
Fazilah dan Hafidz telah sampai di atas bukit, Hafidz mengobati luka di wajah Fazilah, ia juga mengompresnya dengan es batu. Disaat pria itu tengah sibuk mengobati wajah sang mantan, diam-diam wanita itu memperhatikan wajah Hafidz, dengan jarak mereka yang sangat dekat, membuat Fazilah tak bisa bernafas.
Wajah yang dulu, kini berbeda dengan yang sekarang. Seperti yang pernah Hafidz katakan, bahwa ia pernah melakukan operasi plastik, tapi karena alasan apa, sampai detik ini Fazilah belum mengetahuinya.
"Jangan lihatin aku seperti itu, nanti kamu jatuh cinta," tegur Hafidz, membuat Fazilah salah tingkah.
"Apa sih, siapa yang lihatin kamu," kilah Fazilah.
Hafidz tersenyum melihat Fazilah yang salah tingkah, itu membuat wanita itu semakin menggemaskan di matanya.
"Kenapa sih, kamu harus pakai main-main seperti tadi? Kan berbahaya."
"Berbahaya apanya? Enggak juga, aku tahu mana yang berbahaya dan tidak."
"Memangnya kenapa kamu melakukan hal seperti tadi? Kamu lagi bosan, makanya buat masalah?"
"Aku kesal tahu, orang-orang kamu ngikutin aku terus."
"Kamu tahu dari mana kalau mereka orang-orang ku?"
"Tahulah, dari tadi mereka selalu ngikutin aku, terus mencoba menolongku, padahal ada orang lain yang lebih membutuhkan."
"Aku melakukannya karena tidak ingin terjadi sesuatu sama kamu."
Tiba-tiba suasana terasa hening, pandangan mereka berdua ke depan memandang pemandangan kota di siang hari.
"Aku minta maaf," ucap Fazilah.
"Minta maaf buat apa?"
"Maaf sudah menuduh kamu yang tidak-tidak dulu, Nuri sudah menceritakan semuanya tentang apa yang terjadi pada kalian terutama padamu."
"Kamu bertemu Nuri?"
"Iya, dia adik ipar Hisyam."
"Laki-laki yang akan menjadi suami kamu?" Fazilah mengangguk membenarkan kan.
"Aku bertemu dia kemarin."
"Aku juga minta maaf, karena tidak bisa cerita sama kamu, aku sudah janji sama Nuri, tidak akan mengatakan pada siapapun tentang hal itu dan aku juga tidak ingin membebanimu dengan masalah keluargaku."
"Kenapa sih, kamu selalu bod*h, aku tidak akan merasa terbebani mengenai masalahmu, kita sudah terbiasa berbagi dulu."
"Fa, tidak bisakah kita kembali bersama? Aku selalu bermimpi ingin membina rumah tangga bersamamu."
"Jujur, aku juga masih sangat mencintaimu, tapi aku tidak bisa membatalkan pernikahan ini begitu saja. Ada tanggung jawab yang masih harus aku lakukan, aku tidak mungkin mempermalukan mamaku di depan keluarga Hisyam. Meskipun aku tidak pernah mencintainya, aku yakin suatu hari nanti pasti rasa itu akan tumbuh dengan sendirinya."
"Lalu bagaimana dengan perasaan kita?"
__ADS_1
"Kamu laki-laki yang baik, pasti bisa menemukan wanita yang jauh lebih baik daripada aku."
"Kalau aku bisa, itu pasti sudah terjadi dari dulu, aku sangat menanti hari ini, Fa. Aku tidak ingin kehilangan kamu, apapun aku lakukan agar bisa mendapatkanmu."
"Kita tidak mungkin bisa bersama lagi, aku tidak mungkin menyakiti dan mempermalukan mama dengan membatalkan pernikahan ini. Keluarga mereka juga orang yang baik, aku bukan orang jahat yang bisa menyakiti mereka."
"Lalu bagaimana denganku? Apa aku tidak berarti apa-apa untukmu?"
"Bukan seperti itu, hanya saja aku berpikir mungkin ini tanda-tanda dari Tuhan, kalau kita memang tidak berjodoh. Dulu saja kita dipisahkan karena ketidak jujuran dan sekarang kita juga dipisahkan oleh keadaan. Aku takut kalau terlalu memaksa maka kita akan saling menyakiti satu sama lain, suatu hari nanti ... maaf."
Hafidz tak lagi berkata, ia hanya memandang Fazilah yang sedang melihat pemandangan di depannya. Hatinya begitu terluka, karena wanita yang dicintainya itu tidak mau mempertahankan cinta mereka, tapi dia tidak mungkin menyalahkan Fazilah, ia juga turut andil dalam masalah mereka.
'Aku akan berusaha, Fa. Jika dulu aku menyerah begitu saja, sekarang tidak lagi, aku akan berusaha untuk mendapatkanmu sebelum kata sah terucap,' batin Hafidz
"Aku ingin bertanya sesuatu padamu," ucap Fazilah.
"Tanya saja."
"Apa yang membuatmu sampai harus dioperasi dulu?"
Hafidz menatap Fazilah dengan saksama, ia heran kenapa tiba-tiba wanita ini menanyakan hal itu?
"Kalau nggak mau jawab juga nggak pa-pa."
"Dulu rumahku mengalami kebakaran, hampir seluruh tubuhku terbakar, hingga mengharuskan aku menjalani operasi, Nuri juga yang membiayai semuanya saat itu."
"Ayah bagaimana?"
"Ayah sudah meninggal setelah operasi, waktu itu terjadi komplikasi akhirnya ayah meninggal."
"Nuri sangat membantumu saat itu, kenapa kamu tidak mencintainya?"
"Karena hati tidak bisa dipaksakan, saat itu aku merasa semakin banyak berhutang padanya dan aku putuskan untuk melakukan apapun untuknya kecuali cinta. Tapi, saat aku sembuh, dia sudah pindah ke luar negeri, orang tuanya memberikan sebuah surat dari Nuri padaku, yang berisi permintaan maaf atas semua yang terjadi padaku selama ini dan dia juga minta pengobatan yang diberikan padaku bukan sebagai hutang, karena dia menganggap itu sebagai bentuk permintaan maaf atas apa yang dia lakukan padaku."
"Apa kamu tidak bertanya, Nuri pergi ke mana?"
"Aku sudah bertanya kepada orang tuanya, ke mana Nuri pindah, tapi mereka tidak mau jawab, aku yakin itu pasti keinginan Nuri sendiri."
"Maaf, harusnya aku ada disisimu saat itu, tapi justru aku malah pergi meninggalkan kamu, disaat kamu dalam kesulitan."
"Jangan terlalu dipikirkan, semuanya juga sudah berlalu."
*****
Tengah malam Yasna tidak bisa tidur, ia pun membangunkan Emran.
"Mas, bangun," ucap Yasna sambil menggoyangkan tubuh Emran.
"Ada apa, Sayang?" tanya Emran dengan mengucek matanya, ia masih sangat mengantuk karena terlalu lelah tadi di pantai.
__ADS_1
"Aku nggak bisa tidur, Mas."
Kebiasaan Yasna belum berubah, ia sering terbangun di tengah malam, jika kepikiran sesuatu.
"Ada apa? Kamu memikirkan sesuatu?" tanya Emran.
"Entahlah, tiba-tiba aku nggak bisa tidur."
"Terus kamu mau apa?"
"Mas cerita saja, aku yang dengerin."
"Cerita apa?"
"Cerita apa saja, seperti kegiatan Mas di kantor juga nggak pa-pa."
Emran mulai bercerita tentang kegiatannya di kantor, juga tentang orang-orang di sekitarnya. Baru beberapa menit Emran bercerita, seseorang mengetuk pintu kamar mereka.
"Kak!" panggil seseorang dari luar kamar.
"Sepertinya Celina, Mas."
"Sepertinya begitu, bentar aku buka dulu."
Emran membuka pintu dan memang benar di sana ada Celina yang sedang panik.
"Ada apa, sel?"
"Kak, Revan demam, bagaimana ini?
"Kamu nggak bawa obat penurun demam buat anak-anakmu?"
"Saya nggak bawa."
"Sebentar." Emran memanggil Yasna. "Sayang, obat penurun panas punya afrin apa masih ada?"
"Siapa yang sakit, Mas?"
"Revan."
"Kalau buat Revan, takutnya nggak cocok, Mas. Revan 'kan masih satu tahun,sementara Afrin sudah empat tahun. Mending bawa ke rumah sakit saja," usul Yasna.
.
.
.
.
__ADS_1