"Kenapa tidak mau, Bu?" tanya Rani, padahal Ivan termasuk orang kaya. Pasti semua keinginan ibunya bisa terpenuhi.
__ADS_1
"Kalau Mama tinggal di kota, pasti kalian akan sibuk dengan kegiatan masing-masing, akhirnya Mama sendirian di rumah. Lebih enak di kampung banyak yang nemenin."
"Ibu, kan, masih melakukan sesuatu yang lain. Majikan saya juga selalu di rumah, tapi enggak pernah bosan. Ada saja yang dikerjakan."
Mereka pun berbicara beberapa hal tentang diri Rani dan kehidupan Mama Ivan di luar kota. Rani senang karena calon mertuanya itu orang yang baik. Tidak seperti yang ada dalam bayangannya.
*****
"Maaf, Pak. Pangajuan kerjasama kita ditolak perusahaan Pak Lucky," ucap Iwan orang kepercayaan Khairi.
"Bagaimana bisa? Bukankah sebelumnya mereka menawarkan kerja sama kepada kita?"
"Kata anak buah Pak Ivan, Bu Luna mendatangi perusahaan itu karena tahu Anda mengajukan kerjasama ke sana. Entah apa yang dibicarakannya hingga membuat mereka menolak kita."
"Saya mengerti maksud kamu." Khairi benar-benar pusing, kini dia menghadapi orang licik.
Bagaimana caranya agar mendapatkan klien? Karena sepertinya dia pergi ke mana pun pasti Luna akan mengikutinya dan menghancurkan rencananya.
Saat ini pria itu menggantikan pekerjaan Ivan yang sedang cuti. Iwan biasanya akan bekerja atas perintah Ivan jadi, sekarang dia hanya menggantikan sementara.
"Mana mungkin aku berani mengajukan proposal ke sana. Itu sama saja dengan memanfaatkan keluarga istri saya."
"Kenapa Anda berpikir seperti itu? Kita minta bantuan juga tidak cuma-cuma. Mereka juga menerima hasil, kok! Hanya saja memang banyak sekali modal yang kita butuhkan. Kita juga tidak meminta bantuan begitu saja, kita membuat proposal proyek kita dan menyerahkan kepada mereka. Meski itu bukan milik mertua Anda, kita juga akan tetap meminta kerja sama dengan mereka. Sebaiknya Anda pikirkan baik-baik. Ini bukan hanya tentang Anda dan saya, tapi banyak pekerja yang menggantungkan kehidupan keluarga mereka di perusahaan ini. Anda tahu sendiri bagaimana susahnya mencari pekerjaan di saat seperti sekarang. Lulusan sarjana saja belum tentu bisa bekerja lalu, bagaimana nasib pekerja produksi kita yang rata-rata semua lulusan SMA. Mereka juga menghidupi keluarganya."
Khairi memikirkan apa yang dikatakan oleh orang kepercayaannya itu. Memang benar sekali, banyak yang bergantung di perusahaan, terutama di bagian produksi. Mereka akan bekerja di mana nanti jika perusahaan ini benar-benar akan gulung tikar.
Khairi mengusap wajahnya dengan kasar. Tanggung jawabnya bukan hanya sang istri, tapi juga seluruh keluarga karyawannya.
"Baiklah, kamu siapkan saja proposal untuk mengajukan ke perusahaan Pak Emran. Nanti kita ke sana setelah makan siang."
"Baik pak akan saya siapkan." Iwan segera meninggalkan ruangan atasannya. Sementara Khairi masih melamun di meja kerjanya.
__ADS_1
"Mudah-mudahan semua berjalan dengan lancar, seperti apa yang dikatakan Iwan. Terserah jika orang mengatakan aku memanfaatkan nama mertuaku. Aku akan bertanggung jawab atas semua pekerjaan yang dilakukan oleh pegawaiku."
Setelah makan siang, Khairi dan Iwan pergi ke perusahaan Emran. Beberapa dari mereka sudah mengetahui jika pria itu adalah menantu atasan mereka. Tidak ada yang menahan kedatangan keduanya. Apalagi saat Khairi mengatakan jika ingin bertemu dengan pimpinan perusahaan, tidak ada yang bertanya alasannya.
"Maaf, bisa bertemu dengan Pak Emran?" ucap Khairi pada seorang resepsionis.
"Maaf, Pak, tapi Pak Emran sedang ada meeting di luar."
"Kalau Pak Aydin, apa saya bisa bertemu dengan beliau atau Pak Rudi."
"Sebentar, saya sambungkan telepon dulu."
Wanita itu pun menghubungi seseorang. Dia mengatakan apa yang diinginkan oleh Khairi. b
"Tuan, silakan naik ke lantai dua belas. Nanti akan ada orang yang mengantar Anda menemui Pak Rudi," ucap resepsionis itu.
"Terima kasih," Khairi dan Iwan menuju lantai yang ditunjuk oleh resepsionis tadi.
Selama di dalam lift Khairi tiba-tiba merasa tidak percaya diri. Baru kali ini dia merasa gugup seperti ini saat bertemu dengan klien. Padahal biasanya dia yang paling percaya diri saat bertemu dengan siapa pun. Apa mungkin itu karena kliennya adalah mertuanya atau karena dia pergi dengan Iwan, bukan dengan sekretaris kepercayaannya.
Terlalu larut dalam lamunan, hingga membuat Khairi tidak sadar jika mereka sudah sampai di lantai yang dituju.
"Tuan, kita sudah sampai," tegur Iwan.
"Ah, iya, ayo!"
.
.
.
__ADS_1
.