Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
64. Pertemuan keluarga


__ADS_3

"Hai, kenalin namaku Hisyam." pria itu mengulurkan tangannya ke depan Fazilah.


"Fazilah," ucap Fazilah dengan menyambut uluran tangan Hisyam.


"Kamu cantik," puji Hisyam.


"Terima kasih," jawab Fazilah seadanya, ia terlalu malas dengan gombalan-gombalan pria.


Hisyam berusaha mengajak Fazilah berbicara, meski awalnya wanita itu enggan, lama kelamaan mereka akhirnya saling berbicara. Fazilah mau tak mau pun menanggapinya. Hisyam juga meminta nomor telepon Fazilah.


*****


"Tuan, Nona Fazilah mengadakan pertemuan, dengan calon suaminya tadi malam bersama ibunya."


"Apa dia pria yang baik?"


"Anak buah saya sudah mencari tahu tentang dia, Tuan. dia memang orang yang baik."


"Baguslah, kalau dia memang orang yang baik, aku tidak perlu mengkhawatirkannya lagi, selama dia baik-baik saja itu sudah cukup untukku."


"Bagaimana dengan Anda sendiri?"


"Memangnya ada apa denganku? Aku baik-baik saja."


"Kenapa, Tuan tidak menjelaskan saja pada Nona Fazilah, tentang situasi yang sebenarnya, saya yakin dia akan mengerti."


"Tidak usah membahas hal itu lagi, aku sudah berjanji tidak akan mengatakan apa pun pada Fazilah."


'Bukankah Anda sangat bodoh, Tuan? Anda tidak mengatakannya hanya karena janji yang tidak berguna.' batin Reno, anak buah Hafidz.


*****


"Kamu serius mau menerima perjodohan ini?"


"Iya."


Yasna menatap Fazilah, ia tahu sahabatnya itu terpaksa, tapi ia tidak bisa terlalu ikut campur dalam masa depan Fazilah, meskipun mereka bersahabat.


"Mudah-mudahan keputusanmu sudah tepat, apapun itu, semoga kamu mendapatkan yang terbaik."


"Amin, terima kasih, kamu selalu ada untukku."


"Kamu juga selalu ada untukku, kita sama-sama saling mendoakan."


"Na, besok keluarganya mau datang ke rumah."


"Ke rumah? mau ngapain? Kalian mau tunangan? Secepat itu?" tanya Yasna beruntun."


"Aku nggak tahu, semuanya mama yang mengatur, entah nanti seperti apa."


"Bukankah kalian sudah sering komunikasi? Apa dia tidak membahasnya?"


"Mungkin sudah, akunya saja yang tidak mendengarkan."


"Kalian membicarakan apa saja? Kenapa sampai kamu tidak tahu?"


"Yang aku dengar hanya, dia menceritakan adiknya yang juga ikut ke rumah. Besok adiknya datang dari luar negeri bersama istrinya."

__ADS_1


"Adiknya sudah menikah? Aku kira belum, kali aja dia juga naksir sama kamu."


"Ngaco kamu."


*****


Yasna sedang berada di taman belakang, Aydin datang menghampirinya dengan wajah lesu.


"Ada apa dengan anak Bunda? Sepertinya sedang sedih ... kenapa?"


"Aydin boleh cerita enggak, bunda?"


"Tentu Boleh, Bunda akan mendengarkan semua cerita kamu, ada apa?"


"Sebenarnya Aydin menyukai seorang gadis di sekolah."


Yasna terkejut mendengarnya. Bagaimana mungkin anaknya yang baru sekolah kelas 1 SMP, Sudah berani mengatakan ia sedang jatuh cinta.


"Dia seperti apa? Sampai membuat kamu jatuh cinta?"


"Dia baik, juga pintar, dia sekolah di sana karena beasiswa, karena dia dari keluarga tidak mampu. Kemarin dia ditembak sama teman Aydin Dan dia menerimanya, sekarang aku nggak tahu haru gimana?"


"Jadi waktu itu, kamu sedih karena Gadis itu ditembak sama teman kamu?" Aydin mengangguk mengiyakannya.


"Sini, Sayang." Yasna memberi kode agar Aydin mendekat. "Begini, bukan maksud Bunda untuk melarang kamu untuk berpacaran, tapi alangkah baiknya jika Aydin konsen pada sekolah saja. Masa depan Aydin masih sangat panjang, Aydin harus pintar-pintar menggunakan waktu. Kalau dia memang jodoh yang Tuhan berikan kepadamu, dia akan bersamamu, tapi jika tidak, Bunda yakin Tuhan sudah mempersiapkan jodoh yang terbaik untuk Aydin suatu hari nanti."


"Bunda juga sama seperti Papa, melarang Aydin untuk pacaran."


"Bunda mau tanya, Aydin sudah bisa bekerja tidak? Bisa cari uang sendiri?"


"Karena itulah kenapa Papa melarang Aydin pacaran, Bunda tidak melarang, hanya saja, Aydin belum bisa bertanggung jawab. Apa sih manfaatnya pacaran? Itu hanya akan menambah dosa buat Aydin dan orang tua Aydin. Kasihan mama sama papa, kalau Aydin melakukan dosa. Seharusnya Aydin berdoa untuk almarhum mama, agar tenang di alam sana, bukan menambah dosa. Aydin mengerti 'kan maksud Bunda?"


Aydin terdiam beberapa saat, ia mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Yasna.


"Aydin mengerti, Bunda. Nanti aydin juga akan berdoa untuk mama ... Bunda, terima kasih banyak, Bunda sudah sangat sabar menghadapi Aydin selama ini, bahkan Bunda sampai masuk rumah sakit gara-gara Aydin, tapi Bunda tidak pernah memusuhi Aydin."


"Bunda tahu, kamu melakukannya karena kamu sayang sama Papa dan juga adik kamu jadi, buat apa Bunda marah?"


"Iya, Bunda."


"Mulai hari ini, apapun yang akan kamu rasakan cerita sama Bunda, ya?" tanya Yasna yang diangguki Aydin.


"Permisi, Bu. Ada tamu di depan," ucal Bik Ima menyela pembicaraan mereka.


"Tamu? Tamu siapa, Bik?"


"Saya kurang tahu, Bu. Dia mencari Ibu."


"Laki-laki, apa perempuan?"


"Laki laki, Bu."


Yasna heran, siapa laki-laki yang datang ke rumah ini dan mencarinya? Apa ayahnya atau kakaknya?


"Sebentar, Bunda ke depan dulu."


"Iya, Bunda."

__ADS_1


Yasna pergi ke depan menemui tamunya, ia penasaran siapa laki-laki itu.


"Kak Zahran!" seru Yasna, saat melihat ternyata yang datang adalah Zahran.


"Kakak tahu dari mana rumahku?" tanya Yasna saat sudah duduk di sofa.


"Saya sudah mengetahuinya sejak pernikahanmu."


"Maksud kakak? Kakak mengikutiku?"


Zahran tak menjawab membuat Yasna tahu jawabannya. Ini yang Yasna tidak sukai, ketika ia sudah ingin lepas dari masa lalu, tapi masa lalu itu selalu mengikutinya.


"Ada apa Kakak ingin bertemu denganku?"


"Aku hanya ingin meminta maaf, sekalian pamit. Aku akan pergi dari kota ini, menutup semua kenangan pahit yang terjadi di dalam kehidupanku. Aku juga akan bercerai dengan Avi."


"Lalu bagaimana dengan anak-anak kakak?"


"Mereka akan ikut ibunya, mungkin dua minggu sekali atau Sebulan sekali saya akan mengunjungi mereka."


Yasna menganggukkan kepalanya, ia tidak mau ikut campur rumah tangga orang lain, biarlah mereka yang memutuskan.


"Silakan di minum, Kak."


"Terima kasih." Zahran meminum minuman yang disuguhkan Bik Ima tadi.


"Tujuanku ke sini sudah selesai, aku harus bersiap-siap untuk pergi, terima kasih jamuannya."


"Sama-sama, Kak."


Zahran berjalan keluar rumah diikuti Yasna dibelakangnya, ia ingin mengantarkan tamunya ke depan pintu. Saat akan memasuki mobil, Zahran berbalik.


"Aku akan selalu merindukanmu, kuharap kau selalu baik-baik saja."


"Terima kasih, Kak. Aku akan selalu baik-baik saja, selama keluargaku dan orang-orang yang aku sayangi ada bersamaku."


"Dia pria yang baik, pasti akan bisa menjagamu."


"Tentu."


"Assalamualaikum," pamit Zahran


"Waalaikumsalam." Yasna tersenyum menanggapinya.


Zahran menaiki mobilnya meninggalkan Yasna, wanita yang dari dulu hingga sekarang sangat dicintainya. Namun, sayang kini ia harus merelakan wanita itu untuk laki-laki lain yang lebih bertanggung jawab.


'Aku harap Kakak akan menemukan kebahagiaan lain suatu hari nanti,' batin Yasna.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2