Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
88. S2 - Kakak kelas


__ADS_3

"Ingat, belajar yang rajin jangan pacaran." Aydin memperingatkan sang adik dengan mendelikkan matanya.


"Siapa yang pacaran? Kakak saja sana, cari calon menantu buat bunda. Biar bunda ada temennya belanja, nggak sendiri mulu," sahut Afrin cemberut.


"Kenapa nggak kamu saja yang temenin."


"Kalau aku temenin, nanti ketemu sama teman sekolah gimana? Ketahuan dong siapa aku," ucap Afrin.


"Gampang, bilang aja kamu anak pembantunya."


"Nggak mau, apapun yang terjadi. Bunda itu tetap Ibuku, kalau aku bilang anak pembantu, aku bukan anak bunda, dong."


"Sudah, Kakak berangkat dulu, nanti terlambat. Bisa-bisa Kakak dipecat."


"Memang ada yang berani pecat Kakak?"


"Ada untuk saat ini, nggak tahu kalau nanti." Afrin dan Aydin cekikikan.


"Kakak bisa saja."


"Kakak berangkat dulu. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Aydin melajukan motornya meninggalkan Afrin yang Melambaikan tangan ke arahnya. Setelah Kakaknya tidak terlihat, Afrin segera memasuki sekolahnya. Masih terlalu pagi, hanya beberapa murid yang baru datang.


"Afrin!" panggil Vira, sahabat Afrin.


Afrin tidak memiliki banyak teman, dia hanya punya tiga orang teman, semuanya perempuan mungkin karena mereka tidak tahu siapa gadis itu sebenarnya. Kalau mereka tahu, pasti akan mencari muka dengan berpura-pura baik pada Afrin.


"Tumben, pagi-pagi sudah berangkat. Ada apa, nih?" tanya Afrin.


"Lagi males di rumah, kamu tahulah kedua orang tuaku selalu saja bertengkar," jawab Vira dengan cuek, seolah sudah terbiasa melihat kedua orang tuanya bertengkar. Padahal jauh di lubuk hatinya, dia sangat ingin kedua orang tuanya rukun seperti yang lainnya.


Afrin merasa bersalah karena sudah membuat temannya itu mengingat kesedihannya. Vira termasuk keluarga yang berada. Namun, dia kekurangan kasih sayang karena kesibukan kedua orang tuanya.


"Kamu sendirian? Mana Siska dan Nuri?" tanya Afrin, dia berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Nggak tahu, aku langsung berangkat tadi, pasti nanti Sisca ngomel-ngomel karena aku tinggalin," gerutu Vira sambil berjalan.


"Lagian, kenapa kamu pergi begitu saja, biasanya bareng. Ya sudahlah, yuk, ke kelas!" Mereka berjalan beriringan memasuki kelas.


Tidak lama setelah itu Siska dan Nuri tiba.


"Ya ampun, Ra. aku dari tadi nungguin kamu, tapi kamu sudah ada di sini," ucap Sisca kesal.

__ADS_1


"Maaf, aku tadi buru-buru," jawab Vira dengan cengengesan. "Jangan ngambek, dong, Sayang." Vira mencoba membujuk Sisca yang kesal.


"Ih, apasih, geli tahu."


Terlihat beberapa gadis memasuki kelas Afrin, mereka berjalan dengan angkuh.


"Hei kamu yang namanya Afrin?" tanya seorang gadis yang baru saja masuk ke kelas, dia bernama Livy.


"Iya, Kak. Ada apa, ya?" tanya Afrin balik.


"Kamu jangan sok kecantikan. Aku tahu kalau akhir-akhir ini, kamu berusaha mencari perhatian Ihsan. Jangan harap, dia itu hanya milikku dan tidak ada seorangpun yang bisa merebutnya dariku."


Afrin memandang gadis di depannya dengan dahi berkerut. Dia sama sekali tidak mengerti apa maksud Livy. Afrin beralih menatap sahabatnya satu persatu, seolah bertanya apa maksud dari kakak kelasnya itu. Mereka juga saling menatap dan menghendikkan bahunya.


"Maaf, Kak. Sebenarnya apa maksud Kakak? Aku tidak pernah berniat merebut Kak Ihsan atau siapapun itu. Saya tidak tertarik dengan mereka," sahut Afrin dengan yakin.


"Kamu ternyata munafik, pura-pura tidak suka padahal di belakang berusaha mendekati Ihsan."


"Terserah Kakak mau bilang apa, yang jelas aku tidak merebut siapapun dan tidak dekat dengan siapapun," sahut Afrin dengan kesal karena dituduh yang tidak-tidak.


"Kamu apa-apaan sih! Kenapa cari masalah dengan adik kelas?" tanya laki-laki yang baru saja datang. Dia tidak lain adalah Ihsan, kekasih Livy, yang juga laki-laki paling populer di sekolah karena kekayaannya.


"Aku hanya memperingati dia saja, agar tidak cari perhatian sama kamu."


Kini mereka sudah menjadi pusat perhatian murid lainnya. Bahkan beberapa siswa juga mengintip di jendela, membuat Afrin semakin kesal. Dia tidak suka menjadi bahan perbincangan apalagi menjadi sumber masalah.


"Kenapa kamu nyuruh aku pergi? Kamu mau belain dia?" tanya Livy pada Ihsan.


"Kak, daripada Kakak repot memperingati orang lain. Lebih baik Kakak hati-hati dengan musuh di balik selimut," sela Vira.


"Apa maksud kamu?"


"Aku hanya memperingatkan saja," ucap Vira mengikuti kata Livy sebelumnya.


"Sudah, ayo!" Ihsan menarik tangan kekasihnya itu pergi dari kelas itu.


Sementara Afrin hanya menatapnya datar. Memang benar akhir-akhir ini Ihsan mencoba mendekati Afrin. Namun, gadis itu sama sekali tidak pernah menanggapinya karena dia tahu, Ihsan sudah menjalin hubungan dengan Livy.


Ihsan dan Livy adalah kakak kelas Afrin, sementara gadis itu sendiri saat ini masih kelas sepuluh.


"Rin, kamu nggak papa, kan?" tanya Nuri.


"Nggak papa, santai saja," jawab Afrin yang kemudian duduk di bangkunya.


"Ra, apa maksud kamu tadi? siapa yang musuh dalam selimut?" tanya Sisca.

__ADS_1


"Nggak ada maksud apa-apa. Cuma aku pernah lihat, Kak Ihsan jalan sama temennya kak Livy, nggak tahu siapa namanya dan mereka tuh kelihatan mesra banget."


"Kamu lihat di mana? Kamu jangan ngarang, nanti jadi fitnah."


"Siapa yang Fitnah? Aku lihat sendiri waktu pergi ke acara rekan bisnis Papa."


Sisca membulatkan matanya, seolah mendapatkan sesuatu yang luar biasa. "Sepertinya bakalan heboh, nih. Kalau ternyata pacarnya ketahuan selingkuh sama temannya."


"Sudah-sudah, kalian ini malah gosipin orang. Kita sekolah buat belajar," sela Nuri.


"Habisnya aku kesal, dia main marah-marah tanpa tahu penyebabnya," sahut Sisca.


*****


Sementara itu di sebuah perusahaan, tampak seorang laki-laki baru saja turun dari motornya. Baru saja dia berjalan beberapa langkah, ada seseorang gadis yang menabraknya dari belakang, hingga membuatnya hampir tersungkur. Untung saja dia berpegangan pada mobil yang ada di sampingnya.


"Maaf ... maaf, Mas. Saya tidak sengaja. Sekali lagi aku minta maaf. Mas, tidak apa-apa, kan?"


"Tidak apa-apa, lain kali hati-hati, ya, Mbak."


"Iya, maaf saya buru-buru karena hari ini, hari pertama saya bekerja jadi, saya tidak boleh terlambat. Karena mas tidak apa-apa Saya permisi. Assalamualaikum." Gadis itu berlalu tanpa menunggu jawaban Aydin.


"Waalaikumsalam," gumam Aydin, yang sudah pasti tidak akan didengar oleh gadis tadi karena dia sudah menjauh.


"Manis sekali," ucap Aydin tanpa sadar. "Aku bicara apa tadi." Adin memukul bibirnya sendiri karena merasa telah kelepasan.


Aydin pun berjalan memasuki tempat ia bekerja, di sana sudah ada beberapa teman yang datang.


"Kamu sudah selesai dengan pekerjaan yang saya berikan kemarin?" tanya atasannya.


"Sudah, Pak," jawab Aydin.


"Kamu datang ke ruangan saya, bawa laporan kamu dan jelaskan apa saja yang ada dalam berkas itu."


"Baik, Pak."


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2