
Hari ini Aydin membuat janji makan siang bersama kekasihnya. Mereka bertemu di restoran yang agak jauh dari perusahaan. Airin yang memilih tempat itu dengan alasan tempat itu lebih murah. Nyatanya tempat itu terbilang sama dengan restoran yang ada di depan perusahaan.
"Maaf, Mas, sudah menunggu lama?" tanya Airin yang baru sampai.
"Tidak, aku juga baru datang. Banyak berkas yang harus aku selesaikan."
"Syukurlah kalau begitu. Mas, sudah pesan makanan?"
"Sudah, aku pesankan sesuai keinginan kamu."
Airin pun tersenyum. Dia memang sudah sangat lapar. Pekerjaannya menang membutuhkan banyak tenaga.
Mereka pun bercerita tentang banyak hal. Kebersamaan mereka memang terbatas. Meski mereka sama-sama bekerja disatu perusahaan, tapi berbeda tempat. Saat sedang asyik berbincang. Aydin seperti melihat Nayla. Pria itu memandangnya dengan seksama, memastikan apa yang dia lihat itu benar. Ternyata memang itu adalah Nayla.
"Sebentar, ya, Rin. Aku ingin bicara dengan wanita itu," ucap Aydin dengan menunjuk Nayla.
"Siapa, Mas?"
"Teman mama. Sebentar, ya." Aydin segera menghampiri Nayla yang sedang makan dengan temannya.
"Permisi," ucap Aydin.
"Iya, Mas. Ada apa, ya?" tanya Riri, teman Nayla.
"Boleh saya berbicara dengan Nayla sebentar?"
"Nayla?" ulang Riri. "Kamu kenal, Nay?"
"Iya," jawab Nayla. "Ada apa, ya, Mas?"
"Ikut aku sebentar," ucap Aydin lalu pergi tanpa menunggu jawaban Nayla.
"Sebentar, ya, Ri," ucap Nayla pada temannya.
Aydin dan Nayla sedikit menjauh dari tempat Riri. Pria itu tidak mau pembicaraannya didengar oleh orang lain.
"Bagaimana dengan pekerjaan kamu?" tanya Aydin.
Nayla dibuat bingung dengan pertanyaan Idin
"Maksudnya apa, ya, Mas?"
"Apa pekerjaanmu baik-baik saja? Maksudku meeting dengan relasi kamu waktu itu, apa berjalan dengan lancar? Karena sepulang dari meeting, bunda sepertinya sangat sedih. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan usahamu, tapi bunda terlihat seperti orang lain."
__ADS_1
Nayla semakin tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan Aydin. Bukankah Yasna kembali masuk ke dalam rumah? Kenapa pria itu mengira bundanya pergi?
"Sepulang dari meeting? Maaf, Mas, Tante Yasna, kan, tidak jadi ikut meeting waktu itu. Itulah kenapa meeting tidak berjalan dengan lancar. Karena orang itu tidak percaya pada saya dan meragukan kemampuan saya. Mas tahu usia saya masih sangat muda, tapi Tante Yasna belum bertanya apa pun tentang meeting itu."
"Apa maksud kamu dengan mengatakan kalau bunda tidak ikut? Jelas-jelas kalian pergi keluar bersama." Aydin heran mendengar penjelasan Nayla. Dia melihat Yasna keluar bersama gadis itu. Bagaimana bisa bundanya tidak pergi.
"Tapi, Tante Yasna kembali ke dalam rumah. Dia tidak ikut meeting."
Aydin terkejut dibuatnya. Perasaannya mulai tidak enak. Dia kembali mengingat percakapannya dengan Emran dan bagaimana dia mengungkapkan kekecewaannya terhadap Yasna.
"Kalau bunda tidak ikut meeting lalu bunda pergi ke mana? Dia tidak mauk ke dalam rumah. Dia pulang di siang hari."
"Maaf, kalau itu saya tidak tahu karena saya langsung pergi setelah meminta Tante Yasna untuk kembali ke dalam."
Tiba-tiba tubuh Aydin menegang. Kalau Yasna sudah kembali ke dalam, berarti dia mendengar semua percakapan antara dia dan Papanya.
'Apa itu yang membuat bunda berubah? Apa bunda berpikir bahwa aku tidak menganggap bunda sebagai mama?' batin Aydin bertanya.
Aydin segera pergi tanpa mengatakan apapun pada Nayla, membuat gadis itu kebingungan. Pria itu menghampiri Airin untuk pamit. Dia harus segera menyelesaikan masalah ini.
"Rin, maafin aku. Aku tidak bisa menemanimu makan siang. Ada hal yang harus aku kerjakan, maaf, ya. Kapan-kapan kita makan siang."
"Bagaimana denganku? Kamu sudah memesan makanan dan aku nggak bawa uang."
Aydin segera berlari mencari motornya dan segera menuju perusahaan papanya. Dia ingin berbicara terlebih dahulu dengan emran. Aydin merasa sangat bersalah. Kalau memang apa yang dikatakan Nayla itu benar jika Yasna kembali masuk ke rumah, sudah dipastikan wanita itu mendengar apa yang dia katakan pada papanya.
Aydin tahu pasti Yasna merasa sangat terluka, dengan apa yang dia katakan karena selama ini wanita itu sudah sangat menyayanginya. Pantas saja sikap Yasna tidak sehangat biasanya. Pasti wanita itu berpikir dia tidak memiliki hak atas dirinya dan Afrin.
Begitu sampai di perusahaan, Aydin memarkirkan motor secara asal. Dia segera berlari menuju ruangan Emran tanpa mempedulikan orang-orang yang melihatnya. Sampai di depan ruangan papanya. Pria itu segera masuk tanpa mengetuk pintu.
"Maaf, bisa saya berbicara dengan Pak Emran?" ucap Aydin saat melihat ada beberapa orang di sana. Sepertinya mereka baru saja membicarakan sesuatu yang penting.
"Kita lanjutkan nanti saja, sebaiknya kalian makan siang dulu. Saya ingin bicara sebentar dengan saudara Aydin," ucap Emran. Dia merasa ada sesuatu mendesak yang ingin Aydin katakan.
"Baik, Pak. Kami permisi dulu." Mereka pergi meninggalkan ruangan Emran.
"Ada apa? Sepertinya sangat penting?" tanya Emran tidak sabar. Dia melihat kekhawatiran putranya.
"Pa, sepertinya bunda mendengar pembicaraan kita waktu itu."
"Pembicaraan apa?"
"Pembicaraan di ruang makan. Bunda waktu itu kembali masuk dan mungkin saja bunda mendengar kata-kataku dan pergi begitu saja."
__ADS_1
Emran berpikir sejenak, dia mengingat percakapannya dengan Aydin dan sudah dipastikan akan sangat menyakiti hati istrinya.
"Kamu tahu dari mana kalau bunda kembali masuk."
"Tadi aku bertemu dengan Nayla dan dia mengatakan jika bunda tidak ikut meeting. Bunda kembali ke dalam rumah. Aku yakin pasti dia mendengar semuanya dan pergi begitu saja. Bunda pasti sakit hati," ujar Aydin dengan rasa bersalah yang sangat besar
Bukan hanya Aydin yang merasa bersalah, tapi Emran juga. Dia seharusnya bisa membuat Aydin menjaga kata-katanya. Namun, semuanya sudah terjadi, kini yang harus dipikirkan adalah bagaimana membuat Yasna kembali seperti sebelumnya.
Tidak ada yang menyukai perubahan Yasna. Mereka lebih suka dengan kecerewetan wanita itu.
"Pa, bagaimana ini? Pasti bunda sangat marah padaku."
"Dia tidak akan marah padamu. Pasti dia saat ini merasa bersalah karena sudah memaksamu untuk bersama dengan Nayla. Kamu tahu sendiri, bundamu bukan orang yang suka marah-marah," ujar Emran. "Bolehkah Papa bertanya?" tanya Emran yang diangguki Aydin.
"Apakah kamu sudah mempunyai kekasih? Papa lihat kamu selalu menolak jika bundamu bicara tentang menantu. Papa merasa kamu sudah memiliki calonmu sendiri."
Aydin berpikir sejenak kemudian akhirnya menggangguk. Mungkin sudah saatnya dia mengatakan pada keluarganya.
"Apa dia juga bekerja di sini?"
"Iya, Pa. Dia bekerja sebagai cleaning service."
"Siapa namanya?"
"Airin, Pa. Papa tidak akan memecatnya, kan?"
"Papa bukan orang yang suka mencampuradukkan antara pekerjaan dan urusan pribadi. Sebaiknya kita pikirkan, bagaimana menjelaskannya pada bundamu."
Mereka berdua kembali memikirkan apa yang harus dikatakan pada Yasna dan membuat wanita itu kembali seperti sebelumnya.
"Sebaiknya kita pulang dan berbicara dengan bundamu. Kita jelaskan sama-sama," ucap Emran yang diangguki Aydin.
Mereka pulang dengan kendaraan masing-masing. Dalam hati mereka sama-sama berdoa, mudah-mudahan Yasna mengerti dan mau memaafkan Aydin.
.
.
.
.
.
__ADS_1