Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
194. S2 - Nuri tidak mau


__ADS_3

"Mas, aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan putriku," ucap Nayla saat mereka sedang berada di dalam pesawat.


Hari ini mereka pulang ke Indonesia. Semua hasil pemeriksaan sudah menunjukkan bahwa Nayla sudah sembuh dari penyakitnya. Hal yang sangat disyukuri oleh seluruh keluarga.


Sudah lama wanita itu menunggu hari ini tiba. Satu tahun, waktu yang tidak lama, tidak juga sebentar, tetapi sudah banyak hal yang sudah dia lewati mengenai pertumbuhan putrinya.


"Aku juga sangat merindukannya, Sayang. Dia pasti senang saat bertemu dengan kamu. Kamu lihat, kan? Dia selalu tersenyum dan saat video call sama kamu."


"Iya, Mas," jawab Nayla sambil tersenyum, membayangkan bagaimana wajah bahagia putrinya.


Tidak terasa sampailah mereka di bandara. Tampak di sana sudah ada Pak Hari dan Afrin yang menjemput mereka.


"Kak Nayla!" teriak Afrin sambil berlari kearah kakak iparnya yang saat ini menggunakan hijab, bukan hanya untuk menutup rambutnya yang tumbuh sedikit. Itu karena dia juga ingin menjadi pribadi yang lebih baik.


"Kak Nayla sekarang berhijab?" tanya Afrin.


"Alhamdulillah, aku ingin menjadi manusia yang lebih baik lagi," jawab Nayla dengan tersenyum.


Afrin hanya mengangguk. Tiba-tiba gadis itu teringat sahabatnya yang satu tahun lalu meninggal dunia. Dia juga menggunakan hijab dulu.


"Sudah, ayo, kita pulang! Aku sudah kangen sama Nuri," ajak Aydin.


"Iya, ayo."


"Pak Hari, kamu bantuin saya bawa koper, ya?" ucap Aydin.


"Iya, Tuan." Hari segera membantu membawa koper milik Aydin.


Mereka menaiki mobil dan meninggalkan bandara. Selama perjalanan Afrin menceritakan semua kebiasaan Nuri. Apa saja yang dilakukan gadis kecil itu disaat sedang berkumpul dengan semua keluarga. Nayla sangat antusias mendengarnya.


Hingga tidak terasa mobil yang mereka tumpangi sampai di halaman rumah. Tampak Emran dan Yasna berada di teras rumah sambil menggendong Nuri. Gadis kecil itu tampak sangat cantik hari ini.


"Assalamualaikum," ucap Nayla.


"Waalaikumsalam, Sayang. Bagaimana kabar kamu?" tanya Yasna sambil memeluk Nayla meski Nuri berada dalam gendongannya.


"Baik, Bunda," jawab Nayla kemudian beralih pada gadis kecil yang berada digendongan Yasna. "Hai, Sayang. Ini Mama," ucapnya sambil meraih Nuri ke dalam gendongannya.

__ADS_1


Tiba-tiba saja gadis kecil itu menangis histeris. Dia meronta-ronta menolak berada dalam gendongan mamanya membuat Nayla kewalahan.


"Kenapa nangis? Ini mama," ucapk Nayla. Namun, Nuri semakin histeris dia memberontak, tidak mau digendong oleh wanita itu.


Gadis kecil itu meminta tolong kepada Yasna dwngan mengulurkan kedua tangannya agar menggendong dia. Membuat wanita itu tidak tega dan segera meraih Nuri kembali.


"Kenapa cucu Oma nangis? Lihat itu Mama," bujuk Yasna. Namun, Nuri menolak dan meminta masuk ke rumah.


Mata Nayla berkaca-kaca. Kenapa putrinya menolak saat dia ingin menggendong? Padahal wanita itu sudah sangat rindu pelukan dari Putrinya.


"Kamu yang sabar mungkin Nuri masih butuh menyesuaikan diri sama kamu. Kalian 'kan belum bertemu secara langsung. Sebelumnya hanya lewat video call saja," ucap Emran mencoba menenangkan menantunya. Dia tidak mau menantunya salah paham.


"Iya, Pa. Aku ngerti."


"Hei, kenapa anak Papa menangis? Ini Mama loh, Sayang," bujuk Aydin, tetapi gadis kecil itu tidak mau. Dia memeluk leher Yasna dengan erat, seakan takut jika terlepas maka akan ada yang menggendongnya.


Aydin merasa kasihan pada istrinya. Dia tahu betapa antusiasnya Nayla saat hari ini tiba, tetapi wanita itu harus kecewa dengan penolakan Nuri.


"Mungkin butuh waktu, Nay. Dia sangat takut, dadanya berdetak sangat kencang. Bunda takut kalau seperti ini dia akan sakit. Jangan paksa, pelan-pelan saja. Kamu tahu 'kan, dia sangat mudah jatuh sakit?" ucap Yasna.


Dia sangat tahu bagaimana keadaan cucunya. Memang sejak lahir, Nuri sangat mudah sakit. Bahkan hanya karena terkejut saja bisa membuatnya demam. Apalagi sampai histeris seperti ini.


"Ayo, kita masuk!" ajak Emran.


Mereka semua masuk dan duduk di ruang keluarga. Sementara Yasna berusaha menenangkan cucunya bersama dengan Rani di ruang makan. Nayla hanya bisa melihat dari jauh dengan mata yang berkaca-kaca.


"Sudah, Sayang. Kamu sabar dulu, nanti juga lama-lama, dia pasti mau sama kamu," ucap Aydin berusaha menghibur istrinya.


"Aku iri, sama Rani, Mas. Nuri bisa dekat dengan dia, tapi sama aku malah takut."


"Sama Rani 'kan tiap hari ketemu, Sayang. Makanya dia dekat. Nuri anaknya memang susah dekat dengan orang, tapi jika sudah kenal, dia akan sangat sayang pada orang itu."


"Apa sama aku nanti bisa seperti itu juga?"


"Pasti bisa. Makanya kita harus berusaha. Nanti kita berusaha sama-sama, ya!"


"Sekarang sebaiknya kamu istirahat. Kamu juga pasti capek naik pesawat," ucap Aydin agar Nayla bisa melupakan sejenak kesedihannya.

__ADS_1


"Iya, benar. Sebaiknya kamu juga istirahat. Besok kamu coba pelan-pelan mengajak dia bermain. Dia paling suka bermain boneka," ujar Emran.


"Iya, Pa. Kami mau istirahat dulu." Keduanya pergi ke kamar untuk istirahat.


Setelah Aydin dan Nayla tidak terlihat. Emran mendekati Nuri yang sedang bersama dengan Yasna. Mereka sedang bermain boneka kesukaan gadis kecil itu.


Nuri adalah cucu pertama di keluarga ini. Tidak heran jika apa pun kebutuhannya pasti sudah terpenuhi, tanpa diminta dan Yasna yang paling antusias dari semua orang.


"Nuri sudah tenang, Sayang?" tanya Emran.


"Sudah, Mas. Sepertinya dia tidak mengenali Nayla padahal kita selama ini sering ngajak dia video call."


"Video call sama bertemu secara langsung bagi anak seusia Nuri memang berbeda, Sayang."


"Iya, aku juga tadi sempat syok saat Nuri nangis terus seperti itu. Selama ini dia jarang sekali menangis, bahkan saat sakit pun dia hanya merengek. Tidak menangis seperti tadi."


"Dia hanya butuh waktu," sahut Emran yang diangguki Yasna.


Sore hari Nuri bermain dengan Afrin di taman belakang Nayla hanya memandang dari jauh. Wanita itu tadi sempat mendekat, tetapi malah gadis kecil itu menghentikan permainannya dan memeluk tantenya.


Afrin merasa tidak enak pada Nayla, tetapi mau bagaimana lagi, dia juga tidak ingin memaksa ponakannya itu.


Menjelang malam, badan Nuri panas. Semua keluarga tahu jika itu karena kejadian tadi siang. Hanya saja tidak ada yang berani mengatakannya. Takut menyakiti hati Nayla.


Yasna sudah memberinya penurun panas. Wanita itu menggendong cucunya dengan gendongan kain karena Nuri menolak untuk tidur. Bahkan saat Afrin ingin bergantian mengajaknya pun gadis kecil itu tidak mau.


"Bunda, biar aku yang gendong. Pasti Bunda capek," ucap Nayla yang merasa kasihan pada mertuanya.


"Dia tidak mau digantikan, Nay. Lebih baik tidak usah, Bunda takut dia makin tambah sakit," sahut Yasna.


Sebenarnya dia merasa tidak enak berbicara seperti itu, tetapi Yasna tidak mau cucunya bertambah sakit, apalagi jika sampai harus dirawat.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2