
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, Fazilah! Kamu ke sini nggak bilang-bilang?" tanya Yasna, dia terkejut, tapi juga senang dengan kedatangan sahabatnya ini.
Hari ini, Fazilah memang sengaja datang ke rumah Yasna. Sudah beberapa hari ini mereka tidak bertemu, hanya lewat sambungan telepon saja mereka berkomunikasi.
"Mau kasih surprise buat kamu, aku juga kangen sama ponakan aku."
"Masuk, yuk! Mereka ada di kamarnya, baru saja pulang sekolah."
Mereka masuk dan duduk di ruang tamu.
"Apa anak-anak Celina masih ada di sini?" tanya Fazilah dengan berbisik.
"Iya, Celina belum menjemput mereka."
"Sebenarnya, aku kurang suka anak Celine ada di sini. Apalagi aku sudah dengar cerita kamu soal Afrin yang merasa tersisih."
"Aku juga bingung harus bagaimana. Di sini, anak-anak Celina membutuhkan tempat tinggal dan hanya di sini mereka mendapat perlindungan. Mana tega aku menolak menolong anak-anak itu."
Fazilah tahu sahabatnya ini sangat baik, tapi dia juga takut orang-orang akan memanfaatkan kebaikan Yasna.
"Na, aku sudah pernah mengatakan, jangan terlalu baik pada siapapun. Kita tidak tahu bagaimana isi hati orang lain, termasuk aku. Jangan juga terlalu baik padaku, aku hanya tidak ingin orang-orang memanfaatkanmu."
Bukan maksud Fazilah membuat Yasna menjadi orang jahat. Dia hanya ingin kebaikan untuk sahabatnya.
"Entahlah, Fa. Aku juga bingung harus bagaimana?" Mereka terdiam dengan pikiran masing-masing.
"Tante!" teriak seorang gadis kecil membuat kedua wanita itu menoleh dan ternyata itu adalah Afrin.
"Hai, Sayang. Apa kabar? Tante kangen banget sama kamu."
Afrin berhambur memeluk Fazilah.
"Baik, Tante. Aku juga kangen sama Tante."
"Ini, Tante tadi belikan kamu boneka, suka tidak?" tanya Fazilah sambil memberikan sebuah boneka kepada Afrin.
"Bagus sekali!" seru Afrin dengan gembira.
"Ayo, Sayang, bilang apa sama Tante?" tanya Yasna.
"Terima kasih."
"Sama-sama, Sayang." Fazilah mencium pipi gadis kecil itu.
Terdengar suara Viko yang sedang menangis di teras samping. Sepertinya pengasuh tidak mampu menenangkannya. Bahkan Karina juga kewalahan dibuatnya.
"Itu suara anak Celina, Na?" tanya Fazilah.
"Iya."
__ADS_1
"Bukannya usianya diatas Afrin satu tahun? Kenapa dia lebih manja dari Afrin?" tanya Afrin.
"Iya, Tante. Viko manja, aku tidak suka," cibir Afrin.
Sementara Yasna memelototi Fazilah yang sudah keceplosan dengan menjelekkan orang lain didepan Afrin. Fazilah memukul bibirnya karena sudah salah berucap.
"Sudah, Sayang. Jangan dengarkan omongan Tante Fazilah," ucap Yasna. "Afrin sudah selesai belajarnya?"
"Sudah, Bunda."
"Kalau gitu Afrin main dulu, ya, sama bonekanya. Bunda mau ngobrol dulu sama Tante Fazilah."
"Iya, Bunda. Aku mau ke kamar, mau main boneka ini." Afrin pergi ke kamarnya meninggalkan Fazila dan Yasna yang saling lirik.
"Kamu apa-apaan sih, Fa. Kamu kalau ngomong nggak lihat sekitar, kamu itu membawa pengaruh buruk untuk anakku."
"Maaf, tadi nggak sengaja, aku lupa kalau ada Afrin di sini. Beneran aku nggak sengaja, sungguh!" Fazilah mencoba membela diri karena dia memang benar-benar lupa.
"Sudah terlanjur juga, mudah-mudahan saja dia tidak mengingatnya," sahut Yasna. "Kata Mas Emran, kamu sudah berhenti bekerja?"
"Iya, Hafidz mekarangku bekerja, lagipula aku seorang bos jadi, buat apa capek-capek cari uang, kalau uang itu bisa datang dengan sendirinya."
"Sombong." Cibir Yasna. "Ngomong-ngomong, kapan acara pernikahan kamu dan Hafidz?"
Yasna sangat mengenal sahabatnya ini. Mungkin bagi orang lain, perkataan Fazilah adalah bentuk pamer atau kesombongan, tapi Yasna tahu itu hanya candaan saja.
"Belum tahu, Hafidz sih inginnya segera, tapi aku ingin menemui Hisyam dulu sebelum menikah. Aku ingin meminta maaf dengan benar padanya. Aku sudah mengirim pesan padanya. Namun, hingga kini dia belum membalasnya."
Mereka membicarakan banyak hal hingga tak terasa sudah sore. Fazilah pamit pada Yasna, dia tahu sebentar lagi pasti Emran datang jadi, dia tidak ingin mengganggu.
*****
"Assalamualikum," ucap Emran.
"Waalaikumsalam," sahut Yasna.
"Ada tamu, Sayang?"
"Iya, Fazilah tadi ke sini," jawab Yasna yang diangguki Emran.
"Assalamualaikum," ucap seseorang diluar pintu.
"Celina," gumam Emran.
"Waalaikumsalam, kenapa kamu ke sini? Sudah aku katakan jangan datang ke rumah ini." Yasna kesal, sebelumnya dia sudah memperingati Celina jika wanita itu dilarang ke rumah ini.
"Maaf, Mbak. Saya terpaksa harus ke sini, saya harus--
"Sayang, aku masuk dulu," ucap Emran, Yasna hanya mengangguk sebagai jawaban.
Emran mencium kening Yasna sebelum memasuki kamarnya, meninggalkan Yasna dan Celina.
__ADS_1
"Ada apa kamu kesini?" tanya Yasna dengan nada sinis.
"Aku mau mengantarkan obat Vic,o aku takut dia demam lagi, dia itu mudah sekali sakit," ucap Celina dengan memperlihatkan kantong kresek yang berisi obat.
"Sudah selesai, kan? Sebaiknya kamu pergi sekarang, biar aku yang mengurus anak-anakmu," ucap Yasna dengan menarik kantong kresek yang dibawa Celina.
"Mbak, aku ingin bertemu dengan anak-anakku, sebentar saja. aku sangat merindukan mereka."
"Tidak perlu, kamu bisa membawanya pulang," sahut Emran yang keluar bersama seorang pengasuh dan dua anak anak Celina.
"Apa maksud, Mas Emran?" Celina tidak mengerti, kenapa Emran meminta Celina membawa kedua anaknya pulang? Bukankah wanita itu sudah mengatakan jika Suaminya tidak menerima Vino dan Vico.
"Kamu tenang saja, aku akan mengirimkan seorang pengawal dan seorang pengasuh yang akan menjaga mereka berdua. Kamu cukup memberi perhatian pada suamimu dan Revan."
"Tapi, Kak--"
"Mereka orang-orang terlatih jadi, mereka tidak akan lengah."
"Permisi, Tuan. Ada seorang yang bernama Doni di luar. Dia bilang Anda yang memintanya datang," ucap satpam.
"Benar, Pak. Suruh dia masuk."
"Baik, Tuan."
Tidak lama seorang laki-laki dengan tubuh yang besar memasuki rumah. Dia membungkukkan sedikit tubuhnya dan menyapa Emran.
"Selamat sore, Tuan," sapa Doni.
"Selamat sore, kamu sudah tahu, kan, apa yang harus kamu kerjakan?"
"Tentu, Tuan."
"Baiklah, kamu ikuti Nyonya Celina. Kamu harus menjaga anak-anaknya agar selalu dalam keadaan baik-baik saja."
Vico dan Vino keluar dengan pengasuhnya, tak lupa juga dengan barang-barang mereka yang sudah dibereskan sebelumnya.
"Kakak benar-benar mengusir anakku?" tanya Celina dengan menahan emosi, bagaimana mungkin Emran begitu tega pada keponakannya.
"Mengusir? Aku tidak pernah mengusir siapapun dari rumah ini. Aku hanya kasihan pada anak-anakmu yang setiap hari menangis karena mencari mamanya. Maka dari itu, lebih baik mereka ikut bersamamu dengan penjagaan yang sudah aku siapkan. Itu juga tidak akan merepotkanmu yang harus bolak-balik ke rumah ini."
Yasna menatap Emran, seolah bertanya apa itu akan baik-baik saja untuk mereka?
.
.
.
.
.
__ADS_1