
"Assalamualaikum," ucap Aydin dan Afrin sambil mengetuk pintu sebuah rumah minimalis. Siapa lagi penghuninya kalau bukan abi dan uminya Nuri.
"Waalaikumsalam," sahut seorang wanita dari dalam.
Begitu pintu terbuka, tampak umi yang begitu terkejut melihat siapa yang datang. Segera dia menutup kembali pintu itu dengan sangat keras, hingga membuat tamunya terjingkat. Aydin dan Afrin tidak tinggal diam. Mereka kembali mengeruk pintu.
"Assalamualaikum, Umi. Tolong buka pintunya. Kami mau bicara sebentar," ucap Afrin dengan suara sedikit keras. Namun, tidak ada sahutan dari dalam.
"Ibu, tolong izinkan saya bicara sebentar. Saya ingin meminta maaf," ucap Aydin.
"Pergi kalian dari sini! Saya tidak mau melihat kalian!" teriak umi dari dalam sambil menutup kedua telinganya.
Abi yang berada di dalam kamar pun segera keluar karena mendengar teriakan istrinya. Pria itu takut terjadi sesuatu, ternyata benar kekhawatirannya. Keluarga Emran kembali datang dan itu membuat umi kembali marah.
"Ada apa, Umi?" tanya abi.
"Tidak ada apa-apa. Suruh saja mereka pergi," ucap umi segera berlalu masuk ke dalam kamarnya.
Dia tidak ingin bertemu dengan orang-orang yang sudah membuat dirinya kehilangan sang putri. Abi menatap punggung istrinya yang menghilang ke dalam kamar dan segera membuka pintu.
"Assalamualaikum, Abi," ucap Afrin sambil mencium punggung tangan pria itu. Sementara Aydin hanya menyalami saja
"Waalaikumsalam."
"Boleh kami masuk? Saya ingin bicara sebentar," pinta Aydin.
"Oh, ya, silakan." Abi membuka pintu lebar-lebar, mempersilahkan tamunya untuk masuk.
Berbeda dengan istrinya, abi lebih bisa menerima semuanya. Sejujurnya dia juga berat. Akan tetapi, kembali lagi jika semua sudah takdir dari Tuhan.
"Tunggu sebentar, saya buatkan minuman dulu," ucap Abi yang baru melangkah ingin ke belakang. Namun, lebih dulu dicegah Afrin.
"Tidak usah, Abi. Kami hanya sebentar saja."
Afrin tahu jika kehadirannya tidak diinginkan jadi, diberi waktu berbicara saja itu sudah cukup. Abi pun duduk kembali. Pria itu juga ingin tahu apa yang ingin dikatakan Aydin.
"Begini, Pak. Sebelumnya saya mohon maaf atas kejadian waktu itu, hingga membuat Nuri kehilangan nyawanya. Saya benar-benar tidak sengaja, saya juga terkejut saat itu dan yang lebih memalukan lagi, saya telah mengambil penglihatannya. Saya benar-benar minta maaf," ucap Aydin dengan menundukkan kepala untuk menutupi matanya yang sudah berkaca-kaca.
"Saya mengerti. Semua memang sudah takdir hanya saja, kamu tahu sendiri seorang wanita lebih perasa. Butuh waktu untuk umi agar bisa menerima semua ini. Jangan paksa dia, semakin kamu memaksa, maka dia akan semakin membenci kamu."
"Iya, Pak. Saya mengerti."
__ADS_1
"Oh, iya, tunggu sebentar. Saya ada sesuatu untuk kamu."
Abi masuk ke dalam sebuah kamar yang Afrin tahu itu kamar Nuri. Tidak berapa lama, beliau kembali dengan sebuah amplop dan menyerahkannya pada Aydin
"Ini ada titipan dari Nuri buat kamu. Entah kenapa dia yakin bahwa kamu akan tahu padahal sebelumnya, kami sudah melarang dokter untuk mengatakan kepada keluarga kalian tentang pendonor. Mungkin dia tahu bagaimana kehebatan keluarga Tuan Emran jadi, tidak heran untuknya jika kalian mengetahui semua dengan cepat."
Aydin menerima surat itu. Ada rasa senang dalam hati pria itu, bukan karena cinta, tetapi lebih karena lega. Ternyata Nuri menuliskan sesuatu di akhir hidupnya. Setidaknya dia tahu apa yang ingin dikatakan gadis itu padanya.
"Terima kasih, Pak. Boleh saya tahu siapa nama lengkap Nuri?" tanya Aydin dengan menatap abi.
"Memang ada apa?"
"Saya ingin memberi nama putri saya dengan nama Nuri untuk mengenang kebaikannya. Saya tidak berniat buruk, Pak."
"Namanya, Nuri Maulida. Adik kamu juga tahu pasti," jawab abi sambil menunjuk Afrin.
"Iya, Bi," sahut gadis itu.
"Saya juga perlu izin dari Anda untuk memakai nama itu."
"Nama setiap orang banyak yang sama jadi, tidak perlu meminta izin. Lagi pula setiap orang bebas memberi nama anaknya. Nama Nuri juga bsnyak, bukan cuma putri kami."
"Silakan, Itu hak kamu."
Aydin mengangguk sambil tersenyum, kemudian mereka pamit, "Kalau begitu kami permisi, maaf sudah merepotkan keluarga Anda."
"Tidak apa-apa," sahut Abi. "Satu lagi, tolong jaga mata itu. Gunakan untuk kebaikan karena putriku selalu melakukan hal-hal yang baik dalam pandangan sekali pun."
Abi merasa perlu memberi nasehat. Bagaimanapun, dia tidak ingin apa yang putrinya berikan dipakai dalam hal yang tidak baik.
"Tentu, Pak. Saya akan menjaga mata ini dan mempergunakannya untuk kebaikan ... terima kasih, kami permisi. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Aydin meninggalkan rumah itu bersama dengan Afrin. Dalam perjalanan pria itu menendang amplop yang diberi oleh abi Nuri tadi. Dia juga penasaran apa isinya
"Kak, aku jadi penasaran. Apa sih isinya?" tanya Afrin.
"Kepoo, kamu anak kecil dilarang ikut campur."
"Aku bukan anak kecil, sebentar lagi aku anak kuliahan," kilah Afrin dengan cemberut.
__ADS_1
"Sudah kamu diam saja,"
Afrin pun diam, meski dia sebenarnya penasaran. Apa yang ditulis di dalam kertas itu. Tidak berapa lama mobil mereka akhirnya sampai di rumah. Aydin turun diikuti sang adik yang masih cemberut.
"Mbak Rani, sudah di rumah?" tanya Aydin saat melihat Rani
"Iya, baru saja pulang."
"Bagaimana keadaan baby Nuri?"
"Baby Nuri?" ulang Rani yang tidak tahu jika anak Aydin diberi nama Nuri.
"Iya, Bi, saya memberinya nama Nuri jadi, kita tidak memanggil baby-baby saja terus.
Rani hanya mengangguk, tdak berkomentar apa pun. Meski sudah banyak pertanyaan yang ada di kepalanya.
"Aku masuk ke kamar dulu." Segera Aydin berlalu memasuki kamar tanpa menunggu jawaban dari Afrin atau Rani.
Pria itu ingin segera melihat Apa isi dari amplop itu. Begitu sampai di kamarnya, dia segera mengunci pintu kamar. Aydin tidak ingin siapa pun masuk begitu saja. Terutama afrin yang sedari tadi kepo.
Aydin duduk di tepi ranjang dan segera membuka amplop itu yang isinya sebuah surat. Segera pria itu membacanya.
*****
Assalamualaikum, Kak Aydin.
Semoga Kakak sehat selalu.
Jangan pernah merasa bersalah atas apa yang sudah menimpaku, semua sudah takdir. Kakak tahu, aku sangat senang, bisa memberikan sesuatu yang berharga untuk Kakak karena apa? Kakak sudah pasti tahu jawabannya, karena aku sangat mencintai Kak Aydin. Meski cintaku hanya bertepuk sebelah tangan, tapi aku benar-benar mencintai Kakak.
Baru hari ini aku bisa mengatakan sejujurnya karena ini adalah pertama dan terakhir kali aku mengirim surat. Aku selalu mendoakan agar kehidupan Kakak dan Kak Nayla selalu bahagia. Kak Nayla wanita yang baik. Aku sangat iri padanya. Dia mendapatkan semua yang aku impikan dari dulu, yaitu cinta dari Kakak. Itu adalah segalanya bagiku, tapi semua itu tidak mungkin aku dapatkan.
Mungkin bagi semua orang, cintaku hanya omong kosong, tapi kuharap Kakak tidak menganggapnya seperti itu. Walau Kakak tidak membalasnya, jangan hina dan rendahkan cintaku, karena cintaku benar-benar tulus dari dalam hati dan jiwaku.
Aku juga ikhlas memberikan penglihatanku kepada Kakak. Jangan pernah menyesali apa pun karena semuanya sudah takdir dan aku senang melakukannya.
Hanya itu saja yang ingin aku katakan. Terima kasih pernah menghiasi hidupku meski kita tak pernah mengukir kisah bersama.
Dari yang paling manis
Nuri Maulida
__ADS_1