Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
132. S2 - Keinginannya sendiri


__ADS_3

Cukup lama Nayla menangis dalam pelukan Yasna. Wanita yang sudah dia anggap sebagai ibunya sendiri. Yasna hanya diam sambil mengusap punggung gadis itu.


Yasna tahu, bahwa gadis yang ada dalam pelukannya ini sedang dalam dilema, tapi dia juga tidak bisa memaksakan kehendaknya. Wanita itu tidak ingin kejadian Aydin terulang pada Nayla. Biarlah gadis itu sendiri yang memutuskan apa yang terbaik untuk dirinya. Nayla sudah cukup dewasa untuk memilih apa yang terbaik untuk dirinya sendiri.


Yasna juga yakin, jika Nayla memang berjodoh dengan Aydin, pasti Tuhan akan memberikan jalan untuk mereka. Entah jalan yang seperti apa.


"Terima kasih, Bunda. Maaf, baju Bunda jadi basah," ucap Nayla Setelah dia mengurai pelukannya. Gadis itu berusaha mengusap wajahnya yang dipenuhi dengan air mata.


"Tidak apa-apa, justru Bunda senang kalau kalian mau menjadikan Bunda sebagai sandaran. Apa pun yang kamu rasakan, sedih, senang, suka, duka, bicarakan semuanya sama Bunda," sahut Yasna dengan tersenyum.


"Iya, Bunda."


"Bunda akan menjadi pendengar yang setia untuk kamu."


"Terima kasih, Bunda. Maaf aku ngerepotin Bunda."


"Bunda tidak merasa direpotkan," sahut Yasna. "Kapan acara pertunangan kamu?"


"Aku tidak tahu, Bunda. Semuanya diatur sama Tante Sarah," jawab Nayla.


Yasna mengangguk, dia mengerti apa yang dimaksud Nayla. Ada kesedihan di wajah gadis itu saat mengatakannya dan itu sangat terlihat oleh wanita itu.


"Oh, ya, gimana butik sekarang? Apa Selalu ramai setiap hari?" tanya Yasna berusaha mengalihkan pembicaraan. Dia tahu Nayla tidak nyaman dengan pembahasan pertunangannya.


"Alhamdulillah, setiap hari pembeli semakin bertambah. Bunda mau lihat-lihat atau Bunda mau ambil gaun? Tidak apa-apa, kok!"


"Benar, nih, boleh? Bunda ambil satu gaun, ya?"


"Boleh, Bunda. Bukan hanya satu, dua atau tiga juga boleh."


"Bagaimana kalau Bunda ambil semuanya."


"Kalau semuanya, jangan, Bunda. Saya mau jualan apa, kalau semua diambil?" Mereka berdua terkekeh bersama-sama.


"Ayo, temenin Bunda lihat-lihat," ajak Yasna.


"Mari, Bunda!"


Mereka keluar bersama. Di sana tampak beberapa pembeli yang sedang dilayani oleh Fika dan temannya. Nayla sudah menambah satu pegawai lagi. Setiap hari, semakin bertambah jadi, Fika tidak bisa menanganinya seorang diri.

__ADS_1


Cukup lama Yasna dan Nayla berkeliling, melihat-lihat beberapa gaun. Akhirnya dia menjatuhkan pilihannya pada sebuah gaun yang terlihat simple. Nayla sudah beberapa kali menolak uang pembayaran dari Yasna, tapi wanita itu memaksa akhirnya diputuskan jika dia hanya membayar separuh.


"Kita duduk dulu, Bunda, di ruangan saya. Bunda nggak ke mana-mana, kan?"


"Boleh, jemput Afrin juga sore, dia ada tambahan les." Mereka kembali ke ruangan Nayla. Keadaan gadis itu sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Dia terlihat lebih santai.


"Bunda, boleh aku bertanya sesuatu dan aku harap Bunda menjawabnya dengan jujur," ucap Nayla mengawali pembicaraan. Gadis itu menatap Yasna, berharap orang yang dia panggil bunda itu, mau mengatakan yang sejujurnya.


"Iya, silakan saja bertanya. Kalau Bunda tahu, pasti Bunda jawab."


"Apa benar Mas Aydin mendekatiku karena permintaan Bunda?"


Yasna tidak terkejut akan hal itu, karena sebelumnya Aydin juga sudah menceritakan apa yang Airin katakan pada Nayla.


"Dulu, waktu pertama kali, iya, tapi tidak untuk akhir-akhir ini. Kamu ingat, kan! Saat pertama kali kamu ke rumah Bunda atau saat kamu, diantar Aydin pulang waktu ayah saya pulang dari rumah sakit?" tanya Yasna yang dijawab dengan anggukan oleh Nayla.


"Saat itu memang Bunda ingin mendekatkan kalian, tapi Aydin, menolak karena dia sudah memiliki kekasih. Akhirnya Bunda tidak memaksanya lagi. Namun, setelah dia putus dari kekasihnya tanpa Bunda tahu, dia sudah dekat sama kamu. Dia mendekati kamu itu murni karena keinginannya sendiri. Dia kagum sama kamu karena di usiamu yang saat ini, kamu sudah sangat mandiri dan juga sangat dewasa. Bunda yakin bukan hanya Aydin yang tertarik sama kamu. Banyak pria di luar sana yang pasti akan jatuh cinta sama kamu, setelah mengenal siapa kamu sebenarnya. Jujur Bunda sangat setuju saat Aydin mengatakan jika dia ingin dekat dengan kamu. Bunda juga support dia, tapi jika kamu menolaknya, Bunda juga tidak akan memaksa."


"Jadi gadis itu berbohong, ya, Bunda?"


"Maksud kamu mantan pacarnya Aydin?"


"Siapa pun dia, baik mantan pacar Aydin atau wanita lain, kamu jangan langsung percaya pada mereka. Kamu harus cari tahu dulu apa yang sebenarnya terjadi."


"Pasti Mas Aydin juga sudah menceritakan tentang apa yang terjadi di restoran waktu itu, ya, Bunda?"


Nayla yakin, pasti Aydin menceritakan apa yang terjadi pada Yasna. Karena sedari tadi wanita itu terlihat tenang saat dia bertanya. Gadis itu juga iri, Aydin mempunyai seseorang yang bisa dijadikan tempat curhatnya. Sementara Nayla hanya bisa memendam semuanya dalam hati.


"Iya, dia cerita sama Bunda semuanya. Dia juga cerita tentang kebohongan Airin, yang mengatakan jika ayahnya sedang kritis, tapi di sini kan Aydin tidak tahu kalau Airin itu berbohong dan dia sengaja ingin Aydin meninggalkan kamu sendiri di restoran. Coba kamu pikir, jika itu memang benar bagaimana? Aydin akan menjadi orang yang sangat jahat, jika sampai kejadian buruk menimpa Ayah Airin. Rasa bersalahnya akan selalu tumbuh, tapi Bunda juga mengerti perasaan kamu. Bagaimana seorang wanita ditinggal di sebuah restoran seorang diri. Apa pun yang terjadi nanti, Bunda harap jangan pernah putus silaturahmi antara kamu dan Aydin. Meski kalian tidak bisa bersatu, setidaknya kalian bisa menjadi saudara."


Yasna hanya bisa memberi nasehat saja. Selebihnya, biar mereka sendiri yang memutuskan jalan mana yang akan ditempuhnya.


'Bagaimana aku bisa menjadikan dia saudara, saat hatiku sudah terpaut padanya, Bunda.' batin Nayla.


Pintu ruangan Nayla diketuk seseorang dari luar. Gadis itu pun membukanya dan ternyata ada Aydin di sana. Dia sempat terkejut, tetapi dia berusaha biasa saja.


"Mas Aydin!"


"Hai, Nay. Apa kabar?"

__ADS_1


"Baik, Mas. Silakan masuk."


"Ada Bunda juga di sini?" tanya Aydin saat melihat Yasna duduk di sofa.


"Iya, Bunda dari tadi. Bunda juga ambil baju satu," jawab Yasna. "Kamu nggak bolos kerja, kan?"


"Tidak, Bunda. Ini jam makan siang," jawab Aydin yang diangguki Yasna.


"Sepertinya, Bunda harus kembali. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan di rumah."


"Memang Bunda mau mengerjakan apa? Semuanya sudah dikerjakan sama Mbak Rani," tanya Ayden yang tidak mengerti maksud dari Yasna.


"Sebaiknya kamu pikirkan cara untuk menguatkan hati, untuk mendengar apa yang akan Nayla katakan," bisik Yasna yang hanya bisa didengar oleh Aydin.


Pria itu mengernyitkan keningnya. Dia tidak mengerti apa yang Bundanya katakan. Aydin ingin beryanya, tetapi Yasna sudah lebih dulu pergi.


"Nay, Bunda pamit dulu," pamit Yasna. "Hati-hati, Nay, sama buaya nanti kamu diseret lalu ditenggelamkan ke dasar danau," sindir Yasna


Aydin memutar bola matanya malas. Dia sangat tahu kalau Bundanya suka menyindir. Biarkan saja lah yang penting dia bisa bertemu dengan Nayla dan bicara dengan gadis itu.


Yasna berlalu meninggalkan kedua remaja, yang sama-sama sedang dilema. Mereka sama-sama tidak tahu apa yang harus mereka katakan.


"Apa ada sesuatu yang penting? Hingga membawa Masa Aydin ke sini?" tanya Nayla setelah terdiam cukup lama.


"Apa harus ada alasan untuk menemuimu?"


"Kalau tidak ada apa-apa kenapa, Mas, datang ke sini?"


"Aku merindukanmu," ucap Aydin semakin membuat Nayla merasa resah.


Keheningan kembali terjadi. Nayla tidak tahu harus menjawab apa. Gadis itu hanya menunduk, menyembunyikan wajahnya yang sedang sedih.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2