Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
51. Bertemu kembali


__ADS_3

Aku ingin bicara sebentar, aku tunggu di restoran dekat taman.


"Ada apa, Sayang? Siapa yang kirim pesan?" tanya Emran.


"Dari Avi, Mas. Dia bilang mau bicara sebentar."


"Lebih baik nggak usah, aku khawatir dia melakukan sesuatu sama kamu."


Mengingat kejadian saat Yasna diculik, membuat Emran khawatir jika wanita itu berbuat nekat kembali.


"Sepertinya dia ada masalah, Mas. Aku akan temui dia sebentar saja, kalau memang tidak ada yang penting, aku akan pulang."


"Kamu pergi sama siapa? Aku nggak bisa nemenin kamu, aku ada meeting."


"Aku sendiri nggak pa-pa, Mas. Aku bisa jaga diri, lagi pula kami bertemu di tempat ramai tidak mungkin dia berbuat jahat."


"Tetap saja aku khawatir, Sayang."


"Aku akan kirim pesan sama Mas tiap lima menit sekali, saat aku ketemu dia, bagaimana?"


Emran berpikir sejenak, ia sebenarnya ragu, tapi Yasna sepertinya ingin bertemu dengan wanita itu, istrinya itu memang terlalu baik, membuat ia sedikit tidak suka.


"Baiklah, tapi setiap lima menit kamu harus kirim pesan padaku."


"Iya," jawab Yasna. "Aku balas pesannya dulu."


"Na, terkadang kita harus bersikap tegas, bahkan jahat juga diperlukan, aku harap kamu bisa menempatkan diri kamu, bagaimana menghadapi orang yang ada di depan kita."


"Maksud, Mas?"


"Jangan terlalu baik pada orang lain, aku takut kamu dimanfaatkan oleh mereka, tidak semua orang baik itu akan selalu baik dan tidak semua orang jahat akan selalu jahat. Kamu mengerti, kan?"


"Aku akan ingat nasehat yang Mas berikan, mudah-mudahan Tuhan melindungi kita."


"Amiinn ... kamu janjian dengan wanita itu kapan?"


"Besok, setelah mengantar anak-anak, dia maunya sih saat makan siang, aku bilang nggak bisa, aku harus Jemput anak-anak sekolah."


"Ya udah, kita tidur saja sudah malam, sini!" Emran merentangkan tangannya agar Yasna bisa tidur di lengannya.


Yasna dengan senang hati tidur berbantalkan lengan Emran, ia memeluk suaminya dengan erat. Hal sederhana seperti ini selalu membuat Yasna senang, ia merasa diperhatikan dan dicintai.

__ADS_1


*****


Seperti yang dikatakannya semalam, setelah mengantar anak-anak, ia pergi ke sebuah restoran yang ia janjikan dengan Avi.


Sudah setengah jam Yasna menunggu, tapi yang ditunggu tak kunjung datang. Ponsel Yasna sedari tadi berbunyi, siapa lagi penyebabnya kalau bukan Emran.


Kamu sudah sampai?


Ajak Pak Hari masuk*!


Apa dia sudah datang?


Apa dia sendiri?


Dia datang bersama siapa?


Masih banyak lagi pesan yang Emran kirim, karena ia khawatir pada istrinya, ia takut Yasna dicelakai.


Yasna sendiri sudah mulai kesal, ia paling tidak suka terlambat dan sekarang dia harus menunggu orang terlambat.


Tidak berapa lama, seseorang duduk di depan Yasna dengan gaya yang angkuh. Yasna menyernyitkan keningnya, bagaimana ada orang yang tidak bisa menghargai orang lain seperti dia? Bahkan untuk mengucapkan kata maaf saja dia enggan.


"Aku tidak akan basa basi, aku ingin kamu menjauhi suamiku," ucap Avi, orang yang baru saja datang memanglah Avi.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Apa kamu mendoakanku sakit?"


"Saya heran saja dengan apa yang kamu katakan. Sejak keluar dari rumah itu, saya tidak pernah menghubungi suamimu atau siapapun orang yang dekat dengannya, kalau kamu sekarang mengatakan saya harus menjauhi suamimu, itu tidak perlu, komunikasi diantara kami sudah putus."


"Kalau yang kamu katakan memang benar, kenapa hingga saat ini suamiku masih mengharapkanmu?"


"Kenapa tidak kau tanyakan pada dirimu sendiri? Kenapa suamimu tidak bisa move on? Kenapa dia tidak bisa mencintaimu? Padahal kamu sudah memberinya dua anak, cobalah introspeksi diri dulu, jangan hanya menyalahkan orang lain!" Yasna sedikit meninggikan suaranya.


Yasna tidak terima jika ada yang mengatakan kalau dia merayu suami orang, memang Avi tidak mengatakannya, tapi dari kata-katanya memang maksudnya seperti itu.


Keheningan terjadi beberapa menit.


"Aku iri padamu, padahal kamu seorang wanita yang tidak bisa mempunyai anak, tapi cinta Zahran padamu sangat besar, bahkan melebihi cinta pada putrinya. Dulu aku sangat yakin bisa merebut hatinya dengan mudah, karena aku bisa membuatnya menjadi seorang ayah, tapi aku salah, cinta yang tulus tidak akan bisa merubah hati manusia."


"Satu hal yang ingin aku katakan, jangan pernah merasa menang darinya, dia orang yang tidak tegaan, bersikaplah lembut padanya sekasar apapun dia padamu, seiring berjalannya waktu, pasti dia akan melihatmu."


"Kamu masih ingat sekali tentang suamiku."

__ADS_1


"Tujuh tahun bukan waktu yang sebentar untuk aku mengenal dirinya."


"Aku penasaran, bagaimana kamu bisa move on begitu cepat? Padahal suamiku saja masih mencintaimu. Apakah kamu sungguh-sungguh mencintai suamimu? Atau hanya mencintai anaknya?"


"Aku tidak perlu mengatakan padamu, betapa besar cintaku pada suami, anak-anak dan keluargaku ... sepertinya pembicaraan kita sudah selesai, aku harus pergi." Yasna berdiri dan akan meninggalkan tempat itu, tapi seseorang tiba-tiba datang.


"Kalian ada di sini? Kalian membicarakan apa?" tanya Zahran, ia ada meeting di restoran itu dan tidak sengaja melihat Avi bersama Yasna.


"Bukan sesuatu yang penting, kami tidak sengaja bertemu dan ngobrol sebentar," jawab Avi.


"Aku harus pergi, masih ada sesuatu yang harus aku selesaikan, permisi," pamit Yasna.


"Na." Zahran mencekal tangan Yasna, yang segera ditepis oleh Yasna.


"Maaf, saya buru-buru." Yasna segera pergi meninggalkan mereka berdua.


"Apa yang kamu bicarakan dengan Yasna?" tanya Zahran pada Avi.


"Hanya obrolan sesama wanita."


"Obrolan sesama wanita? Kamu pasti mengancam Yasna, kan?"


"Mengancam? Apa yang membuatku harus mengancamnya? Kamu pikir dirimu begitu berarti hingga aku harus mengancamnya? Kalau bukan karena anak-anak, aku tidak akan bertahan hingga sejauh ini, aku hanya tidak ingin anakku menjadi korban keegoisanku yang ingin hidup bahagia."


"Kamu bisa juga berpikir hal seperti itu," cibir Zahran.


"Bahkan seekor singa tidak akan memakan anaknya, menurutmu aku bisa lebih kejam dari pada hewan? Seharusnya itu kau tanyakan pada dirimu, apa kau sudah melindungi dan menyayangi anakmu dengan benar?" Avi meninggalkan Zahran seorang diri.


'Aku harap mata hatimu terbuka dan bisa memberi anak-anak kita kasih sayang,' batin Avi.


Para pengunjung restoran berbisik membicarakan mereka, Zahran juga ikut pergi, ia menghubungi rekan kerjanya untuk membatalkan pertemuan.


'Apa aku sudah jahat pada anak-anakku? Aku memang sudah jarang berbicara dengan mereka, tapi kasih sayangku pada mereka tidak pernah berubah,' batin Zahran.


Zahran mengemudikan mobil menuju rumah yang dulu ia tempati bersama Yasna, ia ingin menenangkan diri, sebenarnya ia ingin bertemu dengan anak-anaknya, tapi ia terlalu malas bertemu dengan Avi, apalagi harus mendengar ceramah panjang dari mamanya.


'Maafin Papa, Sayang.'


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2