
“Kamu itu pasti habis godain kakak kamu, ya?” tanya Hanif saat Kinan duduk di sampingnya sambil terkekeh.
“Habisnya aku itu kesel sama Kak Ayman. Bisa-bisanya dia nggak belain istrinya saat ada orang yang memojokkannya,” jawab Kinan dengan wajah kesalnya.
Dia sebagai wanita juga bisa merasakan apa yang dirasakan Zayna. Kakak iparnya sudah sangat berjuang untuk anaknya, sekarang malah dikatai seperti itu. Siapa yang tidak marah mendengarnya. Terlepas itu candaan atau memang ucapan yang serius.
“Mungkin ada alasannya. Kamu nggak boleh ikut campur sama urusan mereka.”
“Tetap saja, apa pun alasannya, itu tidak dibenarkan. Aku sebagai seorang wanita, tentu saja ikut merasa terluka. Kamu jangan sampai seperti itu, ya, Mas. Kamu harus belain aku, kecuali kalau memang aku benar-benar sudah salah dan kelewatan.”
“Sekalipun kamu berbuat salah, pasti aku belain kamu,” sahut Hanif sambil tersenyum.
“Aku serius, Mas, malah bercanda,” sela Kinan dengan cemberut. Dia benar-benar ingin dibela jika ada yang memojokkannya. Wanita itu tidak mau seperti Zayna tadi.
Hanif terkekeh melihat istrinya yang cemberut, justru terlihat lucu di matanya. Pria itu mengusap kasar rambut Kinan.
“Aku juga serius, Sayang. Kalau kamu memang salah, aku tetap akan bela kamu, kecuali kalau kita berada di rumah dan hanya berdua saja. Kalau kamu salah aku berhak menegur kamu. Kita belajar sama-sama, tapi saat di luar kesalahan kamu adalah kesalahanku. Jadi aku tidak mungkin menyalahkan kamu justru aku akan menyalahkan diriku sendiri.”
Kinan memeluk sang suami sambil tersenyum. Dia tidak menyangka akan mendapat jawaban yang menyentuh hati. Padahal wanita itu hanya ingin mendengar jika Hanif akan membelanya, tetapi justru jawabannya melebihi yang diharapkan.
“Aku jadi terharu dibuatnya,” ucap Kinan yang berada dalam pelukan sang suami. Mata wanita itu juga berkaca-kaca. Hanif memang pandai sekali membuat hati berbunga-bunga.
“Kita malam ini tidur di sini apa pulang, Sayang?”
Kinan mengusap matanya yang hampir saja meneteskan air mata. “Kita nginap dulu, deh, Mas. Aku capek sekali. Lagi pula beres-beresnya juga belum selesai.”
“Iya, tidak apa-apa. Biar aku kirim pesan dulu sama Mama. Biar nggak nungguin kita.”
“Iya, Mas.”
Hanif pun mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Mama Aida. Keduanya kembali membantu membereskan rumah. Setelah semua selesai, mereka pergi ke kamar masing-masing. Begitu juga dengan Ayman.
Saat pria itu memasuki kamar, terlihat sang istri sudah terlelap di atas sofa. Pasti Zayna juga lelah hingga tanpa sadar tertidur di sana. Pria itu pun mengangkat sang istri dan membawanya ke atas ranjang. Tidak lupa juga menutupinya dengan selimut.
Ayman lebih dulu membersihkan tubuhnya, setelah itu menyusul istrinya ke tempat tidur. Sebelum memejamkan matanya, pria itu mengucapkan kata maaf berkali-kali dan diakhiri dengan mencium kening. Dia tersenyum kemudian memejamkan matanya.
Pagi-pagi sekali rumah terlihat sangat ramai. Semua orang sibuk dengan kegiatan masing-masing. Baby Ars juga ikut meramaikan dengan tangisannya. Mama Aisyah yang melihat pun jadi kasihan.
“Sini biar Baby Ars sama Mama. Kamu ini dari tadi masa diemin anak nggak bisa," tegur Mama Aisyah pada Ayman karena pria itu sedari tadi menimang putranya, tetapi tidak bisa diam juga. Malah menangis semakin keras, sedangkan Zayna sendiri sedang ada di toilet karena sakit perut.
"Aku tadi sudah usaha, Ma." Ayman mencoba membela diri.
"Usaha apa? Sudah, jangan banyak bicara, biar Baby Ars nggak berisik," pungkas Mama Aisyah.
__ADS_1
Ayman duduk di sofa bersama dengan Papa Hadi. Benar saja, baru sebentar bayi itu langsung terdiam dalam gendongan Mama Aisyah. Pria itu merasa lega akhirnya anak itu bisa diam juga.
"Laki-laki memang berbeda sama perempuan. Bayi bisa merasakan gendongan wanita yang penuh kasih sayang. Bukannya kita tidak memiliki kasih sayang, tapi wanita lebih peka daripada kita. Mereka juga lebih pandai merawat anak," ucap Papa Hadi sambil mengusap punggung putranya.
Ayman mengangguk, benar apa yang dikatakan Papa Hadi. Padahal dia adalah papanya, tetapi bayi itu justru lebih nyaman dengan Mama Aisyah. Jika diperhatikan rasanya sama saja cara gendongnya.
"Sama Oma! Pasti tadi nangis sama ayahnya, ya?" tanya Zayna yang baru saja datang.
"Ya, begitulah para laki-laki. Mereka bilang bisa menjaga anak, nyatanya anak nangis nggak bisa diemin," gerutu Mama Aisyah.
Kali ini Ayman memilih diam saja karena memang kenyataannya seperti itu. Menjaga anak memang bukan keahliannya, tapi bukan berarti dia tidak ingin menjaganya. Pria itu ingin menjaga Baby Ars di saat anaknya sedang diam. Terserah jika Ayman dikatakan egois daripada membuat anak menangis dan dia tidak bisa mendiamkan.
"Ayo, semuanya makanan sudah siap! Kita sarapan sama-sama," ajak Kinan yang keluar dari dapur.
"Kamu yang masak, Dhek? Beneran nggak membuat kita keracunan?" tanya Ayman yang memang sengaja ingin menggoda adiknya.
"Enak saja keracunan. Aku juga sudah bisa masak walaupun cuma sedikit. Lagi pula sekarang yang masak bukan aku, tapi Mas Hanif," sahut Kinan membuat Ayman cukup terkejut.
"Suami kamu bisa masak? Hebat sekali."
"Iya, dong hebat. Lebih hebat daripada Kakak, Kakak mana bisa masak."
"Kakak punya istri yang makanan buatannya enak sekali jadi enggak apa-apa enggak bisa masak."
"Seharusnya kata-kata itu buat kamu. Lagian kalau kakak yang masak, bisa-bisa meledak dapurnya. Jadi lebih bagus Kakak nggak masak."
"Alasan," sela Kinan sambil mencebikkan bibirnya.
Begitulah perdebatan antara kakak dan adik itu. Mereka selalu saja saling menyindir dan mengejek. Yang lain hanya memperhatikan saja. Mama Aisyah yang melihat itu jadi sangat kesal. Apalagi di sini ada cucunya, ini yang dewasa malah berdebat.
"Sudah, sudah, kalian ini malah berdebat. Ayo, kita makan!" ajak Mama Aisyah sambil berjalan menuju meja makan.
"Ma, Baby Ars taruh di stroller saja," ucap Zayna di sela langkahnya.
"Apa tidak apa-apa?"
"Tidak apa-apa, sambil didorong sedikit nanti."
Mama Aisyah meletakkan Baby Ars di stroller. Zayna mendorongnya ke ruang makan, dia meletakkan bayinya di sampingnya. Wanita itu menikmati sarapan sambil sesekali mendorong stroller bayinya. Semua orang juga menikmati sarapan dengan tenang.
"Wah, masakan kamu enak sekali, Hanif. Kamu biasanya setiap hari masak?" puji Mama Aisyah sekaligus bertanya.
"Nggak juga, Ma. Hanya kadang-kadang saja, kalau Mama atau Kinan lagi ingin makan masakanku. Kalau tidak, Bibi yang masak."
__ADS_1
"Kamu ini bagaimana, Kinan. Bukannya kamu yang masakin suami, malah minta suami yang masak buat kamu," tegur Mama Aisyah.
"Mas Hanif masak juga aku bantuin, Ma." Kinan mencoba membela diri
"Bantuin apa? Bantuin nyicipin." Kinan cemberut mendengar sindiran mamanya, tetapi memang benar apa yang dikatakan wanita paruh baya itu. Jika dirinya hanya membantu sedikit saja, selebihnya dikerjakan Hanif.
"Tidak apa-apa, Ma. Saya senang jika masakan saya disukai Kinan. Saya tidak masalah jika harus memasak setiap hari untuk dia."
"Kamu jangan terlalu memanjakan dia, nanti malah keterusan."
"Insya Allah saya yakin Kinan tahu porsinya."
Kinan tersenyum mendengar ucapan sang suami. Pria itu menepati janjinya untuk tetap membelanya meski dirinya salah.
"Aduh, senangnya dibelain sama suami. Terima kasih, Sayang." Kinan bergelayut manja di lengan suaminya yang dibalas senyuman oleh pria itu.
"Sudah, kamu lanjutin makannya," sahut Hanif yang sangat tahu jika istrinya ini sedang menyindir kakaknya. Begitu juga dengan yang lainnya.
Tidak ada yang berbicara lagi, setelah mendengar apa yang dikatakan Kinan, membuat rasa bersalah Ayman kembali. Pria itu menatap istrinya yang sedang makan. Zayna bukan tidak tahu jika sang suami memandangnya. Hanya saja dia tidak ingin terjadi obrolan pribadi di sini.
Wanita itu juga merasa iri terhadap Kinan, saat mendengar Hanif membelanya. Padahal sudah jelas-jelas adik iparnya itu salah, tetapi Hanif tetap membelanya. Setelah semua selesai menikmati sarapan, semua sibuk dengan kegiatan masing-masing.
Papa Hadi dan Ayman pergi bekerja, sementara Hanif dan Kinan pamit untuk pulang. Sebelum keduanya pulang, wanita itu terlebih dahulu menggendong Baby Ars agar nanti dia tidak merindukannya.
"Tante pulang dulu, ya, Sayang. Nanti kalau ada waktu, Tante datang lagi. Nanti saat Tante datang, kamu harus bisa jalan, ya! Biar bisa main apa saja, bisa jalan-jalan."
"Itu masih lama, memangnya kamu setahun nggak ke sini?"
"Memang bayi sudah bisa jalan umur setahun?"
"Ya rata-rata segitu. Ada yang lebih malah paling cepat juga ada yang sebelas bulan."
"Lama sekali," gumam Kinan dengan memperhatikan wajah Baby Ars.
"Sayang, ayo kita pulang! Aku nanti ada meeting siang," ajak Hanif.
"Iya, Tante pulang dulu, ya, Sayang. Muach ...."
Kinan mencium pipi keponakannya dan menyerahkan bayi itu pada Zayna. Keduanya berpamitan pada mama dan kakak iparnya dan meninggalkan rumah itu.
.
.
__ADS_1