Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
128. S2 - Kamu berbohong?


__ADS_3

Aydin dan Airin sedang dalam perjalanan menuju rumah gadis Itu. Tampak kekhawatiran di wajah pria itu, berbeda dengan Airin yang terlihat santai.


"Mas, kenapa sih, kamu buru-buru sekali?" tanya Airin.


"Bukannya ayah kamu sudah sangat kritis? Aku hanya mengkhawatirkan keaadanya," bohong Aydin.


Sebenarnya pria itu tengah gelisah memikirkan Nayla, yang saat ini sedang berada di restoran sendirian. Entah bagaimana keadaan wanita itu saat ini. Bahkan tadi Aydin tidak sempat membayar makanan mereka. Mudah-mudahan gadis itu mau menunggu sebentar.


Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya mereka sampai di depan rumah Airin. Tampak rumah itu begitu sepi, seperti tidak berpenghuni. Padahal terlihat lampu masih menyala.


"Sepi sekali, Rin. Apa ayah kamu sudah dibawa ke rumah sakit?" tanya Aydin.


"Nggak tahu, Mas. Sebaiknya kita masuk saja," ucap Airin. Gadis itu mengetuk pintu beberapa kali, hingga sang Ibu membukakan pintu.


"Assalamualaikum, Ma," ucap Airin.


"Waalaikumsalam, kamu dari mana saja?" tanya Mamanya Airin.


"Keluar sama Mas Aydin, Ma."


"Bagaimana keadaan Om, Tante?" tanya Aydin. Pria itu tidak sabar untuk segera mengantar Ayah Airin ke rumah sakit.


"Sudah lebih baik. Silakan masuk."


"Bukannya tadi om sedang kritis, Tan?"


"Kritis? Om--." Belum selesai Mamanya Airin menjawab, sudah dipotong oleh putrinya.


"Ma, sebaiknya buatin minuman dulu."


"Iya, Mama lupa. Sebentar, Tante buatin minuman dulu." Mama Airin berlalu masuk ke dalam rumah.


Aydin merasa curiga, sepertinya ada sesuatu yang aneh terjadi di sini. Dia pun menatap Airin dengan saksama. Pria itu mulai mengerti apa yang terjadi sebenarnya.


"Kamu membohongiku, ya?" tanya Aydin.


"Bohong? Bohong apa?"


"Ayah kamu baik-baik saja, tidak sakit."


"Ayah sedang sakit. Dia ada di kamar sedang tidur."


"Maksudku ayahmu tidak kritis, kan? Kamu hanya membohongiku, supaya aku mengantarkan kamu pulang, begitu?"

__ADS_1


Airin merasa gelisah, kebohongannya telah terbongkar. Tidak ada pilihan lain selain mengakuinya.


"Memang aku berbohong, memangnya kenapa?"


"Kenapa kamu melakukannya?"


"Karena aku tidak ingin kamu menjadi milik wanita tadi. Kamu milikku."


Aydin tidak menyangka, gadis yang pernah mengisi hatinya ternyata, tidak memiliki hati dan perasaan terhadap sesama wanita. Begitu teganya dia tidak memikirkan perasaan orang lain. Bahkan berbohong mengenai keadaan ayahnya yang ternyata baik-baik saja.


"Jadi, kamu sengaja melakukannya agar aku meninggalkan Nayla?"


"Namanya Nayla? Iya, aku sengaja melakukannya. Sebelum itu aku bertemu dengannya di toilet. Kamu ingatkan, saat dia pergi ke toilet? Aku bicara dengannya, aku mengatakan bahwa, kamu akan lebih memilih ikut bersamaku, daripada menemaninya makan malam."


"Apa maksudmu?" tanya Aydin dengan menyernyitkan keningnya. Dia sama sekali tidak mengerti apa maksud Airin.


Flashback on


"Aku ke toilet sebentar, ya, Mas."


"Iya."


Nayla berjalan menuju toilet. Di sana tampak sepi, tidak ada satu orang pun. Tiba-tiba ada seorang wanita yang menghampirinya dan menatapnya dari atas kepala hingga ujung kaki. Gadis itu merasa risih melihat tatapan wanita itu.


"Kamu ada hubungan apa sama Aydin?" tanya wanita itu yang tidak lain adalah Airin.


"Tentu, dia pacar saya."


"Pacar? Perasaan Mas Aydin bilang, dia sudah putus sama pacarnya. Mbak kalau mau bohong lebih pintar, ya!"


"Iya, aku memang sudah putus, tapi asal kamu tahu, Aydin itu masih perhatian sama aku dan dia juga masih cinta sama aku. Asal kamu tahu kalau Aydin itu deket sama kamu karena permintaan bundanya jadi, kamu jangan terlalu sombong," ucap Airin sambil melipat kedua tangannya di dada.


"Maaf, ya, Mbak. Saya tidak ada masalah dengan mbak jadi, jangan ganggu saya." Nayla ingin pergi dari sana. Dia tidak ingin mendengar apa yang Airin katakan, karena sudah pasti akan sangat menyakiti hatinya.


"Kamu mau lihat buktinya, kalau Aydin masih peduli sama aku dan lebih memilih aku daripada kamu?"


Ucapan Airin menghentikan langkah Nayla, yang ingin meninggalkan tempat itu.


"Maksud, Mbak?"


"Lihat saja sebentar lagi, pasti dia akan ninggalin kamu sendiri di restoran ini dan lebih memilih mengantarkan aku pulang."


"Tidak, Mas Aydin tadi bilang akan mengantarkan aku pulang," kilah Nayla. Dia yakin jika pria itu tidak akan meninggalkannya sendirian.

__ADS_1


"Bagaimana kalau kita buktikan, dia lebih milih kamu atau aku."


Setelah mengatakan itu Airin pergi meninggalkan Nayla yang mematung di tempat. Ada rasa khawatir dalam hati Nayla, bahwa apa yang dikatakan wanita tadi memang benar, jika Aydin mendekatinya karena permintaan dari Yasna dan pria itu akan meninggalkannya sendirian.


Cukup lama Nayla mematung, hingga dia tersadar dan memutuskan untuk kembali ke meja di mana Aydin berada. Gadis itu berusaha untuk baik-baik saja, padahal saat ini dia tengah gelisah.


"Kamu, kok, lama Nay?" Aydin bertanya saat melihat Nayla duduk di depannya.


"Iya, Mas. Tadi banyak orang," jawab Nayla yang diangguki Aydin.


Flashback off


Aydin mengusap wajahnya kasar. Dia sudah melakukan kesalahan dengan meninggalkan Nayla seorang diri. Pasti saat ini Gadis itu sakit hati, dengan apa yang pria itu lakukan padanya. Apalagi ditambah kata-kata Airin, sudah pasti akan semakin menyakitinya.


"Kamu benar-benar keterlaluan. Aku tidak menyangka kamu bisa setega itu."


Aydin segera pergi meninggalkan rumah itu tanpa berpamitan. Dia ingin kembali ke restoran dan meminta maaf pada Nayla. Mudah-mudahan gadis itu masih berada di sana. Pria itu mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Entahlah, Aydin harus berkata apa nanti saat bertemu dengan Nayla.


Aydin ingat, gadis itu mengatakan jika dia harus melupakan kesepakatan di antara mereka. Seharusnya dia tahu bahwa, Nayla bukan gadis yang tega membiarkan orang lain dalam keadaan kritis. Kenapa pria itu masih belum mengenal Gadis itu sudah jelas-jelas Nayla orang yang sangat baik.


Begitu sampai di restoran. Aydin segera berlari menuju tempat di mana dia meninggalkan Nayla seorang diri. Namun, tempat itu sudah kosong, bahkan meja pun sudah terlihat bersih.


"Maaf, Mbak. Wanita yang berada di meja itu di mana, ya?" tanya Aydin pada seorang pelayan.


"Sudah pulang, Mas," jawab wanita itu.


"Makanannya sudah dibayar?"


"Sudah, kalau belum mana boleh mbaknya pulang. Padahal mbaknya baru makan sedikit," jawab wanita itu dengan menatap sinis ke arah Aydin.


Pria itu menghela napas. Kali ini dia sudah benar-benar keterlaluan. Bagaimana dia bisa begitu bodoh.


"Terima kasih, Mbak, permisi."


"Iya, Mas. Lain kali datang lagi, ya! Jangan ditinggalin pacarnya lagi," sindir pelayan itu. Dia tadi juga melihat bagaimana Nayla bersedih saat Aydin memilih meninggalkannya dan pergi bersama dengan Airin. Sebagai sesama wanita dia sangat mengerti, bagaimana perasaan Nayla.


Aydin berjalan menuju mobil. Dia akan pergi ke rumah Nayla. Mudah-mudahan Gadis itu pulang ke rumahnya, meskipun sebelumnya Nayla mengatakan jika dia akan pulang ke rumah bibinya.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2