
"Kamu ada masalah apa?" tanya Yasna.
"Dia membohongiku, Na," jawab Fazilah.
"Siapa? Siapa yang sudah membohongimu?" Yasna sama sekali tidak tahu, siapa dia yang dimaksud Fazilah.
"Pria itu, yang selalu aku panggil dengan nama Hafidz, entah siapa namanya."
"Maksudmu apa sih? Aku semakin tidak mengerti?"
"Ternyata dia tidak hilang ingatan, aku tidak tahu apa tujuannya membohongi, aku melihat dia bersama dengan orang-orang berpakaian serba hitam, mereka menunduk hormat padanya, sepertinya dia orang yang sangat penting. Aku wanita bodoh yang sudah mempercayai pria seperti dia, kamu tahu? Aku sudah sangat percaya padanya, tapi dia dengan begitu tega membohongiku, bahkan dia sudah menyatakan perasaannya padaku, aku tidak tahu perasaannya itu bohong atau tidak." Fazilah menceritakan semuanya dengan meneteskan air mata.
Yasna sungguh tidak tega melihat sahabatnya itu menangis, Fazilah adalah orang yang kuat, dia tidak mudah meneteskan air matanya, Tapi kini dia meneteskan air matanya karena seorang pria.
"Apa kamu sudah menanyakan padanya, alasan kenapa dia berbohong?" Yasna mencoba berfikir positif, ia ingin memberi ketenangan pada sahabatnya itu.
"Buat apa, Na? Aku tidak perlu lagi mendengar penjelasannya, dia sudah berbohong padaku, padahal aku sudah jatuh cinta padanya, dia sudah sangat menyakiti hatiku, dia membuatku jatuh cinta padanya, tapi kemudian menghancurkannya begitu saja." air mata Fazilah mengalir semakin deras.
"Bukan maksudku untuk mengguruimu, tapi bukankah lebih baik jika kalian saling berbicara dari hati ke hati, kamu juga perlu mendengarkan penjelasannya. Apa alasan yang membuat dia melakukan hal itu padamu, aku yakin kok dia pasti punya alasannya sendiri, tinggal nanti kamu bisa menerimanya atau tidak, cobalah berfikir Jika kamu berada di posisinya, apa yang akan kamu lakukan?"
"Jika alasannya tidak masuk akal bagaimana?"
"Jika memang tidak masuk akal, mungkin dia memang bukan jodoh kamu, tapi jika masuk akal, apa kamu mau menerimanya meskipun dia sudah membohongimu?"
Fazilah terdiam, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini, yang ada di pikirannya hanya semua kebohongan yang dilakukan oleh Hafidz.
"Fazilah," panggil seorang pria yang berada di belakang, mereka pun sama-sama menoleh, mereka terkejut, ternyata di sana ada Hafidz.
"Sejak kapan kamu berada di situ?" tanya Fazilah sinis.
"Maaf aku mengikuti kalian, karena ada sesuatu yang harus aku Jelaskan padamu, Fa. Aku mohon dengarkanlah penjelasanku." Hafidz memohon pada Fazilah.
"Baiklah, sekarang Jelaskan, apa tujuanmu membohongiku dan semua orang."
"Sebaiknya aku pergi, kalian bicarakan saja berdua," sela Yasna, ia tidak mau terlibat dalam masalah mereka terlalu jauh, meskipun dia sahabat Fazilah.
__ADS_1
"Tidak, kamu disini saja, kamu juga perlu mendengar penjelasannya, dia juga membohongi ibu dan ayah, aku tidak tahu bagaimana perasaan mereka, jika mereka tahu kebenarannya."
Yasna tidak bisa berkata apa-apa lagi, ia hanya diam mendengarkan pembicaraan mereka. Jujur ia merasa tidak nyaman berada di antara mereka berdua, tapi dia sangat tahu bagaimana kerasnya Fazilah.
Hafiz pun sama seperti Yasna, ia merasa tidak nyaman ada orang lain selain Fazilah, tapi demi membuat fazillah mau mendengarkannya, Ia pun pasrah.
"Aku melakukannya karena aku ingin mendekatimu, aku ingin meminta maaf atas semua kesalahan yang pernah kulakukan padamu. Mungkin kamu tidak mengenaliku, karena aku sudah melakukan operasi plastik, jika kamu lihat foto ini, kamu akan mengenalinya." Hafidz membuka dompetnya dan menyerahkan selembar foto kepada Fazilah.
Fazilah menerimanya dan ia sangat terkejut melihat foto itu.
"Jadi kamu---
"Benar, aku memang Hafidz yang dulu pernah menyakitimu dan pernah menghianatimu, aku mohon maafkan Aku." Hafiz menundukkan kepalanya, menyesali semua yang pernah ia lakukan kepada Fazilah dulu dan sekarang.
"Ternyata, sekali pembohong tetap saja pembohong, dulu kamu menghianatiku dengan sahabatku dan sekarang Kamu mendekatiku, dengan alasan yang tidak masuk akal, kamu membuatku merasa bersalah dan bertanggung jawab padamu. Apa jangan-jangan kecelakaan itu juga termasuk dalam rencanamu?" Fazilah mencoba menerka apa yang sudah terjadi padanya.
"Tidak, mengenai kecelakaan itu, aku tidak tahu apapun sama sekali, waktu itu aku mengikutimu dan aku lihat ada Sebuah mobil melaju ke arahmu, secara refleks aku menyelamatkanmu."
"Kamu tidak sedang berusaha membuat drama bukan?" cibir Fazilah.
"Aku bersungguh-sungguh minta maaf padamu, aku sungguh menyesal, tolong maafkan Aku."
Hafidz menundukkan kepalanya, dia memang sudah sangat jahat kepada Fazilah, tapi dia sudah berusaha untuk memperbaikinya, ia ingin kembali kepada Fazilah.
"Ayo, Na! Kita pergi, aku tidak ingin berlama-lama disini."
Yasna hanya menurut ketika Fazilah menarik tangannya, sejujurnya dia juga kasihan kepada Hafidz, karena dari yang ia lihat, sepertinya pria itu sungguh-sungguh menyesali perbuatannya.
Mereka menaiki mobil Fazilah menuju rumah wanita itu, Fazilah juga sudah izin pulang.
"Apa kamu tidak mau memaafkannya, Fa? Sepertinya dia sungguh-sungguh minta maaf dan menyesali perbuatannya."
"Itu tidak semudah yang kamu pikirkan, dulu dia sudah sangat menyakitiku, aku tidak ingin semua itu terulang kembali."
"Bukankah kamu juga mencintainya?"
__ADS_1
"Tapi aku takut dia kembali menghianatiku."
"Apapun keputusanmu, aku pasti akan mendukung, kalau bisa coba pikirkanlah baik-baik semuanya, jangan sampai menyesal di kemudian hari. Aku takutnya kamu akan menyesal di waktu yang sudah terlambat."
"Aku mengerti maksudmu, aku akan memikirkannya kembali."
Setelah itu tidak ada perbincangan di antara mereka, hanya suara musik dari radio mobil yang terdengar.
Yasna menghabiskan waktu di rumah Fazilah hingga sore hari, sampai Emran menjemputnya. Setelah kepulangan Yasna, Fazilah memikirkan semuanya baik-baik, hingga suara sang mama terdengar memanggilnya untuk makan malam.
"Fa, ayo, makan malam dulu!"
"Iya, Ma." Fazilah beranjak menuju meja makan.
"Fazilah, Mama ingin kamu segera menikah," ucap Mirna disela makan malam.
"Kenapa sih, Ma? Selalu saja bahas masalah ini."
"Itu karena kamu sampai saat ini, belum pernah mengenalkan laki-laki pada Mama dan Mama sudah memutuskan kamu akan menikah, dengan anak sahabat mama."
"Apa maksud Mama? Mama mau menjodohkanku? Ini bukan zaman Siti Nurbaya, Mah. Aku bisa mencari calon suami sendiri." Fazilah kesal dengan mamanya, belum selesai masalahnya dengan Hafidz, sekarang ditambah mengenai perjodohan.
"Mau sampai kapan? Lihatlah Yasna saja sudah menikah dua kali, kamu satu kali pun belum."
"Jangan bicara seperti itu, kalau kedengaran Yasna kan tidak enak."
"Makanya kamu cepat menikah, pokoknya Mama tidak mau tahu, kamu harus menikah dengan anak sahabat mama, dia orang yang berpendidikan tinggi, pekerjaannya juga bagus, mau cari seperti apa lagi kamu?"
"Tapi, aku tidak mengenalnya, Ma."
"Justru karena kamu tidak mengenalnya, maka kalian harus saling mengenal lebih dulu."
.
.
__ADS_1
.
.