
"Kenapa diam?" tanya Aydin dengan manatap gadis yang ada di depannya ini.
"Memangnya aku harus jawab apa? Aku sendiri juga tidak tahu apa yang harus aku lakukan?" jawab Nayla dengan menundukkan kepalanya.
"Kenapa kamu bersikap seperti itu? Mana Nayla yang dulu? Yang apa adanya dan selalu ramah?"
Aydin merasa ada sesuatu yang berbeda dengan Nayla. Dari tingkah laku hingga sorot matanya, terlihat tidak sesuai dengan hatinya.
"Entahlah, semuanya membuatku tidak bisa bergerak."
"Maksud kamu?" Aydin tidak mengerti dengan apa yang Nayla katakan. Gadis itu seperti ingin bermain teka-teki.
"Tidak apa-apa, lupakan saja," sahut Nayla. "Aku juga ingin mengatakan sesuatu, Mas ... aku akan bertunangan dengan Kak Rizki."
Aydin terkejut mendengarnya. Ternyata apa yang dia takutkan akhirnya terjadi. Pria yang sebelumnya pernah dilihat bersama dengan Nayla, pria itu yang akan mendapatkan Pujaan hatinya. Aydin tidak tahu harus berkata apa. Mungkin ini juga yang dimaksud oleh Yasna tadi, bahwa dia harus menguatkan hatinya.
"Kapan kalian akan bertunangan?" tanya Aydin.
"Semuanya dipersiapkan oleh Tante Sarah. Aku hanya mengikutinya saja. Aku tidak tahu kapan acara itu akan dilangsungkan."
"Apakah kesempatan untuk ku benar-benar sudah tertutup? Aku sungguh berharap bisa menjalani hari bersamamu."
"Maaf, Mas. Aku sudah menentukan pilihan dan aku tidak mungkin menarik kata-kataku."
"Aku berharap kamu akan bahagia, meskipun bukan bersama denganku, tapi kalian masih akan bertunangan, kan? Jadi masih ada kesempatan untukku untuk memilikimu. Aku harap Tuhan berbaik hati padaku membatalkan acara kalian. Mungkin aku terdengar jahat, tapi Aku sungguh-sungguh mengharapkan hal itu terjadi."
Nayla hanya diam tidak menyela Ucapan Aydin sama sekali. Jujur dia juga mengaminkan apa yang aydin katakan, tapi gadis itu sudah memilih dan tidak mungkin mencabutnya kembali.
"Waktu istirahatku hampir selesai, aku harus kembali ke kantor," ucap Aydin segera berdiri.
"Tapi, Mas belum makan apa pun."
"Tidak apa-apa, aku bisa mengganjalnya dengan roti atau sejenisnya. Terima kasih atas waktunya. Aku permisi, assalamualaikum," pamit Aydin segera berlalu.
"Waalaikumsalam."
Setelah kepergian Aydin, ponsel Nayla berdering tertera nama Rizky di sana. Gadis itu berpikir pasti Tante Sarah sudah menghubungi Rizki dan mengatakan tentang rencana pertunangan mereka, dengan malas Nayla menggeser tombol hijau untuk mengangkat panggilan tersebut.
"Halo, assalamualaikum," ucap Nayla.
__ADS_1
"Waalaikumsalam, Nay. Boleh Kakak bicara sebentar sama kamu?" tanya Rizki di seberang telepon
"Silakan saja, Kakak mau bicara apa?"
"Aku ingin kita bertemu secara langsung. Aku tunggu kamu di Restoran Mawar, tidak jauh dari butik kamu."
Rizki tidak mungkin mengatakan lewat sambungan telepon. Dia perlu bertemu langsung dengan Nayla dan menjelaskan semuanya.
"Baiklah, Kak. Sebentar lagi aku akan ke sana, assalamualaikum."
"Aku tunggu, waalaikumsalam."
Nayla tahu, pasti ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh Rizki, tapi kenapa mereka harus makan di luar? Kenapa pria itu tidak datang ke butiknya? Tidak mau banyak berpikir, Nayla pun pergi dengan menggunakan mobilnya menuju restoran yang disebutkan oleh Rizki.
Begitu sampai di restoran, Nayla segera masuk, terlihat Rizki bersama dengan seorang wanita. Dalam hati gadis itu bertanya ada hubungan apa mereka. Kenapa Rizki mengajaknya?
"Maaf, sudah menunggu lama," ucap Nayla begitu sampai di meja tempat Rizki duduk.
"Tidak juga, kamu duduklah dulu," ucap Rizki. "Silakan kamu pesan makanan."
Rizki memberikan buku menu pada Nayla dan memanggil pelayan.Nayla pun memesan makanan dan juga minuman.
Nayla terkejut mendengarnya, ternyata Rizki sudah memiliki kekasih. Kenapa Tante Sarah menginginkan dirinya menjadi menantu? Kenapa Rizki tidak menikah saja dengan Anisa.
"Perkenalkan nama saya Anisa, maaf jika kehadiranku membuatmu terkejut," ucap wanita yang bernama Anisa dengan mengulurkan tangannya.
"Maksud kakak apa?" tanya Nayla tanpa mempedulikan ucapan Anisa.
Nayla bukan wanita yang suka dipermainkan seperti ini. Kalau memang Rizki sudah memiliki kekasih, seharusnya pria itu menikah saja dengan Anisa, tidak usah meminta dia untuk menjadi istrinya.
"Kakak minta maaf, kamu tahu, kan? Seperti apa mama, dia sangat menyayangi kamu. Dia ingin kamu menjadi menantunya. Kakak sudah pernah mengatakan jika sudah memiliki kekasih, tapi mama tidak mau mengerti. Karena itu, aku mohon sama kamu untuk membujuk mama agar membatalkan pertunangan kita. Kakak sangat mencintai Anisa. Kakak juga tidak mungkin meninggalkannya. Apalagi saat ini Anisa sedang mengandung anak Kakak."
Nayla kembali dibuat terkejut. Gadis itu menutup mulutnya. Dia tidak percaya Rizki bisa melakukan hal seperti itu? Tidakkah pria itu menghormati wanita? Akan tetapi, Nayla tidak ingin ikut campur. Itu urusan mereka, dia akan berusaha untuk membantu Rizki, meyakinkan Sarah untuk menerima Anisa.
"Aku mohon bantu kami, aku tidak mungkin bisa membesarkan anakku seorang diri. Aku juga sudah tidak memiliki siapa pun lagi," ucap Anisa dengan meneteskan air matanya.
"Baiklah Kak, nanti aku akan bantu Kakak meyakinkan Tante Sarah."
"Terima kasih, Nay. Kamu sudah mau repot membantuku. Semua yang kamu lakukan untukku, aku tidak akan pernah melupakannya," ucap Rizki.
__ADS_1
"Sama-sama Kak. Kakak tidak perlu berterima kasih," ucap Nayla 'Karena sesungguhnya aku juga senang dengan pembatalan pertunangan ini.' lanjutnya dalam hati.
"Kapan kita akan mengatakannya pada Tante Sarah, Kak?" tanya Nayla.
"Bagaimana kalau nanti malam. Kalau sekarang sudah pasti mama tidak ada di rumah. Dia pasti sibuk menyiapkan acara pertunangan itu."
"Apa kita tidak akan menyakitinya, Kak?"
Nayla takut jika Sarah terluka dengan apa yang akan mereka lakukan. Mengingat kebaikan wanita paruh baya itu kepadanya.
"Mama pasti akan terluka, tapi itu hanya sementara. Setelah cucunya lahir, dia pasti akan bahagia."
"Baiklah, nanti malam aku akan ke rumah Kakak. Mudah-mudahan tante mau mendengarkan apa yang kita bicarakan. Aku tahu, pasti sangat tidak mudah," ujar Nayla.
Sarah adalah wanita yang keras kepala. Mereka sudah tahu akan sangat sulit untuk membujuk Sarah agar menerima Anisa, tapi mereka tidak bisa membiarkan Rizki meninggalkan kekasihnya, karena wanita itu sudah mengandung anak Rizki.
Makanan telah datang, mereka menikmatinya dengan tidak berselera. Berbagai kekhawatiran masuk ke dalam diri mereka.
Rizki sangat perhatian pada Anisa. Sesekali pria itu menyuapi kekasihnya dan mengusap bibir Anisa yang belepotan dengan tisu.
"Kak Rizki, Kak Anisa, aku harus kembali, aku tidak bisa meninggalkan butik terlalu lama. Kasihan Fika, pasti kewalahan melayani pembeli," ucap Nayla beralasan.
Gadis itu merasa tidak nyaman dengan keberadaannya diantara pasangan kekasih itu. Tingkah laku dan perhatian Rizki yang membuatnya seperti orang yang tidak tampak di sana.
"Iya, tidak apa-apa. Terima kasih sudah datang."
"Sama-sama, Kak. Aku pergi dulu. Assalamualikum."
"Waalaikumsalam."
.
.
.
.
.
__ADS_1