Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
293. S2 - Surgaku


__ADS_3

Wulan merasa heran dengan Khairi. Bu Aini hanya teman dari koleganya, tetapi kenapa dia merasa urusannya sangat penting sekali? Wanita itu berpikir positif, mungkin kolega Khairi juga orang penting. Sehingga membuat pria itu sangat ngotot dari semalam.


Wulan bersama dengan Khairi dan Afrin, pergi menuju rumah Bu Nur Aini dengan berjalan kaki. Dalam perjalanan jantung pasangan suami istri itu berdetak lebih cepat. Senang, gugup, takut, berbagai macam perasaan tiba-tiba menghampiri keduanya. Sementara Wulan hanya membalas sapaan warga yang yang menyapanya di sepanjang jalan.


"Itu rumahnya, Tuan, Nona!" seru Wulan membuat keduanya gelagapan. "Kenapa?"


"Tidak apa-apa, Mbak. Benar itu rumahnya?" tanya Afrin yang mencoba biasa saja. Namun, tidak dengan hatinya.


"Iya, Non."


Khairi dan Afrin sama-sama melihat ke arah rumah itu. Sungguh sangat memprihatinkan. Rumah yang terbuat dari bambu dan sangat kecil. Lantainya pun hanya beralaskan tanah.


Kaki Khairi tidak sanggup untuk melangkah. Dia membeku di tempatnya. Afrin pun tidak jauh berbeda. Bahkan wanita itu hampir saja meneteskan air mata jika Wulan tidak mengajak mereka mendekat.


"Ayo, Tuan, Nona! Itu rumahnya sudah dekat," ajak Wulan.


"Iya, Mbak," sahut Afrin.


Wanita itu pun menuntun sang suami untuk segera mendekat. Perlahan pria itu melangkahkan kakinya yang sudah tidak bertenaga. Wulan sudah berada di depan pintu, dia mengetuk papan yang berada di depannya beberapa kali.


"Assalamualaikum," ucap Wulan sambil mengetuk pintu.


"Waalaikumsalam," ucap seorang gadis sambil membuka pintu dengan pelan.


"Mbak Laily, maaf, datang pagi-pagi sekali. Kami mau bertemu Ibu," ucap Wulan yang memang memanggil Bu Nur dengan panggilan Ibu. Begitupun dengan anak lainnya di desa ini.


"Iya, Mbak Wulan silakan masuk," sahut dengan tersenyum ramah.


Khairi menatap gadis yang bernama Laily, yang tidak lain adalah adiknya. Setetes air mata jatuh di ujung matanya. Segera pria itu menghapusnya agar tidak seorang pun tahu. Namun, Khairi lupa jika sang istri ada di sampingnya. Tentu saja wanita itu tahu apa yang terjadi pada suaminya.


Wajah gadis itu sangat mirip dengan Papa Hamdan. Khairi semakin yakin jika dirinya tidak salah alamat. Ini memang rumah ibu dan adik kandungnya.


"Silakan duduk, saya panggilkan ibu dulu."


Baru dua langkah gadis itu berjalan, Bu Nur tampak keluar dengan sedikit terbatuk. Wanita paruh baya itu masih terlihat cantik, meski tubuhnya kurus. Dia memakai gamis serta hijab panjang.

__ADS_1


Khairi menatap ibu kandungnya dengan mata berkaca-kaca. Meski sudah bertahun-tahun, tetapi wajahnya masih sama dengan yang ada di foto. Pria itu berlari dan bersimpuh di hadapan wanita yang melahirkannya. Dia memeluk kaki yang menjadi surganya itu.


Air mata yang sudah ditahannya sejak tadi, tidak bisa dibendung lagi. Dia tidak peduli orang-orang yang melihat akan mengejeknya, meski dia seorang pria. Ibu Aini dan Laily terkejut dengan apa yang dilakukan pria yang tidak dikenalnya. Bagaimana bisa ada tamu yang tiba-tiba menangis sambil memeluk kakinya.


Aini berusaha untuk melepaskan kakinya yang dipeluk erat oleh pria itu. Namun, dia merasa kesulitan. Laily yang melihatnya pun ingin membantu, tetapi Afrin mencekal pergelangan tangan gadis itu dan menggelengkan kepalanya.


"Maaf, Nak. Kamu kenapa menangis. Tolong lepaskan kaki, Ibu!" ucap Ibu Aini dengan lembut.


"Ini Khairi, Ma. Aku merindukan Mama," ucap Khairi pelan. Namun, masih bisa di dengar semua orang yang berada di rumah itu.


Bu Nur Aini membeku mendengar nama yang diucapkan oleh pria yang bersimpuh di depannya. Nama yang selalu ada disetiap sujud dan doanya. Nama yang sudah bertahun-tahun dia rindukan.


Laily pun ikut terdiam. Dia sangat tahu siapa Khairi karena ibunya selalu menceritakan tentang pria itu. Akan tetapi, gadis itu tidak menyangka akan bertemu hari ini. Terlebih dalam keadaannya yang tidak baik-baik saja.


Afrin memalingkan wajahnya melihat suaminya yang tengah rapuh. Dia tidak sanggup melihat kesedihan Khairi. Sementara Wulan hanya diam saja. Wanita itu tidak tahu apa yang terjadi, tetapi sepertinya mereka memiliki hubungan.


"Khairi?" ulang Nur dengan suara gemetar.


"Iya, Ma. Aku Khairi." Pria itu melepaskan pelukan pada lutut ibunya dan menurunkan kepalanya untuk mencium kaki wanita itu.


Nur segera duduk dilantai dan meraih tubuh putranya agar segera bangun. Wanita itu menatap wajah Khairi dengan saksama. Dirabanya wajah itu, membuat air matanya semakin deras. Dia tidak menyangka akan datangnya hari ini.


"Kamu Khairi? Anak ibu?" tanya Nur dengan suara serak serta air mata yang menetes.


Khairi mengangguk, "Iya, Ma. Ini Khairi, anak Mama."


Tanpa membuang waktu, wanita paruh baya itu segera memeluk putranya. Kerinduan yang bertahun-tahun dipendamnya, kini mereka tumpahkan di rumah itu. Rumah yang sudah tidak layak untuk ditempati.


"Ibu senang bisa melihatmu. Ibu sudah sangat merindukanmu. Setiap hari, ibu selalu berdoa agar bisa bertemu denganmu sebelum Ibu tutup usia," ucap Nur disela pelukan mereka.


"Jangan bicara seperti itu. Mama, pasti akan sehat dan menemaniku."


Cukup lama mereka berpelukan, hingga Nur mengurainya. Wanita itu meminta Laily mendekat agar diperkenalkan dengan kakaknya.


"Khairi, ini Laily dan Laily, ini Khairi kakakmu. Orang yang selalu Ibu ceritakan."

__ADS_1


Laily hanya menyatukan telapak tangannya di depan dada, membuat Khairi menyernyitkan keningnya.


"Kita, kan, saudara? Tidak papa, kalau berpelukan," ujar Khairi.


Gadis itu terdiam dengan menundukkan kepalanya. "Aku malu, kita baru saja saling mengenal. Terasa aneh kalau berpelukan," sahutnya.


"Kalau aku yang peluk boleh, kan?" tanya Afrin menyela pembicaraan mereka. Dia mendekat di samping sang suami.


"Oh, iya, Ma. Kenalin ini istriku, namanya Afrin," ucap Khairi.


"Bu," sapa Afrin sambil mencium punggung wanita itu.


"Istrimu cantik," ucap Nur sambil membelai rambut menantunya, membuat Afrin tersenyum.


"Kalau Kakak, boleh peluk kamu, kan?" tanya Afrin pada Laily yang diangguki gadis itu.


Segera mereka berpelukan. Afrin memberi kode pada sang suami agar memeluknya dari belakang. Khairi yang mengerti pun segera melakukannya. Pria itu tahu, memang istrinya sangat pintar mencari cara lainnya agar dia bisa memeluk Laily. Meski harus terhalang tubuh Afrin.


"Eh, ini malah duduk di tanah. Nanti baju kamu kotor. Ayo, bangun!" seru Nur sambil membersihkan baju anak dan menantunya.


"Bu, tidak apa-apa. Baju kotor bisa dicuci. Justru Ibu jangan mengotori tangan ibu hanya untuk membersihkan baju kami. Tangan Ibu sangat berharga untuk membimbing kami," ujar Afrin membuat wanita paruh baya itu terharu. Dia tidak menyangka menantunya sangat baik.


"Ayo, duduk. Eh, ada Wulan? Sudah pulang kamu?" tanya Nur.


"Saya mengantar Tuan Khairi sama Non Afrin ke sini, Bu," jawab Wulan.


"Maaf, ya, Mbak. Saya nggak jujur, sebenarnya Bu Nur Aini ini ibu kandung Mas Khairi. Kemarin aku takut kalau Mbak Wulan akan menolak permintaan kami," ucap Afrin yang merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa, Non. Saya mengerti."


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2