
Pagi hari Aydin menunggu kekasihnya di depan perusahaan. Dia sengaja berangkat pagi sekali, bahkan pria itu tidak mengantar adiknya ke sekolah dengan alasan banyak pekerjaan. Cukup lama menunggu, akhirnya yang ditunggu pun datang.
"Kenapa di sini, Mas?" tanya Airin menghampiri Aydin.
"Aku lagi nungguin kamu. Kenapa semalam kamu nggak bisa dihubungi?"
"Masa, sih, Mas?" Airin melihat ponselnya yang berada di alam tas. Ternyata dalam keadaan mati.
"Maaf, Mas. Ponselnya ternyata mati, aku nggak tahu," jawab Airin dengan memperlihatkan ponselnya yang dalam keadaan mati.
"Oh, tidak apa-apa. Aku hanya khawatir kalau terjadi sesuatu sama kamu."
"Aku nggak pa-pa, kok. Memangnya ada apa denganku?"
"Tidak ada apa-apa. Ya sudah, ayo, kita masuk!" Aydin merasa lega karena Airin baik-baik saja. Sebelumnya dia sangat khawatir terjadi sesuatu pada kekasihnya itu.
Mereka berjalan memasuki perusahaan dengan beriringan. Beberapa pasang mata melihat ke arah mereka kemudian saling berbisik.
"Aku ke belakang dulu, ya, Mas?" pamit Airin.
"Iya, aku juga mau ke atas," sahut Aydin yang segera berlalu memasuki lift tanpa mau tahu apa yang orang-orang gunjingkan.
*****
Hari ini Yasna pergi ke butik Nayla. Dia ingin bertemu dengan gadis itu. Sekaligus meminta maaf karena gara-gara wanita itu tidak ikut meeting. Rekannya membatalkan kerjasama mereka. Padahal Yasna tahu betapa sulitnya mendapat kain yang berkualitas seperti yang mereka miliki.
"Maafin Tante, ya, Nay. Gara-gara Tante nggak ikut meeting, kerja sama kita jadi dibatalkan," ucap Yasna dengan penuh sesal.
"Nggak pa-pa, Tante. Mungkin itu bukan rezeki kita, nanti saya akan coba mencari supplier kain yang lain. Mudah-mudahan kita bisa mendapatkan yang lebih nagus lagi."
"Amin. Nanti Tante coba carikan, walaupun Tante tidak mengenal bisnis ini, tapi mudah-mudahan ada yang mau."
"Iya, Tante."
"Assalamualaikum," ucap seseorang yang baru datang.
"Waalaikumsalam, Tante Sarah, Kak Rizki. Kenapa ke sini nggak bilang-bilang? Apa ada sesuatu yang penting?" tanya Nayla sambil menyalami wanita itu
"Tidak, kami cuma mau ajak kamu makan siang bersama. Kamu sebelumnya sudah janji, kan," jawab wanita yang Nayla panggil dengan panggilan Tante Sarah.
Nayla bingung, tidak mungkin dia meninggalkan Yasna sendirian di sini. Sementara dia juga sudah janji untuk makan siang bersama mereka.
Yasna yang mengerti kebingungan Nayla pun berkata, "Nggak pa-pa kamu makan siang saja, Tante sebaiknya pulang. Pekerjaan kita juga sudah selesai, kan? Tidak ada yang perlu dibahas lagi?"
"Kenapa Anda tidak ikut saja dengan kami sekalian. Kami juga makannya di dekat sini, kok. nggak jauh-jauh," sela Sarah.
__ADS_1
"Iya, Tante ikut saja. Aku juga nggak enak kalau Tante pulang," ucap Nayla.
Yasna melihat jam yang ada di pergelangan tangannya. Masih lama waktu kepulangan Afrin jika dia sekarang pergi ke sekolah pun, pasti akan jenuh menunggu terlalu lama.
"Baiklah, tapi Tante tidak bisa lama. Karena Tante harus jemput Afrin.
"Iya, Tante. Tidak apa-apa."
"Kita belum kenalan, Bu. Nama saya Yasna." ucap Yasna sambil mengulurkan tangannya ke depan Sarah.
"Nama saya, Sarah dan ini anak saya namanya Rizky." Yasna dan Riski pun bersalaman.
"Mari, kita pergi!" ajak Nayla.
"Iya, ayo!"
Mereka pergi keluar bersama-sama menuju restoran yang ada di samping butik Nayla. Mereka memesan banyak makanan. Selama menunggu makanan datang, Sarah begitu perhatian pada Nayla. Yasna pun merasakan hal itu.
"Saya tidak pernah melihat Anda sebelumnya, Bu Yasna. Apa Anda sudah lama kenal dengan Nayla?"
"Tidak, baru satu bulan ini saya mengenalnya. Kalau Anda sendiri sepertinya sangat dekat sekali dengan Nayla?"
"Saya sahabat dari almarhum Asih. Tentu saya mengenal Nayla sudah lama, dari dia lahir."
Yasna menganggukkan kepala. Dia juga seperti melihat sinyal bahwa, Sarah ingin menjadikan Nayla sebagai menantunya. Bahkan beberapa kali Sarah memberi kode pada Rizki agar lebih perhatian pada Nayla.
Hidangan telah datang. Mereka segera menikmatinya sambil berbincang, mungkin lebih tepatnya mendengarkan Sarah berbicara. Wanita itu sejak datang sudah berbicara panjang lebar. Yasna hanya menanggapi seadanya begitupun dengan Nayla dan Rizki.
"Bu Yasna, udang di sini rasanya enak kenapa enggak dicoba?"
"Maaf, Bu Sarah, saya alergi udang."
"Maaf saya tidak tahu."
"Tidak apa-apa."
"Berarti Anda tidak pernah merasakan daging udang? Padahal enak sekali. Maaf, maaf." Sarah menutup mulutnya karena sudah lancang.
"Dulu, waktu saya kecil pernah nekat memakannya. Saya penasaran mau tahu rasanya bagaimana karena teman-teman bilang, udang itu rasanya enak sekali, tapi akhirnya saya harus masuk rumah sakit. Setelah itu saya tidak berani lagi makan udang." Yasna terkekeh mengingat kenakalannya sewaktu kecil.
"Setelah kejadian itu alergi Anda tidak pernah kambuh lagi?"
"Sepuluh tahun lalu juga saya pernah kambuh."
"Anda makan udang lagi?"
__ADS_1
"Tidak, hanya bubuk udang."
"Bubuk udang?"
"Kokinya ingin memberi rasa udang dalam makanan, tanpa menambahkan udang. Bagi orang lain mungkin terasa nikmat, tapi tidak denganku," jawab Yasna yang diangguki oleh Sarah.
Setelah menikmati makan siang Yasna ingin pamit pergi. Dia harus menjemput putrinya. Wanita itu tidak ingin Afrin menunggu terlalu lama.
"Maaf, Bu, Sarah. Sepertinya saya harus pergi lebih dulu. Saya harus menjemput putri saya di sekolahnya."
"Putri Bu Yasna sekolah kelas berapa?"
"Kelas sepuluh, Bu Sarah."
"Sudah besar, ya, Bu. Saya kira anak Ibu masih SMP atau SD karena Ibu terlihat masih muda."
"Justru anak pertama saya sudah bekerja. Mungkin seumuran dengan Rizki."
"Oh, ya! Tapi Anda masih terlihat seperti kakaknya Rizki," ucap Sarah yang memang seperti itu kenyataannya. Yasna selalu menjaga tubuhnya meski dia tidak pernah pergi ke salon.
"Ibu bisa saja kalau memuji. Saya tidak pernah ke tempat perawatan, saya juga jarang sekali pergi ke salon. Saya seringnya di rumah saja," jawab Yasna terkekeh.
"Pasti suami Bu Yasna betah di rumah."
"Alhamdulillah, Bu. Saya permisi dulu, takut anak saya nunggu terlalu lama," jawab Yasna sambil tersenyum. "Tante pergi dulu, Nay. Assalamualaikum."
"Iya, Tante. Waalaikumsalam."
Yasna segera meninggalkan restoran itu dan menuju sekolah Afrin. Dia tidak ingin terlambat menjemput putrinya.
"Apa Bu Yasna itu baik sama kamu, Nay?" tanya Sarah.
"Tante Yasna baik, kok, Tante."
"Kok kamu bisa kenal sama dia?"
"Kami bekerja sama membangun butik itu. Kami juga sama-sama mencari supplier kain untuk Butik Kami," jawab Nayla.
Dia tidak ingin menganggap butiknya adalah miliknya sendiri karena dananya dari Yasna jadi, lebih baik semua orang menganggap butik itu miliknya bersama Yasna. Meski semuanya dipegang oleh dia sendiri.
.
.
.
__ADS_1
.
.