
"Selamat pagi, Bik," sapa Afrin saat Bik Asih sedang menyiapkan sarapan.
"Pagi, Non Afrin," sapa Bik Asih balik.
"Itu buat siapa, Bik?" tanya Afrin saat melihat dua kotak makanan yang satu sudah diisi lauk dan satu kotak lagi berisi sayur oseng.
"Nggak tahu, Non. Ini semalam Tuan Khairi yang minta buat dimasukin kotak saja. Saat saya tanya, nggak dijawab."
Afrin menganggukkan kepalanya. Sepertinya dia tahu untuk siapa semua ini. Wanita itu menghela napas, sudah tidak bisa lagi berbicara dengan suaminya.
"Bik, sudah siap?" tanya Khairi yang baru saja ke dapur.
"Ini sudah, Tuan."
"Sayang, aku ke apartemen ibu dulu. Aku janji nanti malam akan makan malam di rumah," ucap Khairi. Namun, Afrin memilih diam. Terserah suaminya makan di mana. "Aku pamit dulu, assalamualaikum."
Khairi mencium kening sang istri dan berlalu dari sana. Afrin memejamkan matanya berusaha untuk mengontrol emosi yang sudah ingin meledak. Dia berusaha seperti tidak terjadi apa-apa.
Afrin pun memilih membantu Bik Asih menata makanan di meja makan. Wanita paruh baya itu sedari tadi melirik ke arah menantu majikannya. Dia merasa ada sesuatu, hingga membuat Afrin seperti menahan emosi.
"Bik, tolong buatkan teh hangat. Jangan terlalu manis. Nanti bawa ke kamar, ya, Bik!" perintah Merry yang baru datang.
"Biar aku saja, Ma," sela Afrin yang kemudian mengambil air dan memasaknya. Merry mengangguk dan kembali ke kamar.
Saat Afrin menuangkan air ke dalam gelas, Merry berteriak dari kamarnya membuat Afrin dan Bik Asih segera berlari. Keduanya panik, pasti ada sesuatu yang terjadi.
"Tolong! Khairi, Afrin, tolong ... Bik Asih!" teriak Merry. "Mas, bangun, jangan membuatku takut. Buka matamu."
"Ada apa, Ma?" tanya Afrin begitu memasuki kamar diikuti Bik Asih di belakangnya.
"Papamu tidak mau bangun. Kamu panggil Khairi, kita bawa ke rumah sakit," ujar Merry. Afrin pun mendekati papa mertuanya dan mencoba memeriksa keadaannya.
"Mas Khairi sudah berangkat, Ma."
"Kamu telpon saja. Suruh dia pulang," ucap Merry dengan tubuh gemetar. Dia sangat takut terjadi sesuatu pada sang suami.
Afrin dan Bik Asih juga sama paniknya. Mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan. Tubuh keduanya terasa kaku untuk digerakkan. Namun, Afrin berusaha untuk mengontrol rasa takutnya.
__ADS_1
"Sebentar, aku ambil ponsel di kamar dulu."
"Pake ponsel Mama saja." Merry memberikan ponselnya pada Afrin.
Segera wanita itu mencari nomor suaminya dan menekan tombol memanggil. Namun, hingga tiga kali panggilan, tidak ada jawaban dari seberang karena memang Khairi sengaja tidak mengangkatnya. Pria itu mengira Mama Merry menghubunginya agar pulang dan sarapan di rumah.
"Tidak ada jawaban, Ma," ucap Afrin. "Sebaiknya kita bawa ke rumah sakit saja. Biar aku yang bawa mobil. Bik tolong panggil Pak Jono untuk mengangkat papa."
"Iya, Non." Bik Asih segera pergi memanggil Pak Jono.
"Aku siapin mobil dulu, Ma." Afrin segera pergi tanpa menunggu jawaban dari mertuanya.
Wanita itu mengambil kunci mobil yang ada di kamarnya. Tidak lupa ponsel dan tas miliknya, siapa tahu nanti dia membutuhkan sesuatu nanti.
*****
"Kak Afrin tidak ikut, Kak?" tanya Laily saat mereka sedang menikmati sarapan.
"Tidak, dia ada kuliah pagi," jawab Khairi berbohong.
"Istrimu tidak marah, kan? Semalam dia pulang sendiri, pasti ada sesuatu yang terjadi pada kalian," ucap Bu Nur mencoba menebak apa yang sudah terjadi.
"Syukurlah kalau begitu. Ibu khawatir kalian bertengkar, apalagi jika ibu penyebabnya."
"Kami baik-baik saja, Bu."
Ponsel Khairi yang berada di mobil berdering sejak tadi. Pria itu lupa membawanya. Tadi dia kesal dan meletakkannya begitu saja saat nomor Mama Merry menghubunginya.
"Bagaimana sekarang? Apa kamu sudah bisa memakai ponselnya?" tanya Khairi pada adiknya.
"Bisa, Kak. Semuanya mudah," jawab Laily.
"Kalau begitu tinggal belajar pakai laptop. Ambil laptop kamu, Kakak ajari."
"Memangnya Kakak tidak kerja?"
"Nanti agak siangan."
__ADS_1
"Baiklah, aku ambil dulu," sahut Laily dengan tersenyum dan segera beranjak dari duduknya.
Khairi senang melihat adiknya tersenyum. Usahanya tidak sia-sia membahagiakannya. Mudah-mudahan seterusnya dia akan selalu melihat senyum itu.
Laily kembali dengan membawa laptop yang dibelinya kemarin di mall. Gadis itu memperhatikan semua yang diinstruksikan kakaknya. Meski sedikit mengalami kesulitan, tetapi dia mampu menggunakannya juga.
"Kamu pelajari itu saja dulu. Kakak harus pergi bekerja, sebentar lagi ada meeting. Nanti sore Kakak ajari lagi," ucap Khairi setelah melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Iya, Kak."
Khairi pun berpamitan pada ibunya dan segera meninggalkan apartemen menuju kantornya. Dalam perjalanan tiba-tiba saja perasaannya menjadi gelisah. Dia berusaha untuk tenang, tetapi pria itu merasa ada sesuatu yang mengganjal.
Begitu sampai perusahaan, Khairi merasa aneh. Dia menolehkan kepalanya ke kiri dan kanan. Kenapa semua orang tampak berjalan keluar gedung? Apa telah terjadi sesuatu dengan perusahaan, tetapi tidak ada yang memberinya kabar apa pun.
Tidak jauh berbeda dengan Khairi. Para pegawai pun merasa aneh dengan kedatangan mobil atasannya itu. Kenapa bosnya datang ke perusahaan? Kenapa tidak di rumah? Apa hubungan pria itu dengan papanya tidak baik?
*****
Afrin melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Dalam keadaan seperti ini, dia mencoba untuk tetap tenang, meski perasaannya sedang tidak baik-baik saja. Di belakang, Mama Khairi terus saja menangis dengan kepala sang suami berada di pangkuannya.
"Mas, bangun ... kamu harus baik-baik saja. Kamu tidak boleh meninggalkanku. hanya kamu yang aku miliki." Merry terus saja bergumam agar sang suami tidak meninggalkannya.
Tanpa sadar air mata Afrin ikut menetes, antara sedih dan merasa bersalah. Setelah menempuh perjalanan yang cukup memakan waktu, akhirnya mereka sampai juga di sebuah rumah sakit. Afrin turun dan memanggil perawat untuk membawa mertuanya ke dalam.
Perawat pun membawa Papa Hamdan ke sebuah ruang ICU. Merry dan Afrin menunggu di depan ruangan dengan harap-harap cemas. Beberapa kali Afrin mencoba menghubungi sang suami. Namun, tak kunjung mendapat jawaban.
"Angkat dong, Mas. Kamu ke mana, sih?" gumam Afrin dengan kesal, yang masih bisa di dengar oleh Merry.
"Mungkin dia sibuk, Frin. Jangan ganggu lagi."
Afrin memandang wajah mertuanya dan mengangguk. Merry sepertinya sudah tahu di mana Khairi saat ini jadi, tidak perlu banyak bertanya. Sudah satu jam dokter berada di dalam, tidak ada yang mengatakan sesuatu. Beberapa perawat sempat ke luar masuk, tetapi saat ditanya mereka hanya meminta keluarga untuk menunggu.
Air mata Merry terus saja mengalir. Afrin yang takut jika terjadi sesuatu, terpaksa menghubungi papanya agar segera datang. Menurutnya seorang laki-laki dibutuhkan disaat seperti ini.
.
.
__ADS_1
.