
Khairi, Afrin dan Mama Merry sedang menunggu Papa Hamdan yang sedang berada di dalam ruang ICU. Mereka semua terlihat khawatir. Tidak ada menyangka jika pria paruh baya itu akan seperti ini, padahal sebelumnya keadaannya sudah membaik. Bahkan tadi siang Papa Hamdan ingin makan siang di meja makan, tetapi sang istri melarangnya.
Cukup lama mereka menunggu, hingga pintu ruangan terbuka. Tampak seorang dokter keluar diikuti seorang perawat dengan membawa sebuah papan yang terdapat kertas di atasnya. Semua orang pun segera mendekati dokter itu.
"Bagaimana keadaan papa saya, Dok?" tanya Khairi dengan menatap dokter itu.
"Pak Hamdan mengalami stroke ringan. Untung saja beliau cepat di bawa ke sini jadi, bisa mendapat penanganan lebih cepat."
"Sekarang bagaimana kondisinya, Dok?" tanya Mama Merry.
"Sekarang beliau sedang beristirahat. Nanti kalau sudah sadar kita akan tahu bagaimana perkembangannya. Semoga semuanya baik-baik saja," ucap dokter. "Saya permisi, sebentar lagi perawat akan memindahkan Pak Hamdan ke ruang rawat."
Dokter itu pergi bersama dengan seorang perawat. Tidak lama kemudian keluarlah perawat lainnya yang mendorong brankar dengan Papa Hamdan yang sedang tidur di atasnya. Seluruh keluarga mengikutinya dari belakang.
Hingga sampailah mereka di sebuah ruang VIP. Para perawat memeriksa semua peralatan medis sebelum meninggalkannya. Mama Merry selalu setia di samping suaminya. Tidak sedetik pun wanita itu pergi.
"Sayang, kamu tunggu di sini, ya! Aku mau beli makanan. Dari tadi kita semua belum ada yang makan," ucap Khairi pada istrinya.
"Iya, Mas," sahut Afrin. Sejujurnya dia memang lapar, tapi disaat seperti ini pasti mulutnya tidak bisa menelan makanan.
Khairi pergi keluar mencari makanan. Sama seperti istrinya, dia juga pasti tidak bisa menelan makanan juga. Namun, pria itu harus memaksakan diri untuk makan. Kini semua menjadi tanggung jawabnya. Khairi harus kuat, tidak boleh lemah sedikit pun.
Pria itu mencari makanan kesukaan mama dan istrinya agar mereka mau memakannya. Untuk dirinya sendiri, dia tidak memilih. Asal ada makanan yang masuk ke dalam tubuhnya itu sudah cukup. Khairi kembali ke ruangan papanya setelah mendapat makanan yang dipesannya. Pria itu menyerahkan makanan kepada istrinya agar wanita itu yang menyiapkannya.
"Ma, makan dulu. Mama belum makan malam. Nanti malah sakit," ucap Khairi pada Mama Merry.
"Mama tidak lapar. Kalian saja yang makan. Mama sudah kenyang makan martabak tadi," tolak Mama Merry. tanpa menatap anak dan menantunya.
"Itu tidak kenyang, Ma. Mama harus tetap makan biar bisa jaga papa. Sedikit saja tidak apa-apa," sela Afrin sambil membawa seporsi makanan dan segelas teh hangat untuk diberikan pada mertuanya.
"Iya, Ma. Sedikit saja tidak apa-apa," sahut Khairi.
__ADS_1
"Mama, mau aku suapi?" tawar Afrin.
"Tidak perlu, biar Mama makan sendiri. Kalian makanlah, kalian pasti lapar juga," ucap Mama Merry dengan mengambil makanan yang ada di tangan menantunya.
Khairi dan Afrin merasa lega karena Mama Merry sudah mau makan. Pria itu pun mengajak sang istri untuk makan juga. Dia tidak ingin wanita itu jatuh sakit. Meski rasanya sangat sulit untuk menelan makanan, tapi mereka memaksanya agar makanan itu masuk ke tubuh.
Disaat seperti ini Khairi merasa beruntung memiliki istri seperti Afrin. Meski usia wanita itu terbilang masih muda, tapi pemikirannya sudah sangat dewasa. Bahkan terkadang sang suami meminta saran atas masalah yang sedang terjadi padanya.
Saat mereka sedang menikmati makanan, Ivan datang dengan menyerahkan ponsel Khairi dan Afrin. Tadi keduanya terburu-buru jadi, tidak membawanya. Untung saja dompet masih ada di dalam saku hingga dia bisa membayar biaya rumah sakit.
Khairi juga meminta agar Ivan mau menghandle semua pekerjaannya. Untuk saat ini dia mau fokus pada kesehatan Papa Hamdan dan perusahaan papanya. Pria itu tidak mungkin bisa mengatasi semua sekaligus.
*****
"Bunda baru saja Afrin kirim pesan kalau Pak Hamdan di bawa ke rumah sakit," ucap Emran pada istrinya saat mereka sedang menonton acara televisi.
"Pak Hamdan sakit apa? Sekarang bagaimana keadaannya?"
"Mudah-mudahan saja tidak kenapa-napa. Besok kita jenguk, ya, Pa?"
"Iya."
"Pasti sekarang Khairi bingung karena harus mengurus dua perusahaan. Pikirannya juga pasti terbagi dengan keadaan papanya," sahut Aydin.
Semua orang diam memikirkannya. Selama ini menantunya itu tidak pernah mau mengurus perusahaan papanya, karena itu dia membangun usahanya sendiri. Meski terseok pria itu tidak pernah menyerah.
"Oma ain," celoteh Nuri sambil menunjukkan mainannya.
"Cucu Oma sudah bisa panggil Oma!" seru Yasna sambil mengangkat cucunya ke atas pangkuannya.
Yasna menciumi wajah cucunya dengan gemas. Meski hubungan gadis kecil itu dengan mamanya sudah sangat baik, tetapi tetap saja gadis itu masih manja pada Yasna. Wanita paruh baya itu pun senang menanggapi hal tersebut.
__ADS_1
Nayla pun tidak lagi iri dengan kedekatan itu. Baginya yang penting putrinya bahagia. Apalagi saat ini dia sedang mengandung. Wanita itu sudah berjanji akan merawat anaknya sendiri dan tidak akan menggunakan jasa babysitter.
"Sekarang cucu Oma sudah lebih pandai berbicara."
"Iya, Ma. Dia sudah banyak kosa kata yang benar," sahut Nayla.
"Syukurlah kalau begitu jadi, dia tidak perlu melakukan terapi," sahut Yasna. "Oh ya, tadi kamu periksa kehamilan, kan? Bagaimana perkembangan janin kamu?"
"Alhamdulillah semuanya baik . Menurut hasil USG, dokter bilang baby-nya laki-laki, tapi nggak tahulah, benar apa tidak. Apa pun itu aku senang mendengarnya," jawab Nayla dengan senyum mengembang.
"Waktu kehamilan kamu yang pertama dulu, kamu tidak ingin tahu dulu jenis kelaminnya. Kenapa yang sekarang kamu melihatnya?"
"Kehamilan pertama, memberikan banyak pelajaran buat saya, Bunda. USG bukan hanya untuk melihat jenis kelamin, tapi juga kesehatan ibu dan bayi. Aku tidak ingin kejadian waktu itu terulang kembali dengan mengabaikan pemeriksaan. Aku ingin merasakan bagaimana rasanya merawat seorang bayi," jawab Nayla dengan mata berkaca-kaca.
"Iya, itu bagus." Yasna tahu bagaimana perasaan menantunya. Pasti ada rasa trauma sendiri yang dialaminya hingga sekarang.
Nayla melakukan semua pemeriksaan yang disarankan oleh dokter. Dia tidak peduli berapa banyak uang yang harus dikeluarkan wanita itu. Sang suami pun sangat mendukung apa yang dilakukan istrinya. Pria itu pun dengan senang hati menemani Nayla.
"Ini sudah malam, sebaiknya kamu istirahat. Tidak baik ibu hamil begadang," ucap Yasna. "Ayo, Nuri tidur sama mama!"
"Ndak mau, tidul ma Oma," tolak Nuri.
"Sama mama saja, yuk! Kasihan Oma mau tidur," bujuk Nayla.
"Ndak mau."
"Sudah, tidak apa-apa. Biar malam ini Nuri tidur sama mama," sela Yasna.
"Ya sudah kalau begitu aku masuk dulu, Bunda," pamit Nayla yang diangguki Yasna.
Nayla masuk ke kamarnya bersama sang suami. Sementara Yasna dan Emran masih menunggu Nuri selesai bermain. Gadis kecil itu tidak akan mau diajak tidur jika permainannya belum selesai.
__ADS_1