
Mobil yang dikendarai Khairi dan Afrin telah sampai di halaman rumah keluarga Emran. Mereka semua turun satu persatu, kemudian memasuki rumah bersama setelah Wulan membukakan pintu. Di sana sudah ada ada Bik Rini dan Paman Doni yang sedang bermain dengan Nuri. Ivan dan Rani juga tidak ketinggalan.
Semua orang berkumpul di ruang tamu yang sudah digelar permadani. Yasna sengaja menyingkirkan kursi dan menggantinya dengan permadani agar muat banyak orang. Cara seperti itu juga dipercaya semakin mempererat kekeluargaan.
Mereka semua berbincang dan bercanda satu sama lain. Yasna sangat senang melihat keluarga dan kerabat dekatnya datang dan bisa berkumpul seperti ini. Namun, sayang sekali Papa Hilman dan Ibu Alina tidak bisa datang karena kesehatan pria itu menurun.
"Nak Afrin katanya hamil juga?" tanya Rini sambil menatap perut datar Afrin.
"Iya, Bik. Alhamdulillah," jawab Afrin sambil mengusap perutnya yang datar.
"Sudah berapa bulan?"
"Dua bulan, Bik."
"Semoga ibu dan bayinya sehat sampai lahiran, ya!"
"Amin, makasih, Bik."
Azan magrib berkumandang, semua orang bersiap untuk shalat berjamaah dengan Emran sebagai Imam. Berbagai doa mereka panjatkan di akhir shalat. Berharap kebaikan selalu mengiringi setiap langkah yang akan mereka tempuh.
Usai shalat magrib semua menuju taman di samping rumah yang sudah dihias sesuai keinginan Nuri. Meski semua tamu yang datang orang-orang dewasa, Nuri tetap bahagia karena bisa bersama dengan orang yang dia sayangi. Nayla sedari tadi melihat jam yang ada di pergelangan tangannya, berharap seseorang untuk datang.
"Kamu lagi nungguin ayah?" tanya Aydin sambil berbisik.
Nayla mengangguk sebagai jawaban. "Ayah sudah janji mau datang, Mas. Apa dia berbohong lagi?"
"Mungkin ayah masih terjebak macet. Sebentar lagi juga datang. Kamu jangan tunjukkan wajah sedih seperti itu. Nanti Nuri lihat jadi ikutan sedih nanti."
Nayla menarik napas dalam-dalam dan berusaha untuk terlihat bahagia. Dia tidak boleh membuat putrinya sedih di hari bahagia ini. Wanita itu berbaur dengan yang lainnya sambil menghibur Nuri.
Tidak berapa lama, datanglah orang yang ditunggu-tunggu. Seorang pria dengan memakai kemeja serta celana kain. Semua orang melihatnya. Ada yang terkejut ada pula yang tersenyum.
"Assalamualaikum," ucap pria yang baru datang, siapa lagi kalau bukan Roni.
"Waalaikumsalam, silakan duduk, Pak Roni," ucap Emran yang dibalas senyuman oleh besannya.
__ADS_1
Nayla mendekati ayahnya dan mencium punggung tangan pria itu diikuti Aydin. Roni pun ikut bergabung dengan yang lainnya.
"Nuri, sini!" panggil Nayla, gadis kecil itu pun mendekati mamanya. "Salim sama Kakek!" perintahnya yang membuat Nuri bingung.
"Sayang, ini Kakek. Nuri Salim dulu, ayo!" tambah Aydin.
Gadis kecil itu pun menurut. Dia mengulurkan tangannya dan mencium punggung tangan Roni. Pria itu ingin memeluk cucunya, tetapi dia takut jika Nuri menolak.
"Nuri, cantik sekali! Sama seperti mamanya," ucap Roni mencoba dekat dengan cucunya.
"Cantik aku," sahut gadis kecil itu membuat semua orang terkekeh mendengarnya.
"Wah, iya cantik Nuri. Cucu Kakek memang sangat cantik, boleh Kakek peluk?" tanya Roni. Nuri segera menggeleng dan menjauhi pria itu. Gadis itu bersembunyi di pelukan omanya.
"Sayang, itu Kakek. Kenapa nggak mau dipeluk? Kakek 'kan baik!" tanya Yasna pada cucunya.
Nuri hanya menggeleng tanpa mengeluarkan suara. Yasna merasa tidak enak pada besannya, dia khawatir jika pria itu akan marah dan menganggapnya memberi pengaruh buruk pada cucunya. Namun, siapa sangka jika Roni justru tersenyum menanggapinya.
"Tidak apa-apa, Bu Yasna. Saya mengerti, pasti dia takut karena baru mengenal saya," ucap Roni membuat semua orang lega.
"Iya, Yah. Aku saja perlu beberapa bulan baru bisa dekat dengannya," tambah Nayla yang diangguki Roni.
Pria itu tidak marah atas penolakan cucunya. Dia sangat mengerti karena memang mereka tidak bertemu dalam waktu yang lama. Kalau bertemu pun Roni tidak yakin bisa berbuat baik pada cucunya, mengingat bagaimana perangainya dulu.
"Ayo, sudah saatnya tiup lilin!" ajak Aydin sekaligus mengalihkan perhatian.
"Oh, iya sampai lupa. Ayo, Nuri tiup lilinnya dulu!" ajak Yasna juga.
Mereka mendekat ke tempat di mana kue berada. Nuri sangat antusias dibagian ini.
"Selamat ulang tahun ... selamat ulang tahun ... selamat ulang tahun Nuri, semoga panjang umur."
Nyanyian selamat ulang tahun mereka nyanyikan bersama-sama. Senyum kebahagiaan menghiasi wajah semua orang. Nuri memotong kue dengan dibantu Yasna dan Nayla. Potongan kue pertama justru gadis kecil itu berikan pada Rani bukan pada orang tuanya. Nuri beralasan sudah lama tidak bertemu dengan wanita itu.
Semua keluarga hanya tersenyum menanggapinya. Mereka tidak ambil pusing dengan sikap Nuri. Dia hanya gadis kecil yang masih polos dan melakukan apa pun menurut kata hatinya.
__ADS_1
Setelah acara pemotongan kue, dilanjut dengan barbeque. Mereka semua bekerja sama memanggang. Sesekali mereka bercanda. Semua larut dengan kebahagiaan yang tercipta.
Para orang tua tidak diizinkan untuk ikut memanggang. Mereka hanya diperbolehkan duduk di tempat yang memang sudah disiapkan untuk bersantai, sekaligus makan malam.
Yasna senang, acara yang direncanakannya berjalan dengan meriah. Kerabat juga datang, meski kedua orang tuanya tidak hadir karena Ayah Hilman sedang kurang fit. Umur keduanya juga sudah tidak muda lagi. Gibran dan istrinya juga tidak datang. Hanya anak-anaknya yang hadir.
"Mas, aku senang lihat anak-anak tersenyum seperti itu," ucap Yasna sambil melihat anak-anaknya yang sedang tertawa.
"Iya, Sayang. Aku juga bahagia memiliki kamu. Kamu menyayangi anak-anakku seperti anak kandungmu. Mereka bisa menjadi pribadi yang baik juga atas didikanmu. Aku tidak tahu harus berkata apa, selain terima kasih," ujar Emran sambil merangkul lengan istrinya dan menyandarkan kepala wanita itu di bahunya.
"Sejak pertemuanku pertama kali dengan Afrin, aku sudah sangat menyayanginya. Begitu pun dengan Aydin, meski dia suka jahil, tapi aku tahu dia anak yang baik. Dia bersikap seperti itu hanya untuk melindungi orang yang dia sayangi."
Hening ... keduanya larut dalam pemikiran masing-masing. Hingga suara Emran memecah keheningan dan membuat Yasna tersenyum.
"Terima kasih sudah hadir dalam kehidupan kami dan membuat hidup kami lebih berwarna."
Keduanya berpelukan, menyalurkan cinta yang ada di hati mereka. Tidak ada yang tahu bahwa perpisahan dengan pasangan masing-masing sebelumnya, telah menyatukan hati keduanya. Cinta memang tidak ada yang tahu ke mana takdir akan membawanya.
Emran bersyukur karena Yasna adalah takdirnya. Dia tidak yakin jika itu orang lain, apa bisa menyayangi anak-anaknya seperti yang istrinya lakukan.
Tanpa keduanya sadari, Aydin dan Afrin melihat kemesraan orangtuanya. Mereka senang melihat Emran dan Yasna yang selalu saling mencintai. Keduanya berdoa agar rumah tangga mereka seperti orang tuanya.
.
.
TAMAT
.
.
Terima kasih buat readers yang selalu setia menunggu up date harian saya. Semoga kita semua selalu sehat dan diberi keberkahan dalam setiap langkah kita.
Amiinn
__ADS_1