
"Kakak kapan pulang? Kok Bunda nggak dengar suara mobil," tanya Yasna saat melihat putranya, yang sedang duduk di ruang keluarga dengan menyandarkan tubuhnya di sofa dan memejamkan mata.
"Baru saja, Bunda," jawab Aydin dengan membuka mata dan menegakkan tubuhnya.
"Bagaimana tadi makan malamnya, sama Nayla?"
"Alhamdulillah, semuanya lancar," jawab Aydin. "Oh, ya, aku mau mengatakan sesuatu sama Bunda dan papa. Papa mana?"
"Papa ada di ruang kerjanya, mau ngobrol sama papa? Ayo, kita ke sana!"
Aydin mengangguk dan mengikuti langkah Yasna menuju ruang kerja Emran. Wanita itu mengetuk pintu beberapa kali, terdengar sahutan dari dalam untuk memintanya segera masuk. Mereka pun masuk ke dalam ruangan Itu.
Tampak Emran yang masih sibuk dengan laptopnya. Padahal seharian dia sudah sibuk dengan benda itu, malam pun masih saja bergelut dengan laptop. Membuat Yasna terkadang juga marah pada sang suami. Sepertinya benda itu lebih penting daripada dirinya karena waktu pria itu lebih banyak dihabiskan dengan laptop.
Aydin yang melihat Papanya sangat sibuk pun berpikir, apakah nanti dia akan seperti itu? Dari pagi hingga malam hanya duduk di depan laptop? Padahal sekarang pria itu sudah mulai sedikit demi sedikit mengambil alih pekerjaan Emran, tetapi sepertinya itu tidak mengurangi kesibukan papanya.
"Ada apa, ini? Tumben kalian masuk bersama-sama," tanya Emran yang segera menutup laptopnya.
Dia tahu ada sesuatu yang ingin dibicarakan oleh istri dan anaknya. Aydin dan Yasna duduk di kursi yang ada di depan meja Emran. Kebetulan di sana ada dua kursi.
Emran menatap keduanya. Namun, tidak ada satu kata pun yang keluar dari bibir mereka, membuat Emran menghela napas.
"Tadi Aydin bilang mau membicarakan sesuatu, Pa. Bunda juga nggak tahu, dia mau bicara apa," ucap Yasna memecah keheningan.
Emran dan Yasna sama-sama menatap Aydin, menunggu jawaban dari pria itu tentang apa yang ingin dia bicarakan. Sepertinya sangat penting, hingga membuatnya harus membicarakan dengan mereka berdua saat malam seperti ini.
Biasanya Aydin akan menunggu saat pagi agar tidak mengganggu istirahat kedua orang tuanya. Apalagi pria itu tahu jika Yasna akan sulit tidur jika sedang memikirkan sesuatu.
"Papa, Bunda, tadi Nayla mengatakan jika dia ingin pernikahan kami diadakan dua minggu lagi."
"Apa!" Yasna sangat terkejut, berbeda dengan emran yang terlihat biasa saja. Padahal pria itu juga sama terkejutnya, hanya saja dia lebih bisa mengontrol diri.
"Apa kamu bercanda?" tanya Yasna pada Aydin.
__ADS_1
"Tidak, Bunda. Nayla yang mengatakannya sendiri. Dia ingin pernikahan kami diadakan dua minggu lagi dan aku pun sudah menyanggupinya. Justru aku senang kalau pernikahannya lebih cepat."
"Tapi, menyiapkan semuanya dalam waktu dua minggu apa itu mungkin? Dua minggu itu cepat sekali, apa semuanya bisa diatasi?"
"Bunda, suami Bunda, kan, hebat. Pasti dia bisa mengatur semuanya dengan cepat."
Yasna menatap sang suami seolah bertanya, apakah Emran sanggup untuk menyiapkan segalanya dalam waktu dua minggu. Kalau untuk pesta sederhana, itu pasti mudah dilakukan, tetapi untuk keluarga Emran. Tidak mungkin hanya pesta kecil.
"Akan Papa usahakan, tapi Papa juga nggak janji semua bisa teratasi dengan mudah. Papa manusia juga, pasti ada kekurangannya. Jangan kamu pikir, Papa hebat bisa melakukan segala hal dengan mudah," sahut Emran.
"Aku yakin Papa bisa, kok!" ucap Aydin.
"Bunda juga yakin kalau Papa bisa," sela Yasna.
Wanita itu hanya ingin mengompori suaminya agar bisa lebih berusaha untuk menyelesaikan semua keperluan acara pernikahan putranya. Dia tidak ingin kekurangan sedikitpun dalam acara tersebut. Yasna juga ingin terlibat dalam segala sesuatunya. Wanita itu akan melakukan apa pun yang dia bisa.
"Kalian berdua sama saja, sukanya merepotkan orang."
Pria itu merutuki dirinya, bagaimana dia bicara seperti itu? Padahal Emran tahu kalau Yasna akhir-akhir ini memang mudah tersinggung. Dia harus memikirkan cara agar istrinya tidak marah.
"Bukan begitu, Bunda. Aydin yang merepotkan, bukan Bunda."
"Tadi Papa bilang kalian berdua. Di sini hanya ada aku dan Aydin, pasti aku dan Aydin, kan, yang Papa maksud berdua?"
"Tidak, Bunda. Hanya Aydin, kok. Bunda tadi salah dengar saja. Ayo, kita tidur! Sudah malam," ajak Emran dengan menuntun Yasna keluar dari ruang kerjanya.
Dia tidak ingin masalah semakin bertambah besar dan panjang. Untungnya Yasna menurut . Mereka pergi meninggalkan Aydin yang masih duduk di kursinya, menatap kepergian kedua orang tuanya dengan senyum mengembang.
Aydin berharap kelak rumah tangganya akan seperti orang tuanya, yang selalu hangat dan penuh kasih sayang.
*****
Hari ini, di rumah keluarga Emran sangat ramai dengan kedatangan rombongan event organizer, yang akan mengurus semua keperluan pernikahan Aydin dan Nayla. Yasna juga mengundang calon menantunya datang agar bisa memilih sendiri, pesta seperti apa yang diinginkannya.
__ADS_1
Aydin sendiri sudah menyerahkan semuanya pada Yasna dan Nayla jadi, pria itu tidak ikut campur. Dia pergi ke kantor. Aydin sedang sibuk dengan pekerjaannya, yang harus diselesaikannya sebelum acara pernikahan.
Nayla sempat kebingungan. Dia sendiri tidak mempunyai rencana akan seperti apa pesta pernikahannya. Gadis itu hanya mengatakan jika dia ingin pernikahannya sakral dengan berkesan itu saja. Selebihnya semua diserahkan pada Yasna karena ia sendiri juga tidak memiliki rencana.
Yasna pun dibuat kebingungan. Akhirnya semua diserahkan kepada event organizer sendiri. Mereka hanya memberikan beberapa permintaan saja. Nayla ingin semua bernuansa warna putih dan ungu muda, itu adalah warna kesukaannya.
Dua wanita beda usia itu mendengarkan apa yang orang event organizer jelaskan. Mereka akan menyela jika dirasa tidak sesuai.
"Bunda, apa tadi tidak terlalu berlebihan?" tanya Nayla saat semua orang sudah pergi meninggalkan rumah keluarga Emran.
"Apanya yang berlebihan, Sayang?" tanya Yasna.
Sebenarnya Nayla tahu apa yang dimaksud gadis itu, dia pernah berada diposisinya saat baru pertama kali masuk ke keluarga ini. Wanita itu hanya ingin mendengar apa yang ingin disampaikan calon menantunya.
"Apa itu tadi tidak terlalu mewah? Kenapa tidak buat acara sederhana saja, Bunda?"
"Kamu, kan, tahu siapa suami Bunda dan calon suami kamu. Tidak mungkin kita hanya mengadakan acara sederhana."
"Tapi, aku malu, aku tahu diri siapa diriku. Kenapa harus dibuatkan pesta begitu mewah?"
"Bunda juga dulu begitu saat masuk ke keluarga ini, tapi lama kelamaan juga Bunda terbiasa. Begitupun dengan kamu yang harus terbiasa dengan apa yang dilakukan di keluarga ini. Bunda juga bukan orang kaya. Kamu tahu sendiri bagaimana keadaan kakek dan nenek Lina. Kami hanya keluarga sederhana yang hidupnya bergantung pada sebuah toko kue," ujar Yasna.
Dia tidak ingin menantunya merasa rendah diri. Wanita itu harus membuatnya kuat karena suatu hari nanti, tidak menutup kemungkinan akan ada wanita-wanita yang akan berusaha menggoyahkan keyakinan hati gadis itu.
.
.
.
.
.
__ADS_1