
"Kenapa Khairi lama sekali, ya?" gumam Nur.
"Ibu, tenang saja. Mas Khairi pasti bisa membujuknya," ucap Afrin sambil mengusap bahu mertuanya.
Benar saja, tidak berapa lama, Khairi dan Laily turun sambil bergandengan tangan. Nur dan Afrin senang melihatnya. Itu berarti gadis itu sudah sepenuhnya menerima sang kakak karena sebelumnya, Laily tidak mau bersentuhan dengan Khairi.
"Semua sudah siap, kan? Ayo, kita berangkat!" ajak Khairi.
"Sudah," jawab Nur dan Afrin secara bersamaan.
Mereka semua pun keluar menuju parkiran. Begitu sampai di mobil, Khairi membuka pintu depan untuk adiknya. Laily sempat bingung mau menerima tawaran kakaknya atau tidak, tapi ucapan Khairi membuat gadis itu menerimanya.
"Aku dibelakang saja, Kak. Ini tempat Kak Afrin," tolak Laily.
"Tidak apa-apa, kakak kamu di belakang sama ibu," sahut Khairi.
Afrin hanya diam mendengarkan, tanpa mau ikut berbicara. Kedua tangannya mengepal. Dia kesal karena sang suami tidak meminta izin padanya untuk duduk di belakang. Wanita itu merasa dirinya tidak lagi penting.
Memang tidak ada salahnya jika Laily duduk di depan. Akan tetapi, alangkah baiknya berbicara dulu dan meminta izin padanya sebagai istri. Mereka juga punya mulut.
Sepanjang perjalanan Afrin hanya diam sambil memainkan ponselnya. Dia hanya menanggapi kata-kata sang mertua seadanya. Entah kenapa tiba-tiba wanita itu ingin menangis. Namun, Afrin berusaha untuk tidak meneteskan air matanya. Mood-nya benar-benar hancur hari ini.
Begitu sampai mall, Khairi juga lebih memilih menggandeng tangan adiknya daripada sang istri. Afrin pun berjalan bersama mertuanya. Sepenjang berkeliling mall Khairi sama sekali tidak berinteraksi dengan istrinya. Hal itu tentu saja semakin membuat Afrin kesal.
Dia mengerti jika sang suami melakukan hal itu untuk menebus waktunya selama ini, tetapi apa harus sampai melupakannya? Afrin sama sekali tidak menikmati jalan-jalan hari ini. Padahal sebelumnya wanita itu sangat antusias dengan acara ini. Ingin sekali dia cepat pulang dan tidur di kamarnya.
Sore hari mereka baru pulang. Awalnya Khairi ingin mengajak makan di restoran. Namun, Bu Nur menolak karena di apartemen ada banyak makanan. Pria itu pun menurutinya, mereka bisa makan di luar kapan-kapan.
Seperti saat berangkat tadi, dalam perjalanan pulang pun Afrin diam saja di belakang sambil memainkan ponselnya. Tidak ada niat untuk bercerita tentang jalan-jalannya tadi atau cerita yang lain.
Begitu sampai, mereka semua turun. Sebenarnya Afrin ingin menunggu di mobil saja, tetapi dia merasa tidak enak dengan mertuanya. Akhirnya wanita itu ikut turun.
"Kalian malam ini makan di sini, ya?" tawar Bu Nur.
"Maaf, Bu. Kami makan malam di rumah saja," tolak Afrin. Tadi pagi dia dan suaminya sudah makan di sini, kalau sekarang makan malam di sini juga, itu pasti menyakiti hati Hamdan dan Merry.
"Kita makan malam di sini saja, Sayang. Aku sudah lapar banget. Ayo!" Tanpa menunggu jawaban dari Afrin, Khairi berlalu menuju ruang makan bersama ibu dan adiknya.
__ADS_1
Mau tidak mau, Afrin mengikuti mereka ke ruang makan. Dia merasa sikap Khairi hari ini sangat menyebalkan.
"Duduklah dulu, ibu mau memanaskan makanan," ucap Bu Nur.
Usai memanaskan makanan, Bu Nur menyiapkannya di meja dengan dibantu Laily. Afrin sama sekali tidak membantu. Perasaannya benar-benar kacau hari ini. Dia sama sekali tidak bisa melakukan apa pun dan berpikir apa pun.
"Ayo, kita mulai makannya!" seru Bu Nur.
"Iya, Bu."
"Afrin kenapa makan sedikit sekali?" tanya sang mertua saat melihat Afrin hanya mengambil sedikit nasi.
"Saya sedang diet, Bu," jawab Afrin berbohong.
"Badan kamu sudah bagus begitu, masih diet juga."
"Iya, Bu."
Afrin memakan makanannya dengan cepat agar bisa pulang dengan cepat juga. Namun, sang suami malah seperti memperlambat makannya. Ingin sekali wanita itu marah, tetapi tidak mungkin di depan keluarganya.
Afrin terkejut mendengarnya. Dia sengaja makan sedikit dan mempercepatnya agar bisa pulang. Kenapa Khairi malah mengiyakan keinginan adiknya? Bukankah tadi pagi pria itu mengatakan pada Mama Merry untuk makan malam di rumah?
"Mas, aku ada tugas dari kampus. Semuanya ada di rumah. Besok saja, ya, ngajarin Laily?" tawar Afrin.
"Kamu bisa ngerjainnya nanti malam, Sayang. Aku bakal bantu kamu, kok!" ujar Khairi.
Kesabaran Afrin sudah pada batasnya. Sepertinya hari ini terpaksa harus pulang sendiri naik taksi. Terserah Khairi jika pulang malam atau bahkan tidak pulang sekalipun. Meski Papa Hamdan dan Mama Merry bukan orang tuanya, tapi dia tetap harus menghormatinya. Terlepas kesalahan apa saja yang mereka lakukan, itu bukan urusan ya
"Kalau begitu sebaiknya aku pulang naik taksi saja. Tugasku banyak, takutnya tidak keburu," ucap Afrin yang beranjak dari duduknya kemudian berpamitan pada Nur dan Laily. "Bu, aku pulang dulu, ada yang harus aku kerjakan."
"Jangan naik taksi, berbahaya. Sebaiknya pulang bareng Khairi saja nanti," cegah Bu Nur.
"Tidak apa-apa, Bu. Ini juga baru jam tujuh, saya pamit, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Sayang, kenapa tidak nanti saja, pulang sama aku? Nanti aku bantu kamu ngerjain tugasnya," bujuk Khairi.
__ADS_1
"Tidak perlu, Mas. Tugasku sangat banyak, pasti tidak akan selesai."
"Aku bantu sampai selesai nanti. Kamu juga pernah melihatnya, kan, aku begitu cepat menyelesaikannya. Ak—"
"Tidak perlu, Mas," sahut Afrin dengan menunjukkan wajah kesal.
Khairi pun tidak lagi menahan sang istri. Dia tahu jika saat ini Afrin sedang kesal, entah karena apa, pria itu sama sekali tidak tahu. Khairi tidak merasa membuat sebuah kesalahan.
Afrin pun akhirnya bisa meninggalkan apartemen dan pulang ke rumah mertuanya—Papa Hamdan. Wanita itu menaiki taksi. Cukup lama perjalanannya karena memang jalanan sangat macet.
*****
"Kamu kemarin di kampung ngapain aja, Wulan?" tanya Yasna saat keduanya sedang memasak untuk makan siang.
"Nggak ke mana-mana, sih, Bu. Di rumah saja, nemenin anak main. Sudah lama nggak ketemu," jawab Wulan.
"Emm ... kamu sudah lama kenal Bu Nur?" tanya Yasna.
"Iya, Bu. Memang ada apa?"
"Saya mau tahu saja, Bu nur itu orangnya seperti apa?"
Wulan tersenyum, dia tahu pasti majikannya ini mengkhawatirkan putrinya.
"Ibu, jangan khawatir. Bu Nur orangnya baik, pasti akan memperlakukan Non Afrin dengan baik juga," ucap Wulan seolah tahu apa yang dipikirkan Yasna.
"Saya melihatnya juga seperti itu, tetapi seorang ibu, tetap saja ada perasaan khawatir. Takut jika ada ketidak cocokan diantara mereka. Bukan maksud saya merendahkan Bu Nur, tapi lingkungan juga terkadang mempengaruhi. Afrin terbiasa hidup mewah, sedangkan Bu Nur ... begitulah," ujar Yasna. "Semoga saja semua baik-baik saja."
"Amin."
Wulan tiba-tiba teringat dengan putrinya di kampung. Suatu hari nanti, dia pasti akan mengkhawatirkannya seperti Yasna saat ini. Wanita itu juga mempunyai doa yang sama seperti majikannya, semoga semua baik-baik saja.
.
.
.
__ADS_1