
"Jadi bagaimana Afrin? Apa kamu mau menerimanya atau tidak? Jangan bilang terserah Papa, Bunda atau yang lainnya!" tanya Emran membuat semua orang kembali menatap gadis itu.
Afrin bingung mau menjawab apa. Dia ingin menerimanya, tetapi terlalu malu untuk mengatakan iya. Gadis itu menunduk, dengan pelan dia sedikit menganggukkan kepalanya. Tentu saja itu semakin membuat Khairi bahagia.
Perasaan gelisah dan takut yang sebelumnya sudah menguasai dirinya, kini lenyap begitu saja berganti dengan rasa bahagia yang tidak terkira.
"Kamu sudah lihat jawabannya sendiri, kan!" ucap Emran pada Khairi.
"Iya, Om," jawab pria itu. "Boleh saya bertanya sama Om?"
"Ya, tanya saja."
"Kenapa Om tidak ingin menguji saya untuk membaca Alquran atau praktek shalat, mungkin?"
"Aku tidak perlu mengujinya, itu adalah urusanmu dengan Tuhan."
"Bukankah sebelumnya Anda ingin menikahkan Afrin dengan seseorang yang bisa membawanya ke surga?"
"Saya lihat kamu sudah sangat berusaha dan saya yakin dengan kekuatan putriku. Dia pasti bisa membuatmu semakin taat kepada Tuhan," ucap Emran.
"Papa terlalu memuji, aku tidak sehebat itu," kilah Afrin.
"Sudahlah, tidak usah dibahas sekarang bagaimana kelanjutan hubungan kalian? Mau lanjut sekarang atau menunggu Afrin lulus?"
"Lanjut sekarang, Om," sahut Khairi dengan cepat. Dia tidak mungkin menunggu Afrin lulus. Kuliah saja baru masuk berapa bulan belum ada satu semester. Bisa makin banyak dosa yang akan dilakukannya nanti.
"Bagaimana, Afrin? Kamu setuju?"
"Aku setuju, Pa. Aku juga tidak ingin berbuat dosa."
"Karena kalian sudah sepakat untuk segera menikah, kapan kamu akan memperkenalkan kami pada orang tuamu? Mereka juga belum mengenal Afrin."
"Secepatnya, Om. Saya akan mengatakannya pada orangtua saya. Kira-kira, Om, ada waktunya kapan? Saya tahu kalau Om orang yang sibuk."
"Saya tidak sesibuk itu, hingga tidak punya waktu untuk masa depan putriku. Tanya saja pada orang tuamu, kapan mereka ada waktu? Kami pasti akan datang."
Semua orang tahu kesibukan Emran, tetapi bagi pria itu, tidak ada yang lebih penting dari keluarganya. Dia bisa membangun lagi perusahaannya jika bangkrut, tetapi akan sangat sulit melihat kebahagiaan keluarganya jika Emran sudah mengecewakan mereka.
"Iya, Om. Nanti akan saya tanyakan," jawab Khairi. "Karena urusan saya sudah selesai, saya mau pamit dulu," ucap Khairi yang tidak sabar ingin bertemu dengan kedua orangtuanya.
Dia ingin segera mengatakan semua pada orang tuanya dan melamarkan Afrin. Mudah-mudahan saja mereka mau menerima gadis itu menjadi menantu.
__ADS_1
"Jangan pulang dulu, kita sarapan bersama. Kalian belum sarapan, kan?" tawar Yasna.
Khairi menatap Ivan, keduanya memang belum sarapan tadi pagi karena pria itu ingin segera sampai ke rumah calon istrinya. Asistennya juga sempat menggerutu karena datang terlalu pagi jadi, belum melakukan apa pun, termasuk sarapan.
"Sudah tidak apa-apa, kalian tunggu di sini. Tante mau lihat apa Rani sudah siap apa belum menyajikan sarapan. Kalian ngobrollah dulu."
Yasna segera masuk ke dalam untuk membantu Rani. Semua orang kembali berbincang.
"Tuan, kenapa tidak pulang saja," bisik Ivan karena tidak ingin didengar oleh orang lain.
"Aku nggak enak menolak tawaran calon mertua. Memang kenapa?" tanya Khairi balik, juga sambil berbisik karena merasa aneh dengan Ivan.
Biasanya dia ikut saja dengan apa yang dikatakan atasannya itu, tetapi kenapa sekarang sepertinya menolak. Tingkahnya dari tadi juga aneh, seperti menyembunyikan sesuatu.
"Tidak apa-apa, Tuan," jawabnya.
Khairi pun tidak ambil pusing dengan ucapan Ivan. Dia kembali berbincang dengan Emran dan Aydin.
"Ayo, kita sarapan dulu! Semuanya sudah siap!" ajak Yasna.
Semua orang pun beranjak menuju ruang makan. Di sana tampak Rani yang masih menata beberapa piring bersama Nayla. Ivan pun melambatkan langkahnya.
"Rani kamu ikut sarapan sekalian saja, biar rame sekalian."
Dia tahu majikan pasti akan memaksanya jika wanita itu tidak segera pergi. Yasna sudah terlalu baik padanya. Rani tidak ingin dianggap memanfaatkan majikannya karena itu lebih baik dia makan nanti saja, saat semua orang sudah selesai.
Setelah kepergian Rani, semua orang duduk di kursi. Hanya tinggal Ivan yang masih berdiri sambil menatap ke arah Rani pergi.
"Kenapa masih berdiri?" tanya Yasna.
"Tidak apa-apa, Bu," jawab Ivan dan segera duduk di kursi samping Khairi.
"Jangan panggil, Bu. Panggil Tante saja. Seperti Khairi."
"Saya tidak enak. Saya, kan, hanya seorang sopir."
"Tidak apa-apa. Tante yakin Khairi sudah menganggapmu seperti teman jadi panggil Tante saja, ya!"
"I–iya, Tante," jawab Ivan sedikit kaku dengan sesekali pria itu melihat kearah pintu yang menuju belakang rumah.
Yasna yang melihatnya pun penasaran, kenapa sahabat calon menantunya itu melihat ke arah belakang? Tepat saat itu Rani masuk ke dalam rumah untuk mengambil cucian.
__ADS_1
Ivan yang tidak sadar pun terus saja melihat kearah gadis itu dan itu membuat Yasna mengerti jika Ivan menaruh hati pada asisten rumah tangganya.
"Nak Ivan sudah memiliki kekasih?" tanya Yasna. Namun, tidak dijawab oleh pria itu.
Ivan masih asik memandangi Rani hingga Khairi yang ada di sampingnya pun menyenggol kakinya. Membuat pria itu gelagapan.
"Ada apa, sih?"
"Tante Yasna nanya sama kamu! Melamun saja," tegur Khairi.
"Ah, iya, Tante. Ada apa?"
Yasna tersenyum dan kembali mengulangi pertanyaannya. "Nak Ivan sudah memiliki kekasih?"
"Belum, Tante."
"Mau Tante carikan nggak?" tanya Yasna yang sengaja ingin menggoda pria itu.
"Tidak perlu, Tante. Saya masih ingin sendiri."
"Yakin, nih! Padahal Tante mau carikan seorang laki-laki untuk Rani kalau memang kamu enggak mau, ya sudahlah, nanti Tante akan carikan laki-laki lain yang mau dijodohin sama Rani," ucap Yasna dengan bersemangat sambil melirik Ivan.
"Sebaiknya jangan, Tante!" sahut pria itu dengan cepat.
Membuat semua orang melihat ke arahnya. Seketika Ivan salah tingkah karena merasa salah berucap. Dalam hati pria itu merasa gelisah. Bagaimana jika benar seperti yang dikatakan Yasna, bahwa wanita itu akan mencarikan laki-laki untuk Rani.
Baru saja dia merasakan getaran dalam dadanya, kini sudah dihancurkan lagi.
"Kenapa kamu enggak ngebolehin Tante buat cariin jodoh buat Rani?" tanya Khairi dengan menatap Ivan dengan saksama.
"Bukan begitu, Tuan. Hanya saja mungkin Rani sudah memiliki pacar sendiri, begitu!" jawab Ivan dengan kikuk.
"Itu kan urusan Tante Yasna sama Rani, bukan urusan kamu," ucap Khairi yang merasa ada sesuatu dibalik perkataan Ivan.
"Iya, Tuan. Maaf, Tante, saya jadi ikut campur."
"Tidak apa-apa. Kamu benar, nanti akan saya tanyakan sama dia," sahut Yasna. "Silakan dilanjutkan makannya."
.
.
__ADS_1
.
.