
"Bisa dimulai?"
Emran tersadar saat seorang penghulu bertanya.
"Bisa, Pak."
Dengan tangan bergetar, Emran menjabat tangan Pak Hilman, yang sebentar lagi akan berubah menjadi ayah untuknya.
Rangkaian acara ijab qabul berjalan dengan lancar, air mata kebahagiaan menetes, kala kata sah terucap dari para saksi yang hadir. Kini pasangan berbeda jenis itu telah halal, berbagai ungkapan syukur mereka panjatkan pada Sang pencipta.
Yasna mencium punggung tangan Emran, yang dibalas sebuah kecupan dikeningnya.
"Kamu sangat cantik, istriku," bisik Emran dengan sangat pelan hingga tidak seorang pun yang mendengar kecuali Yasna sendiri.
Yasna tersipu, ia menundukkan kepalanya, meski tidak seorang pun yang mendengar bisikan Emran, tetap saja ia merasa malu. Kata istri yang Emran sematkan seolah memperjelas statusnya kini.
Acara akad nikah telah selesai, kini mereka harus menjamu para kerabat di sebuah gedung yang sudah di sewa Emran.
Pasangan pengantin menaiki mobil yang sudah di hias dengan karangan bunga, diikuti mobil keluarga lainnya. Afrin sedari tadi merengek ingin ikut dengan orang tuanya, tetapi Karina berusaha membujuk dengan berbagai cara dan berhasil.
Di dalam mobil pengantin, Emran tidak sedikitpun melepas genggaman tangan Yasna, usai akad tadi, Emran menggandeng tangan istrinya itu hingga kini. Yasna berusaha melepaskan tangannya, ia bisa merasakan tangan itu berkeringat, tetapi Emran malah semakin mempererat genggamannya.
"Mas, tanganku sudah keringatan, lepasin!"
"Aku tidak bisa melepaskanmu, aku takut kamu diambil orang."
"Mas, akhir-akhir ini suka gombal, belajar dari mana?"
"Entahlah, saat bertemu denganmu, aku tiba-tiba jadi, merasa lebih muda."
"Berarti sebelumnya merasa tua, dong?"
"Ya ngga gitu juga, kamu berani, ya! ngatain suami tua."
"Kan, Mas sendiri yang bilang."
Bukannya marah, Emran justru memeluk Yasna.
"Aku senang, akhirnya kita sah juga," bisik Emran.
"Mas," tegur Yasna. "Ada Pak Hari."
Yasna merasa malu karena ada Hari yang saat ini sedang mengemudi. Namun, sepertinya Emran tidak peduli, menurutnya Hari juga punya istri jadi, pasti dia juga mengerti.
"Nggak papa, Pak Hari juga pasti mengerti."
Meski merasa malu, Yasna enggan beranjak, ia merasa sangat nyaman berada dalam pelukan Emran, pelukan yang sudah lama tidak ia rasakan dan semoga ia dapat merasakan hal itu selamanya.
"Terima kasih, Mas. Kamu sudah mau memerimaku, seorang wanita yang memiliki banyak kelurangan, padahal aku sendiri pesimis ada orang yang bisa menerimaku."
"Tidak ada yang sempurna di dunia ini, semua manusia pasti memiliki kekurangan. Aku harap mulai hari ini jangan pernah membahas hal itu lagi, kamu hanya perlu mencintai aku dan anak-anak, anggap mereka sebagai anakmu juga."
"Bagaimana dengan keluarga besarmu? Apa mereka bisa menerimaku?"
__ADS_1
"Mereka bukan orang yang suka ikut campur urusan orang lain jadi, kamu tenang saja. Aku juga sudah cerita sama mama dan beliau tidak keberatan."
Karena terlalu asyik berbincang, tidak terasa mereka sudah sampai di tempat tujuan, sebelum menuju tempat jamuan, mereka menuju sebuah ruangan, tempat berganti pakaian dan merias diri kembali.
Kali ini Yasna memakai gaun berwarna maroon, sementara Emran memakai kemeja berwarna putih dengan jas berwarna hitam. Mereka pun memasuki ruang jamuan. Di sana nampak keluarga besar dari pengantin pria dan wanita, mereka semua menatap kagum, sungguh pasangan yang sangat serasi, tampan dan cantik, tegas dan ramah, mereka saling melengkapi satu sama lain.
Setelah acara selesai, Emran memutuskan membawa istrinya pulang, mengenai barang-barang wanita itu, bisa ia ambil besok. Mereka sampai di rumah menjelang maghrib.
"Bunda, nanti tidul di kamal aku, ya?"
Emran terkejut mendengar permintaan Afrin, memang dia menikahi Yasna untuk menjadi ibu sambung Aydin dan Afrin, tapi dia juga menginginkan istrinya. Yasna bingung harus menjawab apa. Sementara Karina menahan tawanya, ia tahu putranya kesal, tetapi Karina enggan membujuk Afrin, biarlah itu menjadi urusan mereka untuk malam ini.
"Iya." Akhirnya jawaban itu yang keluar dari mulut Yasna, ia tidak memiliki pilihan lain.
"Aydin sama Afrin, mandi dulu, sana!" perintah Emran.
"Iya, Pa."
"Ayo, kita ke kamar! Kamu juga harus mandi." Emran mengajak Yasna ke kamarnya, ini pertama kali Yasna memasuki kamar itu, meski sudah berkali-kali ia datang.
"Aku pake baju apa, Mas? Aku nggak bawa apapun," tanya Yasna. "Aku juga nggak bawa pakaian dalam." Yasna bergumam diakhir kalimatnya. Namun, masih terdengar oleh Emran.
"Mama sudah belikan beberapa kemarin, nggak tahu muat apa nggak sama kamu. Mama hanya bilang, ukuran tubuh kamu sama seperti tubuh Celina jadi, Mama ajak Celina."
"Celina siapa?"
"Dulu, dia istri almarhum adikku, sekarang dia sudah menikah lagi, tapi dia masih sering datang ke sini, nanti kalian bisa saling mengenal."
"Maksudnya?"
"Aku cuma mau tahu, dia itu orang yang seperti apa."
"Aku kira kamu cemburu."
"Dia sudah menikah, ngapain cemburu ... sudah, Mas mandi sana! Keburu maghrib."
Emran menurut tanpa banyak kata, usai mandi, mereka sholat berjamaah untuk pertama kalinya. Ada rasa haru dalam diri Yasna, ia tidak menyangka akan ada seorang laki-laki yang akan menjadi imam untuknya, meski bukan untuk yang pertama.
Pintu kamar terbuka, terlihat Afrin memasuki kamar mereka.
"Bunda, ayo, makan malam!"
"Bunda saja yang diajak? Papa nggak nih?" Emran pura-pura merajuk.
"Papa, juga."
"Ayo! Sama Papa, biar Bunda lipat mukena dulu."
Emran menggendong Afrin, ia membawanya keluar kamar menuju dapur, di sana Karina dan Aydin sudah menunggu.
"Bundanya mana? nggak ikut?" tanya Karina pada Afrin.
"Bental lagi ke sini."
__ADS_1
"Maaf, Bu, menunggu lama." sela Yasna yang baru datang.
"Tidak apa-apa, ayo, makan!"
"Afrin mau di suapi?" tanya Yasna.
"Tidak, Alin bisa sendili."
Yasna mengambil piring yang ada di depan Emran lalu mengisinya dengan nasi dan ikan.
"Segini, mas?"
"Iya, sudah cukup."
"Aydin, mau Tante ambilkan?"
"Aku bisa sendiri."
Mereka makan dengan tenang, Yasna merasa sedikit deg-degan berada di rumah ini, padahal ia sudah beberapa kali ke sini, tetapi rasanya berbeda, dulu ia hanya tamu, kini ia nyonya di rumah ini. Status membuat ia merasa sungkan.
Usai makan, Yasna membantu bibi membersihkan meja dan mencuci piring.
"Bunda!" panggil Afrin.
"Iya, ada apa Sayang?"
"Ayo, main!"
"Ayo! Main apa?"
"Balbi."
Yasna menggendong Afrin, ia mebawanya ke kamar anak itu, di sana nampak sebuah rumah-rumahan yang sudah di siapkan Afrin sebelumnya. Mereka bermain cukup lama, hingga Afrin mengantuk.
"Tidur, yuk! Kamu sudah ngantuk gitu."
Afrin hanya mengangguk dengan mata yang sudah menyipit. Yasna menemani Afrin hingga anak itu tertidur, dipandangi wajah lucu nan imut itu, ia merasa beruntung, Tuhan telah mengirim malaikat kecil ini padanya. Jika tidak entah bagaimana hidup Yasna selanjutnya.
.
.
.
.
.
Rekomendasi karya dari teman saya yang berjudul Past For Future
jangan lupa like dan komennya
__ADS_1