Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
S2 - Bunda ikut


__ADS_3

Seorang pria duduk di sebuah ranjang rumah sakit, ditemani oleh adiknya. Siapa lagi kalau bukan Aydin. Sudah dua minggu dia di sana dengan perban menutupi kedua matanya.


Dia tidak pernah bisa tenang. Pria itu selalu gelisah, bukan hanya memikirkan keadaannya, tetapi juga Nayla dan bayinya.


"Afrin," panggil Aydin dengan meraba tempat di sebelahnya.


"Iya, Kak. Aku ada di sini," jawab Afrin dengan mendekati dan menggenggam tangan kakaknya.


"Bagaimana keadaan Nayla? Hari ini dia operasi, semuanya baik-baik saja, kan?"


"Semuanya berjalan lancar. Bunda juga sudah melihat anak Kakak. Dia cewek, sangat cantik sekali," jawab Afrin dengan tersenyum membayangkan keponakannya.


"Benarkah? Pasti dia sangat mirip dengan Nayla. Sayang sekali, aku tidak bisa melihatnya."


"Sebentar lagi juga, Kakak bisa melihat. Kata dokter, operasi yang Kakak jalani hasilnya baik sampai hari ini jadi, Kakak pasti sembuh."


Pria itu mengangguk. Dia juga berdoa agar semua baik-baik saja, sebelumnya Aydin merasa Tuhan begitu jahat padanya, tetapi Yasna memberi pengertian padanya, bahwa semua ujian yang pria itu hadapi adalah tanda kasih sayang-Nya.


"Afrin, maukah kamu jujur padaku?" tanya Aydin pada adiknya. Dia merasa ada sesuatu yang ditutup-tutupi oleh keluarganya dan pria itu penasaran akan hal itu.


"Apa, Kak?"


"Siapa yang sudah mendonorkan mata untuk Kakak?"


Afrin terkejut mendengar pertanyaan dari kakaknya. Dari mana Aydin tahu mengenai hal itu? Apa ada orang yang memberitahunya?


"Kakak, ngomong apa, sih? Aku nggak ngerti?" kilah Afrin.


"Kamu jangan pura-pura tidak tahu apa pun! Aku yakin kamu tahu. Aku merasa asing dengan mata ini. Ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Jujur saja, siapa yang sudah mendonorkan mata untukku? Aku ingat hari itu kaca depan pecah dan aku merasa mataku sangat sakit dan tidak bisa melihat apa pun. Pasti mataku sudah rusak, kan?" tanya Aydin.


"Itu mata Kakak," jawab Afrin berbohong. Untuk saat ini lebih baik dia menjawab seperti itu. Semua keluarga juga sudah sepakat. Lagipula keluarga pendonor juga tidak ingin Aydin tahu.


"Kamu sama saja seperti Bunda. Waktu itu, aku juga mendengar dokter mengatakan jika aku tidak akan bisa melihat lagi karena kornea mataku rusak. Kecuali ada pendonor mata. Walaupun aku tidak bisa membuka mata, tapi aku masih bisa mendengar. Saat itu aku pikir itu hanya mimpi, tapi semakin hari semuanya membenarkan jika apa yang aku dengar waktu itu adalah benar."


Afrin semakin dibuat kebingungan dengan pertanyaan sang kakak. Jika dia mengatakan yang sebenarnya, pasti semua orang akan marah padanya. Akan tetapi, jika tidak, Aydin akan tetap mencari tahu kebenaran tentang hal itu.


"Aku, kan, sudah jawab, Kak. Itu mata Kakak. Tidak perlu bertanya lagi yang penting sekarang, kakak sudah sembuh dan segera menyusul Kak Nayla ke singapura."


"Kapan perban ini akan dibuka?" tanya Aydin.


Dia tidak lagi bertanya mengenai matanya. Akan pria itu cari tahu sendiri nanti, yang lebih penting saat ini adalah kesembuhannya. Percuma juga Aydin bertanya, dia tidak akan mendapat jawaban

__ADS_1


"Kata dokter, tunggu satu minggu lagi."


"Apa setelah itu aku bisa menyusul Nayla?"


"Mana aku tahu! Tanya saja sama dokternya," jawab Afrin dengan ketus.


Dia sudah kesal dengan kakaknya yang banyak bertanya dari tadi. Tadi, gadis itu ingin ikut Yasna untuk menjenguk keponakannya, tetapi bundanya melarang karena tidak ada yang menjaga Aydin.


"Lalu, bagaimana keadaan Nuri? Dia juga bersama kakak saat itu."


Afrin terdiam sejenak kemudian menjawab, "Dia baik-baik saja, Kak."


"Apa dia juga dirawat di sini?" tanya Aydin lagi.


Afrin semakin bingung harus menjawab apa pada kakaknya. Apa yang harus dia katakan tentang keadaan Nuri. Bagaimana jika Aydin tahu semuanya?


"Dia sudah dibawa pulang sama abi dan uminya." Hanya itu jawaban yang bisa Afrin berikan jika nanti Aydin bertanya lagi, biarlah waktu yang menjawab.


"Syukurlah kalau dia baik-baik saja. Aku akan sangat merasa bersalah jika sesuatu terjadi padanya," kata Aydin dengan menyandarkan tubuhnya di ranjang yang sudah dinaikkan sebelumnya.


*****


"Bagaimana keadaan Tuan Aydin, Bu?" tanya Rani pada Yasna.


"Iya, Pak Emran menjawab jika Pak Aydin sudah menunggu di Singapura. Entah nanti jawaban apa yang diberikan jika Mbak Nayla bertanya lagi di sana."


Jangan 'kan Emran, Yasna sendiri juga bingung menjawab pertanyaan yang setiap hari Aydin lontarkan padanya. Banyak sekali hal yang mereka tutupi akhir-akhir ini.


"Bunda," panggil seorang pria dari belakang mereka, membuat kedua wanita itu menoleh.


"Papa! Kenapa masih di sini?" tanya Yasna bingung. Bukankah Rani bilang mereka sudah pergi? Kenapa suaminya masih ada di sini?


"Ada yang tertinggal."


"Tertinggal? Apa?" tanya Yasna dengan menyernyitkan keningnya.


"Bunda yang tertinggal. Aku mau Bunda ikut."


"Kalau Bunda ikut, bagaimana dengan Aydin dan Baby?"


"Ada Afrin dan Rani yang jaga mereka. Nanti Papa minta Pak Hari juga buat gantian. Lagi pula Aydin sudah baik-baik saja."

__ADS_1


"Iya, Bu. Sebaiknya Ibu ikut saja. Biar Tuan Aydin dan Baby, kami yang jaga," sela Rani. Wanita itu tahu Emran juga lelah dan butuh dukungan.


Yasna berpikir sejenak. Dia masih ingin berlama-lama dengan cucunya. Akan tetapi, wanita itu juga kasihan pada suaminya yang terlihat sangat lelah.


"Baiklah, saya titip mereka, ya, Ran!"


"Iya, Bu."


Emran segera mengajak Yasna meninggalkan rumah sakit. Mereka menaiki mobil Emran yang dikemudikan oleh Pak Hari.


"Nayla di mana, Pa?" tanya Yasna.


"Sudah dalam perjalanan ke bandara sama perawat."


Mereka duduk di belakang. Emran menutup pembatas agar Hari tidak bisa mendengar pembicaraan kedua majikannya. Ada sesuatu yang harus mereka bicarakan.


"Bunda, maafin Papa, ya! Sudah dua bulan ini cuekin Bunda. Kita juga jarang sekali berbicara, kalau tidak mengenai anak-anak," ucap Emran dengan menggenggam telapak tangan Yasna.


Tiba-tiba wanita itu meneteskan air mata. Dia juga merasa kehilangan perhatian suaminya akhir-akhir ini. Memang Yasna akui jika dia melakukan kesalahan. Akan tetapi, apa harus didiamkan seperti kemarin?


"Kenapa menangis? Apa Papa begitu jahat sama Bunda?" tanya Emran dengan mengusap kedua pipi istrinya.


"Aku pikir Papa masih marah soal kejadian Itu?"


"Papa tidak marah, hanya kecewa saja. Kenapa Bunda menyembunyikan hal itu? Jika Bunda tidak bisa tidur, kan bisa bangunin Papa buat nemenin Bunda. Biasanya begitu, kan?"


"Aku cuma nggak mau ngerepotin Papa. Aku tahu Papa capek karena banyak pekerjaan. Apalagi sejak Nayla sakit, semua pekerjaan Papa yang handle."


"Selelah apapun Papa, pasti akan ada waktu untuk Bunda. Bunda lebih berarti daripada pekerjaan itu. Jadi Papa mohon mulai hari ini apa pun yang Bunda rasakan, katakan pada Papa. Apa pun keadaannya, meski Papa dalam keadaan sakit sekalipun."


"Jangan bilang seperti itu! Papa harus sehat, Bunda minta maaf."


"Papa juga minta maaf, kalau Papa terlalu keras."


Yasna mengangguk dan memeluk sang suami. Memang waktu mereka banyak dihabiskan dengan mengurus anak-anak. Keduanya berdoa, mudah-mudahan setelah masalah ini terlewati, semua akan baik-baik saja dan hidup mereka bisa bahagia tanpa ada gangguan apa pun.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2