
"Selamat malam, Pak Emran, Bu Emran," sapa Pak Romi saat melihat Emran dan Yasna keluar.
"Selamat malam, Pak Romi. Datangnya mendadak sekali, saya tidak menyiapkan jamuan apapun ini," sahut Emran.
"Tidak perlu repot-repot, Pak Emran. Kami hanya datang berkunjung saja."
"Iya, Pak, tadi saat berangkat kami sebenarnya ingin makan malam di luar, tapi entah kenapa tiba-tiba teringat dengan keluarga Pak Emran jadi, kami memutuskan membeli berapa makanan dan pasti lebih enak jika dimakan bersama-sama," sela Bu Romi.
"Maaf, Bu Romi, pasti sangat merepotkan Anda."
"Tidak, Pak Emran. Ini hanya sekadarnya saja," ucap Bu Romi. "Tidak apa-apa, kan, Bu Emran. jika kami bergabung untuk makan malam?"
"Tentu, Bu Romi. Kami senang jika makan malam ramai-ramai," jawab Yasna. 'Mana mungkin saya mengusir tamu yang sudah datang,' lanjut Yasna dalam hati.
"Bagaimana kalau kita menyiapkan makan malam dulu, Bu Emran. Ini makanannya," ucap Bu Romi sambil memperlihat dua kantong besar berisi makanan yang dia beli di restoran.
"Tidak perlu, Bu Romi. Anda duduk saja. Anda, kan, tamu. Tidak enak saya kalau Bu Romi ikut repot-repot di dapur. Biar Rani saja yang menyiapkannya," sahut Yasna. "Rani!" panggil Yasna.
"Iya, Bu," sahut Rani sambil berjalan keluar.
"Ini, kamu siapkan di meja makan. Tambah juga tiga piring untuk tamu kita," ucap Yasna sambil menyerahkan dua kantong makanan yang diberikan Bu Romi tadi.
"Iya, Bu. Segera saya siapkan." Rani segera meninggalkan ruang tamu menuju ruang makan. Dia akan menyiapkan makan malam untuk tamu dari majikan itu.
"Oh, iya, Bu Emran. Aydin ke mana? Kok, nggak kelihatan?" tanya Bu Romi.
"Ada di dalam kamarnya, Bu. Mungkin masih mandi, baru saja dia pulang."
Mereka pun berbincang-bincang, hanya Vania yang terdiam dari tadi. Dia tidak tahu harus mengatakan apa, karena saat ini ada orang tuanya. Dia merasa tidak perlu bersusah payah menggoda Aydin, sudah pasti pria itu meladeninya, tidak seperti biasa yang selalu cuek.
"Permisi, Bu. Makanan sudah siap. Tuan Aydin dan Nona Afrin sudah menunggu di meja makan," ucap Rani.
"Iya, terima kasih, Rani."
"Sama-sama, Bu. Saya permisi ke belakang," pamit Rani yang diangguki oleh Yasna.
"Pak Romi, Bu Romi, Vania. Ayo, kita makan malam dulu! Nanti dilanjut ngobrolnya."
"Iya, Bu Emran."
Semua orang berjalan menuju ruang makan. Di sana sudah tampak Aydin dan Afrin, terlihat mereka sedang berbicara sambil berbisik.
"Selamat malam, Aydin, Afrin," sapa Vania.
__ADS_1
"Malam," sahut Aydin singkat tanpa menatap wajah Vania.
"Malam, Kak Vania, Om, Tante," sapa Afrin.
"Malam."
"Mari, duduk! Maaf, ya, makanannya hanya makanan sederhana saja. Tidak ada makanan mewah di rumah ini," ucap Yasna. Wanita itu takut jika masakannya tidak sesuai dengan selera makan mereka. Dia tahu kalau keluarga Pak Romi terbiasa dengan kemewahan.
"Saya lebih suka makanan rumahan seperti ini. Daripada makanan luar negeri. Saya kurang suka, apalagi yang mentah-mentah," sahut Pak Romi.
"Syukurlah kalau begitu." Yasna merasa lega jika selera Pak Romi sama sepertinya.
"Bunda juga nggak suka sama makanan mentah, Om," sela Afrin.
"Oh, ya, berarti selera kita sama, ya, Bu?"
"Iya, Pak," jawab Yasna dengan senyum dipaksakan. "Silakan dinikmati, beginilah makanan kami sehari-hari, tapi saya jamin rasanya juga nggak kalah enak dengan restoran."
Mereka semua segera memakan dengan lahap, termasuk juga Vania. Gadis itu sedari tadi selalu mencuri pandang ke arah Aydin. Padahal pria itu sama sekali tidak meliriknya.
Beberapa kali, Bu Romi juga berbicara pada Aydin yang hanya dijawab seadanya saja. Sesekali Yasna yang menjawab karena putranya tak kunjung membuka mulutnya.
Usai makan malam semua orang kembali ke ruang tamu. Sementara Yasna membantu Rani membereskan meja. Afrin juga ikut membantu.
"Kamu malah masuk ke dapur. Sana! Temani Papa ngobrol sama tamunya."
"Ah, males, nanti ujung-ujungnya suruh nikahin anaknya lagi."
"Kakak terlalu percaya diri," cibir Afrin.
"Bukan terlalu percaya diri, Dhek. Memang seperti itu kenyataannya."
Afrin juga mengakui hal itu, dia juga merasakannya saat makan tadi. Hanya saja, dia ingin kakaknya tidak terlalu memikirkannya.
"Sudah, kalian malah bertengkar. Ayo, sekarang keluar semuanya! Biarkan Rani yang menyelesaikan. Nggak enak ada tamu masa di tinggal di dapur." Yasna membawa kedua anaknya duduk di ruang tamu bersama dengan suaminya.
Sebenarnya Aydin Sangat malas berada di antara mereka. Ujung-ujungnya pasti perjodohan yang akan dibahas, tapi dia tidak ingin mempermalukan kedua orang tuanya.
"Aydin sudah punya pacar?" tanya Bu Romi.
"Sudah, Tante," jawab Aydin.
"Bukannya kamu sudah putus sama pacar kamu itu, yang cleaning service?" tanya Vania.
__ADS_1
"Iya, saya sudah putus sama dia, tapi saya sudah punya pacar yang baru. Papa dan Bunda juga sudah menyetujuinya."
Emran tersedak ludahnya sendiri. dia terkejut dengan apa yang putranya katakan. Pria itu tidak pernah tahu jika anaknya punya pacar. Ini malah dibilang menyetujui hubungannya, tapi biarlah. Mungkin ini cara Aydin agar tidak diganggu Vania.
Sementara Yasna hanya tersenyum. Wanita itu juga tidak tahu harus mengatakan apa. Kalau ditanya mengenai pacar Aydin. Lebih baik dia diam saja. Biarlah Aydin yang menjawab.
"Bukannya kamu baru putus dua hari yang lalu? Kenapa cepat sekali punya pacar?" tanya Pak Romi yang masih belum yakin.
"Sebenarnya, sebelum saya putus, saya sudah memiliki kekasih, Pak Romi."
Kali ini bukan hanya Emran yang terkejut. Yasna juga semakin gelisah. Dia pun sama tidak tahu, siapa yang dimaksud oleh putranya. Wanita itu hanya bisa tersenyum dengan meremas kedua tangannya yang sudah terasa dingin.
"Jadi, maksudmu, kamu selingkuh?" tanya Romi terkejut. Dia merasa tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Biasalah, Om. Namanya juga laki-laki. Saya belum menikah, masih bisa memilih bukan? Daripada saya salah memilih. Nanti rumah tangga saya hancur, kan, lebih baik saya seleksi dulu calon istri saya."
"Kalau boleh tahu namanya siapa, ya? Apa saya juga sudah mengenalnya?"
Romi benar-benar penasaran. Siapa gadis yang sudah merebut hati Aydin. Putrinya saja sudah berbulan-bulan mencoba mengambil hati Aydin, tapi tidak berhasil.
"Saya rasa itu hal pribadi, kami tidak perlu menceritakan pada siapapun. Saya juga tidak mau memperlihatkan dia dulu, sebelum saya yakin dengan pacar saya."
Emran segera meminum minumannya. Tenggorokannya tiba-tiba terasa kering. Entahlah, apa yang dikatakan anaknya itu, seolah-olah dia itu baik-baik saja. Padahal mendekati wanita saja dia sangat dingin.
"Bukannya Tuan Emran sangat anti dengan pria yang berselingkuh? Kenapa sekarang Pak Emran mengizinkan Aydin untuk berselingkuh?"
"Saya tidak berselingkuh, kok, Pak Romi. Pacar saya juga tahu kalau saya memiliki kekasih lain."
Kali ini Yasna sampai terbatuk-batuk. Keringat dingin mulai membasahi keningnya, dengan perlahan dia mengusapnya. Semoga saja akting anaknya ini segera berakhir. Kalau tidak, wanita itu bisa-bisa kehilangan oksigennya, karena sedari tadi dia sudah berkali-kali menahan napas.
"Wah, hebat sekali pacar kamu, sampai mau diduakan."
"Jangankan pacar saya, Pak Romi. Ada juga wanita yang tahu saya memiliki kasih, tapi masih mengejar saya. Bahkan dia dengan sengaja ingin mencelakai pacar saya?" jawab Aydin sekaligus menyindir Vania. Sesekali pria itu melirik gadis yang duduk di depannya.
Vania yang merasa tersindir pun jadi, salah tingkah. Namun, dia berusaha untuk terlihat biasa-biasa saja. Gadis itu tidak ingin mempermalukan keluarganya.
.
.
.
.
__ADS_1
.