Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
289. S2 - Titik terang


__ADS_3

"Assalamualaikum, Bunda!" teriak Afrin membuat Yasna yang ada di ruang keluarga terkejut.


"Waalaikumsalam, astaghfirullah, kamu kenapa selalu teriak-teriak, sih, Dhek!" tegur Yasna.


Afrin hanya menunjukkan deretan giginya kemudian memeluk sang bunda. Yasna senang melihat kedatangan putrinya. Dia memang sengaja meminta putrinya datang untuk makan malam. Wanita itu juga mengundang Ivan dan Rani.


Malam ini Yasna ingin mengadakan acara makan malam keluarga. Sudah lama mereka tidak kumpul bersama. Jika tidak seperti ini, tak akan ada kebersamaan. semua orang sibuk dengan kegiatan masing-masing.


"Assalamualaikum," ucap Khairi yang baru datang dengan membawa buah. Pria itu segera mendekati mertuanya dan mencium punggung tangan mereka bergantian.


"Waalaikumsalam, apa istrimu di rumah juga teriak-teriak seperti tadi?" tanya Yasna pada menantunya.


"Iya, Bunda," jawab Khairi dengan sedih yang dibuat-buat . Afrin melotot ke arah sang suami, bisa-bisanya pria itu berbohong.


"Enggak, Bunda, sumpah. Aku nggak pernah teriak-teriak di rumah mertua. Mas Khairi yang bohong!" seru Afrin cepat. "Kamu kenapa jelek-jelekin aku gitu?" tanya Afrin sambil cemberut.


Khairi terkekeh dibuatnya. Pria itu juga yakin jika Yasna tahu akan kebohongannya yang disengaja. Dia hanya ingin menggoda sang istri. Melihat Afrin yang merajuk membuat dia merasa gemas ingin membawa istrinya pulang saja.


"Tidak, Bunda. Dia adalah istri paling rajin dan paling ramah. Dia juga selalu membuat kami bahagia memilikinya jadi, tidak mungkin dia teriak-teriak. Itu hanya akan dilakukannya di depan orang tuanya," ujar Khairi yang justru membuat Afrin malu. Suaminya terlalu berlebihan dalam memuji.


"Kamu jangan terlalu memujinya, besar kepala tuh lihat mukanya saja sudah memerah gitu. Tinggal makan, udah mateng itu," sahut Aydin yang baru menuruni tangga.


Afri hanya mendengus kesal. Selalu saja pria itu tidak suka jika sedikit saja melihat adiknya bahagia. Aydin dan lainnya terkekeh melihat wanita itu cemberut. Pintu depan diketuk oleh seseorang.


"Itu pasti Rani sama suaminya," ucap Yasna.


"Bunda, ngundang Mbak Rani juga?" tanya Afrin.


"Iya, kita semua makan sama-sama, biar ramai. Sebentar, biar Bunda lihat dulu,"


Yasna pun keluar untuk melihat siapa tamunya yang datang. Ternyata benar Rani dan Ivan. Wanita itu sudah menganggap pasangan suami istri itu anaknya jadi, dia juga memintanya untuk bergabung makan malam bersama. Biar kebersamaan ini terasa lebih menyenangkan.


"Kenapa tidak langsung masuk saja? Pintunya nggak ditutup, kan!" seru Yasna saat melihat mereka. "Ayo, masuk!"

__ADS_1


"Iya Bu," sahut Rani.


Mereka memasuki rumah, tampak semua orang sudah berkumpul di sana. Rani menyapa semua orang yang disambut dengan hangat juga oleh keluarga Emran. Semuanya berbincang banyak hal mengenai keluarga masing-masing. Yasna sebelumnya sudah mewanti-wanti supaya tidak ada pembahasan mengenai pekerjaan untuk malam ini. Semua orang pun setuju. Mereka juga perlu menyegarkan otak mereka dari segala hal tentang pekerjaan.


"Makanan sudah siap, Bu!" seru Wulan.


"Wulan, kamu ke sini dulu. Saya mau kenalin kamu sama semua anak-anak saya."


"Mbak Rani!" panggil Wulan.


"Mbak Wulan, apa kabar?" tanya Rani sambil memeluk temannya itu.


"Baik, kamu semakin cantik."


"Kamu bisa saja."


Yasna pun memperkenalkan satu persatu. Wulan hanya mengangguk dan tersenyum. Dia senang bisa bekerja di keluarga ini. Semua orangnya baik dan ramah, meski hingga kini dia masih takut jika ada Emran.


Semua orang makan dengan lahap sambil berbincang. Yasna senang melihat orang yang disayangi berkumpul seperti ini. Semoga kebahagiaan ini tidak pernah pergi sampai kapan pun. Setelah selesai makan malam mereka kembali ke ruang tamu.


Ponsel dalam saku Khairi bergetar, pertanda ada pesan masuk. Ternyata dari detektif, tadi pria itu menanyakan perkembangan pencarian mamanya. Namun, sekarang detektif itu mengatakan jika belum ada tanda-tanda keberadaan Mama Nur. hanya ada bukti kepergiannya ke luar kota menggunakan bus yang terekam kamera.


Tidak ada yang tahu wanita itu berhenti di mana. Kini hanya menunggu pengecekan di setiap pemberhentian bus. Saat tengah asyik berbalas pesan dengan orang kepercayaannya, dia tidak tahu jika di depannya ada Wulan. Pria itu menutup aplikasi pesan dan berjalan akhirnya menabrak wulan, ponselnya pun terjatuh.


"Aduh." Wulan jatuh terduduk. "Maaf, Tuan. Saya tidak sengaja."


"Justru saya yang minta maaf, saya tidak lihat tadi," sahut Khairi yang merasa tidak enak.


Wulan mencoba berdiri sambil memungut ponsel Khairi yang terjatuh. Afrin yang tidak jauh pun mencoba membantu wanita itu berdiri.


"Bu Aini," gumam Wulan saat melihat foto yang berada di layar ponsel Khairi.


"Bu Aini? Mbak Wulan kenal sama orang yang ada di foto ini?" tanya Afrin yang ada di sampingnya. Dia tahu jika Khairi menjadikan foto Mamanya saat hamil sebagai wallpaper ponsel.

__ADS_1


"Iya, Non. Dia guru ngaji saya dulu, bahkan sampai sekarang beliau masih mengajar," sahut Wulan.


"Dia tinggal di mana? Mbak, tahu alamatnya, Kan?" tanya Khairi.


"Mbak, yakin kalau benar wanita yang ada di dalam foto ini yang Mbak Wulan maksud? Mbak, tidak salah orang, kan?" tanya Afrin ingin memastikan.


Wanita itu tidak ingin sang suami sudah bahagia mendapat petunjuk, ternyata bukan dia orang yang sedang dicari. Apalagi ini sudah bertahun-tahun pasti wajah Mama Nur juga berubah.


Khairi senang ada titik terang. Meski belum sepenuhnya benar, tetapi setidaknya ada harapan untuknya agar lebih bersemangat mencarinya. Pria itu menatap Wulan menunggu jawaban dari mulut wanita itu mengenai ibu kandungnya. Berharap berita baik yang didengar.


"Iya, Non. Saya yakin itu Ibu Aini karena beliau mengajar saya mengaji sejak saya kecil. Meski sekarang beliau sudah berumur, tapi saya masih ingat wajahnya saat masih muda dulu dan sampai sekarang pun tidak berubah, tetap cantik."


"Sekarang masih tinggal di desa, Mbak?" tanya Khairi.


"Sepertinya masih, coba saya tanyakan pada ibu saya di kampung, tapi maaf ada kepentingan apa, Nona dan Tuan dengan Bu Aini?"


"Dia I ....." ucapan Khair dipotong Afrin.


"Kami ada urusan dengan beliau sedikit. Kemarin ada kolega dari suami saya yang ingin mencari keberadaan beliau karena ada sesuatu yang penting. Kolega suami saya dulunya teman Bu Aini di panti," sahut Afrin cepat.


Dia tidak mengenal Wulan, apa wanita itu bisa dipercaya atau tidak. Untuk saat ini lebih baik menghindari sesuatu yang bisa saja mempersulit untuk menemukan Bu Aini.


Khairi menyernyitkan keningnya saat sang istri menjawab pertanyaan Wulan. Kenapa tidak terus terang saja? Akan tetapi, pria itu tahu pasti ada alasannya hinga membuat Afrin melakukan hal itu.


Kini mereka menunggu berita dari ibunya Wulan. Apa Bu Nur Aini masih tinggal di sana atau tidak. Semoga harapan mereka sesuai dengan kenyataannya.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2