Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
198. S2 - Pergi ke mana


__ADS_3

"Silakan dinikmati makanannya, Nona. Saya permisi, kita pasti bertemu kembali dan aku harap pertemuan kita selanjutnya di atas pelaminan," ucap Khairi tersenyum membuat Afrin tersedak minumannya. Bukan karena senyuman pria itu, tetapi kalimat terakhirnya yang membuat gadis itu jengah.


Khairi meninggalkan tempat itu bersama dengan Ivan, setelah meminta asistennya membayar makanan yang dipesan oleh Afrin dan teman-temannya.


"Kamu kenal dia di mana, Frin?" tanya Vira.


"Nggak sengaja ketemu."


"Maksudnya?"


"Dia nabrak mobilku di lampu merah."


"Wah, cerita yang tidak terduga, seperti drama sinetron saja," ejek Sisca.


Afrin hanya berdecak kesal mendengar ejekan Sisca, tetapi dia tidak mau menimpali. Tidak penting juga untuknya.


"Dia pengusaha muda yang sangat terkenal dengan sikap dinginnya, tapi aku lihat dia sangat hangat padamu. Apa dia menyukaimu?" tanya Vira.


"Mana aku tahu," jawab Afrin. "Kamu bilang dia hangat, hangat dari mana? Playboy, iya."


Afrin sungguh malas membahas Khairi, tetapi Vira terus saja bertanya dan menceritakan semua yang dia tahu tentang pengusaha itu.


"Kalau dibandingkan dengan sikapnya selama ini, tadi itu termasuk hangat. Dia tidak pernah sekali pun dekat dengan seorang wanita. Apalagi sampai menjalin hubungan. Kalau benar dia menyukaimu, seharusnya kamu merasa beruntung dicintai pria seperti dia," tutur Vira.


"Apa kamu yakin? Dia seperti playboy gitu," tanya Sisca


"Yakinlah. Kalau Afrin nggak mau. Aku juga mau. Nanti kenalin aku sama dia, ya, Frin. Tadi aku nggak sempat kenalan."


"Pacar kamu mau dikemanain? Aku ogah lihat orang berantem," sahut Afrin.


"Kalau ada yang lebih dari dia kenapa tidak!"


Afrin dan Sisca sama-sama menggelengkan kepalanya. Mereka sangat tahu bagaimana sahabatnya itu. Padahal dulu, dia paling tidak suka dengan orang yang suka mempemainkan sebuah hubungan, tetapi kini seolah semua berbalik.


"Aku nggak mau ikut campur. Kalau mau kenalan, kenalan saja sendiri. Aku nggak mau terlibat dalam hubungan rumit," pungkas Afrin.


"Kamu punya nomor ponselnya nggak?" tanya Vira.


"Aku tidak punya. Namanya saja aku nggak tahu," jawab Afrin.

__ADS_1


"Tapi kayaknya dia naksir sama kamu. Kamu nggak naksir sama dia, kan?"


"Tidak, Vira. Harus berapa kali sih aku katakan!"


"Barangkali kamu naksir, kalau kamu nggak naksir, aku akan mengejar dia."


"Terus cowok kamu gimana?" tanya Siska.


"Selama dia nggak tahu, nggak ada masalah."


"Astaga kenapa aku bisa punya temen kayak dia?" keluh Siska yang hanya ditanggapi oleh Vira dengan menaik turunkan alisnya.


Sementara Afrin menggelengkan kepala melihat tingkah temannya itu. Dari dulu Vira memang selalu seenaknya jadi, gadis itu tidak terlalu terkejut.


"Lagipula aku sama dia kan belum ada komitmen jadi, aku masih bebas memilih siapa yang akan menjadi suamiku."


"Memang benar kamu tidak punya komitmen dengan siapa pun, tapi alangkah baiknya jika kamu tidak mempermainkan perasaan mereka. Jika kamu ingin mengejar pria tadi. Kamu harus memutuskan hubunganmu lebih dulu dengan pacarmu. Jangan sampai semua itu akan jadi bumerang untukmu," tutur Afrin.


Sebagai sahabat dia hanya mengingatkan. Mengenai Vira mau menerima atau tidak itu urusan gadis itu.


"Ketahuan juga nggak pa-pa. Lagi pula kalian tahu, kan, cowokku itu cinta mati sama aku jadi, dia tidak mungkin berani memutuskan hubungannya denganku."


"Jangan meremehkan orang lain," tegur Siska. Namun, Vira hanya mengangkat kedua bahunya acuh.


*****


Pagi ini semua orang disibukkan dengan kegiatan mereka masing-masing. Emran dan Aydin pergi ke kantor. Sementara Afrin pergi ke sekolah, menyiapkan acara perpisahan nanti. Yasna menyiram bunga di taman dan Nayla menemani Nuri bermain.


Akhir-akhir ini gadis kecil itu sudah mulai dekat dengan mamanya. Meski tidak sedekat dengan omanya.


"Nuri, mau nggak ikut mama jalan-jalan. Kita beli mainan!" ajak Nayla.


"Ainan?"


"Iya, nanti beli boneka mau, nggak?" tanya Nayla lagi yang diangguki oleh Nuri.


Nayla pamit pada sang mertua ingin mengajak putrinya jalan-jalan ke mall. Yasna merasa senang karena sekarang Nuri mau diajak pergi mamanya.


Wanita itu pergi bersama Nuri dengan menaiki taksi padahal sebelumnya Yasna sudah memberi saran untuk menghubungi Pak Hari saja dan memintanya pulang. Namun, Nayla menolak dan bersikeras ingin menaiki taksi.

__ADS_1


Meski berat akhirnya Yasna setuju dengan permintaan Nayla.Wanita itu memberi tahu hal-hal yang tidak boleh dilakukan. Gadis kecil itu hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala.


*****


Hingga sore hari Nayla dan Nuri tak kunjung pulang. Membuat Yasna khawatir jika terjadi sesuatu pada mereka. Wanita itu menghubungi ponsel menantunya. Namun, nomor Nayla tidak aktif dengan terpaksa, dia menghubungi Aydin.


"Halo, assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, Aydin, Nayla tadi siang pergi bersama Nuri. Katanya mau ke mall, tapi sampai saat ini kok belum pulang? Apa kamu tahu di mana mereka?" tanya Yasna tanpa basa-basi.


"Tidak, Bunda! Mereka pergi berdua saja atau sama Pak Hari?"


"Mereka hanya pergi berdua. Ponsel Nayla juga nggak aktif. Bunda khawatir."


"Bunda jangan khawatir. Aku akan bertanya pada temannya. Mungkin dia pergi bersama mereka atau mungkin di butik sama Fika."


"Iya, nanti kalau ketemu kabari Bunda, ya! Biar Bunda nggak khawatir."


"Iya, Bunda. Aku tutup dulu. Assalamualaikum,"


"Waalaikumsalam." Yasna menutup panggilan.


Wanita itu belum bisa meredakan kekhawatirannya sebelum tahu kabar mereka. Dia takut terjadi sesuatu pada Nayla dan Nuri. Apalagi cucunya masih berusia satu tahun


Sementara Aydin berusaha menghubungi nomor Nayla dan benar seperti yang bundanya katakan jika ponsel istrinya tidak aktif. Dia juga bertanya pada teman Nayla yang dikenalnya. Namun, tidak ada satu pun yang tahu.


Aydin teringat Fika kemudian menghubunginya dan jawabannya pun sama diaa tidak tahu. Pria itu semakin khawatir. Setelah berpikir sejenak, dia memutuskan untuk pergi ke rumah Ayah Roni mungkin Nayla mengajak putrinya ke sana.


Segera dia mengambil kunci mobil dan pergi dari perusahaan. Aydin menitipkan pekerjaannya pada asistennya dan pergi dengan mengemdarai mobil


Begitu sampai di rumah Ayah Roni, ternyata tidak ada satu orang pun di sana. Menurut tetangga, Roni sudah beberapa hari tidak pulang dan tidak ada seorang pun yang tahu keberadaannya.


Aydin semakin gelisah, tiba-tiba dia teringat Bibi Rini. Pria itu mencari nomornya dan segera menggeser tombol hijau pada benda pipih miliknya.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2