Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
160. S2 - Nayla menangis


__ADS_3

Seminggu telah berlalu setelah acara pernikahan Aydin dan Nayla. Dalam satu minggu itu juga mereka masih tidur di rumah keluarga Emran. Malam pertama? Tentu sudah, jangan tanyakan tentang hal itu. Akan sangat malu untuk diceritakan.


Pasangan pengantin baru itu sudah membicarakan pada kedua orang tua Aydin dan ayah Nayla. Mereka pun mengizinkan anak-anaknya untuk mandiri, tapi untuk sementara waktu pengantin baru itu harus tinggal di rumah terlebih dahulu, sebelum menempati apartemen milik Aydin.


Pagi-pagi sekali Nayla bersama Yasna memasak di dapur. Rani hanya membantu seperlunya saja. Sebagai seorang pembantu, dia sangat beruntung memiliki majikan seperti Yasna yang tidak pernah marah apalagi sampai bersikap kasar padanya.


Apalagi kini keluarga itu juga memiliki menantu yang sama baiknya dan Rani sangat beruntung bisa bekerja dengan mereka semua. Hal itu juga yang membuatnya enggan untuk menikah dan meninggalkan keluarga ini. Berkali-kali ibunya meminta dia pulang untuk dijodohkan, tapi Rani selalu menolak dengan berbagai alasan.


"Bunda, biasanya paling suka masak apa?" tanya Nayla.


"Bunda paling suka masak ayam goreng atau ikan goreng terus dikasih sambal."


"Apa semua orang suka itu? Dulu ibu pernah cerita kalau kita pasti akan suka memasak sesuatu yang disukai keluarga kita."


Nayla selalu ingat setiap nasehat yang disampaikan ibunya. Setiap kata yang keluar dari bibir Asih sangat berarti bagi wanita itu. Kini dia hanya bisa mengingatnya tanpa bisa mendengarkan setiap nasehat ibunya


"Iya, semua orang suka. Terutama Aydin, dia paling suka pedas. Kalau tidak pedas, pasti dia minta Rani buat ulekin cabe." Yasna terkekeh setelah bercerita karena teringat kejadian itu.


Setelah selesai semua masakan, mereka mulai menatanya di meja. Satu persatu anggota keluarga mulai berdatangan. Seolah aroma masakan yang memanggil mereka.


"Selamat pagi, Sayang," sapa Emran dengan mengecup kening Yasna. Sementara Aydin yang berada di belakang papanya hanya bisa mendengus.


"Papa nggak lihat. Ada menantunya juga, apa nggak malu?" cibir Aydin.


"Kenapa harus malu? Nayla juga anak Papa," jawab Emran dan beralih menatap menantunya. "Kamu nggak pa-pa, kan, Nay? Kamu harus terbiasa melihat hal seperti ini dan kamu harus sabar jika suami kamu, tidak seperti Papa yang romantis."


"Siapa bilang! Aku juga bisa romantis. Bahkan melebihi Papa."


"Mana buktinya? Kamu juga biasa-biasa saja selama satu minggu di sini."


"Papa, sudah, masih pagi juga debat sama anaknya," sela Yasna. "Mbak Rani, tolong panggilin Afrin. Bilang, semua orang sudah menunggu."


"Iya, Bu."


"Tidak perlu, Bunda. Aku sudah datang, kok," ucap Afrin yang baru datang dengan seragam sekolahnya.


Mereka pun menikmati sarapannya sambil berbincang. Sementara Rani pergi ke belakang melakukan pekerjaan lainnya.

__ADS_1


"Kakak jadi, besok pindahnya?" tanya Yasna.


"Iya, Bunda. Tidak apa-apa, kan? Bunda tidak keberatan?" tanya Aydin hati-hati, takut jika Yasna sedih.


"Tentu tidak apa-apa, tapi jangan lupa sering-sering main ke sini."


Sebenarnya Yasna sangat sedih. Dia harus berjauhan dengan anak-anaknya. Padahal wanita itu ingin Aydin segera menikah agar dirinya memiliki teman ketika di rumah sendiri, tetapi kini mereka malah ingin meninggalkan rumah.


Yasna tidak bisa melarangnya. Mereka lebih berhak menentukan masa depan sendiri. Dia juga tidak ingin dikatakan terlalu mengekang kebebasan mereka.


"Iya, Bunda," sahut Aydin. "Pa, besok aku nggak masuk, ya?"


"Iya, Papa juga sudah bilang sama Hendra, untuk menghandle pekerjaan kamu besok," jawab Emran. "Kamu seharusnya cari sekretaris, biar saat kamu sedang ada urusan ada yang ngerjain."


"Kemarin sudah, Pa. Aku nggak cocok."


"Cari lagi, dong! Banyak yang melamar juga kemarin, kan?"


"Semuanya perempuan, Pa."


"Kenapa tidak mengajukan persyaratan? Kamu tinggal bilang mau seperti apa. Om Hendra tidak bisa menghandle pekerjaan kamu terus menerus. Dia juga banyak pekerjaan. Lagi pula dia sudah tua. Sudah saatnya pensiun."


"Jangan pernah membandingkan pekerjaan orang lain. Setiap orang pasti punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Waktu itu juga Om Hendra sudah pernah menyarankan kamu keponakannya. Namanya siapa, ya? Papa lupa."


"Tapi perempuan, Pa. Aku mau cari laki-laki."


"Keponakannya Hendra itu wanita baik-baik."


Aydin berpikir sejenak, papanya benar. Pasti keluarga Hendra orang yang baik, meski dalam hati dia masih sangat khawatir akan ada kejadian yang tidak mengenakkan, tapi pria itu tidak bisa mengerjakan semuanya sendiri. Nanti Aydin akan mencobanya lagi.


"Iya, Pa. Nanti aku akan coba bicara sama Om Hendra. Mudah-mudahan saja semuanya baik-baik saja kedepannya," ucap Aydin. "Kamu nggak pa-pa, kan, Sayang? Kalau sekretarisku perempuan?" tanya Aydin pada Nayla membuat semua penghuni rumah menatap wanita itu, menunggu jawaban dari bibir Nayla, yang ditatap seperti itu, pun, menjadi gugup.


Jujur dalam hati dia juga takut kejadian seperti di dalam sinetron akan terjadi pada suaminya, tetapi, bukankah setiap manusia tidaklah sama? Wanita itu berharap, sekretaris suaminya orang yang baik dan tidak akan mengusik rumah tangganya.


"Aku terserah, Mas. Kan, Mas, yang bekerja. Aku tidak mengerti tentang hal seperti itu," jawab Nayla.


"Bukan gitu, Sayang. Maksudnya apa kamu tidak keberatan, setiap hari aku akan selalu dekat dengan dia. Kemana-mana selalu bersama karena kita ada pekerjaan."

__ADS_1


"Aku percaya Mas tidak akan menghianatiku," jawab Nayla membuat semuanya bernapas lega.


"Terima kasih, Sayang."


Setelah selesai sarapan Emran dan Aydin pergi ke kantor, sebelum itu mereka harus mengantar Afrin ke sekolah. Sementara Nayla memilih di rumah saja, tidak ke butik. Dia harus membereskan beberapa baju dan perlengkapan lainnya yang akan dibawa ke apartemen.


Yasna ikut membantu Nayla. Mereka juga berbelanja beberapa kebutuhan yang diperlukan di apartemennya nanti.


*****


Hari ini Aydin pulang lebih cepat. Semua pekerjaannya sudah selesai. Dia menyerahkannya pada Emran dan Hendra. Begitu sampai di rumah, terlihat Yasna sedang menyiram bunga. pria itu tidak melihat sang istri.


"Assalmualaikum, Bunda. Nayla ke mana?" tanya Aydin sambil mencium punggung tangan Yasna.


"Ada di kamar. Setelah makan siang tadi dia belum keluar."


"Aku masuk dulu, Bunda."


"Iya."


Aydin berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Saat membuka pintu, pria itu melihat sang istri berbaring di atas ranjang. Samar-samar dia mendengar orang sedang menangis. Aydin pun mendekatinya dan terkejut melihat Nayla menangis. Pria itu segera mendekatinya.


"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Aydin dengan nada yang sangat khawatir.


Nayla hanya menangis sesenggukan. Aydin yang tidak mendapat jawaban dari Nayla semakin panik. Dia pun berteriak memanggil Yasna. Pria itu tidak tahu apa yang harus dilakukannya karena panik.


"Bunda!" teriak Aydin.


"Bunda!"


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2