Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
270. S2 - Terkesima


__ADS_3

Di ruang tamu keluarga Emran. Khairi dan Ivan sudah menunggu istri mereka. Tadi keduanya berniat menjemput Afrin dan Rani. Namun, keduanya ternyata tidak ada di rumah. Bunda Yasna bilang mereka belum pulang dari jalan-jalan. Padahal kedua wanita itu pergi dari pagi.


Khairi mengirim pesan kepada istrinya dan Afrin bilang jika dia dalam perjalanan pulang. Sejujurnya pria itu kesal karena sang istri pergi seharian. Apa saja yang dilakukannya selama itu?


Tidak berapa lama terdengar suara mobil memasuki halaman rumah. Dua orang wanita turun dari mobil. Kemudian mereka memasuki rumah yang pintunya masih terbuka. Rani sempat takut, tetapi Afrin berusaha meyakinkannya.


"Assalamualaikum," ucap kedua wanita itu.


"Waalaikumsalam."


Semua orang terkejut melihat penampilan dua wanita yang baru datang, terutama Rani. Jika Afrin, sudah terbiasa dengan tampilan seperti itu, tetapi untuk Rani, baru kali ini dia berdandan seperti itu. Semua orang takjub melihat dia tampil cantik seperti itu.


Ivan tidak berkedip sama sekali saat memperhatikan istrinya. Dia tidak menyangka Rani bisa tampil secantik ini. Wanita itu memang cantik, hanya saja dia jarang sekali memakai make up. Hari ini dia membuat semua orang terkejut dengan tampilannya. Bahkan Khairi yang berada di samping Ivan sama terkejutnya.


"Mas, tidak jatuh cinta sama Mbak Rani, kan?" tanya Afrin membuat Khairi gelagapan.


Pria itu sadar jika dia sudah menatap Rani dengan berlebihan. Akan tetapi, Khairi melakukannya tanpa sadar. Dia hanya kagum saja tidak ada maksud tertentu.


"Tidak, Sayang. Aku cuma terkejut saja melihat Mbak Rani. Cintaku cuma sama kamu, tidak ada yang lain," sahut Khairi dengan cepat. Dia tidak ingin istrinya salah paham mengenai tindakannya. Jujur tadi itu hanya reflek saja. Tidak ada perasaan lebih, apalagi sampai jatuh cinta seperti yang istrinya katakan.


"Bagaimana Kak Ivan? Apa ada sesuatu yang masih kurang dalam diri Mbak Rani?" tanya Afrin.


"Tidak, Non. Semuanya sudah cukup," jawab Ivan tanpa melihat ke arah Afrin, membuat wanita itu tertawa mendengarnya.


Ivan tersadar saat mendengar tawa Afrin. Dia merasa malu, tetapi bukan Ivan namanya jika tidak berpura-pura biasa saja. Sesekali pria itu masih memandangi istrinya.


"Kalian semua belum ada yang makan, kan? Ayo, kita makan malam di sini dulu! Kebetulan tadi Bunda masak banyak," ajak Yasna.


"Boleh, Bunda," sahut Afrin.


"Sudah, Bro, jangan dilihatin terus. Nanti saja di rumah, langsung sikat," tegur Khairi dengan menepuk bahu asistennya, membuat Ivan gelagapan. Sementara Rani hanya menundukkan kepala, antara senang dan malu.

__ADS_1


"Ayo, kita makan malam dulu!" ajak Afrin. "Sebelum melanjutkan misi selanjutnya," lanjutnya dengan berbisik tepat di telinga Rani.


Semua orang berjalan menuju ruang makan. Emran juga sudah turun dari kamarnya bersama Aydin dan Nayla. Mereka semua menikmati makan malam dengan tenang sementara Ivan sedari tadi, terus saja mencuri pandang pada sang istrinya yang berada di sebelahnya.


Padahal sudah di sebelah, kenapa masih curi-curi pandang? Entahlah, kapan pria itu bisa bersikap romantis seperti pria lainnya. Usai makan malam Khairi dan Afrin pamit untuk pulang. Begitu pun dengan Ivan dan Rani.


"Tadi Mbak Rani kamu apain saja, Sayang? Bisa beda seperti itu?" tanya Khairi saat mereka dalam perjalanan pulang.


"Aku cuma bawa dia ke salon, Mas," jawab Afrin dengan santai.


"Kamu tidak mengajari Mbak Rani macam-macam, kan?" tanya Khairi lagi.


"Kita lihat saja besok," jawab Afrin.


Mendengar jawaban dari istrinya membuat Khairi tahu, pasti Afrin mengajari Rani hal yang tidak-tidak.


"Memangnya kenapa, Mas? Itu juga demi kebaikan mereka. Habisnya aku tuh kesal, mereka udah menikah satu bulan, tapi belum unboxing juga."


"Mbak Rani sendiri yang bilang, makanya aku ngajarin Mbak Rani supaya lebih berani."


Khairi menganggukkan kepala. Dia tidak tahu mengenai hal itu, lagipula itu juga urusan rumah tangga orang. Pria itu tidak berhak tahu, kalau istrinya ikut campur, biar saja. Mbak Rani juga yang menceritakannya sendiri. Yang dilakukan Afrin juga untuk kebaikan pasangan pengantin baru itu.


Sementara itu di mobil lainnya, Ivan dan Rani hanya terdiam. Sesekali mereka saling lirik. Keduanya bingung mencari topik pembicaraan.


"Mas, aku sudah memutuskan kalau aku akan berhenti bekerja di rumah Bu Yasna," ucap Rani memecah keheningan.


"Benar, kamu ingin berhenti? Kamu tidak melakukannya karena terpaksa, kan? Aku tidak ingin kamu menyesal suatu hari nanti."


"Tidak, Mas. Aku sudah memutuskannya, tapi aku masih boleh kan datang ke rumah Bu Yasna sesekali?" tanya Rani dengan menatap suaminya.


"Kalau kamu ingin ke rumah Bu Yasna, aku tidak akan melarang. Asalkan saat aku pulang, kamu sudah ada di rumah."

__ADS_1


"Iya, Mas, tapi besok aku masih harus bekerja. Aku belum pamit pada Bu Yasna dan yang lainnya. Rasanya tidak enak berhenti begitu saja."


"Iya, tidak apa-apa. Besok aku antar, ya!"


"Terima kasih."


Kembali keheningan menyelimuti suasana dalam mobil itu. Mereka tidak tahu harus berkata apa. Padahal keduanya hidup bersama sudah satu bulan, tetapi semuanya masih terasa kaku.


"Ran," panggil Ivan.


"Iya, Mas," sahut Rani dengan cepat.


"Kamu sangat cantik malam ini," ucap Ivan dengan menatap Rani sekilas. Sebenarnya dia ingin sekali menatap wajah sang istri lebih lama, tetapi dia merasa malu. Bukan hanya itu, saat ini dia juga sedang mengemudikan mobil. Tidak mungkin pria itu terus menatap istrinya.


Tidak berapa lama mobil yang dikendarai oleh Ivan telah sampai di apartemen tempat tinggal mereka. Keduanya turun dan menuju unit apartemennya. Rani masih berpikir, apa dia harus melakukan apa yang dikatakan oleh Afrin? Penampilan yang seperti ini saja sudah membuatnya malu, apa lagi harus menggunakan kain yang sangat tipis yang biasa orang pakai saat malam pertama! Rani menghela nafas panjang.


"Ran, kenapa masih berdiam diri di sana?" tanya Ivan saat melihat sang istri masih berdiri di dekat pintu masuk.


"Tidak ada apa-apa, Mas. Hanya lelah saja," jawab Rani berbohong. Wanita itu berjalan mengikuti suaminya masuk ke kamar.


"Aku mandi dulu, ya, Ran? Atau kamu mau duluan?"


"Tidak, Mas, saja yang mandi dulu."


Ivan pun masuk ke kamar mandi. Sementara Rani yang berada di tepi ranjang, masih memikirkan apa dia harus memakai pakaian yang disarankan oleh Afrin atau tidak? Wanita itu mengumpulkan seluruh keberaniannya berjalan menuju lemari, di mana baju itu tersimpan.


"Kamu cari apa, Ran?" tanya Ivan yang baru keluar dari kamar mandi membuat istrinya terkejut.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2