
Livy bersujud di depan Afrin dan Yasna. Dia melupakan segala kesombongannya, hanya untuk memohon maaf pada Afrin agar tidak terjadi sesuatu pada papa dan restoran keluarganya. Gadis itu sangat tahu bagaimana perjuangan papanya untuk mendapatkan restoran itu.
"Aku mohon maafkan aku. Aku tahu aku salah, tapi aku mohon jangan lakukan apapun pada restoran papaku. Dia sudah sangat berusaha mendapatkannya. Hanya itu yang keluarga kami miliki. Aku tahu kamu orang yang baik. Aku mohon, tolong bilang sama papa kamu untuk tidak melakukan apapun pada keluargaku. Aku yang bersalah di sini, kamu bisa melakukan apapun padaku. Tolong jangan libatkan keluargaku." Livy memohon dengan air mata yang mengalir.
Afrin mendekati Yasna seolah-olah meminta persetujuan dari Bundanya. Wanita itu mengerti maksud putrinya, akhirnya dia mengangguk. Dia juga tidak tega melihat seorang anak yang bersujud di depannya, tapi dia sudah terlanjur sakit hati atas apa yang sudah dia perbuat kepada afrin.
"Bangunlah, papaku tidak akan melakukan apapun pada restoran papamu," ucap Afrin dengan suara serak karena dia terlalu lama menangis.
"Terima kasih ... terima kasih." Livy merasa lega, keluarganya baik-baik saja dan dia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.
"Bangunlah," pinta Afrin. Dia merasa tidak enak. Semua penghuni sekolah menatap ke arah mereka seolah melihat pertunjukan.
Livy kemudian berdiri dari sujudnya dan berkata, "Terima kasih, Frin. Terima kasih Tante."
"Ini peringatan pertama dan terakhir untukmu, jangan menyebar fitnah. Bukan hanya kepada putriku, tapi juga kepada siswa lainnya." Yasna mencoba memberi nasehat kepada Livy, terserah jika gadis itu tidak mau mendengarkan. Dia tidak inginada korban seperti Afrin nantinya.
"Sekali lagi, saya sebagai kepala sekolah meminta maaf kepada Pak Emran dan Ibu karena sudah membuat keluarga kalian difitnah," ucap kepala sekolah.
Emran hanya diam tidak menyahut. Dia sudah terlanjur kesal pada mereka. Yasna berusaha tersenyum menanggapi. Wanita itu tahu suaminya masih sakit hati sama sepertinya.
"Semuanya sudah terjadi, Pak. Ini juga sebagai pelajaran suatu hari nanti agar tidak terjadi hal seperti ini," sahut Yasna.
"Iya, Bu. terima kasih atas pengertiannya."
"Sudah tidak ada lagi, kan? Sepertinya kami harus undur diri," pamit Emran segera berlalu tanpa berpamitan dengan para guru. Bahkan kepala sekolah yang ada di depannya pun tidak dia hiraukan.
"Ayo, Sayang! Kita pulang," ajak Emran dengan merangkul Yasna dan Afrin. "Kamu juga pulang, ya," ucap Emran pada Afrin.
Gadis itu mengangguk dan berjalan mendekati kepala sekolah. "Maaf, Pak. Hari ini saya izin tidak mengikuti pelajaran."
"Tidak apa-apa, saya mengerti perasaan kamu."
"Kami pamit, Pak. Maaf sudah membuat kehebohan," ucap Yasna pada kepala sekolah.
"Justru kami yang minta maaf, Bu. Kami tidak bisa melindungi Afrin."
__ADS_1
Setelah itu Emran sekeluarga meninggalkan sekolah dengan menggunakan mobil. Hanya Aydin yang menggunakan motornya. Dia tidak jadi pergi ke kantor, tidak mungkin sekarang dia berangkat. Sudah pasti akan terlambat.
Dalam perjalanan Yasna selalu memeluk Afrin. Mereka duduk dibelakang berdua. Sementara Emran di depan sebagai pengemudi.
"Kenapa, sih, Sayang? Kamu nggak cerita sama Bunda? Apa Bunda tidak pantas menjadi pendengar buat kamu?"
Yasna berpikir, apa Afrin merasa tidak nyaman dengannya? Padahal selama ini gadis itu selalu bercerita apa saja padanya.
"Bukan seperti itu, Bunda. Aku malu jika harus cerita sama Bunda. Karena aku sendiri yang meminta menutup identitas dan sekarang ada berita sepeeti ini. Bagaimana caraku mengatakannya?"
"Kenapa malu? Kan, sama Bunda sendiri? Bunda nggak suka Afrin kayak gitu. Bunda akan selalu dengar semua keluh kesah kalian. Bunda malah senang berarti Bunda masih diperlukan di sini."
Yasna berusaha bicara dengan hati-hati, dia tidak ingin menyinggung perasaan Afrin. Wanita itu tahu, di usia putrinya saat ini, sangat mudah tersinggung dengan hal sepele.
"Bunda kenapa bicara seperti itu? Kami selalu memerlukan Bunda. Bunda tempat aku bersandar. Aku juga lebih dekat sama Bunda daripada sama papa. Papa mana bisa diajak curhat," ucap Afrin sekaligus mencibir Emran.
"Hei, siapa bilang Papa nggak bisa? Papa Siap kapanpun kamu mau curhat," kilah Emran, dia tidak mau disalahkan.
"Setiap aku curhat, Papa malah tidur. Bukannya dengerin. Aku jadi makin tambah kesel," gerutu Afrin.
"Maka dari itu, aku lebih suka cerita sama Bunda. Kalau Bunda meskipun ngantuk, pasti tetap mau dengerin sampai selesai. Bunda juga selalu ngasih wejangan sama Afrin."
Emran hanya diam. Benar yang dikatakan Afrin. dia pernah tertidur saat putrinya itu sedang bercerita padanya. Itu karena dia habis begadang sebelumnya, menemani Yasna yang tidak bisa tidur.
"Sudah, sudah, pokoknya mulai hari ini. Bunda mau, setiap apapun yang terjadi sama kamu harus cerita sama Bunda. Nggak boleh ditutup-tutupin, apapun, sedikitpun," sela Yasna. Kalau tidak perdebatan mereka tidak akan berhenti.
"Iya, Bunda. Maafin aku, ya?"
"Bunda akan selalu memaafkan kesalahan-kesalahan anak Bunda, selama kalian gak ngulangin lagi."
Akhirnya mereka sampai juga di rumah. Di sana ada Aydin yang sudah sampai lebih dulu.
"Kakak nggak jadi, ke kantor?" tanya afrin setelah turun dari mobil.
"Tidak, sudah telat juga. Kakak izin sekalian."
__ADS_1
"Maaf, ya, Kak. Sudah buat Kakak bolos kerja," ucap Afrin sambil bergelayut manja di lengan kakaknya.
"Makanya, lain kali kalau ada masalah itu cerita. Jangan dipendam saja, kan, jadi nyusahin orang lain."
Afrin cemberut mendengar gerutuan kakaknya. Dia tahu, kakaknya itu hanya tidak ingin sesuatu terjadi padanya. Gadis itu merasa sangat beruntung memiliki orang-orang yang perhatian padanya dan selalu menyayanginya.
"Ya sudah kalian sebaiknya ganti pakaian. Papa juga nggak jadi meetingnya?" tanya Yasna.
"Sudah ada yang gantiin."
"Kalau begitu Papa juga ganti baju sana! Berhubung semua orang ada di rumah. Bunda mau buat kue." Yasna segera pergi ke dapur dengan senyum mengembang, jarang sekali keluarganya di rumah selain hari minggu.
Sementara yang lainnya memasuki kamarnya masing-masing.
*****
Setelah kepulangan Afrin, di sekolah teman-teman Afrin membicarakannya. Mereka tidak menyangka dengan apa yang terjadi hari ini.
"Aku nggak nyangka, ternyata Afrin anak orang kaya," ucap Siska.
"Apalagi aku? Aku juga nggak nyangka karena selama ini juga Afrin terlihat biasa-biasa saja. Dia nggak pernah nunjukin kalau dia orang kaya," sahut Nuri.
"Aku sempat heran, saat melihat laptop yang dipakai Afrin. Itu kan laptop mahal, tapi saat dia bilang itu punya kakaknya aku udah nggak curiga lagi."
Nuri dan Sisca membicarakan tentang Afrin. Sementara Vira hanya diam mematung. Dia teringat apa yang dilakukannya pada afrin selama dua hari ini.
Hanya karena sebuah foto, dia sudah tidak percaya pada sahabatnya itu. Gadis itu merasa bukan sahabat yang baik, tapi di sisi lain dia juga kecewa pada Afrin karena menutupi identitas darinya, yang dia anggap sahabat.
.
.
.
.
__ADS_1
.