
Mata Yasna berkaca-kaca, ia tidak menyangka kalau Aydin begitu menyayanginya, padahal sebelumnya anak itu tidak menyukai dirinya.
"Mas tidak sedang berbohong, kan?"
"Kenapa aku harus berbohong? Aydin sungguh-sungguh menyayangimu."
"Aku bahagia memiliki kalian semua, terutama Mas." Yasna memeluk suaminya dengan air mata yang menetes.
"Aku juga bahagia memilikimu dan anak-anak." Emran mencium kening istrinya dalam.
Mereka berpelukan, menyalurkan rasa bahagia karena saling memiliki.
*****
Sore hari, saat pulang kerja, ternyata Hafidz sudah menunggu Fazilah di samping mobil wanita itu, Fazilah terkejut melihatnya tapi dia berusaha terlihat biasa saja.
"Mau apa kamu di sini?" tanya Fazilah.
"Aku ingin berbicara denganmu, aku ingin mengatakan semua perasaanku saat ini juga. setelah itu, aku tidak akan mengganggumu lagi."
Ada rasa sedih di hati Fazilah mendengar kata-kata Hafidz, tapi dia berusaha untuk tenang.
"Baiklah, kita ke restoran di depan saja." akhirnya kata itu yang keluar dari mulut Fazilah.
Mereka berjalan beriringan menuju restoran yang ditunjuk oleh Fazilah, mereka memesan makanan dan minuman. Hafidz masih diam membuat Fazilah kesal, bukankah dia bilang ingin bicara? Kenapa masih diam?
"Cepatlah bicara, aku tidak ingin berlama-lama."
"Maafkan aku."
"Aku tidak ingin mendengar kata itu, sudah berapa kali kamu mengatakannya? Aku sudah bosan."
"Maaf, baiklah aku tidak akan mengatakan hal itu lagi, aku akan berbicara dan aku harap kamu tidak menyelanya hingga aku selesai."
"Baiklah, aku akan mendengarkan semua yang ingin kamu katakan."
"Aku tidak ingin membual, yang aku katakan adalah kejujuran ... aku masih sangat mencintaimu baik dulu maupun sekarang, entah kamu percaya atau tidak, itulah yang kurasakan padamu, aku senang bisa berada di sampingmu meskipun hanya sebentar saja, kenangan di bukit akan menjadi kenangan paling indah, yang akan aku kenang seumur hidupku. Dulu, Setiap aku merindukanmu, hanya memandangi fotomu yang bisa aku lakukan dan seterusnya akan seperti itu, aku sungguh sangat senang saat ada kesempatan bisa bertemu kembali denganmu. Aku tahu kamu sangat sakit hati dan kecewa, beribu kata maaf pun tidak bisa menghapusnya."
"Boleh aku bertanya?"
"tanyakan saja."
"Kenapa kamu mengkhianatiku?
"Jika aku bilang, aku tidak mengkhianatimu, apa kamu percaya?"
"Bagaimana aku bisa percaya setelah melihat apa yang kalian lakukan."
Hafidz menunduk dan tersenyum. "Karena kamu sudah tahu jawabannya, aku tidak perlu menjelaskannya lagi. Aku berdoa semoga kamu bisa bertemu dengan pria yang lebih baik daripada aku."
__ADS_1
"Kamu tidak usah khawatir, aku sudah mendapatkannya, dia pria yang sangat baik dan juga berpendidikan tinggi. Kami juga sudah merencanakan menikah."
Hafidz tahu bahwa ini akan terjadi, dia merasa kecewa dan terluka, tapi ia mencoba sekuat tenaga untuk terlihat baik-baik saja. Hafidz meneteskan air matanya, segera ia hapus agar Fazilah tidak melihat. Namun, sayang Fazilah sudah terlanjur melihatnya.
Fazilah juga sama terlukanya seperti Hafidz, tapi jika mengingat apa yang dilakukan Hafidz dulu, ia semakin terluka.
Makanan sudah terhidang, sebenarnya mereka enggan untuk makan, tapi mereka mencoba untuk memaksa memakannya, untuk menutupi kesedihan yang mereka rasakan.
Usai makan, mereka segera pergi meninggalkan restoran dengan mobil mereka masing-masing.
"Kalian harus tetap mengikutinya, jangan sampai kejadian buruk menimpanya, kalian harus pastikan itu."
"Siap, Tuan. Akan kami laksanakan."
Hafidz segera pergi meninggalkan tempat itu, sementara Fazilah melajukan mobilnya menuju rumah Ibu Alina, karena hari ini mereka akan menrayakan ulang tahun Yasna.
Sampai di rumah Alina, ia sudah melihat mobil Emran ada di sana, ia memasuki rumah dan benar ada Yasna dan Emran, sementara anak-anak sudah pergi ke sekolah.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam,"
"Selamat ulang tahun, sahabatku," ucap Fazilah dengan memeluk Yasna.
"Terima kasih, kamu sudah mau datang ke sini."
"Kamu apa sih! Kita kan sahabat jadi, tidak perlu berterima kasih."
"Heh, kamu ini, orang baru datang bukannya ditanyain keadaannya, malah kado, kayak anak kecil saja."
"Aku kan ulang tahun, jadi yang ditanya harus kado. Lagipula kamu juga baik-baik saja."
"Iya, nih," ucap Fazilah dengan memberikan sebuah bingkisan kepada Yasna.
Yasna menerimanya dengan senang hati. Tidak seberapa isinya bagi Yasna, tapi perhatiannya yang membuat Yasna bahagia.
"Makasih."
"Sudah, ayo, kita potong tumpengnya dulu!" seru Alina.
Alina memang tidak membuatkan kue, dia lebih suka membuatkan nasi kuning meskipun dia seorang pembuat kue.
"Sudah lama ini aku nggak makan nasi kuning, buatan ibu mah paling enak," ucap Fazilah.
Yasna merasa aneh dengan nada suara Fazilah yang terkesan memaksa, ia bisa merasakan jika saat ini perasaan sahabatnya itu sedang tidak baik-baik saja.
Acara potong tumpeng telah selesai, Emran pamit untuk pergi ke kantor, ia ada meeting hari ini.
"Kamu enggak mau cerita sama aku? Ada masalah apa?" tanya Yasna pada Fazilah, setelah semua orang sibuk dengan kegiatan masing-masing, hanya tinggal mereka berdua.
__ADS_1
"Cerita apa?"
"Nggak usah ngeles kamu, aku sudah sangat tahu bagaimana dirimu."
"Aku bingung," ucap Fazilah setelah beberapa menit terdiam.
"Bingung kenapa?"
"Mama mau jodohin aku sama anak temennya."
"Kamu setuju?"
"Belum ... aku belum menjawabnya, tapi mama memaksaku untuk menerima, dia bilang pria itu orang yang baik dan pekerjaannya juga sudah mapan."
"Bagaimana dengan Hafidz?"
"Kenapa kamu jadi menanyakan Hafidz?"
"Masalah kalian 'kan belum selesai."
"Masalah yang mana lagi? Semua sudah selesai kok, tadi aku juga bertemu dengannya, dia menjelaskan semuanya, sekarang semua sudah selesai, nggak ada urusan dengan dia lagi."
"Kamu yakin nggak akan menyesal suatu hari nanti?"
"Enggak," jawab Fazilah berusaha meyakinkan, Yasna tahu, Jauh di lubuk hati sahabatnya itu masih mencintai Hafidz, tapi Yasna tidak mau memaksanya.
*****
Malam harinya Fazilah diajak oleh mamanya, bertemu dengan keluarga pria yang akan dijodohkan dengannya. Meskipun enggan, fadzilah tetap mengikuti mamanya menuju sebuah restoran yang begitu mewah, mereka menuju sebuah ruangan yang dipesan khusus oleh keluarga calon suaminya.
Beberapa menit menunggu akhirnya pintu terbuka, masuklah pasangan suami istri paruh baya bersama seorang laki-laki. Mata Fazilah tidak sengaja bertatapan dengan laki-laki itu, memang cukup tampan, tapi Fazilah sama sekali tidak tertarik.
"Maaf, kami terlambat," ucap pria paruh baya yang bernama Rudi.
"Ah, tidak apa-apa, Pak. Kami juga baru sampai," sahut Mama Mirna.
Para orang tua pun berbincang hingga makanan tersaji. Selama orang tua berbicara, Fazila hanya diam memandangi minuman yang ada di tangannya.
"Kenapa kalian saling diam saja? Kenapa tidak berkenalan?" tanya Rudi.
"Ayo kenalan! Kenapa diam saja?" bisik nama Mirna.
"Iya, Ma."
.
.
.
__ADS_1
.
.