
Sepanjang perjalanan hanya Khairi yang terus berbicara, sementara Afrin asik memainkan ponselnya. Bahkan hingga mereka sampai di depan pintu rumah keluarga Emran, gadis itu tidak menanggapi ocehannya.
Tanpa diminta, pria itu menceritakan semua tentang dirinya. Meski tidak menatapnya Afrin diam-diam mendengarkannya. Entah kenapa dia merasa tertarik dengan cerita pria itu.
Merasa mobil yang ditumpangi berhenti, Afrin mendongakkan kepala. Dia terkejut saat mendapati dirinya berada di depan rumah. Dari mana mereka tahu alamat rumahnya? Bahkan sedari tadi dia tidak menyebutkan alamat apa pun.
"Dari mana kamu tahu, kalau ini rumahku?" tanya Afrin yang tidak bisa menutupi rasa penasarannya.
"Kamu meragukan seorang Khairi? Itu sangat mudah untukku," ucap pria itu membanggakan dirinya.
"Baiklah, terima kasih karena sudah mengantarku dan sekarang silakan pulang." Bukan maksud Afrin tidak sopan. Dia takut ada kesalah pahaman jika ada yang melihatnya diantar laki-laki.
"Apa kamu tidak ingin menawari orang yang sudah mengantarmu, meski hanya untuk segelas minuman?"
"Jangan membuat masalah untukku. Sebaiknya kamu segera pulang."
Tanpa diketahui siapa pun, termasuk Afrin, ternyata Yasna sudah sudah berdiri di depan pintu. Dia memandangi mobil yang berhenti di depan rumahnya dari tadi. Namun, tidak ada satu orang pun yang turun dari mobil itu, karena penasaran Yasna mendekati mobil tersebut dan mengetuk pintu kaca jendela.
Ivan menurunkan kaca jendela dan sedikit menundukkan kepala saat melihat Yasna berdiri di sana. Dia merasa tidak enak karena sedari tadi semua masih di dalam mobil dan tidak ada yang turun satu orang pun.
"Maaf, Anda siapa, ya! Kenapa berhenti di depan rumah saya?" tanya Yasna.
"Bunda!" seru Afrin begitu turun dari mobil.
"Afrin, ternyata kamu! Kenapa kamu diantar?" Bukannya kamu bawa mobil tadi pagi?" tanya Yasna heran.
Pasalnya tadi pagi putrinya membawa mobil, tetapi sekarang diantar seseorang dan lebih aneh lagi karena yang mengantar adalah dua orang pria. Ada banyak pertanyaan yang ingin wanita itu tanyakan pads Afrin, tetapi tidak mungkin di sini. Nanti saja jika hanya berdua.
"Mobilnya mogok, Bunda, saat aku dalam perjalanan pulang. kebetulan bertemu dengan Pak Ivan dan Pak Khairi dan mereka menawarkan tumpangan," jawab Afrin dengan memainkan telapak tangannya.
Dia benar-benar takut jika bundanya mencurigai sesuatu. Kalau benar, tidak masalah untuknya, tetapi di sini gadis itu tidak memiliki hubungan apa pun dengan Khairi, apalagi Ivan.
"Selamat siang, Tante," ucap Khairi dengan mengulurkan tangan kepada Yasna.
"Oh, iya, siang," sahut Yasna dengan membalas uluran tangan pria itu.
__ADS_1
Afrin kembali dibuat kesal. Dia sudah meminta Khairi untuk pergi kenapa masih di sini? Pria itu memang sengaja ingin membuat masalah untuknya.
"Saya Khairi, calon menantu Tante," ucap Khairi, membuat Afrin dan Yasna sangat terkejut. Mereka sama-sama membulatkan matanya tidak menyangka dengan apa yang dikatakan oleh pria itu.
"Tidak, Bunda. Dia berbohong, Aku tidak memiliki hubungan apa pun dengan dia," kilah Afrin dengan cepat. Dia tidak ingin bundanya percaya pada Khairi.
"Jangan begitu, dong, Sayang! Kenapa kamu tidak mau mengakuiku?"
"Kamu itu jangan bicara sembarangan! Aku nggak ada hubungan apa-apa sama kamu!" geram Afrin.
"Sebaiknya kita masuk ke dalam, tidak enak berbicara di luar rumah," ucap Yasna yang sudah mulai pening kepalanya.
"Iya, Tante. Terima kasih."
Mereka semua masuk ke dalam rumah termasuk Ivan yang diminta oleh Khairi. Semuanya duduk di ruang tamu. Sementara Yasna masuk kedalam kamarnya untuk memanggil sang suami. Lebih baik Emran saja yang mengurusi mereka.
"Selamat siang, Om? Apa kabar?" tanya Khairi begitu emran keluar.
"Papa! Kok, sudah ada di rumah?" tanya Afrin.
"Tidak ada apa-apa. Hanya terkejut saja."
"Silakan duduk," ucap Emran saat melihat kedua tamunya berdiri menyambut dirinya datang.
Rani keluar dengan membawa beberapa minuman untuk tamu dan juga majikannya.
"Silakan diminum," ucap Emran lagi.
"Terima kasih, Om. Maaf sebelumnya, saya ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting. Saya sangat mencintai putri Om dan ingin segera menikahinya,"
Yasna yang sedang meminum minumannya pun tersedak. Dia terbatuk beberapa kali, tidak menyangka dengan ucapan pria itu.Selama ini wanita itu mengira putrinya tidak memiliki hubungan apapun dengan seorang pria, tetapi kenapa hari ini ada seorang pria yang melamarnya?
Bukan hanya Yasna, Emran pun sama terkejutnya mendengar hal itu, tetapi dia mencoba menguasai diri. Sementara Afrin tidak tahu lagi harus berkata apa dan bagaimana menjelasakan pada kedua orang tuanya nanti.
"Bunda hati-hati kalau mau minum," ucap emran dengan mengusap punggung istrinya.
__ADS_1
"Iya, Pa. Maaf," sahut Yasna setelah batuknya mereda.
"Apa kamu sungguh-sungguh dengan ucapanmu tadi?" tanya Emran dengan menatap Khairi lekat.
"Saya sangat yakin, Om," jawab Khairi dengan tegas.
Emran menghela napas, dia tidak menyangka akan secepat ini memiliki menantu lagi. Dia pikir masih akan membutuhkan waktu untuk Afrin menikah seperti yang selalu gadis itu katakan.
"Apa yang kamu miliki untuk menikahi putriku?" tanya Emran dengan menatap pria yang sudah melamar putrinya tadi.
"Om, tentu mengenal keluarga saya. Saya juga termasuk seorang pengusaha muda terkenal. Saya memiliki segalanya yang bisa saya berikan kepada putri Om. Saya--"
Belum selesai Khairi menyelesaikan perkataannya, Emran sudah mengangkat tangannya agar Khairi menghentikan apa yang ingin dia katakan. Sepertinya dia harus banyak bersabar dalam menghadapi pria yang ada dihadapannya ini.
"Kalau mengenai harta, harta saya sudah lebih dari cukup untuk menghidupi istri dan anak-anak saya, tanpa harus menikahkan dia dengan kamu. Yang saya tanyakan, apa bekal kamu dalam membangun rumah tangga bersama putri saya dan membimbingnya menuju surganya Allah ... kamu Islam, kan?" tanya Emran ingin memastikan.
"I-iya Om," jawab Khairi ragu lalu, menatap Ivan. "Saya Islam 'kan, Van?" tanya Khairi dengan berbisik, tetapi masih bisa didengar orang yang ada di ruangan itu.
"Iya, Tuan," jawab Ivan dengan mengangguk.
"Benar, Om. Saya Islam."
Emran dan Yasna sama-sama melongo. Bagaimana putrinya nanti akan membangun berumah tangga bersama dengan pria itu, sementara agamanya saja dia tidak tahu. Bagaimana kewajibannya yang lain sebagai seorang muslim
Yasna menundukkan kepala sambil memijitnya dengan pelan. Tadinya pening kini malah makin berdenyut. Kali ini dia serahkan pada suaminya saja.
"Maaf, saya menolak lamaranmu," ucap Emran.
"Kenapa, Om? Kenapa Om menolak lamaran saya?"
"Asistenmu pasti sudah tahu jawabannya. Lebih baik kamu tanyakan saja padanya di rumahmu. Saat ini darah tinggi saya sepertinya sudah mulai naik. Bisakah kalian pulang!"
Emran tidak bermaksud untuk mengusir tamunya. Hanya saja dia sudah tidak tahu lagi harus bagaimana menghadapi pemuda itu.
"Baik, Om. Saya pulang dulu. Nanti setelah tahu jawabannya, saya akan datang lagi untuk menunjukkan bahwa saya bisa memenuhi keinginan, Om. Saya permisi, terima kasih jamuannya."
__ADS_1
Khairi sedikit menundukkan kepalanya dan berlalu bersama Ivan.