
"Maaf, aku tidak bisa melepaskannya, meski kami sama-sama terluka, aku tetap tidak bisa melepaskannya dan mengenai perasaan kami, meskipun suatu hari nanti dalam rumah tangga kami tidak ada cinta, tapi aku yakin kita akan baik-baik saja."
"Kak--
Irfan mencegah istrinya yang ingin mengatakan sesuatu, Nuri menatap Irfan seolah bertanya kenapa? Namun, Irfan hanya menggelengkan kepalanya. Ia tahu kakaknya juga sama keras kepala Jika dia mengatakan tidak akan melepaskan maka ia tidak akan pernah melepaskan.
"Sepertinya, sudah tidak ada lagi yang perlu kalian bicarakan, aku harus segera pergi, aku harus mengurus keperluan pernikahanku yang lainnya." Hisyam pergi meninggalkan mereka berdua yang saat ini tengah terjadi perang batin.
"Kenapa Mas melarang aku untuk bicara pada Kak Hisyam?"
"Kak Hisyam juga sama keras kepalanya, dia tidak akan pernah mendengarkan kata-katamu jika apa yang diyakini menurutnya benar."
"Tapi, aku tidak bisa membiarkan sahabatku menderita. Apa Mas tega melihat pernikahan mereka yang tidak bahagia?"
"Aku percaya pada Kak Hisyam, kita saja bisa bahagia, kenapa tidak dengan kakakku? Dia juga berhak bahagia."
"Fazilah berbeda, Mas. Dulu Hafidz sudah menghianatinya, tapi Fazilah tidak pernah bisa melupakan cintanya. Aku tidak yakin mereka akan baik-baik saja jika dipaksakan menikah."
"Sudahlah, jangan terlalu ikut campur dengan urusan mereka."
Nuri kesal pada suaminya, percuma juga dia berdebat dengan Irfan, toh dia juga akan kalah. Nuri semakin dilanda rasa bersalah karena tidak mampu membuat kakak iparnya membatalkan pernikahan ini.
'Maafin aku, Fa. Aku tidak bisa membantumu kembali dengan Hafidz, aku tahu cinta kalian begitu besar, tapi sepertinya memang kalian tidak berjodoh. Mudah-mudahan kalian bahagia, meski tidak bersama,' batin Nuri.
Sementara Hisyam, meski dia mengatakan semuanya dengan yakin saat berbicara dengan Nuri tadi, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam Ia merasa ragu. Apakah Fazila bisa mencintainya dengan sepenuh hati? Karena melihat dari betapa besarnya cinta wanita itu pada mantannya.
'Apa aku harus merelakan kamu untuknya? tapi, bagaimana dengan keluargaku? Mereka sungguh mengharapkanmu menjadi menantu mereka.'
*****
Hari ini Fazilah dan Yasna membuat janji bertemu di danau, Fazilah ingin bercerita dengan sahabatnya itu, begitupun dengan Yasna yang ingin bercerita tentang kehadiran Celina dalam rumah tangganya.
Fazilah sudah menunggu di tempat mereka biasa duduk, tidak lama setelah itu Yasna datang.
"Maaf, aku telat," ucap Yasna.
"Enggak juga, kamu tepat waktu. Aku saja yang datangnya terlalu cepat."
"Nih." Yasna memberikan sebuah minuman pada Fazila.
Yasna duduk di samping Fazilah sambil menikmati minuman yang dia bawa, Yasna bisa melihat jika Fazilah sedang bersedih, mungkin masalah yang dihadapinya terlalu sulit.
__ADS_1
"Mau cerita?" tanya Yasna.
"Aku harus bagaimana? Aku sudah merelakan hubunganku dengan Hafidz dan akan menikah dengan Hisyam, tapi jauh dilubuk hatiku, ingin sekali aku menolaknya. Aku tidak bisa meninggalkan Hafidz, aku masih mencintainya, Na."
"Kenapa tidak kamu coba bicarakan dengan mama kamu atau dengan Hisyam, semoga saja mereka mengerti."
"Aku sudah bicara dengan Hisyam, dia bilang tidak akan melepaskan aku, kalau dengan mama ... aku belum mengatakannya, aku tidak ingin membuat mama bersedih apalagi membuat mama malu di depan keluarga Hisyam karena membatalkan pernikahan ini, kamu tahu 'kan semua biaya pernikahan ini dari keluarga mereka, kami hanya menyumbang beberapa saja dan semuanya sudah siap hampir delapan puluh persen."
"Bagaimana dengan Hafidz sendiri?"
"Dia sudah mencoba bicara dengan Hisyam, dia juga meminta Hisyam untuk melepaskanku, tapi dia tidak mau, dia bilang sudah tertarik denganku. Aku tidak tahu harus apa lagi."
"Aku juga tidak tahu bagaimana memberi saran padamu, karena aku juga tidak mengenal keluarga mereka."
Keheningan menyelimuti mereka berdua, hanya helaan nafas terdengar dari keduanya, menandakan mereka tengah lelah ... lelah dalam menjalani kehidupan mereka, yang entah akan seperti apa nanti.
"Bukankah, kamu juga mengatakan kalau ada sesuatu yang ingin dibicarakan denganku?" tanya Fazilah.
"Tidak perlu, kamu sudah cukup menghadapi masalah kamu sendiri."
"Jangan seperti itu, Na. Kita sahabat, teman berbagi dalam suka maupun duka, semua akan kita jalani bersama-sama," ujar Fazilah. "Ada apa?"
"Mantan adik ipar Mas Emran sering datang ke rumah akhir-akhir ini. Entah kenapa, aku merasa dia selalu mencari perhatian dari suamiku, padahal dia sendiri sudah memiliki suami."
"Mantan adik ipar? Maksudnya, saudara dari almarhum istrinya Kak Emran?"
"Bukan, dia istri almarhum adik Mas Emran."
"Pak Emran dulu punya adik?"
"Iya."
"Aku jadi penasaran, seperti apa orangnya? Sampai berani dekat dengan Kak Emran."
"Bukan hanya dengan Mas Emran saja, dia juga dekat dengan Mama Karina dan juga anak-anak."
"Aydin juga?"
"Aydin biasa saja, dia memang orangnya pendiam tidak suka berinteraksi dengan orang lain."
"Na, kali ini kamu harus kuat, kamu harus lawan dia, jangan sampai terulang kembali. Bukan maksudku untuk mendoakan yang buruk buruk, aku hanya mengingatkan saja, agar tidak ada penghianatan lagi."
__ADS_1
"Aku mengerti maksud kamu, aku akan mencobanya."
Mereka pun membicarakan banyak hal, hingga tidak terasa waktu hampir memasuki makan siang dan Yasna ingat jika ia harus menjemput anak-anak.
"Fa, aku harus menjemput anak-anak, kamu mau ikut tidak?"
"Boleh, buat ngilangin stress juga."
"Eh, ngomong-ngomong kamu enggak kerja? Aku sampai lupa nanya tadi?"
"Enggak, aku ambil cuti, lagi banyak pikiran, nggak konsen juga kalau dipaksain kerja. Yang ada malah nanti kerjaan aku jadi hancur berantakan."
Mereka pergi menuju sekolah Afrin setelah itu ke sekolah Aydin, mereka pergi dengan menggunakan mobil Fazilah, tadi Yasna sudah meminta Pak Hari untuk pulang saja karena ia akan pergi dengan sahabatnya itu.
Yasna dan Fazilah mengajak anak-anak pergi ke mall, mereka menghabiskan waktu bersama di tempat bermain, anak-anak sangat senang, apalagi ada Fazilah yang mudah berbaur dengan siapapun, ia juga sangat ahli dalam bermain game.
Mereka juga makan di restoran, Yasna melihat seseorang yang seperti sedang mengawasi mereka, ia merasa aneh karena orang itu selalu menutupi wajahnya ketika Yasna melihat ke arahnya, Pria itu seperti tidak mau menunjukkan dirinya.
"Sejak kapan kamu punya bodyguard?" sindir Yasna.
"Sudahlah, biarin saja."
"Kamu sudah tahu ada yang ngikutin?"
"Iya, sebelumnya juga sudah aku peringatin, tapi mereka nggak kapok juga, aku juga enggak mau main drama lagi."
"Drama? Kamu main drama? Sama mereka?" tanya Yasna beruntun.
"Tidak, bukan sama mereka, tapi sama ibu-ibu." Fazilah pun menceritakan kejadian hari itu pada Yasna
Yasna tertawa mendengar cerita Fazilah, sahabatnya itu memang suka aneh-aneh. Dari dulu memang tidak pernah berubah.
.
.
.
.
.
__ADS_1