
Emran berdiri di atas balkon kamarnya, menatap pemandangan langit yang begitu gelap, tanpa satu bintang pun terlihat. Hanya ada bulan yang tinggal separo, tampak mengejek ke arah pria itu. Ingin rasanya dia menghancurkan dunia ini yang menurutnya begitu kejam.
Teringat kata-kata dokter saat dia datang ke rumah sakit tadi siang. Sebelumnya Emran mendapat kabar dari orang yang dipercaya untuk melindungi keluarganya. Orang itu mengabarkan jika sang menantu datang ke sebuah rumah sakit dan menemui seorang dokter spesialis kanker.
Emran terkejut mendengarnya. Ada urusan apa menantunya datang menemui dokter spesialis kanker. Hingga dia sendiri yang memutuskan untuk menemui dokter itu dan menanyakan, apa yang dilakukan Nayla di sini. Dia begitu terkejut mendengar kenyataan dari dokter.
"Maaf, Anda siapa? Ada hubungan apa Anda dengan pasien saya?" tanya Dokter Jefri.
"Saya mertuanya. Dia menantu saya."
"Apa Anda memiliki bukti?"
Emran pun menunjukkan foto Aydin dan Nayla saat pernikahan mereka, dengan diapit oleh dirinya dan Yasna. Tampak senyum diwajah semua orang termasuk pengantin wanita yang kini sangat sulit untuk dilihat.
"Jadi begini, Pak. Bu Nayla mengidap penyakit kanker payudara Stadium Akhir, sel kanker sudah menyebar ke kelenjar getah bening dan tulang. Kemungkinan untuk sembuh hanya sekitar dua puluh sampai dua puluh lina persen."
Dokter Jefri pun menjelaskan secara detail, tentang penyakit yang diderita oleh Nayla tanpa ditutupi sama sekali. Dia sudah sering menangani keluarga pasien yang seperti ini jadi, tidak sulit untuknya berbicara dari hati ke hati.
"Apa Anda juga mengatakan semuanya tadi pada menantu saya?"
"Tentu tidak, Pak. Saya tahu mental seorang pasien seperti apa. Sekuat apa pun mereka, pasti memiliki sisi lemah. Saya hanya mengatakan dia akan sembuh dan tidak mengatakan jika kemungkinannya sangat kecil. Saya hanya bisa memberikan support untuknya agar lebih bersemangat. Untungnya Bapak ke sini jadi, saya bisa menjelaskan kepada pihak keluarga, agar pihak keluarga juga memberikan semangat untuk Bu Nayla. Saya tahu dia tidak ingin terjadi sesuatu pada bayinya dan itu tidak masalah. Seperti yang saya jelaskan tadi, mengenai bagaimana cara pengobatannya."
"Jadi bayinya masih bisa diselamatkan dokter?"
"Mengenai bayinya kemungkinannya sangat besar untuk selamat, Pak, yang saya khawatirkan justru Bu Nayla. Seperti yang saya jelaskan tadi kanker sudah Stadium Akhir jadi, akan sangat sulit untuk menyembuhkannya. Apalagi kita harus menunggu selama dua bulan."
Emran mengusap wajahnya dengan kasar. Bagaimana ini bisa terjadi pada menantunya dan apa yang harus dia katakan pada istri dan anaknya nanti? Emran sangat tahu bagaimana sayangnya Yasna pada Nayla. Aydin juga begitu sangat mencintai istrinya. Dia tidak yakin semuanya akan baik-baik saja, setelah rahasia ini terbongkar.
Kembali pada Emran yang masih memandangi langit yang nampak Bulan Separo. Dia tidak sadar jika di sampingnya sudah ada sang istri yang menatap dengan heran. Tidak biasanya Yasna melihat Emran seperti ini, sepeetinya pria itu sedang tertekan.
"Ada apa, Mas?" tanya Yasna membuat Emran terkejut, hingga menjatuhkan gelas yang dipegangnya dan pecah berhamburan.
Yasna dibuat heran dengan tingkah sang suami. Tidak biasanya pria itu melamun seperti itu. Emran salah tingkah saat istrinya menatap dirinya dengan penuh curiga.
"Ada apa sih, Mas? Sampai terkejut begitu. Padahal aku juga bicara nggak keras."
__ADS_1
"Menurut kamu saja tidak keras. Aku yang mendengarnya itu sampai aku terkejut," jawab Emran beralasan.
"Alasan saja kamu, pasti lagi banyak pikiran, ya? Apa yang mengganggumu, sehingga membuat kamu melamun seperti tadi?"
"Di kantor sedang banyak pekerjaan, Sayang! Ada beberapa tender yang hampir gagal jadi, aku nggak bisa memikirkannya dengan jernih."
"Benar 'kan hanya pekerjaan?"
"Iya, sayang. Memangnya apalagi?"
Yasna sebenarnya tidak yakin dengan jawaban suaminya, tetapi setelah dipikir-pikir, memang tidak ada yang aneh dengan keluarga mereka. Semoga saja apa yang Yasna takutkan tidak akan ada dan semuanya baik-baik saja seperti yang dikatakan suaminya.
Yasna bukan orang yang mudah percaya. Apalagi melihat Emran yang melamun tadi. Pasti wanita itu menaruh curiga padanya.
"Sudah, Sayang. Jangan berpikir yang macam-macam, semuanya baik-baik saja," ucap Emran.
Dia tahu istrinya sedang curiga kepadanya, karena itu dia berusaha mengalihkan pemikiran sang istri. Yasna memang tidak percaya, tetapi dia tidak memiliki alasan untuk menyanggah ucapan suaminya.
"Ya sudah, aku mau bersihin pecahan gelas dulu," ucap Yasna.
"Jangan, nanti kamu kena pecahanya, biar Rani saja. Ayo, kita ke meja makan! Makanan sudah siap, kan?"
"Ayo!"
Emran merangkul pinggang Yasna. Mereka berjalan menuju ruang makan dengan beriringan. Di sana sudah ada Afrin dan Rani yang sedang menata hidangan.
"Rani, Kamu bersihin gelas pecah di balkon kamar, ya?" perintah Emran.
"Kenapa bisa pecah? jangan-jangan, Papa, melamun, ya?" tanya Afrin yang ingin tahu.
"Siapa yang melamun? Kamu itu sok tahu," kilah Emran.
"Ya kali aja, Papa lagi memikirkan cewek cantik seksi yang ada di ...." Afrin sengaja tidak melanjutkan kata-katanya.
Gadis itu ingin menggoda orang tuanya. Sudah lama dia tidak membuat masalah, terutama untuk papanya. Emran hanya mendengus kesal melihat tingkah putrinya.
__ADS_1
"Di apa? Kamu jangan mengadu domba papa sama bunda, ya!" Emran mengalihkan pandangan matanya ke arah Yasna. "Tidak ada, Bunda. Afrin saja yang suka ngerjain Papa. Kamu jangan dengerin dia"
"Benar 'kan Papa nggak ada wanita cantik?"
"Wanita cantik Papa itu cuma Bunda. Kamu nggak usah dengerin Afrin. Kamu tahu 'kan dia seperti apa?"
Emran mencoba merayu sang istri. Dia merasa lega, dengan candaan Afrin, setidaknya bisa membuat Yasna lupa akan apa yang tadi terjadi. Semoga saja wanita itu tidak mencurigainya lagi.
*****
"Sayang," panggil Aydin. Dia melihat sekitar dan tidak menemukan keberadaan sang istri. Pria itu pun mencoba untuk mencari ke tempat lain, yang biasanya menjadi tempat istrinya bersantai. Namun, Aydin tidak menemukannya.
Pria itu panik, takut terjadi sesuatu pada istrinya. Dia mempercepat langkahnya mencari Nayla di setiap sudut apartemennya.
"Sayang!" panggil Aydin lagi, kali ini dengan berteriak.
"Iya, Mas. Aku ada di toilet," sahut Nayla dengan sedikit berteriak.
Aydin yang mendengar samar-samar suara sang istri, segera mencari sumber suara dan ternyata dari kamar tamu.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Aydin sambil mengetuk pintu kamar mandi.
"Tadi aku kebelet. Kalau menunggu kamu kelamaan jadi, aku pergi ke sini!" teriak Nayla dari dalam toilet dengan berusaha menahan rasa sakitnya.
"Kamu masih lama nggak?"
"Sepertinya masih, Mas. Kalau Mas mau makan, duluan saja. Aku masih lama."
"Aku tunggu kamu di sini saja. Aku juga belum terlalu lapar." Aydin pun duduk di ranjang kamar tamu itu dengan memainkan ponselnya.
.
.
.
__ADS_1
.
.