
"Mas Aydin, tunggu," panggil seorang wanita.
Aydin yang merasa terpanggil pun menoleh. Dia menatap malas pada wanita yang memanggilnya. Siapa lagi kalau bukan Airin. Entah apalagi yang diinginkan wanita itu.
"Ya, ada apa?" tanya Aydin yang berusaha ramah. Dia tidak ingin menyakiti hati wanita itu. Pria itu tahu jika saat ini Airin pasti terluka, dengan apa yang terjadi karena itu Aydin tidak ingin menambahnya.
"Aku ingin bicara sebentar, Mas," ucap Airin.
"Bicara apa lagi? Bukannya kemarin sudah?"
"Mas, aku mohon maafkan aku. Aku sungguh-sungguh ingin kembali bersama dengan kamu lagi."
"Maaf, aku tidak bisa. Perasaanku padamu sudah hilang seiring berjalannya waktu, juga karena semua kebohongan kamu terbuka. Aku tidak bisa menerima semua itu. Aku bukan laki-laki baik yang bisa menerima semua kekurangan wanita apalagi kekurangan kamu sangat fatal. Aku juga ingin mempunyai pasangan yang sempurna. Bukan hanya dalam bentuk fisik, tapi juga hatinya. Aku ingin dia bisa menjadi Ibu yang baik untuk anak-anakku. Aku tahu setiap orang juga berhak untuk mendapatkan kesempatan kedua, tapi aku juga berhak untuk menentukan pilihan yang terbaik, bukan? Dan pilihan itu bukan pada kamu."
"Apa itu artinya kamu sudah menemukan pilihan kamu itu?" tanya Airin dengan mata berkaca-kaca.
Aydin tidak tega melihat Airin seperti ini. Dia paling tidak bisa melihat wanita menangis, tapi sekuat tenaga, dia berusaha mengendalikan dirinya agar tidak luluh pada wanita itu.
"Ya, aku sudah menemukan wanita itu. Sebelumnya aku sudah menyia-nyiakan dia dan saat ini aku akan berjuang untuk mendapatkannya."
Aydin tidak berbohong sepenuhnya. Dia ingin berjuang mendapatkan Nayla. Bundanya sudah angkat tangan, tidak ingin membantunya jadi, pria itu akan berusaha sekuat tenaga.
"Bagaimana jika wanita itu menolak."
"Aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkannya," jawab Aydin dengan yakin.
"Begitupun denganku. Aku akan berusaha agar kamu mau menerimaku kembali. Terserah jika saat ini kamu menolak, tapi aku akan berjuang hingga kamu mau menerimaku. Itu saja yang ingin aku katakan. Aku pergi dulu, assalamualaikum." Airin pergi tanpa menunggu jawaban dari Ayin.
Pria itu hanya menghela napas panjang tanpa menjawab salam dari Airin. Entah Aydin harus menghadapi wanita itu seperti apa nantinya. Dia berharap Airin bukan wanita yang nekat.
Tidak mau berpikir terlalu jauh. Dia segera kembali memasuki perusahaan.
*****
Satu minggu telah berlalu. Hari ini butik Nayla mengadakan acara doa bersama, sekaligus acara pembukaan butik. Acara itu hanya dihadiri beberapa orang karena Nayla tidak memiliki banyak kerabat.
Yasna mengajak seluruh keluarganya, untuk menghadiri acara tersebut karena kebetulan acaranya diadakan di hari Minggu jadi, semua orang ada di rumah.. Bukan hanya keluarga Yasna saja yang hadir. Keluarga Bu Sarah pun juga hadir.
Acara dilaksana dengan hikmat. Doa dilakukan oleh seorang Ustaz agar butik bisa berjalan lancar dan berkah untuk siapa pun yang bekerja dan yang membeli di sana.
Sejak acara dimulai, Aydin selalu memperhatikan Nayla yang tampak cantik dengan hijabnya. Nayla memakai hijab karena acaranya pengajin. Dalam kehidupan sehari-hari gadis itu tidak memakainya.
"Jaga mata, Kak. Jangan dilihatin terus. Kalau mau cepet halalin," bisik Yasna.
__ADS_1
"Apa, sih, Bunda," kilah Aydin.
"Pakai sok-sokan, apa sih. Kamu dari tadi lihatin anak Bunda, kan?"
"Sejak kapan Nayla jadi anak Bunda?" tanya Aydin heran.
"Siapa yang bilang Nayla? Wah, berarti dari tadi kamu lihatin Nayla, ya?" Yasna semakin menggoda Aydin.
"Enggak!"
"Halah, nggak usah ngeles. Lagipula Nayla sekarang memang anak Bunda."
Yasna menahan tawa dengan menutup mulutnya. Dia tidak menyangka putranya bisa salah tingkah juga.
"Kenapa ribut sendiri? Ini masih ada banyak orang. Nggak enak," tegur Emran. Dia juga melihat apa yang dilakukan putranya. Hanya saja pria itu diam. Biarlah itu menjadi urusan mereka.
"Nggak pa-pa, Pa. Ini Aydin lagi ngelucu," sahut Yasna.
Aydin menatap malas pada bundanya. Bisa-bisanya dia dijadikan kambing hitam. Padahal Yasna sendiri yang mengejeknya sedari tadi.
Setelah acara selesai, semua orang pergi satu persatu. Hanya tinggal keluarga Yasna, keluarga Bu Sarah dan saudara dari almarhum ibu Nayla.
"Ibu siapanya Nayla?" tanya Yasna pada seorang wanita paruh baya.
"Perkenalkan, saya Yasna. Panggilnya jangan Ibu. Panggil nama saja. Saya merasa seperti yang paling tua."
"Nggak enak saya panggil nama. Bagaimana kalau panggil mbak saja?"
"Boleh, terserah mbak saja. Saya panggil mbak juga, ya?"
"Iya, boleh," jawab Rini. "Perkenalkan ini suami saya, namanya Doni." Yasna dan Doni saling berjabat tangan.
"Anak-anak Mbak, nggak ikut?"
"Saya cuma punya satu anak, Mbak. Dia sudah menikah satu tahun yang lalu dan ikut suaminya ke luar kota," jawab Rini yang diangguki Yasna.
"Oh, iya, Mbak. Kenalkan ini suami saya, namanya Emran dan ini anak-anak saya. Ini yang laki-laki namanya Aydin dan yang perempuan namanya Afrin."
"Anak-anak Ibu ganteng dan cantik, ya! Suaminya juga ganteng."
"Alhamdulillah, Mbak. Semuanya hanya titipan."
Yasna dan Rini pun saling berbincang. Mereka saling bercerita tentang diri mereka sendiri dan keluarga.
__ADS_1
"Nayla, Tante tadi ngirim kue kok nggak kamu sungguhkan, sih? Padahal Tante, kan, kirim banyak."
"Kue apa, Tante? Saya tidak tahu." Nayla merasa bingung dengan apa yang dikatakan Sarah. Dia tidak merasa mendapat kiriman kue dari orang lain selain Yasna.
"Bukannya Rizki sudah mengirimkan kue tadi? Tante yang suruh dia."
"Nggak ada, Tante."
Sarah menatap putranya. Dia bertanya dalam hati, apa Rizki tidak melakukan apa yang wanita itu perintahkan?
"Rizky," panggil Sarah.
"Iya, Ma."
"Tadi pagi, Mama suruh kamu buat kirim kue ke sini. Mama juga sudah buat list kue apa saja. Kenapa Nayla bilang tidak ada?"
"Maaf, Ma. Hari ini Rizki punya banyak pekerjaan jadi, lupa," jawab Rizki.
Sarah menatap putranya dengan melototkan matanya. Dia merasa malu karena wanita itu mengira jika Nayla tidak menghargai pemberiannya. Ternyata Rizki tidak melakukan apa yang Sarah perintahkan.
"Maaf, ya, Nay. Memang Rizki itu banyak pekerjaan jadi, dia lupa dengan apa yang Tante minta."
"Tidak apa-apa, Tante. Ini juga kuenya masih banyak yang lebih, kan?"
"Ma, ayo, kita pulang! Papa ada pekerjaan yang harus segera diselesaikan," ajak suami Bu Sarah.
"Pa, ini hari Minggu. Kenapa Papa masih sibuk dengan pekerjaan saja?"
"Ma, Papa bukan pemilik perusahaan jadi, pasti sibuk. Ayo! Mama masih mau di sini atau pulang sama Papa?"
"Iya, Mama ikut," jawab Sarah. "Nay, maaf, ya! Tante harus pulang sekarang."
"Iya, Tante. Terima kasih atas kedatangannya."
Bu sarah pamit pada semua orang dan pergi meninggalkan tempat itu bersama keluarganya.
.
.
.
.
__ADS_1
.