
"Sayang, kok, aku dicuekin?" rajuk Khairi dengan memeluk istrinya dari belakang.
"Mas, aku lagi ngerjain tugas. Ini besok harus dikumpulkan," ucap Afrin yang masih mengetikkan sesuatu di laptopnya.
"Nanti saja ngerjainnya, sekarang aku mau diperhatiin sama kamu," ucap Khairi yang semakin mengganggu aktifitas Afrin.
"Nanti saja, deh, Mas. Aku benar-benar lagi banyak tugas."
"Mana, coba lihat," ucap Khairi yang mendekat ke arah layar laptop istrinya. "Aku bantu, ya!"
"Boleh," jawab Afrin dengan tersenyum. Namun, semuanya di luar perkiraannya.
Khairi bukannya membantu, dia malah mengganggu pekerjaannya membuat afrin mendengus kesal. Kalau seperti ini, pekerjaannya akan semakin lama dan tidak selesai-selesai. Padahal semua ini harus diserahkan besok. Kemarin dia sibuk dengan acara pernikahan, baru hari ini wanita itu bisa mengerjakannya, tetapi Afrin justru tidak bisa mengerjakannya.
"Kok, ditutup, Sayang?" tanya Khairi saat Afrin mematikan laptopnya.
"Kamu ganggu tau nggak, sih! Pekerjaanku bukannya selesai, malah makin lama," gerutu Afrin dengan cemberut.
"Habisnya, aku mau manja-manja sama kamu. Lagian kamu diajakin makan malam di luar enggak mau, bilang banyak tugas dari kampus, tetapi dari tadi nggak selesai-selesai."
"Kamu dari tadi gangguin, makanya makin lama selesainya."
Afrin benar-benar kesal. Suaminya ini paling pintar berkilah, percuma saja menyalahkannya. Pasti ada saja alasannya. Pintu kamar mereka diketuk seseorang, diikuti suara yang memanggil Khairi untuk makan malam.
"Tuan Khairi, Tuan Hamdan dan Nyonya Merry sudah menunggu di bawah untuk makan malam," panggil Bik Asih.
"Iya, sebentar lagi saya turun," sahut Khairi dengan sedikit berteriak. "Ayo, Sayang. Semua orang sedang menunggu kita makan malam."
"Iya, Mas." Khairi dan Afrin pun turun dari kamarnya menuju ruang makan. Di sana sudah ada Papa Hamdan dan Mama Merry, serta Bik Asih dan Fatma yang masih sibuk menyiapkan meja makan.
"Mas, mau aku ambilin?" tanya Afrin.
"Boleh, ini," ucap Khairi dengan memberikan piringnya pada Afrin.
__ADS_1
Apa yang dilakukan Afrin tidak luput dari pandangan Mama Merry. Entahlah, sejak kejadian itu, apa pun yang dilakukan menantunya selalu salah di mata wanita paruh baya itu.
"Wah, semua ini Bibi masak sendiri sama Fatma?" tanya Mama Merry
"Iya, Nyonya. Sarapan dan makan siang tadi juga saya masak sendiri sama Fatma. Bersih-bersih rumah juga berdua yang lain pada enak-enakan tidur di kamar."
Afrin yang sedang mengambil makanan pun menghentikan gerakannya. Dia sangat tahu siapa yang mereka maksud. Gadis itu merasa seolah keberadaannya di rumah ini untuk membantu pekerjaan penghuni rumah.
"Oh, iya, Pa. Tadi aku dapat email dari Ivan katanya Papa juga harus melihatnya. Aku lupa tadi nggak bawa ponsel," ucap Khairi kemudian beralih menatap Afrin. "Sayang, nggak papa, kan, kalau aku minta kamu ambil ponselku yang berada di kamar!"
"Iya, Mas. Aku ambilkan dulu." Afrin berlalu kembali ke kamarnya.
Khairi melihat kepergian Afrin. Setelah istrinya itu tidak terlihat, dia beralih menatap orang-orang yang ada di ruangan ini. Terutama Mama Merry, orang yang harusnya menjadi contoh untuk menantunya. Kini malah menyakiti hati sang istri.
"Sedari tadi pagi aku sudah cukup sabar menghadapi Mama. Aku tahu Mama mengajakku ke mall hanya agar aku tidak pergi bersama dengan Afrin, tapi aku mencoba untuk berpura-pura tidak tahu apa-apa. Ternyata aku salah, semakin ke sini sepertinya Mama tidak bisa memperlakukan menantu dengan baik. Kalau mama keberatan dengan keberadaan kami di sini, tidak masalah untukku. Aku bisa pergi dari sini bersama dengan istriku!" ucap Khairi dengan mencoba menahan agar suaranya tidak keras. Dia tidak ingin Afrin mendengar dirinya marah-marah.
"Mama tidak bermaksud seperti itu. Ma—"
"Maaf, Tuan, tadi sa—"
"Jangan bilang yang Bibi maksud tadi bukan istriku! Semua orang juga tahu tanpa Bibi menyebut namanya," sahut Khairi sebelum Bik Asih melanjutkan kata-katanya. "Saya menikahi Afrin untuk saya jadikan istri. Bukan untuk membantu pekerjaan Bibi."
Sebenarnya Khairi masih ingin melanjutkan kata-katanya, tetapi dia mendengar suara langkah kaki. Pria itu tahu istrinya datang. Khairi pun berpura-pura tidak melakukan apa-apa dan melanjutkan makannya.
Afrin yang baru saja memasuki ruang makan merasa aneh. Semua orang tiba-tiba terdiam dan menatap ke arahnya dan menunduk. Dalam hati dia bertanya ada apa? Apa terjadi sesuatu saat dirinya pergi? Akan tetapi, Khairi dan Papa Hamdan terlihat biasa saja.
"Mas, ini ponselnya," ucap Afrin dengan pelan sambil menyerahkan ponsel pada suaminya.
"Iya, terima kasih, Sayang. Aku mau ngajak kamu makan di luar sebentar. Makanan di sini nggak enak. Ayo!"
"Keluar ke mana?"
"Ke mana saja."
__ADS_1
"Tadi katanya mau lihatin email ke Papa?"
"Papa bilang sudah lihat. Ayo, kita pergi!" Khairi berjalan sambil menarik tangan Afrin. Mau tidak mau wanita itu menurut saja.
Setelah kepergian anak dan menantunya, Pak Hamdan melemparkan sendok dan garpu yang dipegangnya ke tengah-tengah meja. Hingga menimbulkan suara gaduh karena bertubrukan dengan beberapa mangkok yang ada di sana.
"Papa sudah Ingatkan sebelumnya, jaga sikap Mama dan jangan terlalu membenci Afrin. Bagaimanapun juga dia istri Khairi, menantu kita, tapi sepertinya Mama tidak mendengar apa yang sudah Papa peringatkan. Nikmati saja apa pun yang kamu perbuat," ucap Hamdan. "Dan Bik Asih, kami sudah berbuat baik pada Bik Asih jadi, jangan salah gunakan kebaikan kami. Bagaimanapun juga selalu ingatlah posisi Bik Asih di rumah ini."
Hamdan meninggalkan ruang makan begitu saja. Padahal dia baru makan beberapa sendok. Dia sudah tidak berselera makan. Sejujurnya pria itu merasa malu pada menantunya karena sikap istrinya itu, tetapi mau bagaimana lagi, begitulah istrinya.
"Maafkan saya, Nyonya. Saya tidak maksud seperti itu. Saya ha—"
"Iya, saya mengerti. Itu juga karena kesalahan saya, bukan bibi," ucap Merry.
Dia mengakui kesalahannya yang sudah menyakiti hati menantunya. Semua itu karena kekecewaan yang wanita itu rasakan. Walaupun begitu, tidak seharusnya Merry melampiaskan kekesalannya hingga detik ini. Anaknya saja yang sudah disakiti maafkan, kenapa dia tidak?
"Bibi bereskan saja makanannya," ucap Merry sambil beranjak dari duduknya.
"Nyonya, tidak makan?"
"Bagaimana saya bisa makan disaat suamiku pergi dalam keadaan lapar." Merry pergi begitu saja tanpa menunggu Bik Asih mengatakan sesuatu.
"Bu, aku nggak mau pulang kampung. Pokoknya ibu harus bujuk Nyonya dan Tuan agar tidak jadi mengirim kita ke kampung," ujar Fatma yang sedari tadi diam.
"Iya, Ibu akan berusaha. Mulai hari ini jangan lagi berharap untuk menjadi istri Tuan Khairi," ucap Asih pada anaknya yang cemberut.
.
.
.
.
__ADS_1