Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
314. S2 - Sepucuk surat


__ADS_3

Azan subuh berkumandang, membangunkan umat muslim untuk segera melakukan kewajibannya. Khairi menggeliatkan tubuhnya dan meraba ranjang di sisi kanan. Namun, ternyata kosong. Dia ingat jika semalam masih memeluk wanita itu.


Pria itu teringat pembicaraan mereka semalam, membuatnya terbangun seketika. Khairi turun dari ranjang mencoba mencari keberadaan sang istri. Dilihatnya kamar mandi, ternyata kosong. Dia beralih membuka lemari, hanya beberapa yang berkurang.


Apa mungkin Afrin sudah pergi? Apa dia hanya membawa sedikit baju? Secara di sana masih banyak baju yang memang tidak dibawa istrinya saat pergi. Berbagai pertanyaan bersarang di kepalanya.


Khairi segera keluar dari kamar dan berlari menuruni tangga untuk mencari tahu keberadaan sang istri. Pria itu ke dapur, barangkali Afrin masih di sana untuk memasak. Namun, hanya hanya ada Bik Asih di sana.


"Tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya Bik Asih.


"Bik, Di mana istriku?" tanya Khairi tanpa menjawab pertanyaan Bik Asih.


"Non Afrin sudah pergi, Tuan. Tadi Non Afrin bilang sudah pamitan!"


"Iya, sudah semalam, Bik. Tadi aku belum bangun. Apa sudah lama perginya? Sama siapa dia pergi?"


"Sopir Pak Emran yang menjemputnya tadi, sekitar satu jam yang lalu," jawab Bik Asih sambil menatap wajah majikannya yang lesu.


Khairi tertunduk lesu. Apakah dia akan menuruti keinginan istrinya untuk tidak datang ke rumah mertuanya. Akan tetapi, pria itu tidak mungkin bisa menahannya. Sekarang saja Khairi sudah ingin bertemu!


Bik Sari menatap majikannya. Sebelum pergi tadi Afrin berpamitan padanya, majikannya itu memberi catatan apa saja yang harus dilakukan untuk malayani kebutuhan Khairi.


"Tuan, mau menyusul Non Afrin?" tanya Bik Asih.


Pria itu terdiam sejenak, memikirkan ide yang diberikan oleh ART-nya itu. Namun, dia akhirnya harus menggeleng. Khairi tidak ingin hukumannya bertambah. Dilihat dari wajah Afrin yang begitu serius, dipastikan wanita itu tidak sedang bercanda.


"Aku ke kamar dulu, Bik," pamit Khairi. "Bibik tidak usah masak, Aku makan di kantor saja."


Tanpa melihat lawan bicaranya, pria itu pergi menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Bik Asih hanya menatap kepergiannya dalam diam. Dia juga tidak mengerti kenapa majikannya itu berpisah, meski hanya sementara.

__ADS_1


Afrin mengatakan pada Bik Asih jika dia dan sang suami harus berpisah untuk sementara. Mereka harus menenangkan diri masing-masing. Jujur wanita paruh baya itu sama sekali tidak mengerti. Namun, Bik Asih tidak bisa mengatakan apa pun.


*****


"Apa kamu sudah bosan bekerja di sini, hah! Kalau kamu sudah bosan, kamu bisa mengirim surat pengunduran dirimu padaku!' teriak seorang atasan perusahaan. Siapa lagi kalau bukan Khairi.


Satu Minggu telah berlalu. Semua tidak baik-baik saja untuk Khairi. Setiap malam dia tidak bisa tidur jika tidak memeluk baju sang istri yang belum dicuci. Pria itu sengaja melarang Bik Asih untuk mencucinya. Wanita paruh baya itu pun mengerti dan menurutinya.


"Tidak, Tuan. Saya akan coba untuk merevisinya," sahut seorang manager dengan tangan yang gemetar.


"Revisi, revisi, dan revisi. Apa kamu tidak memberi alasan yang lain selain kata itu?"


Semua orang yang ada di ruang meeting tampak gemetar. Padahal pekerjaan mereka sangat baik dan memuaskan, tetapi bagi Khairi tetap saja masih ada yang kurang. Sebenarnya bukan pekerjaannya yang kurag, tetapi hatinya.


Tubuh pria itu memang berada di perusahaan, tetapi hati dan pikirannya pergi memikirkan keberadaan istrinya. Setiap sepulang bekerja, Khairi selalu berhenti di depan rumah mertuanya, berharap bisa melihat keadaan istrinya.


"Rapat dibubarkan, kita lanjut meeting-nya setelah kalian selesai revisi,"sela Ivan. Pria itu sudah mendengar apa yang sudah terjadi pada atasan sekaligus sahabatnya tahu.


Ivan pun memberi kode pada semua orang, yang mengikuti meeting untuk segera meninggalkan ruangan. Khairi mengumpati Ivan. Namun, sekretaris itu tidak peduli. Banyak yang bisa dilakukan pria itu selain memarahi orang yang tidak bersalah.


"Hei! Kenapa kamu membubarkan meeting hari ini?"tanya Khairi dengan berteriak.


"Maaf,Tuan, tetapi semua pekerjaan mereka telah selesai dengan hasil lumayan bagus. Sebaiknya Anda merenung sejenak untuk memikirkan hati, Anda."


Khairi mengakui jika dirinya memang sudah sangat keterlaluan, tetapi hanya pada mereka pria itu bisa meluapkan emosinya. Dia merindukan istrinya, sangat rindu. Ini baru satu Minggu, bagaimana Khairi menjalani enam bulan ke depan?


Keheningan memenuhi ruangan yang sebelumnya penuh dengan api kemarahan. Dia hanya ingin bisa mengeluarkan apa yang tercekat di tenggorokan.


"Van, bagaimana keadaannya kini? Aku sangat merindukannya. Apa dia tidak merindukanku?" tanya Khairi dengan mata berkaca-kaca. Dia segera mengalihkan pandangannya ke arah lain agar Ivan tidak melihat.

__ADS_1


"Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu dan Non Afrin, tapi aku bisa melihat cinta kalian sama-sama besar. Non Afrin melakukan semua ini pasti ada tujuannya. Dia memang masih muda, tapi pemikirannya jauh lebih matang," ujar Ivan.


"Ya, kamu benar. Aku sudah melakukan kesalahan yang sudah sangat menyakitinya. Dia pasti sangat terluka saat itu. Aku bahkan tidak bisa menghubunginya sama sekali."


"Anda bisa menggunakan waktu yang ada untuk merenung."


Pintu diketuk seseorang dari luar. Ivan pun memerintahkan orang itu untuk segera masuk. Ternyata seorang office boy.


"Maaf, Pak. Ada surat untuk Anda," ucap seorang office boy dengan menyerahkan sebuah surat.


"Surat? Di zaman seperti ini masih ada surat?" tanya Khairi dengan menerimanya. Surat itu kecil, sudah dipastikan itu bukan dokumen perusahaan atau kerja sama.


"Saya permisi, Pak."


Saat office boy itu ingin keluar, Khairi mencegahnya hingga membuat pria itu takut. Apalagi dituduh yang tidak-tidak.


"Kenapa surat ini tidak ada nama pengirim? Apa kamu mencoba mengerjai saya? Atau kamu sedang meneror saya?"


"Tidak, Pak. Saya menerimanya dari seorang pria di depan. Sungguh Pak saya tidak berbohong. Dia hanya memberi uang banyak agar saya mau mengirim surat ini," jawab orang itu dengan tubuh gemetar.


"Tuan, sebaiknya Anda membukanya terlebih dahulu," ucap Ivan yang kemudian beralih menatap office boy. "Dan kamu harus tetap di sini untuk mempertanggung jawabkannya."


Office boy itu mengangguk meski kini tubuhnya gemetar. Seharusnya tadi dia menolak saja kalau tahu begini, tetapi uang itu sangat dibutuhkan untuk keluarganya.


Khairi pun segera membuka surat itu. Ada selembar kertas dan hasil USG. Pria itu terkejut melihatnya. Apa maksudnya ini? Dia pun membaca kertas itu. Baru beberapa baris, Khairi berteriak, pria itu sangat senang dengan isinya.


Ivan bingung melihat Khairi yang berteriak senang, tetapi dia senang. setidaknya atasannya ini bisa tersenyum dan tertawa. Semoga hal ini bisa berlangsung lama, tidak sekarang saja. Namun, siapa pengirimnya? Apa Afrin? Apa wanita itu tahu setiap hari suaminya marah-marah?


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2