Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
79. Menitipkan anak 2


__ADS_3

"Aku harus tahu dulu alasannya, kenapa dia menitipkan anaknya di sini? Kalau masuk akal, aku akan menerimanya, tapi kalau alasannya mengada-ada. Aku boleh, kan, melarang mereka tinggal di sini?" tanya Yasna dengan menatap Emran.


"Tentu, semua keputusan aku serahkan padamu."


"Baiklah, ayo, keluar!"


Mereka keluar beriringan menuju ruang tamu di mana Mama Karina dan Celina berada.


"Selamat pagi, Cel. Apa kabar?" tanya Yasna.


"Baik, Mbak ... maaf, pagi-pagi sudah membuat gaduh di rumah ini."


"Tidak apa-apa," sahut Yasna. "Vino sama Vico main dulu sama Kak Aydin dan Afrin, ya! Mereka ada di kamarnya."


"Iya, Tante." Mereka pergi menuju kamar Afrin, meninggalkan para orang dewasa di ruang tamu.


Setelah kepergian anak-anak Yasna menanyakan tujuan Celina datang ke rumah ini. "Maaf, Cel, tadi Mas Emran mengatakan, kalau kamu ingin menitipkan anak-anak di sini. Boleh aku tahu alasannya?"


"Seperti yang sudah aku katakan pada Mama Karina, Mas Ferdi tidak menginginkan keberadaan Vino dan Vico di rumah."


"Kenapa baru sekarang suamimu tidak suka dengan mereka? Bukankah kalian menikah sudah hampir empat tahun?"


Celina hanya diam, entah apa yang dipikirkannya Yasna tidak bisa menebak. Hanya saja sebagai wanita dia tahu jika saat ini Celina tengah gelisah, entah karena apa.


"Sebelumnya aku minta maaf, Cel. Karena alasanmu tidak masuk akal, aku tidak bisa menerima anak-anak di sini jika kamu menganggap aku jahat terserah. Aku hanya tidak ingin keluargaku disalahkan atas niat baik kami. Kamu tentu tahu apa maksud perkataanku."


"Aku hanya menitipkan anak-anakku pada neneknya. Kenapa kamu melarangnya? Apa kamu takut Mama Karina lebih menyayangi cucunya daripada kamu!" Celina berkata dengan nada sedikit tinggi.


Celina sudah tidak bisa berpikir dengan jernih. Otaknya sudah dipenuhi banyak masalah, di satu sisi ada Vico dan Vino di sisi lainnya ada Revan. Dia tidak mungkin bisa memilih salah satu dari mereka.


"Aku tidak pernah takut akan hal itu, aku hanya tidak ingin keluargamu atau keluarga suamimu datang dan memaki keluargaku, itu saja. Padamu yang istrinya saja dia berani memukul, bagaimana dengan keluargaku?"


Celina hanya menundukkan kepalanya. "Aku tidak tahu lagi harus meminta tolong pada siapa, kalau bukan pada kalian. Hanya di rumah ini aku bisa menitipkan anak-anakku."


"Kenapa tidak pada mamamu?"

__ADS_1


"Mama tidak bisa melindungi anak-anakku. Dia terlalu takut pada Mas Ferdi, hanya kalian yang bisa melindungi anak-anak karena aku yakin, Mas Ferdi tidak akan berani melakukan apapun disaat mereka di sini."


"Bukankah selama ini dia baik?" tanya Emran.


Emran sangat marah, saat mendengar ternyata keponakannya tidak diperlakukan dengan baik. Padahal selama ini dia selalu baik pada Revan, anak Ferdi. Bahkan dia rela mengantarkannya ke rumah sakit saat tengah malam.


"Selama ini dia terlihat baik, itu karena aku berusaha menutupinya. Dia memang suami yang baik, tapi dia bukan ayah sambung yang baik, dia ayah yang baik hanya untuk anak kandungnya saja. Aku mohon perbolehkan anakku tinggal di sini, sampai aku menemukan tempat untuk mereka." Celina memohon dengan meneteskan air matanya. Dia tidak tahu lagi harus memohon pada siapa.


Yasna yang tidak tega pun, akhirnya memperbolehkannya. "Kamu boleh menitipkan anakmu di sini dengan syarat, kamu tidak boleh menemuinya di rumah ini jika kamu ingin bertemu dengan mereka. Cukup beri pesan kepada Mama atau padaku dan kami akan mengantarkan anak-anak padamu. Bagaimana? Apa kamu setuju?"


"Baiklah, aku setuju." Celina dan Yasna saling berjabat tangan.


"Baiklah karena urusanku sudah selesai, aku akan pulang. Kasihan Revan terlalu lama aku tinggal," pamit Celina.


"Kamu nggak mau pamit sama anak-anakmu dulu?" tanya Mama Karina.


"Tidak perlu, Ma. Aku tidak ingin mereka menangis, sampaikan saja pada mereka kalau mereka tidak boleh buat repot penghuni rumah ini."


"Mereka tidak pernah membuat repot, mereka anak yang baik," sahut Karina. "Baiklah, nanti akan aku sampaikan pada mereka."


"Waalaikumsalam."


Celina pergi meninggalkan rumah Emran dengan menggunakan mobil. Tiba-tiba Vico berlari keluar memanggil mamanya. Anak itu keluar karena mendengar suara mobil mamanya menyala.


"Mama ... Mama ...." Vico berlari mengejar mobil Celina sambil berteriak dan menangis.


Yasna berlari mengikutinya dari belakang, dia khawatir terjadi sesuatu pada anak itu. "Sayang, ayo, ikut sama Tante!"


"Aku mau ikut Mama," rengek Vico dengan meneteskan air mata.


"Vico di sini dulu sama Kak Vino. Mama lagi ada kerjaan, mama bilang nanti akan jemput kalau pekerjaannya sudah selesai jadi, Vico main dulu sama kakak di sini." Yasna berusaha membujuk Vico, meski anak itu tetap menangis.


"Vico mau sama Oma? Ayo, kita main sama Kakak!" bujuk Karina.


"Nggak mau, aku mau sama mama," ucap Vico yang masih menangis.

__ADS_1


"Ya sudah, sini sama Tante." Yasna membawa Vico masuk ke dalam rumah, meski anak itu memberontak ingin pergi mengikuti mamanya.


Sementara Vino, dia lebih pendiam, dia asik bermain dengan afrin.


"Ayo, Viconya diajak main," ucap yasna. Namun, Vino dan Afrin hanya diam saja.


"Kenapa sih, Bunda. Vico harus ditinggal di sini? Kalau dia nggak mau, di ajak pulang saja," omel Aydin karena merasa terganggu dengan suara tangis Vico.


"Tante Celina ada pekerjaan, Sayang, jadi, nggak bisa bawa Vino sama Vico. Aydin sebagai saudara yang paling tua harus bisa menjaga adek-adeknya." Yasna berusaha memberi pengertian pada putranya itu.


"Kalau Revan?"


"Revan sama papanya."


Karina berusaha membujuk Vico dengan berbagai cara, meski anak itu masih saja menangis. Begitupun dengan Yasna. dia ikut membantu mertuanya membujuk Vico agar mau berhenti menangis.


*****


Hari ini, Hafiz datang ke rumah Fazilah, dia ingin membahas hubungannya dengan wanita itu. Hafiz mengetuk pintu beberapa kali hingga pintu terbuka. Tampak Mama Mirna yang membukakan pintu.


"Hafidz, sudah datang?" tanya Mirna.


"Iya, Tante," jawab Hafidz. "Tante mau pergi kerja?" tanya pria itu karena melihat Mirna sudah rapi dengan pakaian kerjanya.


"Iya Tante cuma ambil libur satu hari jadi, hari ini harus kerja."


"Boleh saya bicara sebentar dengan Tante?"


"Boleh, ayo, masuk dulu!"


"Terima kasih." Mereka masuk dan duduk di ruang tamu.


"Begini, Tante. Maaf kalau lancang, saya ingin meminta restu pada Tante untuk segera menikah dengan Fazilah. Saya tidak bermaksud apa-apa, saya hanya tidak ingin kehilangan wanita yang saya cintai jadi, saya mohon sama Tante agar merestui kami." Hafidz berbicara dengan hati-hati, agar tidak menyinggung Mirna.


Sementara Fazilah berada dibalik tembok, dia ingin tahu apa yang ingin dibicarakan Hafidz dengan mamanya.

__ADS_1


__ADS_2