Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
290. S2 - Ke luar kota


__ADS_3

"Tunggu sebentar, saya akan tanya sama ibu. Apa Bu Aini masih mengajar atau tidak," ucap Wulan yang diangguki Khairi dan Afrin.


Wanita itu menjauh dari majikan dan keluarganya. Dia ingin menghubungi ibunya dan menanyakan tentang Bu Aini. Sebenarnya Wulan sedikit ragu, tetapi mengingat bagaimana kebaikan Yasna, wanita itu pun percaya. Apalagi Rani juga cukup dekat dengan Afrin, berarti mereka orang baik.


"Memangnya siapa wanita yang bernama Aini itu, Frin?" tanya Bunda Yasna berbisik.


"Dia ibu kandung Mas Khairi, Bunda. Nanti saja ceritanya, tidak enak disaat seperti ini," jawab Afrin dengan berbisik pula.


Yasna mengangguk dan tidak bertanya lagi. Dia cukup tahu jika situasinya tidak tepat. Apalagi tadi Afrin juga mengatakan hal yang berbeda pada asistennya. Wulan kembali setelah menutup panggilannya. Dia berjalan mendekati Khairi dan Afrin.


"Bu Aini sudah berhenti mengajar, Non, tapi masih tinggal di desa. Kata ibu, beliau sering jatuh sakit sejak setahun yang lalu," ujar Wulan.


"Sakit? Sakit apa?" tanya Khairi.


"Ibu saya tidak tahu, Tuan. Ibu hanya bilang, Mbak Laily sering membawanya ke bidan."


"Laily? Apa dia anak Bu Aini?" tanya Khairi.


"Iya, Tuan. Maklumlah, kami orang kurang mampu, untuk ke dokter pasti butuh biaya yang mahal apalagi ke rumah sakit jadi, Mbak Laily hanya membawanya ke bidan."


"Mbak Wulan, boleh saya minta alamat beliau? Kami ingin menjenguknya. Mudah-mudahan kami bisa membantu pengobatannya," pinta Afrin.


"Iya, Mbak. Boleh saya minta alamatnya! Atau, Mbak, ikut kami saja ke sana. Tunjukan kami jalan ke kampung sana," usul Khairi kemudian beralih menatap Yasna. "Boleh, kan, Bunda, saya bawa Mbak Wulan?"


Semua menatap ke arah Yasna, menunggu jawaban dari wanita itu. Yang ditatap merasa kebingungan karena baginya itu bukanlah hal yang perlu izin darinya. Wulan berhak pergi ke mana pun.


"Kenapa kalian semua menatap Bunda seperti itu?" tanya Yasna sambil menatap semua orang.


"Bunda, izinin atau tidak, Mas Khairi bawa Mbak Wulan buat nunjukin tempat tinggal Bu Nur Aini?" tanya Afrin.

__ADS_1


"Itu terserah Wulan, tanya saja sama orangnya. Bunda nggak pernah larang dia pergi karena memang belum terikat pekerjaan sama Bunda. Dua hari lagi, baru keputusan buat Mbak Wulan diterima apa nggak!" jawab Yasna.


"Bu, kalau saya mau pergi, nggak ada pengaruhnya dengan penilaian, Ibu, terhadap pekerjaan saya, kan?" tanya Wulan.


"Tidak ada, Mbak. Lagi pula, menolong orang juga baik."


"Alhamdulillah, kalau begitu saya mau, Non, Tuan, tapi nanti saya boleh, kan, mampir ke rumah ibu saya? Sudah dua tahun saya tidak pulang," ucap Wulan pada Afrin dan Khairi. Wanita itu tersenyum membayangkan wajah bahagia ibu dan anaknya.


"Dua tahun? Kenapa Mbak nggak pulang selama dua tahun?" tanya Afrin.


"Biaya pulang mahal, Non. Belum lagi para saudara pasti minta oleh-oleh. Kalau sekarang ikut sama, Non, bisa buat alasan mengantar jadi, nggak bawa apa-apa," jawab Wulan polos.


Afrin hanya mengangguk. Dia tidak lagi bertanya karena tidak tahu apa saja kesulitan yang dilalui asisten bundanya itu.


"Jadi, kapan kita bisa pergi, Mbak? Atau sekarang saja, bagaimana?" tanya Khairi yang tidak sabar ingin bertemu dengan ibu kandungnya.


"Ini sudah malam, Mas. Besok saja, Mbak Wulan juga perlu istirahat," ucap Afrin yang merasa tidak enak pada Wulan yang sudah pasti capek karena seharian sudah bekerja.


"Saya sih terserah, Tuan. Apa Anda kuat menyetir selama 5 jam? Kalau pun kita berangkat sekarang juga, belum bisa bertemu dengan Bu Aini karena kita sampainya sekitar tengah malam. Tidak mungkin kita ke rumah orang jam segitu," sela Wulan.


Khairi dan Afrin tampak berpikir bagaimana jalan keluarnya agar sama-sama tenang. Wanita itu tahu jika sang suami juga tidak akan bisa tenang sebelum bisa bertemu dengan mamanya. Begitu pun dengan Wulan yang tidak sabar ingin bertemu dengan anaknya.


"Baginya saja, Mbak Wulan, siap-siap sekarang. Saya dan suami mau pulang sebentar mau ambil baju dan keperluan lainnya. Kita juga perlu seseorang buat gantiin nyetir mobil. Nanti jam sebelas kita berangkat jadi kita sampainya sekitar subuh. Kita bisa ke rumah orang tua Mbak Wulan dulu. Rumah Bu Aini tidak jauh, kan, dari rumah, Mbak Wulan?" tanya Afrin.


"Tidak, Non, masih satu kampung. Hanya masuk gang saja," jawab Wulan.


"Bagaimana, Mas?"


"Setuju, Sayang," sahut Khairi.

__ADS_1


"Kalian ajak Pak Hari saja. Biar besok Papa bawa mobil sendiri," sela Emran.


"Iya, Pa," sahut Afrin setelah berpikir sejenak. "Aku hubungi Pak Hari dulu."


Afrin pun menghubungi ponsel Pak Hari dan memintanya untuk ikut ke luar kota. Dia juga menjelaskan jika suaminya butuh orang untuk bergantian menyetir mobil. Untung saja pria itu setuju untuk ikut, kebetulan tidak ada keperluan.


"Alhamdulillah, Pak Hari setuju. Kita pulang dulu, Mas," ajak Afrin. "Kita juga harus bawa beberapa foto sebagai bukti kalau kamu anaknya papa. Takutnya Bu Nur tidak percaya," lanjutnya berbisik yang diangguki suaminya.


Khairi dan Afrin berpamitan pada semua orang untuk pulang terlebih dahulu. Sebenarnya Yasna masih ada rencana untuk barbeque, tetapi mengingat apa yang akan dilakukan menantu dan putrinya itu lebih penting jadi, dia merelakan mereka pulang. Acara pun terpaksa wanita itu batalkan. Tidak mungkin mereka bersenang-senang di tengah masalah yang menimpa Khairi dan Afrin.


Ivan dan Rani pun ikut berpamitan pulang. Mereka juga tidak ada kepentingan lagi di rumah itu. Yasna juga tidak melarang karena acara sudah dia batalkan. Lain kali semoga mereka bisa berkumpul lagi.


"Mas, apa kita akan memberitahu Papa Hamdan dan mama Meri, mengenai keberadaan Mama Nur?" tanya Afrin dalam perjalanan.


"Sebaiknya diberitahukan saja, Sayang. Cepat atau lambat juga mereka akan tahu. Kalau nanti kita di sana tidak bertemu dengan Mama Nur, tidak apa-apa. Papa dan mama juga pasti akan mengerti."


Afrin mengangguk menuruti keinginan suaminya. Ada benarnya juga apa yang dikatakan Khairi. Kejujuran memang diperlukan saat ini. Mudah-mudahan saja Mama Meri tidak merasa terbebani dengan apa yang akan terjadi nanti.


Sebelum sampai rumah, Afrin meminta sang suami untuk singgah di toko mainan. Dia ingin membelikan anak Mbak Wulan beberapa mainan dan boneka. Tadi wanita itu sempat bertanya jenis kelamin anaknya Wulan yang ternyata perempuan.


Mobil yang mereka tumpangi akhirnya sampai juga di rumah. Khairi merapikan beberapa pakaian dan juga beberapa foto yang ditemukan di gudang. Untung saja Papa Hamdan dan Mama Merry sudah tidur jadi, mereka tidak perlu beralasan untuk pergi malam ini.


Keduanya hanya berpesan pada Bik Asih yang kebetulan masih terjaga. Khairi menjelaskan jika dia harus ke luar kota malam ini juga. Mengenai apa pekerjaannya biar nanti pria itu sendiri yang menjelaskan. Wanita paruh baya itu hanya mengangguk, menuruti permintaan anak majikannya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2