Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
238. S2 - Ke rumah mertua


__ADS_3

"Saya sebagai seorang wanita, merasa terkesan dengan apa yang Ivan lakukan. Meski Saya tidak mengenalnya, tetapi melihat orang yang selama ini bersamanya saja membelanya, pasti dia orang yang baik. Saya respect sama dia jadi, saya setuju dengan Ivan," jawab Yasna. "Mengenai Rani mau menikah sama Ivan atau tidak. Saya tidak memiliki kuasa atas itu. Sebaiknya Rani sendiri yang menjawabnya."


Kini giliran Rani yang mendapat tatapan dari semua orang. Tentu saja hal itu membuat Gadis itu salah tingkah. Dia tidak pernah menjadi bahan perhatian seperti itu. Rani tidak suka terlihat menonjol, gadis itu lebih suka apa adanya.


"Jadi bagaimana, Ran? Kamu mau menikah dengannya atau mau ikut ibu ke kampung dan menikah dengan Jamal?" tanya Bik Rahmi.


Rani menundukkan kepala untuk berpikir sejenak, jawaban apa yang harus gadis itu berikan. Mengenai Ivan, jujur dia juga memiliki sedikit rasa dan Jamal, jangankan rasa melihatnya saja sudah malas. Rani menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya secara perlahan.


"Aku mau menikah dengan Mas Ivan, Bu, tapi aku punya Syarat."


"Apa syaratnya?" tanya Ivan.


"Saya ingin Mas Ivan tetap mengizinkanku bekerja di rumah Bu Yasna."


"Ya ampun, Mbak Rani! Kenapa sih suka sekali bekerja di sini. Mbak Rani, kan, sudah punya suami. Enakan tidur di rumah, biarin suami yang kerja. Kita yang ngabisin, senang-senang, jalan-jalan di mall," tutur Afrin.


"Afrin," tegur Yasna membuat Afrin menutup mulutnya dengan kedua tangan dan mengangguk. Dia mengerti kalau dirinya sudah terlalu lancang. Padahal mereka sedang berbicara serius.


"Jika kamu memang mau tetap bekerja, Saya tidak akan menghalanginya. Asal tanggung jawab kamu kepada keluarga, sudah terpenuhi. Apa yang sudah menjadi tanggung jawabmu sudah kamu lakukan," sahut Ivan.


"Aku akan memenuhi semuanya," sahut Rani dengan yakin kemudian beralih menatap majikannya. "Bu yasna, mengizinkan saya tetap bekerja di sini, kan? Setiap hari aku akan datang pagi sekali dan pulang malam hari."


"Sepertinya kamu sedang mengancam saya," ucap Yasna.


"Mengancam? Tidak, Bu. Kenapa Ibu bisa berpikir seperti itu? Saya tidak melakukannya."


Rani tidak mengerti apa yang dimaksud majikannya. Mengancam bagaimana? Dia hanya bicara apa adanya saja dan meminta izin agar diperbolehkan bekerja di sini.


"Bagaimana tidak, kalau saya tidak mengizinkan kamu, nanti lamaran Ivan kamu tolak. Saya iya, kan, berarti saya tidak bisa cari pegawai lain."


"Tidak apa-apa, kalau ibu cari pegawai lain. Asal saya masih bisa bekerja disini. Saya di gaji sedikit juga nggak pa-pa."


"Mana tega saya melakukan hal itu. Calon suami kamu asisten menantu saya," ucap Yasna menahan senyum. "Kamu tenang saja. Kamu bebas ke sini kapan saja."


"Benar, Bu?" tanya Rani yang diangguki Yasna.


"Jadi bagaimana ini, Mbak Rani maunya nikah sama Kak Ivan atau pulang kampung sama Bik Rahmi? Pulang saja, ya!" Afrin sengaja ingin menggoda Rani.


"Saya mau menikah dengan Mas Ivan, kok, Non!" seru Rani.


"Alhamdulillah," ucap semua orang secara bersamaan.


Rani merasa malu karena dia semangat sekali saat menjawab tadi. Pasti Ivan berpikir jika dirinya wanita agresif. Ini semua karena Afrin, dia sengaja ingin membuat Rani malu

__ADS_1


"Berarti tinggal lamaran Ivan. Kapan lamarannya?" tanya Yasna.


"Saya akan mengatakannya pada Mama saya nanti," jawab Ivan kemudian bertanya pada Bik Rahmi, "Kalau keluarga ibu sendiri, kapan ada waktunya? Agar saya bisa datang diwaktu yang tepat."


"Kapanpun Nak Ivan mau datang, silakan saja. Pintu rumah saya selalu terbuka untuk siapa pun. Saya juga selalu di rumah."


"Baik, nanti saya akan bilang sama mama saya."


Semua orang merasa lega, akhirnya masalah bisa teratasi. Mudah-mudahan saja rencana mereka berjalan dengan lancar tanpa ada halangan apa pun. Diam-diam Ivan dan Rani saling lirik, saat pandangan mata mereka bertemu, keduanya akan memalingkan wajah.


"Karena semua ada di sini, ayo! Kita makan siang bersama," ajak Afrin.


"Tapi, saya tadi masak sedikit, Non. Saya tidak tahu kalau semua orang akan datang."


"Tidak perlu, kita makan di luar saja, di restoran, Kak Ivan yang traktir. Anggap saja ini pajak jadian kalian," ucap Afrin dengan menaik turunkan alisnya.


"Aku setuju," sahut Khairi.


"Bunda juga setuju," sahut Yasna


"Bagaimana, Kak Ivan?"


"Boleh, terserah kalian saja."


Afrin menggandeng tangan suaminya, diikuti yang lainnya di belakang.


*****


"Mas, apa kamu yakin jika Kak Ivan tidak akan mempermainkan Mbak Rani?" tanya Afrin, saat ini keduanya dalam perjalanan pulang dari makan bersama.


Mereka juga pamit pulang ke rumah orangtua Khairi. Tadi saat di kantor Papa Hamdan yang meminta putranya untuk pulang. Afrin juga mengatakan pada suaminya hal yang sama karena itu, keduanya memutuskan untuk pulang ke rumah Papa Hamdan. Mudah-mudahan saja tidak terjadi sesuatu yang tidak diharapkan.


"Aku sangat mengenal Ivan, Sayang. Jika dia mengatakan ingin menikah, maka dia akan melakukannya dengan sungguh-sungguh. Sudah lama dia tidak menjalin hubungan dengan seseorang."


"Berarti Kak Ivan sudah pernah pacaran, dong?"


"Iya, dulu saat pertama kali dia bekerja sama aku, dia sudah memiliki kekasih. Dari yang aku dengar kekasihnya pergi ke luar negeri untuk melanjutkan study dan memilih putus dari Ivan. Padahal saat itu Ivan masih sangat mencintainya."


"Bagaimana nanti kalau dia kembali dari luar negeri dan ingin menjalin hubungan lagi dengan Kak Ivan?" tanya Afrin dengan nada khawatir.


"Wanita itu sudah menikah, Sayang. Dia menikah di luar negeri dan tinggal di sana, tidak akan kembali lagi."


"Dari mana kamu tahu, kalau dia sudah menikah?"

__ADS_1


"Ivan yang cerita. Saat itu dia masih mengikut sosmed wanita itu, tapi sejak dia menikah, Ivan sudah tidak lagi mengikuti sosmednya."


"Kalau begitu, aku bisa tenang. Bagaimanapun juga, Mbak Rani sudah kami anggap seperti keluarga sendiri. Kami tidak rela jika Kak Ivan menyakitinya."


"Aku akan jadi orang pertama yang akan menghajarnya jika dia melakukan itu," sahut Khairi. "Oh, iya, Sayang. Besok kita pindah ke apartemen, ya! Tadi aku sudah minta orang buat bersihin tempat itu."


"Katanya mau tiga hari di rumah kamu, tiga hari di rumah Papa? Aku, kan, masih kangen sama Bunda!"


Afrin merasa heran dengan suaminya, dia merasa ada sesuatu tang disembunyikannya. Akan tetapi wanita itu tidak bisa menebaknya. Khairi sekarang lebih banyak menyimpan rahasia.


"Kayaknya nggak jadi, Sayang. Nggak enak juga pindah-pindah terus. Kalau kamu mau ketemu Bunda, nggak pa-pa sesekali," ucap Khairi beralasan.


Dia hanya tidak ingin tinggal di rumah bersama dengan orangtuanya. Pria itu banyak mendengar jika orangtua masih ikut campur urusan rumah tangga anaknya, kemungkinan besar rumah tangga anaknya akan hancur jadi, Khairi lebih memilih aman saja.


"Aku, sih, terserah kamu ke mana pun kamu pergi, aku akan ikut sama kamu."


"Aduh, istriku romantis sekali, sih!"


"Ini memuji, apa ngejek, nih?" tanya Afrin dengan memicingkan matanya. Khairi tidak menjawab, dia hanya terkekeh sambil mengusap rambut istrinya.


Tanpa terasa mobil yang mereka tumpangi berhenti di halaman rumah keluarga Hamdan. Segera mereka memasuki rumah. Tampak Fatma di sana.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam," sahut Fatma.


"Ke mana semua orang?"


"Nyonya sedang keluar bersama ibu, katanya mau belanja ke minimarket. Sudah dari tadi, kok. Mungkin sebentar lagi pulang, Den."


"Ya sudah, kami mau ke kamar dulu," ucap Khairi berlalu dengan merangkul pinggang istrinya.


Fatma hanya menatap kedua punggung itu, hingga menghilang di balik tembok. Khairi memang sengaja melakukan hal itu untuk menegaskan kepada asisten rumah tangganya itu, bahwa dia hanya mencintai istrinya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2