
"Bunda!" Aydin masih berteriak memanggil Yasna.
Yasna berlari tergopoh-gopoh. Dia takut terjadi sesuatu pada putranya karena Aydin tidak pernah berteriak seperti itu. Wanita itu meyakini pasti telah terjadi sesuatu. Begitu sampai di depan kamar putranya, Yasna segera masuk tanpa mengetuk pintu.
"Ada apa? Kamu kenapa?" tanya Yasna dengan panik.
"Bukan aku, Bunda, tapi Nayla. Dia nangis sampai seperti itu."
Mendengar jawaban Aydin membuat Nayla semakin panik. Dia mendekati menantunya dan memang benar, dia sedang menangis sampai sesenggukan.
"Kamu kenapa, Nay?" tanya Yasna. Namun, yang ditanya hanya diam. "Nay, jawab Bunda. Kamu kenapa?"
Yasna semakin bingung karena Nayla hanya diam dan terus menangis. Dia melihat tangan menantunya yang memegangi perutnya, sesekali diremas, seperti tengah menahan sakit.
Sementara Aydin hanya diam menatap sang istri. Dia bingung mau berbuat apa. Pria itu tidak tahu apa yang terjadi pada Nayla.
"Perut kamu sakit?" tanya Yasna yang diangguki Nayla.
"Apa kamu mau datang bulan?" tanya Yasna yang kembali diangguki Nayla.
"Aydin, kamu minta sama Rani buat air hangat, terus masukin botol, cepat bawa ke sini!" perintah Yasna pada putranya.
"Iya, Bunda." Aydin segera berlari menuju dapur dan mencari Rani.
Tidak berapa lama, Aydin datang dengan membawa botol yang berisikan air hangat. Pria itu menyerahkannya pada Yasna.
"Ini, Bunda."
"Nay, maaf. Bunda naikin sedikit bajunya, ya?" tanya Yasna. Namun, tidak mendapat jawaban dari menantunya.
Yasna segera meletakkan botol itu di perut Nayla dengan sedikit menggelindingkannya. Cukup lama wanita itu melakukannya. Tangis dari istri Aydin juga sudah mulai mereda.
"Bagaimana, Nay? Sudah tidak sakit?" tanya Yasna.
"Sudah lebih baik, Bunda," jawab Nayla.
Yasna merasa lega karena sudah mendengar menantunya itu berbicara. Untungnya dia pernah mendengar beberapa temannya yang pernah mengalami hal seperti Nayla.
"Sejak kapan perut kamu sakit? Kenapa tidak panggil Bunda?" tanya Yasna yang tangannya masih memegangi botol yang berada di atas perut Nayla.
Kepanikan yang dirasakan Yasna dan Aydin sudah mulai mereda. Mereka sangat takut terjadi sesuatu pada Nayla karena sebelumnya menantu keluarga itu tidak pernah menangis.
"Habis ashar tadi. Aku tidak mau merepotkan Bunda."
"Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu? Bunda justru akan merasa bersalah jika kamu sudah seperti tadi."
__ADS_1
"Maaf, Bunda."
"Jangan hanya minta maaf, tapi dilakukan. Pokoknya Bunda nggak mau kejadian seperti tadi terulang lagi. Apa pun yang kamu rasakan katakan sama Bunda."
"Iya, Bunda."
Nayla merasa bersalah sudah membuat Yasna dan Aydin kalang kabut. Dia hanya tidak ingin merepotkan orang lain, tetapi ternyata dia salah. Keluarganya semakin dibuat repot olehnya.
"Apa benar kamu sudah tidak apa-apa? Kita ke rumah sakit saja," ucap Aydin.
"Aku tidak apa-apa, Mas. Memang sudah terbiasa seperti tadi."
"Apa benar tidak apa-apa, Bunda?" tanya Aydin pada Yasna. Dia ingin meyakinkan jawaban Nayla.
"Bunda tidak tahu karena Bunda juga tidak pernah sakit seperti itu dulu."
"Beneran tidak apa-apa, Mas. Aku sudah terbiasa seperti ini," sela Nayla. Dia berusaha meyakinkan suaminya bahwa dirinya baik-baik saja.
Aydin sebenarnya tidak begitu percaya. Dia masih saja khawatir, tetapi pria itu tidak ingin melihat istrinya sedih, akhirnya Aydin berpura-pura percaya. Nanti dia akan bertanya pada teman-temannya yang lain atau dokter secara langsung mengenai apa yang istrinya alami.
"Baiklah, lain kali jika kamu merasa sakit, telpon aku atau panggil Bunda. Aku tidak mau hal ini terjadi lagi," sahut Aydin.
"Iya, Nay. Kamu harus panggil suami kamu atau Panggil Bunda. Sekalipun kamu sudah berada di apartemen, kamu harus menghubungi Bunda," ucap Yasna.
"Iya, Bunda."
"Iya, terima kasih, Bunda. Maaf sudah merepotkan Bunda."
"Tidak perlu meminta maaf. Kamu juga putrinya Bunda."
Nayla hanya tersenyum menanggapinya. Berkali-kali rasa syukur dia panjatkan karena memiliki mertua seperti Yasna tidak seperti yang teman-temannya katakan, mengenai mertua mereka.
Yasna meninggalkan Aydin dan Nayla. Dia akan melanjutkan pekerjaannya. Sebentar lagi Emran pulang jadi, wanita itu harus segera membersihkan diri.
Sementara di kamar, Aydin masih menatap sang istri. Masih terlihat di wajah Ayin jika dia masih belum tenang kalau belum mengetahui keadaan istrinya.
"Aku sudah tidak apa-apa, Mas. Maaf sudah membuatmu khawatir," ucap Nayla saat melihat wajah khawatir Aydin.
"Tidak apa-apa," sahut Aydin dengan mengusap kepala Nayla yang masih berbaring. "Airnya sudah mulai dingin, aku akan minta mbak Rani untuk membuat air hangat lagi."
"Tidak perlu, Mas. Aku sudah baik-baik saja, aku siapkan air untuk Mas mandi dulu." Nayla akan bangun dari tidurnya. Namun, dicegah oleh Aydin.
"Tidak usah, kamu tidur saja. Aku bisa siapkan air mandi sendiri."
"Tapi--"
__ADS_1
"Sudahlah, Nay. Kamu lagi sakit. Nanti kalau kamu sembuh kamu boleh melakukan semua tugasmu lagi. Sekarang kamu tidur saja dulu."
Hati Aydin masih belum tenang. Dia masih takut terjadi sesuatu pada istrinya.
"Iya, Mas." Nayla kembali berbaring di atas ranjang. Sementara Aydin pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
*****
Saat makan malam Yasna membawakan makanan ke kamar Nayla. Dia tidak ingin menantunya kembali sakit jadi, wanita itu membawakannya ke kamar mereka dan tak lupa juga, makanan untuk Aydin agar putranya itu bisa menemani istrinya.
"Aku sudah tidak apa-apa, Bunda. Aku bisa makan di bawah sama yang lain. Aku nggak enak kalau makan di sini sendirian."
"Kamu nggak sendirian. Sama suami kamu juga, ini Bunda bawain. Lagian kamu masih belum sembuh benar."
"Tapi, Bunda--"
"Sudah makan saja, Bunda mau ke bawah nemenin papa sama Afrin." Yasna berlalu begitu saja tanpa menunggu jawaban dari menantunya.
Nayla merasa bersalah pada Yasna. Padahal dia hanya sakit perut biasa, tetapi mertuanya itu memperlakukannya secara berlebihan.
"Sudah, tidak apa-apa. Sini makannya aku suapin," ucap Aydin dengan mengambil satu piring nasi.
"Kamu apaan, sih, Mas? Aku sudah tidak apa-apa, ini sudah enakan. Aku bisa makan sendiri," tolak Nayla yang berusaha merebut sepiring nasi yang ada di tangan suaminya.
"Menurut saja, Nay. Aku juga pengen menyuapi kamu. Jarang-jarang, kita bisa makan sambil suap-suapan begini, kan, romantis."
Aydin mengarahkan sendok yang berisi nasi ke depan mulut Nayla. Mau tidak mau wanita itu akhirnya membuka mulut.
"Gantian, dong! Masa aku sendiri terus yang makan. Giliran kamu."
Aydin pun menyuapkan makanan dengan sendok ke mulutnya. Tanpa terasa dua piring makanan dan dua gelas minuman sudah habis.
Aydin akan membawa piring bekas makan mereka ke bawah, tetapi lebih dulu dicegah oleh Nayla, wanita itu tidak ingin diperlakukan seperti orang sakit. Pria itu pun akhirnya membiarkan sang istri membawa piring itu ke bawah.
"Kok, kamu sendiri yang bawa ke sini? Aydin mana?" tanya Yasna.
"Aku sudah tidak apa-apa, Bunda. Berkat bantuan Bunda tadi, sekarang aku sudah sembuh. Jangan terlalu khawatir."
"Syukurlah, kalau kamu sudah baik-baik saja."
.
.
.
__ADS_1
.
.