
Kelas sudah selesai, Kinan bersiap akan pulang. Tadi mamanya sudah mengirim pesan padanya untuk segera pulang jika kelas selesai. Gadis itu pun bergegas menuju mobilnya. Belum sampai di mobil, ponsel yang ada di dalam tas berbunyi.
Ada panggilan masuk dari nomor baru. Awalnya Kinan ragu, tetapi takut jika itu pentinh. Dia segera mengangkatnya.
“Halo, assalamualaikum,” ucap Kinan.
“Waalaikumsalam, kamu mau ke mana? Kenapa buru-buru sekali?” tanya orang di seberang. Dari suaranya dia yakin itu adalah Hanif, tapi dari mana pria itu tahu nomornya?
“Mama minta aku segera pulang, Pak. Di rumah ada Kak Wina.”
“Sudah aku katakan sebelumnya, panggil aku Mas, saat kita sedang berdua."
Kinan memukul kepalanya pelan. Dia melupakan hal itu, tetapi akan sangat malu memanggil seperti itu. Gadis itu juga merasa tidak sopan jika harus memanggil seperti itu pada dosennya.
“Tapi sekarang aku masih berada di lingkungan kampus, jadi sah saja kalau aku manggil seperti itu.” Kinan berusaha membela diri.
“Kita sedang bicara lewat sambungan telepon. Tidak ada seorang pun yang melihat, jadi kamu harus panggil aku Mas. Tidak ada tawar menawar,” ucap Hanif tegas.
Kinan berbicara sambil terus melanjutkan langkahnya. Sepertinya dosen itu memang punya sikap pemaksa. Bukan hanya dalam mengajar, kehidupan sehari-hari pun seperti itu. Terpaksa dia harus menurutinya jika tidak, pasti Hanif akan mengganggunya.
“Iya, Mas. Aku mau pulang, di rumah Mama sudah nunggu,” ucap Kinan dengan menahan kesal. Hal itu justru membuat Hanif yang berada di seberang tersenyum.
“Hati-hati mengemudinya. Nanti malam bersiaplah, aku akan menjemputmu untuk makan malam di luar. Assalamualaikum.”
Hanif segera mematikan sambungan telepon karena tidak ingin mendengar penolakan Kinan. Di samping mobilnya, gadis itu mengumpat beberapa kali. Sekali pemaksa memang selalu memaksa.
“Waalaikumsalam, memang dasar pemaksa. Memang siapa yang mau makan malam sama dia, enak saja. Mending makan di rumah,” gerutu Kinan sambil memasuki mobilnya. Meski begitu, tanpa sadar gadis itu membayangkan makan malam seperti apa yang akan terjadi nanti.
Malam hari, Kinan bersiap untuk makan malam bersama Hanif. Meski mulutnya berkali-kali menolak, tetapi tubuh dan hatinya justru melaksanakan perintah dosennya. Gadis itu ingin sekali marah pada dirinya sendiri. Bisa-bisanya menuruti keinginan pria pemaksa itu.
__ADS_1
“Ngapain coba aku dandan seperti ini buat pergi sama dia. Nggak, nggak, aku nggak mau pergi sama dia. Sebaiknya aku ganti baju saja.”
Kinan berjalan menuju lemari dan mengambil pakaian santai. Bukan memakai, gadis itu malah membawa baju duduk di tepi ranjang. Hati dan pikirannya tidak sejalan, jadi dia bingung sendiri. Kinan merasa tubuhnya saat ini bukanlah diri yang sebenarnya karena sudah tidak bisa dikendalikan lagi.
Pintu kamar diketuk seseorang dari luar, membuat Kinan tersentak dari lamunannya. Dia menarik napas dalam-dalam dan membuka pintu dengan pelan, ternyata ada sang Mama di sana.
“Kamu sudah siap rupanya. Ya sudah, ayo! Hanif sudah datang mau jemput kamu. Mama kira kamu nggak mau pergi, ternyata sudah siap,” ucap Mama Aisyah sambil menarik tangan putrinya.
“Sebentar, Ma. Aku ambil tas dulu.”
Kinan kembali ke kamarnya, meletakkan baju yang diambil tadi di atas ranjang dan mengambil tasnya. Kalau sudah seperti ini, dia jadi terpaksa pergi dengan pria itu. Semoga saja tidak menjadi masalah. Kinan takut jika ada mahasiswa atau penghuni kampus yang melihat mereka bersama.
Hanif duduk seorang diri di ruang tamu. Jujur dia takut jika Kinan menolak pergi bersamanya karena tadi saat dia menelepon gadis itu, Hanif langsung menutup panggilan begitu saja, tanpa menunggu jawaban darinya. Tidak berapa lama, terdengar suara langkah kaki dari arah tangga. Otomatis pria itu melihat ke sana.
Seketika pandangannya tak bisa teralihkan. Ini bukan pertama kali dia melihat Kinan berdandan seperti itu. Akan tetapi, malam ini terasa spesial karena gadis itu melakukan semua untuknya. Tanpa sadar Hanif menarik kedua sudut bibirnya hingga membentuk sebuah senyuman.
“Jangan dilihatin terus, nanti jatuh cinta,” ucap Mama Aisyah dengan pelan, membuyarkan lamunan Kinan. Hanif yang mendengar pun juga ikut salah tingkah. Bagaimana tidak, sedari tadi pandangannya tidak dapat teralihkan.
“Nak Hanif, Kinan sudah siap, memang kalian mau ke mana?” tanya Mama Aisyah.
“Mau jalan-jalan sebentar, Tante, sekalian makan malam.”
“Ya sudah, hati-hati! Ingat jangan pulang terlalu malam.”
“Iya, Tante. Saya pamit dulu, sampaikan salam saya sama Om,” ucap Hanif sambil mencium punggung tangan Aisyah diikuti oleh Kinan.
“Iya, nanti Tante sampaikan.”
“Assalamualaikum.”
__ADS_1
“Waalaikumsalam.”
Hanif dan Kinan pun segera pergi meninggalkan rumah. Pria itu membukakan pintu mobil untuk pujaan hatinya. Gadis itu hanya diam menurut saja. Entah kenapa dia menjadi gugup sekali, padahal ini bukan pertama kalinya mereka bertemu. Akan tetapi, saat ini ada rasa spesial yang Kinan rasakan.
“Kamu mau makan di mana?” tanya Hanif saat dalam perjalanan.
“Aku makan apa saja,” jawab Kinan dengan pelan, tanpa melihat ke arah Hanif.
“Nanti kamu nggak boleh protes, saat sampai di tempat karena kamu bilangnya terserah sama saya.”
Kinan mengerutkan keningnya karena merasa aneh. Akan tetapi, dia tetap mengangguk menyetujui ucapan Hanif. Selama ini dia juga tidak pernah pilih-pilih makanan, jadi makanan apa pun tidak masalah baginya.
Akhirnya mobil yang dikendarai Hanif sampai juga di sebuah kedai di pinggir pantai. Pria itu tidak memilih restoran mewah karena baginya, tempat ini lebih romantis dengan pemandangan laut di malam hari. Dia yakin Kinan pasti tidak pernah ke tempat seperti ini, hanya untuk sekadar makan dan benar saja, gadis itu terlihat begitu senang.
“Anda tahu dari mana tempat seperti ini, Pak? Di sini tempatnya nyaman dan sejuk. Apa Bapak sering pergi ke tempat seperti ini?" tanya Kinan dengan wajah berbinar.
“Sudah berapa kali aku bilang, kalau sedang berdua jangan panggil saya Bapak. Nanti semua orang yang ada di sini mengira saya bapak kamu.”
Kinan segera menutup mulutnya karena merasa salah berbicara. tidak dipungkiri jika ada beberapa orang yang menatap ke arah keduanya. Mungkin seperti yang dikatakan Hanif, mereka pasti mengira jika pria yang bersamanya adalah bapaknya.
"Ayo, kita cari tempat duduk!" ajak Hanif.
"Kita duduk di tempat yang bisa melihat pemandangan laut saja. Pasti sangat indah."
"Iya, ayo, ikut aku!" ajak Hanif sambil menggenggam telapak tangan Kinan dan membawanya mencari tempat duduk. Tanpa pria itu sadari, saat ini jantung Kinan sedang tidak baik-baik saja. Gadis itu terus saja memandangi tangannya yang berada dalam genggaman Hanif.
.
.
__ADS_1