
"Assalamualaikum," ucap Khairi saat memasuki apartemennya.
"Waalaikumsalam, Mas, baru pulang? Kenapa lemas begitu?" tanya Afrin saat melihat Khairi duduk di sofa ruang tamu. Wanita itu ikut duduk di samping suaminya.
"Ternyata tidak mudah, berurusan dengan anak buah Papa Emran."
"Anak buah papa! Kenapa?" tanya afrin yang tidak mengerti apa yang dikatakan suaminya.
"Tadi siang aku mengajak Iwan mengajukan proposal ke perusahaan papa dan bertemu dengan orang kepercayaan papa dan ternyata tidak mudah berurusan dengannya. Aku tidak habis pikir, bagaimana jika bertemu dengan papa? Anak buahnya saja seperti itu."
Afrin menahan tawanya saat mendengar cerita dari sang suami. Semalam pria itu mengatakan tidak mau memanfaatkan koneksi, tetapi hari ini dia mengeluh karena sulitnya menjangkau perusahaan papanya. Wanita itu juga pernah mendengar dari kakaknya, jika di perusahaan papanya itu sangat selektif dalam pemilihan rekan bisnis ataupun pegawai.
"Kok, kamu ketawa sih, Sayang? Kamu senang, ya, dengar aku susah?" tanya Khairi.
"Habisnya kamu lucu banget, semalam aja bilang nggak mau minta bantuan sama papa Emran. Katanya nggak mau manfaatin koneksi. Sekarang baru bertemu dengan orang kepercayaan papa saja, sudah ngeluh."
"Kamu ngejek aku? Aku cuma ingin cerita sama kamu, Sayang." Khairi menyembunyikan kepalanya di pangkuan istrinya membuat Afrin tertawa.
"Kenapa nggak ketemu langsung sama papa?" tanya Afrin dengan mengusap kepala Khairi.
"Papa sedang keluar. Lagipula kata kakak, setiap proposal yang masuk memang melalui dia terlebih dahulu, sebelum bertemu dengan papa."
"Kalau begitu, nikmati saja semua alurnya."
"Iya, sih, dengan begitu aku jadi tidak dibilang memanfaatkan koneksi, tapi mudah-mudahan saja Pak Rudi menerimanya. Kalau tidak, bagaimana nasib karyawanku? Mereka juga punya keluarga yang harus dinafkahi."
Khairi senang dengan kebijakan di perusahaan mertuanya, tetapi sekaligus was-was. Dia takut proposalnya tidak disetujui. Ke mana lagi pria itu mencari klien?
"Kalau proposal dari kamu, pasti diterima," sahut Afrin. "Sudah, kamu mandi sana! Nanti keburu magrib.
"Iya," Khairi memasuki kamarnya untuk membersihkan diri saat selesai mandi. Dia terkejut melihat istrinya sudah memakai mukena dan bersiap untuk salat.
"Kamu sudah salat, Sayang?" tanya Khairi.
"Sudah, Mas."
"Alhamdulillah, akhirnya setelah melewati beberapa hari." Khairi sangat senang melihat Afrin sudah suci. Itu artinya dia bisa melakukan Shalat berjamaah dan malam pertama yang sudah terlewati tentunya.
"Apa, sih, Mas. Cepetan! Sudah ambil wudhu?"
"Belum, tunggu sebentar." Khairi kembali ke kamar mandi mengambil air wudhu.
__ADS_1
"Iya, ayo, kita salat! Mas, bisa menjadi imam, kan?"
"Bisa, dong, Sayang. Ayo, kita salat berjamaah!" Khairi memakai sarung dan peci yang sudah disiapkan oleh istrinya. Mereka pun melanjutkan dengan salat berjamaah.
Ini adalah pertama kalinya mereka shalat berjamaah setelah menjadi suami istri. Sungguh Khairi dan Afrin sama-sama terharu. Pria itu dulu tidak mengerti apa-apa tentang agamanya, tetapi hari ini, dia bangga karena bisa menjadi panutan dan pemimpin istrinya. Kelak juga akan akan menjadi panutan anak-anaknya.
Doa-doa mereka panjatkan untuk keberkahan pernikahan mereka. Afrin mencium punggung tangan Khairi dibalas pria itu dengan mencium keningnya. Keduanya tersenyum, merasakan ketenangan dalam hati mereka. Khairi menatap istrinya dan menggenggam Kedua telapak tangan wanita itu.
"Sayang, terima kasih sudah mau menerimaku menjadi suami dan hidup bersamaku. Aku sungguh sangat beruntung memilikimu sebagai istri."
"Aku juga merasa sangat beruntung karena memiliki suami sepertimu, yang mau berjuang untuk mendapatkanku. Jika itu orang lain, pasti dia sudah menyerah saat aku menolak, tetapi kamu tetap memilih mempertahankanku. Terima kasih."
Khairi tersenyum menatap istrinya. "Semoga pernikahan kita selalu berkah."
"Amin."
Khairi merentangkan tangannya, segera Afrin berhambur ke dalam pelukan sang suami. Hal sederhana yang mampu mempererat hubungan keduanya. Mereka sama-sama bersyukur bisa disatukan dalam ikatan yang suci ini.
"Aku mau ke dapur dulu, Mas. Mau masak untuk makan malam," ucap Afrin.
"Itu tidak perlu, Sayang. Aku tadi sudah pesan makanan."
"Kita juga nggak sering, kok, Sayang! Cuma di malam hari saja. Pagi dan siang 'kan aku makan makanan buatan kamu."
"Mas, itu bisa saja ngelesnya."
"Sini duduk dulu."
Khairi menepuk pahanya meminta istrinya untuk duduk di sana. Afrin pun mengikuti perintah suaminya, meski sedikit malu. Wanita itu duduk menyamping dan melingkarkan tangannya di leher sang suami.
"Apa Rani tadi menghubungi kamu, Sayang?" tanya Khairi.
"Tidak, Mas. Memang kenapa?"
"Hari ini kan dia sama Ivan ke kampung halamannya Rani. Mau silaturrahmi sekaligus lamaran katanya."
"Kok, Mbak Rani nggak bilang, ya, Mas? Mas, juga nggak bilang?"
"Aku pikir kamu sudah tahu. Biasanya kamu selalu teleponan sama Mbak Rani."
"Iya, tapi dia nggak bilang apa-apa soal hari ini."
__ADS_1
"acaranya juga mendadak, Sayang."
"Apa pun itu, mudah-mudahan saja acaranya lancar hingga hari H."
"Amin."
"Mbak Rani pergi sama siapa saja,?" tanya Afrin.
"Hanya bertiga dengan ibunya Ivan."
"Mamanya Kak Ivan galak, tidak?"
"Tidak, Sayang, mamanya Ivan itu orangnya baik kok hanya saja, kalau dia sudah tersinggung akan sangat sulit untuk membuatnya percaya lagi. Baginya yang sudah tidak jujur itu akan banyak alasan untuk menutupi kebohongan-kebohongan yang sudah dia lakukan dan orang yang sanggup menyakiti hati orang lain sudah pasti dia bukan orang yang baik."
Afrin mengangguk mendengar penuturan suaminya. Kalau dipikir-pikir memang benar kalimat itu, tetapi takut juga jika tanpa sengaja kita menyinggung atau menyakitinya
Bel apartemen berbunyi, membuat Khairi dan Afrin bangkit dari duduknya. Pasti itu makanan pesanan mereka dan ternyata benar. Keduanya menikmati makan malam dengan tenang.
Usai makan malam, Afrin sibuk dengan laptopnya. Sementara Khairi sedari tadi menunggu sang istri, hingga larut belum juga selesai.
"Sayang, berapa lama lagi kamu ngerjain tugas itu?"
"Masih belum selesai, kalau kamu tidur, tidur saja dulu," jawab Afrin tanpa melihat Khairi.
"Aku sudah nungguin kamu dari tadi, loh, Sayang! Masak suruh tidur dulu, sih? Gagal dong acara kita?"
"Acara apa?" tanya Afrin yang segera melihat suaminya. Wanita itu tidak mengerti maksud dari suaminya. Dia merasa tidak pernah membuat acara apa pun bersama dengan Khairi.
Tanpa bertanya lagi, Khairi segera ******* bibir Afrin dan menyerang istrinya. Wanita itu hanya diam menerima setiap apa yang dilakukan sang suami. Ini pertama kalinya bagi mereka. Namun, keduanya sangat menikmati Moment berharga ini.
( Kalian juga mengerti kan maksudku? Karena ini bulan puasa jadi aku tidak bisa menceritakannya secara detail dan kalian juga jangan sedikit pun membayangkannya. Aku merasa berdosa akan hal itu)
Mohon maaf.
.
.
.
.
__ADS_1