
"Sejak Papa di rumah sakit sampai sekarang, kenapa Zanita tidak datang?" tanya Papa Rahmat saat mereka tengah menikmati sarapan.
Semua terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Papa Rahmat mengerutkan keningnya melihat keterdiaman istri dan anak-anaknya. Dia merasa pertanyaannya biasa saja, tetapi kenapa seolah itu sangat berat?
"Mungkin sedang sibuk dengan keluarga suaminya, Pa," jawab Zayna yang berusaha biasa saja.
Papa Rahmat menganggukkan kepala. Namun, dia tetap merasa ada yang aneh. Biasanya Zanita sering datang ke rumah. Bahkan setiap hari menghubungi Savina, tetapi sekarang sama sekali tidak pernah.
"Pa, ada sesuatu yang ingin aku katakan soal Zanita," ucap Mama Savina.
"Ada apa? Katakan saja."
"Aku minta maaf. Mungkin ini akan menyakiti hati Papa, tapi aku mohon Papa mau maafin Zanita."
Papa Rahmat dibuat bingung dengan kata-kata Mama Savina. Seperti ada sesuatu yang besar telah terjadi dan dia tidak tahu sama sekali. Sedangkan Ayman, Zayna dan Zivana memilih diam. Biar kedua orangtuanya yang berbicara.
"Ada apa sih, Ma? Sepertinya sangat serius sekali."
"Sebenarnya yang menabrak Papa adalah Zanita," ujar Mama Savina membuat Papa Rahmat terdiam. Pria itu cukup terkejut.
Sejujurnya dia sudah memperkirakan hal ini karena pengemudi mobil memang sengaja ingin menabrak Zayna. Akan tetapi, mendengar kenyataan ini secara langsung, tetap saja membuat hatinya terluka. Apa selama ini Papa Rahmat kurang menyayangi anak itu? Hingga Zanita tumbuh seperti seorang yang kurang perhatian.
"Sekarang dia ada di mana?"
"Zanita sudah menerima hukumannya. Dia ada di penjara."
Papa Rahmat menghela napas. "Papa mau ke sana. Papa ingin melihat keadaannya."
"Apa Papa yakin?"
"Tentu saja! Papa juga ingin bertanya beberapa hal padanya."
Mama Savina mengangguk. "Setelah ini kita ke sana. Kita bisa pergi bersama-sama."
"Kamu mau ikut Zayna?"
"Boleh, Pa?" tanya Zayna balik.
__ADS_1
"Tentu saja boleh, memang siapa yang melarang?"
"Iya, aku ikut. Aku juga ingin ke sana. Nanti aku bawakan makanan untuknya."
Papa Rahmat tersenyum sambil mengangguk. Sedangkan Mama Savina terdiam. Sebenarnya dia keberatan dengan keikutsertaan Zayna. Itu pasti akan melukai hati Zanita, tetapi wanita itu tidak mungkin melarangnya karena sang suami sendiri yang mengajak.
Usai sarapan, Ayman berangkat bekerja. Sementara itu, Zayna menyiapkan makanan untuk dibawa ke tempat Zanita tinggal saat ini. Dia pergi bersama Papa Rahmat dan Mama Savina dengan menggunakan mobil, yang sebelumnya memang sengaja Ayman tinggal. Ada Ilham yang akan mengantar.
Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, akhirnya mereka sampai juga. Suasana rutan tampak sepi. Mungkin karena kedatangan mereka terlalu pagi atau ada kegiatan lain di sana.
"Selamat pagi, Nyonya Savina. Mau menjenguk putrinya?" tanya seorang petugas.
"Iya, Bu."
"Mohon tunggu sebentar. Biar saya panggilkan dulu."
Papa Rahmat, Mama Savina dan Zayna pun menunggu di tempat berkunjung. Terdengar suara langkah kaki. Ketiga orang itu pun menoleh. Terlihat Zanita di sana menggunakan pakaian bertuliskan tahanan.
Wanita itu cukup terkejut dengan kedatangan mamanya bersama papa dan juga Zayna. Dia sangat membenci wajah kakaknya yang menurutnya sok perhatian. Zanita yakin Zayna pasti sangat membenci dirinya karena ingin mencelakainya.
"Zanita, kamu tidak boleh begitu. Bagaimanapun juga, dia itu kakak kamu! Tidak sepantasnya kamu bersikap seperti itu," ujar Papa Rahmat yang sangat tahu siapa yang dimaksud putrinya itu.
"Kenapa baru sekarang papa marah seperti itu? Dari dulu aku juga tidak pernah menyukainya, kan? Kenapa baru sekarang protes?"
"Sekarang kamu sudah dewasa. Seharusnya bisa berpikir lebih jernih."
"Sudahlah, tidak usah berbasa-basi. Ada apa kalian datang ke sini? Jika ingin mengejekku, kalian sudah berhasil," ujar Zanita dengan ketus.
Papa Rahmat menghela napas sambil menggelengkan kepala. Dia tidak habis pikir dengan wanita itu. Disaat seperti ini pun Zanita Masih bisa bersikap seperti itu.
"Kenapa kamu ingin mencelakai Zayna? Tindakan kamu bukan hanya bisa mencelakai orang lain, tapi kamu juga bisa celaka," tanya Papa Rahmat.
"Memang kenapa? Bagiku, asalkan bisa menghabisi Zayna, aku tidak peduli dengan apa yang akan terjadi padaku."
Tiba-tiba saja kata itu yang keluar dari mulutnya. Dia tidak berniat mengatakan itu. Hanya saja Zanita terlalu gengsi untuk peduli pada saudaranya.
"Zanita! Tidak sepantasnya kamu bicara seperti itu!" seru Mama Savina.
__ADS_1
"Wow, sekarang Mama juga ikut membelanya? Luar biasa," ucap Zanita sambil bertepuk tangan kemudian beralih menatap Zayna. "Kamu pasti senang sekali, sekarang semua orang mendukungmu."
"Tidak seperti itu. Aku merasa biasa saja. Sudahlah, kita lupakan masalah yang sebelumnya. Aku tadi masak makanan kesukaan kamu. Ini aku sudah membawanya ke sini." Zayna menyerahkan kotak makanan ke depan Zanita. Segera adiknya itu menepis dengan kasar, hingga membuat makanan terjatuh berhamburan di lantai.
"Zanita! Kamu benar-benar keterlaluan. Zayna sudah memasak untukmu, tapi kamu sama sekali tidak menghargainya!" seru Papa Rahmat. "Di sini seharusnya kamu yang minta maaf padanya karena sudah ingin mencelakainya. Kamu juga belum meminta maaf pada Papa karena kamu sudah menabrak Papa hingga membuat Papa tidak bisa berjalan."
Zanita terdiam, dia memang merasa bersalah saat mengetahui jika Pak Rahmat tidak bisa berjalan. Akan tetapi, meminta maaf pada Zayna, dia sama sekali tidak ingin melakukannya. Rasa gengsinya terlalu tinggi. Akan sangat memalukan jika meminta maaf pada kakaknya.
"Aku minta maaf sama papa. Aku benar-benar tidak tahu jika Papa ada di sana, tapi untuk minta maaf pada dia, aku tidak mau," sahut Zanita dengan menundukkan kepalanya.
"Kenapa kamu begitu keras kepala? Apa salahnya minta maaf pada kakakmu?"
"Aku tidak mau, Pa. Sampai kapan pun aku tidak mau minta maaf padanya karena dia bukan kakakku!"
"Kamu benar-benar keras kepala. Entah dari mana kamu memiliki sifat itu. Memangnya kenapa kalau dia bukan kakakku? Kalian sudah dibesarkan bersama."
"Pa," sela Mama Savina. Dia takut jika sang suami sampai kelepasan membuka rahasianya.
"Sebaiknya kita pulang saja. Tidak ada gunanya kita datang ke sini. Dia sama sekali tidak merasa bersalah dengan apa yang dia lakukan," ujar Papa Rahmat yang kemudian beralih menatap istrinya. "Mama, sebaiknya ajari dia cara bertanggung jawab."
"Maaf, Pa," sahut Mama Savina dengan menundukkan kepala.
Papa Rahmat menggerakkan kursi rodanya untuk pergi keluar. Zayna hanya mengikuti sang Papa. Sementara Mama Savina masih duduk di sana. Dia masih ingin berbicara dengan Zanita. Wanita itu ingin putrinya sadar jika apa yang dilakukannya salah.
"Kenapa kamu tidak mau mengalah sedikit saja? Apa salahnya, tinggal bilang kata maaf saja susah sekali. Kalau Papa mengatakan rahasia Mama bagaimana!" seru Mama Savina tanpa sadar. Seketika dia menutup mulutnya.
Zanita pun memandang mamanya dengan saksama. Sepertinya Mama Savina telah menyimpan rahasia besar yang tidak diketahui siapa pun. Hanya papa yang tahu hingga membuat Savina takut jika semuanya terbongkar. Rasa penasaran Zanita semakin besar kala melihat mamanya salah tingkah.
"Rahasia apa, Ma? Sepertinya sangat penting?"
"Bukan apa-apa," jawabnya yang mencoba terlihat biasa-biasa saja.
.
.
.
__ADS_1