Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
269. S2 - Saling menasehati


__ADS_3

"Kenapa Mbak Rani bingung? Mbak Rani Mau nggak aku ajarin sesuatu? Mungkin ini juga perlu sedikit keberanian dari Mbak Rani sendiri, mau, kan?" tanya Afrin dengan menatap lekat kedua mata wanita yang ada di depannya.


Rani berpikir sejenak, memikirkan tawaran dari anak majikannya itu. Ada rasa takut jika Ivan marah padanya, tetapi dia tidak mungkin begini selamanya.


"Mbak, tampil cantik di depan suami itu termasuk pahala," lanjut Afrin karena tak kunjung mendapatkan jawaban dari Rani.


Afrin tahu jika wanita yang ada di depannya ini tingkat rasa malunya sangat tinggi, tetapi demi keharmonisan rumah tangga, semua itu harus disingkirkannya. Afrin saat ini sedang mencoba untuk membantunya. Dia tidak ingin rumah tangga ART bundanya hancur berantakan hanya karena rasa malu. Baginya Rani dan Ivan adalah orang-orang baik dan mereka pantas untuk bersama. Apalagi setelah mendengar cerita dari sang suami mengenai Ivan, semakin menambah keyakinannya untuk membuat Rani menjadi istri yang baik selamanya.


"Baik, saya mau, Non," ucap Rani akhirnya membuat Afrin senang mendengarnya.


"Baiklah, sekarang kita makan siang dulu, setelah itu kita mulai langkah pertama."


Mereka pun menyantap makan siang dengan semangat, meski dalam hati Rani merasa deg-degan. Dia takut jika apa yang akan dilakukannya malah semakin membuat Ivan tidak menyukainya. Akan tetapi, apa salahnya jika dia mencoba? Wanita itu tidak akan pernah tahu apa hasil jika hanya mengikuti rasa takutnya.


Benar apa yang dikatakan Afrin. Mereka sudah sah sebagai suami-istri. Bersikap memalukan dan murahan di depan suami bukanlah sebuah dosa. Dia berdoa agar nanti dia mampu melakukannya dan semoga saja Ivan tidak marah padanya karena sudah bersikap murahan.


Setelah selesai menikmati makan siang. Keduanya menuju sebuah salon. Afrin ingin melihat Rani tampil berbeda dan tempat ini adalah jalan pertama. Semua pegawai di sana sudah mengenal Afrin jadi, mereka sudah tahu apa saja yang dibutuhkan wanita itu.


"Saya tidak mau potong rambut, Non. Saya suka rambut panjang, Mas Ivan juga bilang tidak suka rambut pendek," ucap Rani saat mereka memasuki sebuah salon.


"Mbak Rani, salon itu bukan cuma tempat untuk potong rambut. Ini juga tempat treatment atau lainnya. Sudah ikut saja, nanti juga Mbak Rani akan tahu bagaimana kerja mereka. Nanti kapan-kapan datang ke sini sendiri," sahut Afrin.

__ADS_1


"Selamat siang, Nyonya Khairi. Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang pegawai. Afrin pun menjelaskan semua yang dia inginkan pada pegawai itu.


"Mari ikut kami."


Rani dan Afrin mengikuti seorang pegawai memasuki sebuah ruangan. Keduanya melakukan beberapa perawatan rambut dan wajahnya. Istri dari khairi juga ikut melakukan perawatan. Dia tidak mungkin hanya menunggu Rani, itu bisa membuatnya bosan jadi, dia ikut saja."


Cukup lama mereka melakukan semuanya. Hingga waktu sudah sore. Khairi dan Ivan pun sudah sampai di rumah keluarga Emran, sedangkan ketua wanita itu belum pulang. Mereka masih dalam perjalanan.


"Suami kita sudah sampai di rumah Bunda, Mbak," ucap Afrin setelah membaca pesan dari Khairi. "Mbak, harus ingat apa saja yang sudah dipelajari tadi."


"Tapi, saya malu," sahut Rani dengan pelan.


"Saya akan berusaha."


"Oh iya, satu lagi. Apa tidak sebaiknya Mbak Rani berhenti bekerja. Mbak Rani di rumah saja melayani Kak Ivan. Kalau Mbak Rani bosan, bisa melakukan pekerjaan lain atau bisa juga berkunjung ke rumah Bunda. Bunda juga tidak akan keberatan," ujar Afrin yang fokus pada kemudinya.


"Sebenarnya Kak Ivan juga berbicara tentang hal itu kemarin. Dia memintaku untuk berhenti bekerja sama Bu Yasna. Kak Ivan juga tidak melarangku untuk datang ke sana. Aku boleh datang ke rumah Bu Yasna sebagai tamu, bukan untuk bekerja."


Seperti perkiraannya, jika Rani tidak ingin berhenti padahal Ivan sudah memintanya. Afrin mengerti kegelisahan pria itu karenanya dia ingin membantu.


"Mbak Rani, tahu, kan, jika perintah suami itu wajib dilaksanakan, selama tidak melanggar norma dan agama? Lagipula perintah Kak Ivan juga demi kebaikan kalian. Kak Ivan ingin memiliki seorang istri yang bisa menemaninya kapan pun," ujar Afrin. "Aku mau tanya sama Mbak Rani. Apa selama ini Mbak Rani sudah melakukan semua tugas sebagai seorang istri dengan baik?"

__ADS_1


Rani menundukkan kepala. Dia tahu jika selama ini belum melaksanakan tugasnya. Banyak sekali yang wanita itu abaikan. Semua itu Rani anggap hal biasa padahal keharmonisan sebuah rumah tangga itu justru dari hal yang kecil dan sederhana.


"Saya tahu jika saya bukan istri yang sempurna. Saya tidak pernah menemani Kak Ivan hanya untuk sekadar sarapan pagi, karena aku harus datang ke rumah Bu Yasna pagi-pagi sekali untuk menyiapkan sarapan di sana. Saat makan malam pun Kak Ivan harus makan malam sangat terlambat karena menunggu kepulanganku. Bahkan terkadang kami makan di restoran," ucap Rani dengan suara pelan, membuat Afrin menghela nafas panjang.


Ternyata banyak sekali yang harus diperbaiki Rani. Afrin yakin jika wanita itu tahu apa kesalahannya dan apa yang harus diperbuat.


"Karena itu, mbak harus berhenti bekerja. Bunda juga tidak akan melarang Mbak Rani datang sebagai tamu. Mbak tidak usah takut, kami akan selalu menganggap Mbak Rani sebagai keluarga. Bukankah bunda juga mengatakan hal seperti itu? Bunda justru akan merasa sedih jika keberadaannya sebagai penyebab keretakan rumah tangga orang lain. Apalagi itu rumah tangga Mbak Rani dan Kak Ivan. Mbak mengerti, kan maksudku? Bukan maksudku untuk membuat Mbak Rani jauh dengan keluargaku. Ini semua demi kebaikan bersama."


"Saya mengerti, Non. Memang benar sebagai seorang istri kita harus patuh pada suami kita. Itu juga yang sering aku lihat di keluarga Bu Yasna, hingga membuat keluarganya harmonis sampai detik ini. Aku juga ingin memiliki keluarga seperti itu. Mudah-mudahan Tuhan juga berbaik hati menjadikan keluarga aku seperti yang aku lihat di keluarga Bu Yasna."


"Amin, mudah-mudahan rumah tangga kita semua selalu baik meskipun tidak bisa seperti Bunda. Setidaknya kita sudah berdoa dan berusaha untuk menjaga keutuhan rumah tangga. Selebihnya kita serahkan kepada Tuhan."


Semua orang pasti menginginkan rumah tangganya baik-baik saja dan juga bahagia. Hanya tinggal bagaimana kita berusaha untuk mewujudkannya. Semua itu tidak bisa hanya dilakukan oleh satu orang saja. Harus dilakukan bersama-sama antara laki-laki dan perempuan.


Masih banyak yang perlu dipelajari oleh Afrin dan Rani. Keduanya tidak akan pernah malu untuk bertanya jika itu untuk kebaikan bersama.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2