Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
141. S2 - Berjuang meminta restu


__ADS_3

Keluarga Emran dalam perjalanan pulang dari rumah keluarga Doni. Mereka semua terdiam memikirkan cara, bagaimana menemukan keberadaan ayah Nayla. Melihat wajahnya saja tidak pernah, sekarang malah disuruh minta restu.


"Pa, apa Papa tidak tahu di mana keberadaan Ayah Nayla saat ini?" tanya Aydin yang sedang mengemudikan mobil milik Emran. Sementara Emran duduk di samping kemudi. Yasna dan Afrin duduk di belakang.


"Papa tidak tahu dan tidak pernah mencari tahu tentang ayahnya. Saat itu Papa merasa tidak ada kepentingan."


"Apa Papa bisa membantuku mencari keberadaan Ayah Nayla?"


"Untuk kali ini, Papa tidak bisa membantu, sebaiknya kamu mencari tahu sendiri, itu juga membuktikan keseriusan kamu untuk menjadikan Nayla sebagai istrimu. Kamu harus berusaha dengan kerja kerasmu sendiri, bukan hasil kerja orang lain."


Emran bisa saja menghubungi anak buahnya untuk pekerjaan mudah ini. Akan tetapi, itu akan membuat anaknya semakin bergantung padanya dan tidak mau berusaha. Dia tidak ingin Aydin seperti Itu. Emran ingin putranya bisa berusaha dan bertanggung jawab akan masa depannya.


"Bunda juga setuju dengan apa yang dikatakan oleh Papa. Kamu harus berjuang untuk mendapatkan alamat rumah Ayah Naila. Itu juga membuktikan keseriusan kamu di mata Nayla." Yasna tahu tujuan suaminya dan dia sangat mendukungnya.


"Bunda, Ayah Kak Nayla itu jahat sekali, ya? Masa istri sedang dililit hutang malah pergi begitu saja lalu, menikah dengan orang yang lebih kaya dan menikmati uangnya," ucap Afrin.


Meski masih dibawah umur, Afrin cukup mengerti tentang masalah yang menimpa keluarga Nayla. Dia tidak habis pikir dengan kelakuan pria itu. Bukankah sebagai seorang kepala rumah tangga, harusnya mampu melindungi anggota keluarga lainnya.


"Setiap manusia, ada kalanya sedang khilaf. Mungkin saat itu ayah Kak Nayla sedang terkena bujuk rayu setan. Terkadang setan juga bisa menguasai diri kita karena itu, kamu juga harus lebih banyak berdoa, jangan sampai kamu tergoda rayuan setan."


"Iya, Bunda," jawab Afrin.


"Begitupun dengan Kakak. Kesenangan dunia memang sangat menyenangkan, tapi kita harus pandai-pandai memilih. Kesenangan dunia yang membawa kebaikan dan mana yang membawa keburukan," lanjut Yasna.


"Iya, Bunda," sahut Aydin dan Afrin bersamaan.


Yasna tidak ingin anak-anaknya memilih jalan yang salah. Kadang dia selalu ingin mengatur semua yang ada disekitar mereka, tetapi wanita itu tahu. Semakin anak diatur maka semakin mereka memberontak karena itu, Yasna hanya bisa mengawasi dengan sesekali memberi nasehat.


"Nayla sudah mengirim pesan sama kamu, Kak. Mengenai alamat rumah Ayah Nayla dan juga fotonya?" tanya Yasna pada Aydin.


"Sudah, Bunda."


"Boleh, Bunda Lihat?"


Aydin menyerahkan ponselnya kepada Yasna. Wanita itu ingin melihat foto ayah Nayla. dia ingin tahu seperti apa wajahnya. Barangkali Yasna pernah melihatnya.


"Ini, kan, selingkuhan mamanya Vira!" seru Afrin saat Yasna membuka foto ayah Nayla, membuat Aydin menginjak rem secara mendadak.

__ADS_1


"Kakak, kamu apa-apaan, sih?" gerutu Yasna dengan sedikit kesal.


"Beneran, Dhek. Kamu mengenalnya?" tanya Aydin pada Afrin tanpa menjawab gerutuan Yasna.


"Iya, aku pernah melihatnya datang ke rumah Vira waktu itu, tapi kata Vira sekarang mamanya sudah tidak lagi berhubungan dengan dia dan sudah rujuk sama Papanya."


"Mamanya Vira tahu, kan, di mana alamatnya?"


"Mana aku tahu! Aku nggak tahu mengenai selingkuhan mamanya Vira sedetail itu."


"Nanti temani Kakak ke rumah Vira, ya, Dhek! Kakak mau nanya sama mamanya Vira."


Aydin merasa sedikit lega karena sudah mendapat petunjuk mengenai keberadaan ayah Nayla. Setidaknya dia ada tujuan ke mana harus pergi mencari.


"Jangan cari masalah, deh, Kak. Mama sama papanya Vira itu sudah baikan, lebih baik Kakak nemuinnya di luar saja."


"Caranya bagaimana ketemu di luar? Aku saja tidak kenal sama mamanya Vira."


"Nanti aku kirim alamatnya Vira. Kakak ikutin saja mamanya Vira keluar. Setelah itu cegat dia di jalan atau di mana gitu. Jangan ke rumahnya nanti jadi, masalah sama papa Vira."


"Dari dulu juga aku pintar. Kakak saja yang nggak sadar."


"Baiklah, kali ini kamu pintar."


"Bukan kali ini saja. Aku selalu pintar!" protes Afrin.


"Iya ... iya, kamu selalu pintar," pungkas Aydin.


*****


Seperti saran Afrin kemarin. Pagi-pagi sekali Aydin sudah berada di depan rumah sahabat adiknya itu. Dia akan mengikuti mamanya Vira pergi. Pukul 07.00 terlihat dua orang laki-laki dan perempuan keluar rumah. Pria itu yakin jika mereka orang tua Vira.


Papa dan mamanya Vira pergi menggunakan mobil sendiri-sendiri karena tempat kerja mereka berbeda. Aydin mengikuti mobil yang dikendarai oleh mama Vira. Mobil itu berhenti disebuah perusahaan. Saat mama Vira turun dari mobil, segera Aydin berlari mendekatinya.


"Tante, tunggu, Tante," panggil Aydin. wanita itu menoleh. Dia menyernyitkan keningnya karena merasa tidak mengenali pria yang memanggil.


"Kamu memanggil saya?" tanya mama Vira.

__ADS_1


"Maaf, Tante. Boleh saya menanyakan sesuatu? Maaf jika saya lancang. Apa Tante tahu alamat pria yang ada di foto ini?" tanya Aydin sambil memperlihatkan foto ayah Nayla.


"Saya tidak ada hubungan apa pun lagi dengan pria itu jadi, jangan tanyakan pada saya."


"Saya mohon, Tante. Hanya Tante yang bisa saya tanyai mengenai keberadaan pria ini. Saya janji tidak akan mengganggu Tante lagi, saya hanya ingin bertemu dengannya saja."


"Ada apa kamu mencarinya? Apa kamu memiliki masalah dengannya?"


Sebenarnya, Aydin sangat malas menjawab pertanyaan yang tidak ada hubungannya dengan orang lain, tetapi dia tidak ingin mama Vira berpikir yang macam-macam dan menolak memberi informasi.


"Tidak, saya hanya ada keperluan sedikit dengannya."


"Apa kamu keluarganya?" tanya mama Vira lagi. Dia agak curiga dengan pria yang ada di depannya ini.


"Tidak juga, Tante. Saya tidak memiliki hubungan apa pun dengan dia. Bahkan saya tidak mengenalnya. Hanya saja, saya perlu menanyakan sesuatu padanya. Saya mohon Tante bisa membantu saya."


"Saya sudah lama tidak memiliki hubungan dengan dia. Kalau kamu mau? Coba saja cari dia di klub malam yang paling terkenal di daerah ini. Itu saja yang bisa saya sampaikan. Jangan tanya lagi tentang dia. Saya tidak tahu apa pun tentang dia lagi. Saya permisi," pamit mama Vira.


Mama Vira tidak peduli jika mereka ada masalah, yang penting sekarang dia tidak ingin terlibat apa pun dengan pria yang pernah menjadi selingkuhannya itu ataupun pria lainnya.


"Terima kasih, Tante."


Mama Vira segera meninggalkan Aydin. Pria itu akan menemui Ayah Vira nanti malam. dia sama sekali tidak pernah datang ke sana Semoga saja Aydin tidak ada masalah di tempat seperti itu.


Aydin menghubungi papanya dan mengatakan tentang rencananya. Dia berharap agar Emran mau membantu berbohong pada Yasna. Tidak mungkin pria itu mengatakan yang sesungguhnya pada bundanya. Sudah pasti wanita itu tidak akan mengizinkannya.


Aydin berjanji akan menceritakan pada Yasna, saat semuanya sudah selesai agar wanita itu tidak khawatir. Emran pun setuju untuk membantu.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2